Sabtu, 29 April 2017   |   Ahad, 2 Sya'ban 1438 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

19 Februari 2009

Menyelamatkan Khazanah Pernaskahan Aceh

 Menyelamatkan Khazanah Pernaskahan Aceh

Judul Buku
:
Katalog Naskah Ali Hasjmy Aceh (Catalogue of Aceh Manuscripts: Ali Hasjmy Collection)
Penulis
:
Oman Fathurahman & Munawar Holil
Penerbit:
C-DATS Tokyo, PPIM UIN Jakarta, dan MANASSA
Cetakan
:
Pertama, 2007
Tebal
:
xvi + 303 halaman
 

Katalog ini mendeskripsikan koleksi naskah milik Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (YPAH), salah satu lembaga penyimpan naskah-naskah Aceh yang selamat dari terjangan hebat gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004.

Ali Hasjmy (lahir di Lampaseh,  Banda Aceh, 28 Maret 1914; meninggal di Banda Aceh, 18 Januari 1998) adalah mantan Gubernur Aceh (1957-1964) dan salah seorang intelektual Aceh yang terkemuka. Beliau juga dikenal sebagai sastrawan, budayawan, dan ulama (pernah menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia/MUI Aceh). Warisan kepustakaan beliau berupa naskah-naskah yang dideskripsikan dalam katalog ini, buku-buku, dan benda budaya lainnya, sekarang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy (Ali Hasjmy Foundation) di Banda Aceh.

Katalog ini mendeskripsikan 232 bundel naskah koleksi YPAH yang mengandung 314 teks. Naskah-naskah tersebut dikumpulkan dari masyarakat Aceh dalam rentang waktu antara 1992-1995. Sayang sekali, sejauh yang dapat dikesan dari katalog ini, asal-muasal dan riwayat kepemilikan naskah-naskah tersebut agak luput dari perhatian pengumpul ketika mengumpulkan naskah-naskah tersebut. Sudah lama terdengar kritik bahwa dalam pengumpulan berbagai artefak tradisi tulis klasik dan tradisi lisan Nusantara, banyak kolektor abai mencatat konteks sosial dan kepemilikan artefak-artefak tersebut, padahal aspek ini tak kalah pentingnya dari informasi mengenai aspek intrinsik teks-teks itu sendiri.

Penyusunan katalog ini merupakan rangkaian dari proyek konservasi dan digitalisasi naskah-naskah koleksi YPAH. Usaha ini diprakarsai oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) dan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, bekerjasama dengan Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Jepang. Mengutip kata-kata Prof. Dr. Edwin Wieringa, Guru Besar dalam bidang bahasa dan Sastra Indonesia dan Pengkajian Islam di Universitas Cologne, Jerman, yang memberi pengantar untuk katalog ini, “...pendokumentasian ini membantu untuk melestarikan peninggalan sejarah Aceh” (hlm.v-vi).

Naskah-naskah koleksi YPAH ditulis dalam tiga bahasa: 45% bahasa Arab; 45% bahasa Melayu dan Arab; dan hanya 10% yang ditulis dalam bahasa Aceh. Sebagian besarnya berisi teks keagamaan, yang merefleksikan kuatnya keislaman masyarakat Aceh.

Berdasarkan isinya, 7% dari koleksi naskah YPAH berupa Al-Quran (23 teks) yang diberi kode Q; 2% (7 teks) berisi hadis yang diberi kode HD; 2% (7 teks) berisi tafsir yang diberi kode TF; 13% (41 teks) berisi tauhid yang diberi kode TH; 24% (74 teks) berisi fikih yang diberi kode FK; 15% (47 teks) berisi tasauf yang diberi kode TS; 16% (50 teks) berisi tatabahasa yang diberi kode TB; 7% (22 teks) berisi zikir dan doa  yang diberi kode ZD; 5% (15 teks) berisi hikayat yang diberi kode HK; dan 9% (28 teks) mengandung lain-lain topik yang diberi kode LL (hlm.viii). Katalog ini disusun mengikut urutan kandungan isi teks di atas.

Penyusunan katalog ini memakai sistem penomoran baru, tapi tetap menginformasikan kode naskah yang lama. Judul setiap teks ditulis dalam huruf kapital yang dihitamkan dan ditaruh dalam tanda kurung siku. “Setiap deskripsi teks didahului oleh kolom-kolom yang berisi penjelasan tentang judul teks, kode naskah baru, kode naskah lama, bahasa yang digunakan, jumlah halaman, jenis kertas yang digunakan [termasuk capnya], bentuk teks, ukuran naskah [...], serta jumlah baris rata-rata per halaman.” (hlm.ix). Pada teks-teks tertentu yang memiliki kolofon, informasi itu dilengkapi dengan keterangan tentang pengarang, penyalin, dan tarikh selesainya penyalinan.

Penyusun menginformasikan keterangan fisik naskah, ringkasan isi, dan keterangan tambahan. Dalam ringkasan isi kadang kadang dikutip bagian dari tulisan teks yang ditaruh dalam tanda petik dan dicetak miring. Dan dalam kasus kutipan-kutipan yang berbahasa Arab, penyusun menyediakan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

Keadaan fisik naskah-naskah dalam koleksi ini berkisar antara “baik”, “kurang baik”, dan “rusak”.  Namun, tidak ada kriteria yang jelas untuk masing-masing istilah itu. Dalam hal ini saya setuju dengan apa yang dikatakan Dick van der Meij dalam resensinya terhadap katalog ini dan beberapa katalog sejenis lainnya dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 164.2/3 (2008) bahwa istilah-istilah tersebut subjektif dan sangat tergantung kepada perasaan (mood) si penyusun. (Dalam katalog-katalog lainnya terdapat variasi penyebutan kondisi fisik naskah ini, seperti “cukup baik”, “mulai rusak”, “sangat buruk”, “rusak berat”, “masih bagus”, dan “masih baik”).

Beberapa teks dilengkapi dengan reproduksi foto naskah aslinya. Terdapat 33 foto naskah dalam katalog ini. Sayangnya, caption setiap foto tidak menginformasikan halaman naskah yang dipotret. Pada lampiran terdapat tambahan empat foto lagi yang memuat potret Ali Hasjmi dalam bentuk lukisan serta beberapa jepretan bagian interior dan eksterior Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmi di Jalan Jendral Sudirman No 20/28 Lamtemen, Banda Aceh (hlm.295-96).

Deskripsi masing-masing teks (fisik maupun non fisik) dalam katalog ini lebih kaya daripada deskripsi teks dalam dua katalog terdahulu terbitan C-DATS (Katalog Naskah Palembang (2004) dan Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau (2006)). Dalam katalog ini penyusun juga mencantumkan rujukan silang dalam keterangan tambahan beberapa naskah yang sebelumnya sudah pernah diteliti orang. Artikel Jajat Burhanudin “Naskah dan Tradisi Intelektual-keagamaan di Aceh” yang dimuat dalam katalog ini (hlm.1-6) sangat bermanfaat bagi pembaca untuk memperoleh gambaran historis mengenai tradisi keberaksaraan orang Aceh di masa lampau serta peran dan eksistensi naskah dalam kehidupan orang Aceh yang sangat dipengaruhi oleh agama Islam.

Penerbitan katalog ini jelas sangat bermanfaat untuk membuka akses bagi khalayak yang lebih luas untuk mengetahui kekayaan koleksi naskah YPAH. Usaha dua orang akademisi muda asal Sunda—Dr. Oman Fathurahman dan Drs. Munawar Holil, M.Hum.—menyusun katalog ini patut dihargai. Sekarang Dr. Oman bersama rekan-rekan peminat dan pemerhati sastra klasik, bekerjasama dengan rekan-rekan mereka di Aceh, melanjutkan usaha penyelamatan naskah-naskah Aceh yang tersimpan di Dayah Tanoh Abee, Seulimeum, Aceh Besar. Pembangunan gedung baru untuk penyimpanan koleksi naskah Dayah Tanoh Abee sedang dilaksanakan dengan bantuan biaya dari Prins Klaus Fund dari Belanda (2006).

Tahap selanjutnya adalah restorasi, digitalisasi, dan katalogisasi naskah-naskah koleksi Dayah Tanoh Abee di bawah payung proyek untuk Aceh di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) yang sedang berjalan. Berdasarkan pengalaman di daerah lainnya di Indonesia, tahap ini cukup sulit untuk dilewati karena misi akademis berhadapan dengan keyakinan tradisional dan eksklusivisme kedaerahan yang sering dibikin sensitif oleh isu-isu perdagangan ilegal national heritages Indonesia ke negara lain. Tak sedikit pula yang menangguk di air keruh untuk kepentingan politik sesaat.

Usaha restorasi, digitalisasi, dan katalogisasi koleksi naskah Dayah Tanoh Abee pun tak lepas dari isu ini. Kiranya katalog ini cukup untuk memberi keyakinan kepada kita bahwa kerja pernaskahan yang dilakukan Dr. Oman di Aceh semata-mata adalah sebuah misi akademis dalam rangka menyelamatkan khazanah manuskrip Aceh.

Dalam usaha penyelamatan dan penelitian naskah-naskah Indonesia di berbagai daerah, seluruh stakeholder yang ada, khususnya kalangan akademisi—baik di pusat maupun daerah—semestinya dapat saling bekerjasama dengan baik. Mereka harus mampu mengambil jarak dari hingar-bingar dunia politik kita yang tak berkeruncingan ini.

______________________

Suryadi, Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Universiteit Leiden, Belanda

Dibaca : 3749 kali.