Rabu, 23 April 2014   |   Khamis, 22 Jum. Akhir 1435 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

09 Februari 2010

Tanah Melayu dalam Keindahan Bahasa Metafor

Tanah Melayu dalam Keindahan Bahasa Metafor

Judul Buku
:
Tanah Airku Melayu; Sebuah Kumpulan Puisi
Penulis
:
Fakhrunnas MA Jabbar
Penerbit:
Riaupulp, Riau bekerjasama dengan BKPBM, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, Juni 2008
Tebal
:
xix + 152 pages
 

Di dalam karya sastra yang berpijak pada budaya Melayu, entah itu berbentuk puisi maupun prosa, tercakup kompleksitas tata nilai yang terejawantahkan melalui norma hidup, etika, pandangan dunia, tradisi, atau gambaran dunia tertentu yang diandaikan. Dengan kata lain, sastra berusaha berbicara tentang tingkah laku manusia dan  kebudayaan yang dihayati pengarangnya.

Seperti terlihat dalam Tanah Airku Melayu; Sebuah Kumpulan Puisi karya Fakhrunnas MA Jabbar ini, manusia disorot sebagai makhluk sosial dan sekaligus makhluk kebudayaan. Tak mengherankan jika sastra disebut cermin masyarakat, dan cermin zaman, yang secara antropologis merepresentasikan usaha manusia menjawab tantangan hidup dalam suatu masa dan dalam suatu konteks sejarah. Kenyataan demikian akan tampak semakin penting jika karya sastra yang hadir dapat dinikmati oleh anggota masyarakat secara lebih meluas dan ekstensif.

Bagai untaian batu mulia seni rupa yang memukau, puisi-puisi yang termaktub dalam buku ini membentangkan tumpukan lapis panorama yang kompleks dan kisah lanskap bersudut kebudayaan Melayu. Membacanya adalah memaknainya dalam-dalam sampai pada suatu tahap tertentu tidak mampu lagi membayangkan apa pun, kecuali laut, pohon, hutan, deru angin, dan suara orang-orang Melayu yang ada di perantauan.

Pandangan ini tidak berlebihan karena buku yang memuat himpunan puisi sebanyak seratus buah, yang sebelumnya pernah diterbitkan di pelbagai media massa dalam rentang waktu 1970-2008, ini memang sarat dengan keindahan. Bukan sekadar menawarkan tamasya kata-kata, tetapi juga membawa pembacanya untuk berkelana memahami filosofi masyarakat Melayu. Sebagian kecenderungan puisi-puisi Fakhrunnas dalam antologi ini memperlihatkan betapa tradisi lirik dalam puisi di Tanah Melayu modern masih bertahan dan berjalan, yang seakan menunjukkan bahwa bermain-main dalam puisi adalah sebentuk kebajikan tersendiri yang tetap menyegarkan.

Hal ini tidak aneh. Karena Melayu memang dikenal sebagai daerah selaksa pantun dan puisi. Bahkan, dapat dikatakan, puisi yang dihasilkan etnis Melayu diperkirakan jumlahnya lebih banyak daripada gabungan seluruh puisi yang ditulis etnis-etnis lain di Indonesia, karena kedudukan puisi dalam perkembangan budaya Melayu bukan sekadar menjadi bahasa ungkap, pepatah, atau syair lagu, tetapi juga simbol-simbol masyarakat Melayu. Itulah sebabnya, buku antologi puisi karya Fakhrunnas MA Jabbar ini bukan sekadar menyajikan keindahan alam Melayu Riau sebagai metafora dalam susunan kata-kata, tetapi juga menceritakan tentang perjalanan kebudayaan dan kerinduan kepada kampung halaman, sebagai cermin kehidupan masyarakat Melayu yang terjadi pada masa kekinian.

Prof. A. Teeuw (1994) pernah mengatakan bahwa puisi tak akan pernah tercipta dalam suasana kosong. Artinya, puisi akan senantiasa diwarnai oleh visi, persepsi, dan obsesi penyairnya dalam memandang kehidupan. Penyair bebas memilih gaya pengucapan sesuai dengan kepekaan intuitifnya. Oleh karena itu, meskipun objeknya sama, namun jika ditulis oleh penyair yang berbeda akan menghasilkan gaya ucap puisi yang berbeda pula. Dengan kata lain, membaca puisi sama halnya dengan membaca kehidupan pribadi pengarangnya, membaca pandangan hidupnya, membaca falsafah hidup yang dianutnya, atau bahkan membaca tanah kelahirannya. Membaca puisi-puisi dalam antologi ini setidaknya kita akan dihadapkan pada keadaan semacam itu.

Oleh karena itu, jika sastra dipercaya merupakan potret sosial yang mengusung ruh kebudayaan masyarakatnya, maka boleh jadi kumpulan puisi karya Fakhrunnas ini merepresentasikan kebalau kegelisahan masyarakat Melayu masa kini. Dalam menulis karya ini, Fakhrunnas seakan berada di tengah kehidupan yang tak dapat melepaskan diri dari tradisi, mitos-mitos masa lalu, dan cengkeraman sejarah puak Melayu di satu pihak, dan di pihak lain, ia juga menyadari kondisi masyarakat Melayu masa kini yang tak dapat menahan modernitas. Dengan demikian, kumpulan puisi ini juga seperti mewartakan sebuah potret masyarakat Melayu ketika tradisi masa lalu ditinggalkan setengah hati. Hal yang sama terjadi juga dalam penerimaan masyarakat Melayu terhadap modernitas. Maka, sebagai sebuah potret kultural, karya Fakhrunnas ini sesungguhnya merupakan representasi terjadinya perubahan sosial sebagai konsekuensi adanya perkembangan zaman.

Secara sistematis, kumpulan puisi yang disunting oleh Mahyudin Al Mudra, pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), ini terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama mendedahkan pengabdian diri sang penyair terhadap Tanah Melayu. Hal ini dapat kita simak dalam puisi yang judulnya secara umum mewakili antologi ini, Tanah Airku Melayu:

di sini
kuberdiri
di tanah airku
di ranah melayuku
 
kucoba kembara
menjejak harap di kota-kota dunia
mencecap maung laut dan samudera
menghirup bau kawah di busut yang mengulur lidah ke arasy
bagai burung kelelahan ditikam surya
bagai angin tak temukan arah
bagai panah tak ke mana-mana
melayu jua bertahta di jiwa
 
walau kueja jua langkah sang sapurba
menapaki bukit seguntang sejak lama
menebar sukma di ria-lingga
menitip pesan pada sang nila utama
membentang sayap dari tumasik hingga melaka
menabur wangi bunga di campa dan afrika
atau mengukir jalur sutra di china
melayu jua bersisa di jiwa
 
kutahu pula lima saudagar bugis
terdampar di lingga
merangkai biduk di penyengat
mengukir sejarah tak sudah
raja haji menghunus pedang
raja ali haji membentang kalam
di kitab bahasa
melayu jua merona di jiwa
 
kutatap melaka berkisah
adat resam ditegakkan
kalimah syahadah dilaungkan
bak tali berpilin tiga
ada islam jadi tiangnya
ada adat jadi pagarnya
ada bahasa jadi pengikatnya
melayu jua bersarang di jiwa
 
sejauh-jauh mata memandang
di ranah melayu ditukikkan
sejauh-jauh kaki melangkah
di ranah riau dihentakkan
sejauh-jauh hati ‘kan terbang
di ranah melayu dihinggapkan

Dari puisi di atas, dapat dikatakan bahwa ranah budaya Melayu telah memberikan kekayaan imajinasi dan kontemplasi yang selama ini tertuang dalam karya-karya kreatif sastrawan Melayu, tak terkecuali Fakhrunnas. Budaya Melayu bagaikan samudra tak bertepi yang selalu mengalirkan riak dan ombak sekaligus telaga tanpa dasar yang tak kering-keringnya bila ditimba menjadi inspirasi. Namun, bagi penyair kelahiran Desa Tanjung Barulak, Kampar, Riau ini, cintanya yang begitu mendalam pada Tanah Melayu, tak perlu sampai menjadi taraf “cinta buta” yang menganulir akal sehat.

Tragedi-tragedi memilukan di tanah kelahirannya, misalnya, tak sedikit pun membuatnya terpancing untuk ikut melakukan tindakan-tindakan tak beradab, demi menegakkan marwah dan tuah Tanah Melayu. Bahkan, tragedi demi tragedi yang menimpa “rumah tempat rindunya berpaut” itu, kian memompanya untuk lebih produktif lagi menciptakan karya-karya sastra berlatar Tanah Melayu. Sedangkan, masih dalam bagian pertama, juga terdapat puisi-puisi bernada protes, baik yang menghantam dengan metafor-metafor yang keras maupun yang menggunakan humor secara ironis. Rangkaian metafor yang lantang dan garang dapat kita temui misalnya dalam puisi-puisi berjudul Rimba Beton, Kusukai Sakaiku, Doa Orang-orang Bendungan, Selamat Pagi, dan Tuan Takagawa, yang secara tersirat merupakan protes sang penyair pada pihak-pihak yang tidak tulus membaktikan dirinya terhadap Tanah Melayu.

Sementara itu, bagian kedua antologi ini merupakan permenungan sang penyair terhadap berbagai fenomena ganjil yang melanda tanah kelahirannya. Fakhrunnas tanpa ragu menunjuk pencemaran laut dan penebangan hutan sebagai biang kerok dari semua itu. Dalam bagian ini kita jumpai puisi-puisi dengan bahasa yang lugas dan santai, sebuah diksi yang dipetik dari kehidupan sehari-hari. Meski begitu, diksi bagi Fakhrunnas bukanlah beban yang harus didesakkan melainkan diperlakukan sebagai “alat bermain” yang justru menjadi bagian penting pengucapan puisi. Dengan cara itu, menurut Maman S. Mahayana dalam endorsement buku ini, Fakhrunnas bebas mengumbar imajinasi dalam tarik-menarik antara hasrat hendak menegaskan jiwa yang begitu mencintai tanah kelahirannya (Melayu) dengan sikapnya yang memandang realitas masa kini. Kecenderungan semacam ini dapat ditengok dalam puisi berjudul Ketika Banjir Menyapa, Bapakku Hutan, Ibuku Laut yang Kini Terluka, Kering, dan Dalam Kabut.

Bila pada dua bagian sebelumnya lebih menekankan pada tema-tema universal dan kemanusiaan, maka pada bagian ketiga antologi ini lebih kental nuansa religius penyairnya. Hal ini, misalnya, dapat dibaca dalam puisi berjudul Sepotong Daging, Dari Alif Ba Ta ke Tahajjud, Walau Maut Menjemput, Ramadhan in Manila, Purnama Jatuh di Nabawi, dan Lelaki yang Berputar di Pelataran Ka‘bah.

Jadi, membaca kumpulan puisi ini secara keseluruhan, setidaknya pembaca akan mendapati benang merah yang menyimpulkan bahwa betapa pentingnya manusia menjaga keseimbangan untuk mencapai harmoni dalam hidupnya, yaitu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, hidup selaras dengan alam, dan beribadah kepada Tuhan.

Penggunaan warna atau bahasa lokal Melayu Riau, entah itu suara, konsep, istilah, diksi, dan bentuk-bentuk lokal lainnya, oleh Fakhrunnas dalam antologi ini pada akhirnya dikembalikan kepada perasaan komunitas dan usaha pengembalian ketenangan dan keheningan. Perincian tentang warna lokal tersebut mampu mengelak dari pemaparan secara entografis, seperti masalah identitas kemelayuan justru memberikan cara pandang yang arif dalam menyikapi masalah keragaman. Oleh karena itu, karya Fakhrunnas ini sebenarnya tidak mengajak pembaca memuja semangat primordialisme, seperti sering dikhawatirkan para kritikus sastra selama ini, melainkan menawarkan sisi kreatif yang lentur mengolah khazanah sastra yang bertebaran di belahan bumi Nusantara.

Seratus puisi Fakhrunnas yang terhimpun dalam buku ini adalah sebuah kehadiran baru dalam perpuisian Indonesia berlatar Tanah Melayu. Sang penyair tampaknya menuliskannya begitu saja bagaikan mendokumentasikan apa yang oleh Asrul Sani disebut “fragmen keadaan”. Namun, membacanya, juga puisi-puisi berlatar Tanah Melayu lainnya, seperti menghirup setiap partikel atau gelombang yang tersusun dalam sebangun komposisi kata-kata. Ada bunyi, irama, barik, dan sunyi. Dan jika dalam dunia sehari-hari kita terbiasa berbahasa tanpa perhatian khusus terhadap semua itu, maka dalam dunia puisi segenap anasir bahasa justru kerap hadir mencolok sebagai pokok yang menyokong kembangnya kesedapan sebuah karya, sebagaimana kumpulan puisi karya Fakhrunnas MA Jabbar ini. Akhir kata, inilah antologi puisi yang dibangun atas kesadaran kultural dan kelincahan menerjemahkan Tanah Melayu ke dalam keindahan bahasa metafor.

(Tasyriq Hifzhillah/res/02/09-08)

Dibaca : 8204 kali.