Kamis, 21 Agustus 2014   |   Jum'ah, 24 Syawal 1435 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

18 Februari 2010

Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau

Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau

Judul Buku
:
Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau
Penulis
:
Abdul Malik, Tenas Effendy, Hassan Junus, dan Auzar Thaher
Penerbit
:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, Juni 2004
Tebal
:
xxii + 220 Halaman
Ukuran
:
21 x 24 cm


Masyarakat Melayu, khususnya Melayu Riau, amat kaya akan khazanah kebudayaan. Di antara kekayaan budaya itu adalah tenun Melayu dengan aneka corak (motif) dan raginya (desain) yang memiliki makna filosofis yang dalam. Sejak masa Kerajaan Johor-Riau dan Riau-Johor (1511-1787), tradisi bertenun sudah tumbuh subur di tengah Masyarakat Riau. Secara umum, di daratan pulau Sumatera, aktivitas bertenun berkembang sejalan dengan kebesaran kerajaan-kerajaan Melayu daratan, seperti Kerajaan Pelalawan (1530-1879), Indragiri (1658-1838), dan  Kerajaan Siak Sri Indrapura (1723-1858).

Seni tenun dalam masyarakat Melayu Riau layaknya bunga, buah dan taman kreativitas yang simultan. Karya seni ini merupakan salah satu karya yang unik dan mengagumkan, karena disamping menggambarkan kearifan, kreativitas dan kemajuan masyarakat setempat, juga mengandung nilai-nilai kemanusiaan universal. Nilai-nilai agama dan kebudayaan lokal mengarahkannya menjadi simbol-simbol dalam bentuk busana yang melambangkan kemuliaan pemakainya.    

Kehormatan seseorang, diantaranya dilihat dari model busana yang dikenakan. Di sini busana, dalam taraf tertentu, menjadi alat identifikasi moralitas, karakter dan bahkan status seseorang atau kelompok. Bagi masyarakat Melayu, pakaian tidak semata-mata berfungsi untuk melindungi tubuh dari panas dan hujan, lebih dari itu pakaian berfungsi untuk menutup malu, menjemput budi, menjunjung adat, menolak bala, dan menjunjung bangsa. Karenanya, busana tak hanya bernilai pragmatis, tetapi juga bernilai religius, adat dan kultural, etis dan estetis.

Busana Melayu harus memiliki kualitas “seri gunung dan seri pantai”, artinya pakaian harus indah dilihat dari jauh dan cantik dipandang dari dekat, bagus dipandang oleh mata dan elok ditilik mata hati. Dengan kriteria itulah pakaian Melayu memiliki kualitas “sadu perdana” yang bernilai “tujuh laksana”, atau kecantikan kelas satu yang layak diberikan nilai tujuh bintang.

Berbagai macam corak dan ragi cita rasa seni masyarakat Melayu Riau biasanya dituangkan dalam ukiran (pada kayu, perunggu, emas, perak dan suasa), tenunan (pada tenun siak, bukit bata, daik lingga, pelalawan, indragiri, lintang siantar), sulaman, tekat, suji, dan anyaman. Bentuk dan coraknya merupakan stilisasi dari flora (bunga, kuntum, buah, daun, dan akar-akaran), fauna (jenis unggas, serangga, hewan melata, hewan buas, dan hewan air), alam (benda-benda angkasa), dan bentuk-bentuk tertentu (segi penjuru empat, segi penjuru lima, segi penjuru enam, segi tiga, segi delapan, segi panjang, bulat penuh, bujur telur, lengkung anak bulan, lentik bersusun, kaligrafi, dll).

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, setiap corak dan ragam hias tenun Melayu Riau mengandung makna filosofis tertentu. Nilainya mengacu pada sifat-sifat asal setiap benda yang dijadikan corak, kemudian dipadukan dengan nilai-nilai kepercayaan dan budaya lokal serta nilai-nilai luhur agama Islam, seperti nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah, kerukunan, kearifan, kepahlawanan, kasih sayang, kesuburan, tahu diri, tanggung jawab, dan lain sebagainya.

Corak Pucuk Rebung dengan variasi Pucuk Rebung Kuntum Mambang, misalnya, bermakna menumbuhkan optimisme pada diri orang Melayu, sebagaimana tertuang dalam sebuah ungkapan: pucuk rebung kuntum mambang//cahaya bagai bulan mengambang//hilang raga lenyaplah bimbang//bagaikan bunga baharu berkembang. Contoh lain misalnya pada corak Bunga Cengkeh dengan variasi Bunga Cengkeh Bersusun. Makna tersirat dari corak ini seperti digambarkan dalam pantun berikut ini:

hiasan bunga cengkeh bersusun
dipakai orang di mana saja
harum nama bersopan santun
perangai terbilang hati mulia

Dengan mengacu pada nilai-nilai luhur seperti itulah, corak tenun mendapatkan tempat dalam masyarakat Melayu, digemari dan dibanggakan sebagai salah satu warisan turun temurun dari kegemilangan tamaddun Melayu di masa lampau.

Aneka corak, makna filosofis dan fungsi tersebut di atas dijelaskan secara lebih rinci dan mendalam oleh buku Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau ini. Buku yang ditulis oleh empat pengkaji kebudayaan Melayu tersebut juga menerangkan cara pembuatan tenun dan berbagai hal yang berkaitan dengan proses pembuatannya. Pada bab terakhir dari buku ini pembaca dapat menikmati keindahan sekitar 130 gambar-gambar eksklusif berbagai corak tenun dan ragam hias Melayu Riau yang disertai keterangan makna filosofis masing-masing corak. Buku ini tentu saja sangat penting bagi mereka yang punya perhatian terhadap kelestarian budaya Melayu, terutama seni tenun.


Oleh : M. Yusuf

Dibaca : 25573 kali.