Jumat, 31 Oktober 2014   |   Sabtu, 7 Muharam 1436 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

07 Februari 2010

Mencicipi Cita Rasa Masakan Melayu Riau

Mencicipi Cita Rasa Masakan Melayu Riau

Judul Buku
:
Aneka Resep Masakan Melayu Riau
Penulis
:
Pengurus Wilayah Badan Kontak Majelis Taklim (PW BKMT) Provinsi Riau
Penerbit:
BKPBM dan Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
I, 2005
Tebal
:
xvi + 111 halaman
 

Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia memiliki kekayaan rempah-rempah yang berlimpah. Itulah sebabnya, Belanda melirik Indonesia dan mengeruk kekayaan alam yang satu ini untuk dibawa ke negara mereka. Rempah-rempah ini pulalah yang membedakan cita rasa Nusantara dengan cita rasa kuliner Eropa. Rasa kuliner Eropa tidaklah sekomplit cita rasa Nusantara yang bernuansa manis, pedas, asin, dan juga asam dalam satu paduan masakan.

Cita rasa kuliner Nusantara memiliki keunikan rasa tersendiri. Masakan Jawa Tengah dan Yogyakarta, misalnya, didominasi oleh cita rasa manis, sedangkan masakan Jawa Timur cenderung memiliki selera asin-pedas. Berbeda dengan Jawa, kuliner Sumatera dominan dengan rasa pedasnya. Meski sama-sama menyukai pedas, masing-masing daerah di Sumatra memiliki cita rasa lokal sendiri-sendiri. Masakan Padang sarat dengan bumbu-bumbu pedas bersantan, sedangkan masakan Melayu Riau cenderung bercita rasa asam-pedas.

Buku Aneka Resep Masakan Melayu Riau ini memperkenalkan beragam masakan Melayu, meliputi makanan ‘setengah berat‘, kue-kue, serta minuman segar khas Melayu Riau. Buku resep ini tak kalah menarik dengan berbagai buku resep yang ada di toko-toko buku. Lembaran kertasnya berwarna dan dipenuhi oleh pajangan foto masakan. Penyajian resepnya pun lebih sistematis karena setiap resep dikelompokkan ke dalam tema-tema tersendiri, sehingga sangat mudah mencari resep yang diinginkan. Yang pasti, buku ini cukup komplit, memuat 111 resep masakan Melayu Riau sebagai pedoman bagi ibu-ibu, chef, maupun pemerhati masakan yang ingin menyuguhkan aneka rasa masakan Melayu.

Buku resep ini merupakan kumpulan resep hasil dari lomba cipta masakan, penganan, dan minuman segar yang diselenggarakan oleh PW BKMT Provinsi Riau dalam rangka mensosialisasikan aneka jenis makanan tradisional. Nama-nama makanan dan minuman tradisional ini cukup sederhana namun unik dan menarik. Sebagian nama-nama tersebut bernuansa Melayu, seperti ”Roti Jala”, ”Konde Cik Puan”, ”Pie Mahligai Raja”, ”Batu Permata di Sungai Rokan” dan sebagainya.

Yang lebih mengesankan adalah sebagian nama-nama makanan tersebut tak sekedar unik dan menarik, namun juga membuat orang tersenyum. Misalnya, ”Soto Mak Lung Terkejut”, ”Gadih Berondok” (gadis bersembunyi) maupun ”Ubi Berdendang”. Soto Mak Lung Terkejut komposisinya sama dengan beragam soto dari berbagai daerah. Bedanya, sentuhan cita rasa lokal khas Melayu telah menyatu, berupa tambahan taoco, lontong kentang serta kacang kedelai. Rasa khasnya lumayan membuat kita terkejut dengan kelezatannya. Mungkin itulah pesan dalam semangkok ”Soto Mak Lung Terkejut”. Lain lagi dengan sajian ”Gadih Berondok”. Penganan ini mirip dengan tahu-telur ala Jawa, dengan telur menyembul di tengahnya. Bedanya, ”Gadih Berondok” terbuat dari olahan singkong.

Makanan spesial khas Melayu Riau ialah ”Roti Jala” dan ”Bolu Kembojo”. Penganan ini hampir pasti hadir di tengah perjamuan besar. Roti jala bahkan menjadi hidangan lokal istimewa dalam pernikahan putra pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. Mau tahu resepnya? Berikut ini contoh resep ”Roti Jala Gurih” untuk Anda.

Bahan-bahan:

  • ½ kg tepung terigu
  • ½ butir telur
  • ½ sendok minyak goreng
  • 50 gram daging
  • 1 buah kelapa (untuk santan)
  • air putih secukupnya
  • bumbu gulai secukupnya

Cara membuatnya tidak serumit yang kita bayangkan. Kocoklah telur dengan mixer selama kurang lebih ½ jam, lalu masukkan tepung terigu dan air. Kemudian, masukkan dalam cetakan dan masak di atas api kecil dengan menggunakan teflon. Untuk bumbu, tumis bumbu gulai, daging, dan santan. Masak hingga matang.

Sementara yang khas dari penganan Melayu Riau ialah cara penyajian dan cara makannya. Di Riau, beberapa kue bukan sekedar penganan biasa, namun juga sebagai pelengkap masakan khas. Contohnya ialah ”Roti Jala Gurih” atau ”Roti Jala Kari Ayam”. Roti jala seringkali dimakan beserta gulai ayam, gulai daging, atau kari ayam. Cara makan dan penyajiannya inilah yang berbeda dengan penyajian kue-kue biasa di wilayah lain. Jika di wilayah lain kue hanya sekedar kudapan, maka di Riau makan kue jala sudah cukup membuat perut kekenyangan karena ditemani dengan sepiring gulai daging atau seporsi kari ayam.

Kue khas Melayu Riau lainnya ialah ”Bolu Kembojo”. Sebagian orang Riau menyebutnya dengan bolu kemojo. Bahan-bahan bolu kembojo sama dengan bahan-bahan kue lainnya, yaitu dari tepung terigu, gula pasir, mentega, serta telur. Perbedaannya, kue bolu kembojo menggunakan labu manis, santan, serta wijen. Diberi nama bolu kembojo karena bentuk cetakan kue ini serupa dengan bunga kamboja. Itulah sebabnya, bolu kembojo selalu berbentuk bunga kamboja. Jika tak lagi berbentuk bunga kamboja, kemungkinan besar kue ini harus berganti nama.

Tak berbeda dengan aneka penganan, variasi minuman hasil olahan tangan-tangan terampil masyarakat Riau juga tersaji dengan keunikan-keunikannya tersendiri. Ada resep minuman ”Air Tebu Nostalgia” yang memberi kesan bahwa siapa pun yang meminumnya akan terus teringat dan bernostalgia dengan kesegarannya. Ada pula resep ”Es Samudra” dengan komposisi bahan seperti rumput laut, coco pandan, plus durian yang menggambarkan kesegaran airnya yang seakan tak ada habis-habisnya.

Sementara yang tak kalah menarik ialah ”Es Sirop Mak Inang Sayang”. Sajian es sirop ini menggambarkan betapa segarnya minuman yang diolah oleh ‘Mak Inang‘ dengan penuh kasih sayang. Meski bahan-bahannya tak jauh berbeda dengan es campur di pasar-pasar biasa, namun irisan ‘lembut‘ nanas, apel, agar-agar, ditambah sejuta ‘kasih‘ dari sirop jeruk keprok serta sesendok perasan ‘cinta‘ dari jeruk nipis sudah cukup untuk menghilangkan dahaga. Penasaran dengan rasanya? Buktikan saja!

Oleh : Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)
Dibaca : 31753 kali.