Rabu, 26 November 2014   |   Khamis, 3 Shafar 1436 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

16 Februari 2010

Kumpulan Cerita Rakyat Riau

Kumpulan Cerita Rakyat Riau

Judul Buku
:
Kumpulan Cerita Rakyat Riau
Penulis
:
Daryatun dkk.
Penerbit:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, 2007
Tebal
:
102 halaman
 

Bumi Nusantara sangat kaya akan cerita rakyat baik yang terdokumentasi maupun yang diwariskan secara lisan dan turun temurun. Cerita rakyat Nusantara sarat dengan kisah-kisah keteladanan. Oleh sebagian besar masyarakat, cerita-cerita rakyat tersebut menjadi acuan atau pedoman dalam aspek bertingkah laku.

Sayangnya, peradaban modern telah meminggirkan warisan kebudayaan yang satu ini. Padahal, di balik setiap cerita rakyat, dapat ditemukan pesan-pesan yang tersembunyi, baik dimensi kepahlawanan, budi pekerti, keteladanan, pelajaran moral, ataupun hukum sebab akibat. Di Padang misalnya, cerita rakyat Malin Kundang menjadi petuah yang penting agar seseorang dapat menjaga dirinya dengan baik, tidak sombong, serta berbakti kepada orang tua. Di Jawa, cerita rakyat Joko Tingkir memberi pesan kepada kita agar teguh dalam memegang janji. Demikian halnya dengan cerita rakyat Melayu yang sengaja dikumpulkan dalam satu rangkaian buku ini.

Penerbitan buku Kumpulan Cerita Rakyat Riau yang dilakukan oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Riau, bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), memiliki tujuan yang mulia, salah satu di antaranya ialah memperkenalkan cerita rakyat sebagai warisan budaya serta mendidik moral anak bangsa melalui kisah-kisah keteladanan dan petuah-petuah kehidupan yang termuat di dalamnya.

Cerita rakyat sesungguhnya dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan akhlak. Mahyudin Al Mudra, selaku pimpinan BKPBM yang juga salah satu penulis dalam buku ini mengungkapkan, tujuan penulisan dan penerbitan buku Kumpulan Cerita Rakyat Riau ialah untuk memperkenalkan beragam cerita rakyat yang ada di daerah Riau kepada pewaris kebudayaan Melayu, khususnya anak-anak dan juga masyarakat umum. Selain itu, diterbitkannya buku ini sekaligus juga untuk memperkaya khazanah budaya Nusantara yang pada gilirannya perlu terus menerus dilestarikan.

Cerita rakyat yang dihimpun di dalam buku ini seluruhnya berasal dari daerah Riau dan tersaji sebanyak 24 kisah. Tema-temanya beragam, mulai dari tema yang memuat pesan tentang keteladanan moral, seperti dalam kisah “Si Lancang”, “Legenda Batang Tuaka”, serta “Batu Batangkup”. Ada juga tema yang berkisah tentang pentingnya tindakan memegang janji, sebagaimana cerita “Mahligai Keloyang”, “Dang Gedunai”, maupun “Legenda Ikan Patin” dan sebagainya.

Kemudian terdapat pula tema kepahlawanan, kesetiaan dan loyalitas, sebagaimana dikisahkan dalam “Hang Tuah Kesatria Melayu”, “Pangeran Suta dan Raja Bayang”, hingga tema asal usul suatu daerah di Riau, yang dikisahkan dalam cerita “Puteri Kaca Mayang” yang menceritakan asal usul Kota Pekanbaru serta kisah “Puteri Tujuh” yang menceritakan asal usul Kota Dumai. Tak ketinggalan, tema asal usul keturunan atau nenek moyang juga diceritakan dalam kisah “Puteri Pinang Masak” yang merupakan nenek moyang suku Kubu dan Talang Mamak di Jambi, dan cerita “Puteri Pandan Berduri” sebagai nenek moyang masyarakat di Teluk Bintan.

Setiap tema sebagaimana disebutkan tadi memiliki maksud dan tujuan tersendiri. Tema-tema moral seperti yang terkandung dalam cerita “Si Lancang”, mengisahkan tentang sosok si Lancang yang pergi merantau untuk mengubah hidupnya, meskipun ia harus meninggalkan emaknya yang sudah tua. Kala dirinya telah menjadi orang kaya, ia malu memiliki emak yang tua dan miskin sehingga rasa malu itu menguasai dirinya dan ia tak mau mengakui emak sebagai ibu kandungnya (hlm. 11). Rupanya, nama si Lancang sengaja dipakai sebagai simbol untuk mengingatkan kita agar tidak berperilaku “lancang” (tidak sopan) terhadap orang tua yang sudah semestinya dihormati. Kisah serupa diceritakan dengan judul dan versi yang sedikit berbeda, yaitu “Legenda Batang Tuaka” yang mengguratkan pesan moral penting, di antaranya agar seorang anak harus berbakti kepada kedua orang tuanya.

Tema kepahlawanan dan kesetiaan memberi pesan bahwa sebagai pribadi, kita harus menegakkan kebenaran dan menjaga marwah negeri. Di dalamnya terdapat juga pesan moral bahwa setiap perilaku mengandung unsur sebab akibat. Singkatnya, orang baik akan mendapat hadiah dan orang berperilaku buruk akan mendapat balasan yang setimpal.

Tema yang lain, yaitu cerita legenda. Cerita ini sebenarnya bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat Melayu perihal pentingnya mengetahui asal-usul suatu daerah maupun asal usul nenek moyang mereka, sehingga diharapkan generasi pewaris kebudayaan Melayu dapat mengetahui paling tidak asal-usul daerahnya dan nenek moyang mereka dengan baik. Di antara beragam cerita rakyat tersebut, terdapat kisah yang dipercayai oleh sebagian masyarakat Melayu sebagai fakta. Salah satunya ialah kisah “Legenda Ikan Patin” yang hingga saat ini masih diyakini oleh sebagian besar rakyat Melayu sebagai sebuah kebenaran. Itulah sebabnya, sebagian masyarakat Melayu tidak memakan ikan patin yang mereka yakini sebagai nenek moyang mereka (hlm. 43). Di Brunei misalnya, terdapat sekelompok masyarakat Melayu yang mengaku keturunan Ikan Patin. Uniknya, hampir semua orang yang mengaku keturunan Ikan Patin di Brunei memiliki ciri yang sama, yaitu terdapat luka di bibir layaknya bekas kail pancing.

Cerita rakyat Nusantara pada hakekatnya saling berkorelasi dari satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Masing-masing daerah memiliki kisah dengan alur cerita yang sama, namun dengan versi dan tokoh yang terikat dengan kebudayaan mereka. Kisah “si Lancang” dan “Legenda Batang Tuaka” misalnya, mengingatkan kita pada cerita Malin Kundang dari Padang. Demikan juga cerita “Mahligai Keloyang” yang serupa dengan cerita Joko Tingkir dari Jawa. “Legenda Ikan Patin” di Riau pun ternyata juga serupa dengan cerita rakyat di Brunei. Hal ini menyiratkan bahwa sesungguhnya cerita rakyat Melayu tidak jauh berbeda dengan cerita rakyat dari berbagai pelosok Nusantara dan juga dari negeri seberang yang memiliki rumpun kebudayaan yang sama, yaitu kebudayaan Melayu. Dalam konteks inilah, kita dapat memahami bahwa cerita-cerita rakyat ini sebenarnya berasal dari satu kisah yang kemudian disebarluaskan oleh nenek moyang kita dahulu, seiring dengan tradisi merantau dan perdagangan lintas daerah di zaman mereka.

Hadirnya buku ini merupakan upaya melestarikan khazanah cerita rakyat Melayu yang mulai luntur ditelan jaman. Penerbit buku ini rupanya sadar untuk mengemas buku Kumpulan Cerita Rakyat Riau ini dengan sangat cantik, sehingga diharapkan dapat mempengaruhi minat baca di kalangan anak-anak. Tekstur lembarannya yang ekslusif dan berwarna, dilengkapi dengan gambar di setiap halamannya, membuat buku ini sangat mengesankan. Membaca buku ini, terutama bagi anak-anak diharapkan dapat menikmati setiap jengkal kalimat yang rancak dan mudah dicerna. Di balik semua itu, terselip pesan-pesan yang sengaja dihadirkan, yaitu nilai-nilai luhur bangsa, keteladanan, kejujuran, kesetiakawanan, dan beragam kebaikan lainnya yang sangat khas dalam cerita-cerita rakyat yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak.

Akhir kata, fungsi dari cerita-cerita rakyat Melayu ini bertujuan untuk mendidik akhlak generasi bangsa melalui media cerita rakyat. Banyak pesan moral yang dilandaskan atas nilai-nilai yang islami, sebagaimana sumpah tiga bersaudara dalam kisah “Penghulu Tiga Lorong”:

Tiada boleh akal buruk, budi merangkak
Menggunting dalam lipatan
Memakan darah di dalam
Makan sumpah 1000 siang 1000 malam
Ke atas dak bapucuk
Ke bawah dak baurat
Dikutuk kitab Al-Qur‘an 30 juz.

Oleh : Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)
Dibaca : 45224 kali.