Jumat, 20 April 2018   |   Sabtu, 4 Sya'ban 1439 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

31 Mei 2016

Rebab Pesisir Selatan, Sastra Lisan yang Masih Bertahan



Judul Buku
:
Rebab Pesisir Selatan, Zamzami dan Marlaini
Editor
:
Suryadi
Penerbit:
Yayasan Obor Indonesia
Cetakan
:
Pertama, 1993
Tebal
:
x + 230  Halaman
Ukuran
:14 cm x 21 cm.

Rebab Pesisir Selatan merupakan satu kesenian yang berkembang di kawasan Kabupaten Pesisir Selatan Sumatra Barat. Seni tutur yang oleh masyarakat setempat sering disebut “Rabab Pasisia” ini sejenis kesenian tradisional yang masuk dalam ragam sastra lisan yang berisi tentang kabar/mengabarkan Minangkabau. Kabar-kabar ini kemudian diracik menjadi sebuah cerita menarik yang kemudian dituturkan dalam cerita beragam, mulai dari cerita mengenai keluarga raja, tokoh-tokoh, hingga cerita modern saat ini.

Beberapa kisah yang diceritakan dalam kesenian Rebab Pesisir Selatan yang kekinian/modern kerap kali mengenai tokoh yang dikagumi atau yang memiliki perjalanan hidup menarik untuk diketahui, baik sebagai pengetahuan maupun sebagai pembelajaran bagi generasi muda.

Ada beberapa cerita yang sangat akrab di kalangan masyarakat Pesisir Selatan, antara lain “Lamang Tanjunag Ampalu” (Lemang Tanjung Ampualu), “Carito Zamzami Jo Marlaini” (Cerita Zamzami dan Marlaini), “Rukiah Jo Malano” (Rukiah dan Malano), “Hasan Surabaya” (Hasan di Surabaya), “Kisah Ridwan”, “Marantau Ka Malaysia” (Merantau Ke Malaysia), “Abidin jo Bainar” (Abidin dan Bainar), “Puti Gondoriah” (Putri Gondoriah), dan sebagainya.

Kesenian Pesisir Selatan ini dimainkan dengan dukungan alat musik. Alat musik utama dalam kesenian ini adalah biola dengan cara penggunaan yang unik karena berbeda dengan cara memainkan biola pada umumnya. Rebab Pesisir memainkan biola dengan cara menggesek biola yang diletakkan di lantai dan dimainkan sambil duduk melantai. Perkembangan terkini, alat musik tersebut ditambah dengan gendang kecil/rebana sebagai unsur pendukungnya.

Rebab Pesisir lazimnya dimainkan di saat setelah shalat Isya. Hal ini menunjukkan adanya jalinan komitmen yang jelas antara adat dan agama dalam kesadaran masyarakat Minangkabau. Pertunjukan ini tidak memerlukan tempat khusus, karena dapat dimainkan di mana saja, baik di pasar, balai adat, halaman rumah, halaman surau maupun tempat-tempat lain. Rebab Pesisir juga tidak mengharuskan penggunaan pentas untuk memainkannya, duduk beralaskan tikar merupakan cara paling disukai dalam pertunjukan ini. Para penonton dapat leluasa mengelilingi para pemain dan dapat berbaur satu sama lain.

Pertunjukkan ini bermula saat pemain menggsekkan biola kemudian diikuti oleh tabuh pemain rebana. Penampilan awal dibuka dengan pengantar (raun sabalik) yang berisi pantun-pantun lepas yang bersifat jenaka. Bagian kedua, tukang rebab mulai bercerita. Dalam sekali pertunjukan pemain dapat bercerita beberapa cerita yang biasanya dilakukan semalam suntuk hingga menjelang shalat Subuh tiba. Sampai sekarang Rebab ini masih menggunakan bahasa Minangkabau sebagai bahasa pengantar sehingga sangat diminati oleh masyarakat Minangkabau. Selain sebagai pembuka, bait-bait pantun juga dilantunkan saat pengalihan episode, penutupan, dan pada saat dialog antara pemain biola dengan pemain gendang.

Zamzami dan Marlaini, yang dijadikan bagian dari judul buku ini, merupakan cerita klasik yang sangat digemari oleh masyarakat pecinta Rebab Pesisir Selatan. Kisah ini menceritakan Zamzami dan Marlaini yang bernasib malang karena ditinggal kedua orang tuanya. Mereka hidup terpisah puluhan tahun, hingga akhirnya dapat bertemu kembali dan hidup bahagia. Cerita ini juga berkisah tentang perjalanan kesuksesan Zamzami hingga dipertemukan dengan satu per satu keluarganya.

Buku ini merupakan jenis pustaka langka di Indonesia. Banyak sekali kesenian sejenis yang pernah hidup di sejumlah tempat. Sayangnya mereka hilang sebelum terangkat dalam dokumentasi budaya Nusantara. Karenanya, buku ini bisa menjadi pemicu bagi munculnya buku-buku sejenis sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap penggalian sastra lisan di Indonesia. (Oki Koto/Res/102/5-2016)

Dibaca : 817 kali.