Senin, 24 November 2014   |   Tsulasa', 1 Shafar 1436 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

27 April 2007

Manusia Bugis

Judul Asli: The Bugis
Penulis: Christian Pelras
Penerjemah: Abdul Rahman Abu Dkk.
Penerbit: Nalar, 2006
Tebal: xxxix + 449

Siapakah manusia Bugis itu? Apa karakteristik yang melekat padanya sehingga berbeda de-ngan kelompok manusia lainnya, seperti manusia Jawa, Bali, Melayu, dan lain-lain? Dan bagaimana karakter kebugisan itu terbentuk, bertahan, dan berubah mengikuti gerak-gerak zaman?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang dituangkan oleh Christian Pelras, antropolog berkebangsaan Prancis, dalam bukunya, Manusia Bugis. Spektrum pemaparannya amat luas dan komprehensif; bak sebuah repertoar dalam adegan sandiwara Hamlet. Memuat tentang asal-usul, kondisi geografi dan ekologi, sistem teknologi, organisasi sosial dan sistem perkawinan, seni sastra, religi, ekonomi, politik, dan watak manusia Bugis menurut tapak-tapak waktu. Mulai dari milenium pertama tarikh Masehi hingga sekarang. Penyajian seperti itu dimungkinkan karena Pelras melakukan penelusuran dokumen yang amat teliti dan penelitian lapangan yang intensif. Risetnya berlangsung selama 40 tahun (19501990).

Temuannya mencengangkan. Sebab-, jejak-jejak masa silam orang Bugis yang masih samar-samar dan yang belum terinstal dalam peta pengetahuan bagi umumnya orang Bugis, termasuk pemerhati dan ilmuwan sosial, dipaparkan secara amat meyakinkan-. Meskipun pijakan penelitiannya, kitab La Galigo, diragukan kesahihannya dan bahkan ditentang oleh sejumlah peneliti- mengenai Sulawesi Selatan lainnya, seperti Andaya, Caldwell, dan Koolhof, argumentasinya logis dan di-ser-tai dengan bukti arkeologis.

Lebih dari itu, ia menampik keyakinan masyarakat umum dan ilmiah- bahwa moyang orang Bugis pelaut ulung. Bagi Pelras, mereka petani dan pedagang. Aktivitas kemaritiman baru ditekuni orang Bugis pada abad ke-18. Anggapan mengenai nenek- moyang- orang Bugis sebagai pelaut ulung bersumber dari banyaknya perahu Bugis pada abad ke-19 yang berlabuh di berbagai wilayah Nusantara, Papua, Singa-pura, bagian selatan Filipina, dan pantai barat laut Australia. Lagi pula, perahu phinisi yang terkenal dan dianggap telah berusia ratusan tahun, bentuk, dan model akhirnya baru ditemu-kan antara penghujung abad ke-19 hingga 1930-an (hlm. 34).

Hal lain yang diungkap oleh Pelras adalah bahwa orang Bugis sejak 1800-an telah menembus ruang yang masih- dibatasi oleh jarak. James Brook, penge-lana berkulit putih yang berkunjung ke Wajo pada 1840, ditanya tentang situasi politik di Turki dan nasib Napoleon (Pelras, Tapak-tapak Waktu-, 2002: 45). Selain itu, orang Bugis mampu mendirikan kerajaan yang tidak mengandung pengaruh India dan tidak mendirikan kota sebagai pusat aktivitas mereka. Perpaduan antara karya sastra tertulis dan tradisi lisan melahirkan La Galigo yang justru lebih panjang dari Mahabarata.

Sungguhpun demikian, karya Pelras tidak luput dari kelemahan, ter-utama menyangkut karakter orang Bugis di lapis waktu kini. Klaim Pelras bahwa pola interaksi sehari-hari warga masyarakat Bugis dilandasi oleh sistem patron-klien tampaknya sudah sangat- langka. Itu tampak nyata dalam kehidupan petani dan nelayan, dengan hubungan antara ponggawa (pemilik sarana produksi) dan sawi (buruh yang mengoperasikan peralatan produksi) yang cenderung eksploitatif. Dalam sistem bagi hasil, sawi men-dapatkan bagian yang sa-ngat kecil, sehingga kondisi ekonominya selalu ber-ada di am-bang kelaparan. Kalaupun ponggawa sa-ngat mudah- memberikan pinjaman berupa pangan dan uang kepada sawi-nya, itu lebih se-bagai strategi ponggawa agar sawi-nya senantiasa dalam genggamannya.

Demikian halnya karakter orang Bugis yang menghargai orang lain dan sangat setia kawan, tampaknya mungkin sudah mulai tergerus oleh arus zaman. Lihatlah kondisi pada 2000: Sulawesi Selatan, termasuk di daerah Bugis, terdapat banyak balita dan anak-anak yang menderita kelaparan gizi, juga cukup banyak orang Bugis yang menunaikan ibadah haji. Hal itu meng-isyaratkan bahwa orang Bugis yang arus rezekinya agak deras kurang memiliki kepedulian terhadap tetangganya.

Drs Yahya MA, dosen antropologi Universitas Hasanuddin

Sumber: Majalah Tempo
Dibaca : 4934 kali.