Senin, 23 Oktober 2017   |   Tsulasa', 2 Shafar 1439 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

27 April 2009

Yang Kini Baru Terceritakan Setelah Waktu Berlalu

Yang Kini Baru Terceritakan Setelah Waktu Berlalu

Judul Buku
:
Lost Times and Untold Tales from the Malay World
Penyunting
:
Jan van der Putten & Mary Kilcline Cody
Penerbit:
NUS Press, Singapore
Cetakan
:
Pertama, 2009
Tebal
:
xxii + 396 halaman
 

Dalam tradisi akademik, seorang yang sudah dianggap mencapai taraf kepakaran yang mumpuni dalam bidangnya akan diberi ‘kado‘ oleh para sahabat dan koleganya berupa tulisan ilmiah yang dikumpulkan dalam sebuah buku. Lost Times and Untold Tales from the Malay World adalah salah satu di antara ‘kado‘ itu. Collective volume ini adalah sebuah ‘kado cantik‘ yang dipersembahkan para sahabat dan kolega kepada Dr. Ian Proudfoot, ahli Sastra Melayu klasik dan sejarah perbukuan di dunia Melayu dari Australian National University (ANU), Canberra.

Kepakaran Dr. Proudfoot dalam bidang kemelayuan antara lain dapat dikesan dari karya laborious-nya yang sangat monumental, Early Malay Printed Books: A Provisional Account of Materials Published in the Singapore-Malaysia Area up to  1920, Noting Holdings in Major Public Collections (Kuala Lumpur: Academy of Malay Studies, University of Malaya, 1993). Buku yang tebalnya mencapai hampir 900 halaman itu memuat deskripsi bibliografis sebagian besar kitab-kitab lokal berbahasa Melayu dan beraksara Arab-Melayu (Jawi) yang pernah terbit sampai tahun 1920-an di wilayah apa yang disebut pada zaman kolonial sebagai the Straits Settlements. Kepakaran ilmiah Dr. Proudfoot di bidang Sastra Melayu klasik dapat pula dikesan dari proyek Malay Concordance (MCP) yang dikelolanya dan disokong oleh banyak sahabat yang menggeluti bidang ilmu yang sama (lihat: http://mcp.anu.edu.au/Q/mcp.html; dikunjungi 23/2/2009). MCP adalah sebuah database online tentang teks-teks Melayu klasik yang sampai sekarang telah menghimpun hampir 100 teks yang tampaknya akan terus bertambah.

Buku ini, yang disunting oleh Jan van der Putten, dosen Sastra Melayu klasik di Department of Malay Studies of the University of Singapore (NUS), dan Mary Kilcline Cody, salah seorang mahasiswi S3 bimbingan Dr. Proudfoot di Faculty of Asian Studies, ANU, adalah sebuah persembahan yang bernilai tinggi sekaligus tanda salut para sahabat dan kolega Dr. Proudfoot atas kepakarannya. Para penyumbang artikel dalam buku ini adalah akademisi yang namanya telah dikenal luas dalam bidang pengkajian Islam, sejarah Indonesia, Sastra Nusantara klasik, dan tradisi intelektual di dunia Melayu. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi ternama di Eropa, Asia, Amerika Serikat, dan Australia—sebuah tanda yang lebih dari cukup untuk menunjukkan betapa luasnya pergaulan akademis Dr. Ian Proudfoot dan pengakuan atas kepakaran akademisnya.

Buku ini berisi 27 artikel yang menyangkut dunia Melayu zaman lampau. Mengutip kata-kata editornya (hal.xvii-xviii), buku ini adalah:

[…] a multi-diciplinary cohort of international academics presents intriguing, amusing and thought-provoking propaganda, rituals, theatre, art, advertising, Islamic manuscripts, gardens and erotic literature. Linked by themes of transformations in time, texts and technologies, the essays apply the approaches of history, anthropology, art history, archaeology, linguistics, philology, literary criticism, and textual analysis to a marvellous array of cultural expressions from the Malay World, a huge geographical area spanning Peninsular and Insular Southeast Asia, with excursions into West, South, and East Asia as well as “West”. In this volume, mousedeers and beached whales, giant lizards, gaseous windbags and marginal Islamic scholars, Christian priests and Japanese aristocrats all roam around freely—a forceful demonstration of the futility of essentialising the cultural, literary and historical riches of the Malay World.

Lebih dari dua lusin artikel yang terkandung dalam buku ini memang menyentuh beragam pokok bahasan yang sayangnya tidak coba dikelompokkan oleh editornya dalam tema-tema tertentu. Setelah bagian pengenalan oleh kedua editor (hlm.xvii-xxiii), menyusul Artikel Ann Kumar, Guru Besar Sejarah Indonesia di ANU, “Significant Time, Myths and Power in the Javanese Calendar” (hlm.1-16) yang membahas signifikansi budaya sistem penanggalan dalam kebudayaan Jawa yang tidak saja terkait dengan waktu (misalnya hari baik bulan baik), tapi juga mitos dan kekuasaan. Kemudian menyusul artikel M.C. Ricklefs yang merevisi pendapat yang salah selama ini mengenai hari jadi kota Surakarta. Dalam artikel yang berjudul “How Surakarta was Founded in the Wrong Day” ini (hal.17-21), Guru Besar Sejarah Indonesia di NUS dan penulis buku Jogjakarta under Sultan Mangkubumi, 1749-1792: A History of the Division of Java (Oxford University Press, 1974) itu menjelaskan bahwa hari jadi kota Surakarta bukan 20 Februari 1745, tapi tanggal 9 Februari 1746.

Berikutnya menyusul artikel arkeolog senior John N. Miksic, “Shining Stones: The King and the Ascetic in Indonesia” (hlm.22-32) yang membahas fungsi peninggalan arkeologis di Banten yang disebut watu gigilang (‘batu gemilang‘ dalam Bahasa Indonesia) yang ternyata juga ditemukan di berbagai tempat di Asia Tenggara. Miksic menjelaskan bahwa watu gigilang terkait dengan kepercayaan tentang teja atau cahaya nurbuwat atau andaru atau pulung keraton sebagai bagian dari mitos tentang kesaktian seorang raja. Artikel selanjutnya, “An Excursion to Java‘s Get-Richt-Quick Tree” (hlm.33-40), ditulis oleh George Quinn. Dosen senior ANU dan penulis buku The Novel in Javanese: Aspects of Its Social and Literary Character (KITLV Press,1992) ini membahas fenomena budaya Jawa mengenai kepercayaan kepada tuyul yang terkait dengan sebuah pohon ketos tua di Klaten tempat orang yang ingin cepat kaya minta wangsit.

Sejarawan NUS Singapore, Timothy P. Barnard, menyumbang artikel yang berjudul “Chasing the Dragon: An Early Expedition to Komodo Island” (hlm.41-53). Artikel ini memaparkan ekspedisi petualang Amerika Douglas Burden ke Pulau Komodo tahun 1926 dan efeknya terhadap masyarakat Barat, khususnya di Amerika. Akademikus Jepang dan peneliti sejarah perbukuan pribumi Sunda, Mikihiro Moriyama, menyumbang artikel yang berjudul “Lord Hunting Tiger and Malay Learning in Japan before the War” (hlm.54-65). Artikel ini membahas peran seorang keturunan bangsawan Jepang yang hobi berburu, Marquis Yoshichika Tokugawa (1886-1976) dalam pengenalan dan pengajaran Bahasa Melayu di Jepang.

Penyumbang berikutnya adalah Amin Sweeney, Professor Emeritus dalam bidang kajian Melayu di University of California, Berkeley dan penulis seri buku Karya Lengkap Abdullah Munsyi (KPG dll., 2005, 2006, 2008). Artikelnya yang berjudul “Martyr to Science or Gaseous Windbag of Colossal Ignorance?” (hlm.66-81) merekonstruksi ekspedisi ilmuwan Inggris H.M. Betcher ke Gunung Tahan di Semenanjung Malaya (di Trengganu?) yang merenggut nyawanya di usia muda (39 tahun). Setelah itu menyusul artikel Mary Kilcline Cody, “A Paler Shade of White” (hlm.82-96) yang menelaah iklan “pink pills” oleh Dr. William di koran Malay Mail yang terbit di Semananjung Malaya pada awal abad ke-20. Disebutkan bahwa obat itu menyembuhkan “cure poor and watery blood, anaemia, chlorosis or green sickness, dizziness, palpitations, headache, dyspepsia, eruptions, swelling of the hand and feet, and general ability” (hlm.83).

Paul H. Kratoska, pengajar pada Jurusan Sejarah NUS, membicarakan teknik propaganda Jepang di Indonesia dan Malaysia dalam Perang Dunia II dalam artikelnya, “The Perils of  Propaganda” (hlm. 97-113). Penulis membahas penggunaan kartu pos dan komik oleh penjajah Jepang untuk menarik simpati bangsa Indonesia, seperti dalam comic strip Pa‘Aloei (‘Pak Alwi‘) yang diterbitkan oleh Balai Poestaka. Selanjutnya menyusul sumbangan Jan van der Putten dengan artikelnya yang berjudul “Wanted” (hlm.114-28). Putten membahas sayembara mencari bunonan Belanda di dunia Melayu pada abad ke-19 ketika di wilayah ini teknologi fotografi belum lagi dikenal dan tingkat keberaksaraan penduduk pribumi masih rendah sekali. Ia mengangkat studi kasus “Proklamasi Van Braam” mencari buronan ‘pemberontak‘ Melayu penguasa Kerajaan Selangor di Semenanjung Malaya tahun 1784.

Berikutnya adalah artikel Wendy Mukherjee, peneliti tamu pada Southeast Asian Studies Centre, Faculty of Asian Studies, ANU. Dalam artikelnya yang berjudul “In Search of Fatimah” (hlm.129-37), Mukherjee membahas representasi figur Fatimah, anak perempuan Rasulullah SAW, dalam sastra Melayu klasik. Menyusul kemudian artikel Michael Laffan: “When is a Jawi Jawi?; A Short Note of Pieter Sourij‘s ‘Maldin‘ and his Minang Student ‘Sayf al-Rijal‘” (hlm.139-47). Dalam artikel tersebut, Asisten Professor di Princeton University dan penulis buku Islamic Nationhood and Colonial Indonesia (RoutledgeCurzon 2003) ini membahas istilah Maldin yang tampaknya merujuk kepada ibukota Aceh yang ditemukan dalam naskah no. 476L  yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Princeton dari koleksi Robert Garret (1875-1961) dan epigraph Jerman Enno Littmann (1875-1958).

Berikutnya adalah sumbangan  A.H. John, Professor Emeritus di ANU, yang tampaknya terus berkutat mengungkap mistisisme dalam naskah-naskah Islam Nusantara, khususnya dari Aceh, seperti terefleksi dalam judul  artikelnya, “Reflections on the Mysticism of Shams al-Din al-Samatra‘i (1550?–1630)” (hlm.148-63). Kehidupan intelektual Melayu Zainal Abidin Ahmad (1895-1973) dan sumbangannya terhadap penerbitan Majalah Guru yang jarang dibicarakan orang disorot oleh Mark Emmanuel, Asisten Professor di Jurusan Sejarah NUS, dalam artikelnya yang berjudul “A Life Unrecognised: Muhammad Yusuf Ahmad and Majalah Guru” (hlm.164-76). Berikutnya menyusul artikel dari sejarawan senior Anthony Reid, “Fr Pécot and the Earliest Catholic Imprints in Malay” (hlm.177-85) yang membahas peran seorang pendeta Perancis, Fr. Mathurin Pierre Pécot (1786-1823) dalam dunia percetakan Eropa di Penang pada abad ke-19.

Kontributor berikutnya adalah Edwin Wieringa, Guru Besar dalam bidang Bahasa dan Sastra Indonesia dan Pengkajian Islam di University of Cologne. Artikelnya yang berjudul “Some Light on Ahmad al-Fatani‘s Nur al-Mubin (“The Clear Light”)” (hlm.186-97) membahas  kandungan dan iluminasi kitab Nur al-Mubin (‘Cahaya Terang‘) karangan ulama Ahmad b. Muhammad Zayn al-Fatani (lahir di Kampung Sena Jajar, Patani, 1856; wafat di Mina, Saudi Arabia, 14 Januari 1908). Sumbangan berikutnya berasal dari Julian Millie, peneliti pada School of Political and Social Inquiry di Monash University. Artikelnya berjudul “Ritual Recitation of Abdul Qadir‘s Karamat: A Social History” (hlm.198-209), yang tampaknya masih sejalan dengan topik disertasinya di Universitas Leiden mengenai “ritual reading and Islamic sanctity in West Java” (2006). Mediatisasi apresiasi sastra klasik Bali lewat radio dan televisi di zaman modern sekarang dibahas oleh Helen Creese, Kepala Penelitian pada School of Languages and Comparative Cultural Studies, University of Queensland, dalam artikel sumbangannya yang berjudul “Singing the Text: On-air Textual Interpretation in Bali” (hlm.210-26).

Jejak sastra Jerman dalam kesusastraan Indonesia dan Malaysia dibahas oleh Holger Warnk, dosen Johann Wolfgang Goethe-Universität Frankfurt, Jerman. Ia menelusuri berbagai genre yang mengadopsi dan merepresentasikan karya Goethe, Faust, di Nusantara dalam artikelnya yang berjudul “Faust does Nusantara” (hlm.227-40). Sumbangan berikutnya berasal dari Muhammad Haji Salleh, pengajar sastra bandingan di Universiti Sains Malaysia, Penang, yang membahas aspek percintaan dalam Hikayat Raja Kulawundu, sebagaimana terefeksi dari judul artikelnya: “Finding Love in Hikayat Raja Kulawundu” (hlm.241-56). Tema yang masih bersinggungan dengan cinta dibahas pula dalam sumbangan berikutnya, “The Thread of Eroticism in Faridah Hanom, An early Malay Novel by Syed Sheikh al-Hadi” (hlm.257-67) oleh Christine Campbell, peneliti tamu pada Southeast Asia Centre, Faculty of Asian Studies, ANU.

Peneliti senior KITLV Leiden, Kees van Dijk, mengajak pembaca menapaktilasi sejarah masuknya teknologi sepeda ke Asia Tenggara dan efek sosial-budaya yang ditimbulkannya lewat artikelnya yang menarik dan ‘kocak‘ “Pedal Power in Southeast Asia” (hlm.268-82). Masih terkait dengan efek teknologi Barat terhadap masyarakat pribumi Hindia Belanda pada zaman kolonial, Islamologis Leiden Univeristy, Nico J.G. Kaptein, dalam artikelnya “The Lament of an Old Man: Sayyid ‘Uthman (1822-1914) of Batavia on Cars” (hlm.283-89), membahas pandangan ulama Batavia keturunan Arab, Sayyid ‘Uthman, terhadap teknologi mobil buatan Eropa yang sejak akhir abad ke-19 mulai merancah lebuh-lebuh raya di Hindia Belanda.

Artikel selanjutnya, “Some Thoughts on Islamic Manuscripts from the Southern Philippiness and the Jawi Tradition” (hlm.290-303) disumbangkan oleh E. Ulrich Kratz. Guru Besar studi Indonesia dan Melayu di SOAS University of London tersebut memberi gambaran mengenai keberadaan naskah-naskah Islam di Filipina Selatan yang selama ini jarang dibicarakan dalam konteks pengkajian khazanah pernaskahan Nusantara. Selanjutnya, Campbell Macknight, peneliti tamu di Department of Anthropology, Research School of Pasific and Asian Studies, ANU, membicarakan proyek penerjemahan kamus klasik Boeginesche-Hollandsch Woordenboek sususan B.F. Matthes (1874) ke dalam Bahasa Inggris dalam artikelnya yang berjudul “To Rescue a Beached Whale: The Translation of Matthes‘  Bugis Dictionary” (hlm.304-18).

Dua artikel terakhir masing-masing disumbangkan oleh Annabel Teh Gallop, Kepala South and Southeast Asia Section di British Library, dan Virginia Hooker, Professor Emeritus di ANU. Dalam artikelnya yang berjudul “Was the Mousedeer Peranakan?; In Search of  Chinese Islamic Influences on Malay Manuscript Arts” (hlm.319-38), Gallop membicarakan aspek kebudayaan Cina yang dipengaruhi Islam dalam iluminasi naskah-naskah Melayu. Sementara Hooker yang menulis “Garden of Knowledge: From Bustan to Taman” (hlm.339-56) membicarakan makna metaforis kata bustan (Bahasa Arab) di dunia Melayu pada masa lampau (misalnya seperti terefleksi dalam judul kitab  Bustan al-Salatin dan Bustan al-Katibin) dan pergeseran penggunaannya oleh kata taman yang kadang-kadang berkonotasi fisik (misalnya dalam istilah Taman Pendidikan al-Qur‘anAnu‘ yang sekarang banyak dijumpai di berbagai kota di Indonesia).

Buku ini, yang dilengkapi dengan sejumlah tabel, foto-foto, bibliografi umum, CV singkat para kontributor dan indeks, tentu sangat penting dibaca oleh peneliti dan mahasiswa bidang studi sejarah, bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan Melayu. Kerja keras kedua editor untuk mewujudkan buku ini pantas dihargai, meskipun di sana sini masih ditemukan sedikit salah cetak (misalnya, lagu pop Bail [maksudnya Bali] di hlm.223). Setelah membaca buku yang bagus ini, hanya tesisa sedikit pertanyaan dalam pikiran saya: mengapa pada judulnya sama sekali tidak dimunculkan nama Ian Proudfoot, kepada siapa buku ini didedikasikan? Sayang sedikit di ‘bungkus‘ ‘kado cantik‘ ini si ‘pengirim‘ tak langsung ‘menuliskan‘ nama si ‘penerima‘.

________________________

Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië Universiteit Leiden, Belanda (email: s.suryadi@hum.leidenuniv.nl)

Dibaca : 3870 kali.