Kamis, 27 November 2014   |   Jum'ah, 4 Shafar 1436 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

11 November 2010

Guriding Alat Musik Tradisional Kalimantan Selatan

Guriding Alat Musik Tradisional Kalimantan Selatan

Judul Buku
:
Guriding Alat Musik Tradisional Kalimantan Selatan
Penulis
:
Mohd. Saperi Kadir
Penerbit:
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Permuseuman, Kalimantan Selatan
Cetakan
:
1985/1986
Tebal
:
v + 67 halaman
Ukuran
:
0,9 x 28, 4 cm
 

Buku dengan judul Guriding Alat Musik Tradisional Kalimantan Selatan ini adalah buku terbitan lama namun masih penting untuk dibaca, khususnya bagi Anda generasi muda Banua, sebutan untuk orang Kalimantan Selatan. Pentingnya karena dua hal, pertama karena buku ini membahas tentang sebuah kesenian tradisional yang saat ini keberadaan hampir punah, yaitu guriding atau kuriding. Kedua berhubungan dengan mitos yang melatari kemunculan guriding yang hingga saat ini masih disakralkan oleh orang Kalimantan.

Tentang Guriding

Guriding adalah alat musik tradisional asli buatan nenek moyang orang Banua, Kalimantan Selatan. Guriding terbuat dari bambu atau kayu, berbentuk kecil, dan memiliki alat getar (tali) serta tali penarik. Guriding dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir sambil menarik gagang tali getar. Bunyi akan muncul ketika tali getar bergetar. Dan bunyi akan terdengar merdu jika sang pemain dapat menarik tali dengan ritme tertentu.

Mitos asal-usul guriding menarik untuk disimak. Syahdan, guriding adalah milik seekor macan di hutan Kalimantan Selatan. Suatu ketika, sang macan meminta anaknya untuk memainkan guriding. Namun, sang anak justru mati karena tenggorokannya tertusuk guriding. Akibatnya sang macan mewanti-wanti agar anak keturunannya tidak lagi memainkan guriding. Dalam perkembangannya, mitos ini menjadi dasar mitos masyarakat Banjar membunyikan guriding, yakni sebagai alat ampuh untuk mengusir macan. Mereka juga menggantungkan atau meletakkannya di atas tempat tidur anak-anak mereka (h. 27-30).

Dalam kehidupan sosial dan budaya orang Banjar, guriding memiliki fungsi guna yang beragam, yaitu sebagai alat untuk pelipur lara di kala sepi dan melepas lelah usai bekerja di kebun atau hutan, sebagai alat untuk mengingatkan mereka akan leluhur, dan sebagai media yang disakralkan. Fungsi-fungsi ini masih dipercaya oleh masyarakat hingga kini. Akan tetapi mereka sudah jarang memainkan atau menyimpannya, kecuali mereka yang masih peduli dengan budaya tradisi.

Keberadaan guriding saat ini sangat memprihatinkan, bahkan hampir punah. Guriding saat ini hanya dimainkan oleh generasi tua yang tinggal di perkampungan. Para generasi muda sudah enggan memainkan guriding. Selain dianggap sudah ketinggalan zaman, para generasi muda banua lebih suka memainkan alat musik modern, seperti gitar, play stations, mendengarkan musik dari radio atau telpon genggam. Keadaan ini membuat pemerhati budaya Kalimantan Selatan sedih. Guriding sebagai peninggalan leluhur yang telah turut menyumbang kekayaan budaya Banjar mestinya dipelihara.  

Beberapa Agenda

Mengingat keberadaan guriding yang memprihatinkan, maka ini menjadi satu pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemerintah Daerah (Pemda) dan para pemerhati budaya Banua untuk menyelamatkan guriding dari kepunahan. Kedua pihak ini (tentunya dibantu juga oleh masyarakat) perlu membuat agenda atau program yang melibatkan banyak pihak, mulai dari penelitian, penulisan, pementasan guriding, pemberian kesejahteraan kepada pelaku seni guriding, serta mengikutkan guriding dalam festival budaya Kalimantan Selatan.

Selain itu, perlu juga digagas program untuk mengenalkan guriding kepada generasi muda sejak dini. Anak-anak sekolah dari mulai SD hingga SMU/SMK perlu didekatkan dan diajarkan untuk memainkan alat-alat musik tradisional seperti guriding. Selain tiu, dimungkinkan untuk memasukkan guriding sebagai bagian dari pelajaran seni kurikulum bermuatan lokal. Dengan memasukkan seni tradisional dalam kurikulum muatan lokal, maka siswa mau tidak mau akan mempelajari guriding.

Meskipun demikian, para guru pengampu dituntut untuk mencari format pengajaran yang menyenangkan, tujuannya agar siswa tidak bosan dan menikmati pelajaran. Sang guru huga dituntut untuk dapat memperagakan alat-alat musik tradisional yang ada di depan kelas agar para siswa melihat secara langsung dan mempraktekkannya.

Satu hal lagi yang lebih penting dicatat dalam menjalankan program-program di atas adalah, jangan sampai program pelestarian budaya yang ada hanya dijadikan sarana untuk menggapai kepentingan politik seseorang yang sesaat. Hal ini dimungkinkan, mengingat saat ini ketika daerah sedang eforia melaksanakan pemilu kepala daerah (pemilukada), tidak sedikit para calon mengkomodifikasi kebudayaan daerah untuk menaikkan citra mereka, agar terlihat peduli dengan kebudayaan tradisi. Dalam konteks ini, budaya diposisikan sebagai komoditas politik untuk meraih simpati. Akibatnya, kebudayaan tradisi hanya digelar meriah di awal namun sepi di akhir.

Yusuf Efendi (res/30/10-10).

Dibaca : 4763 kali.