Selasa, 23 September 2014   |   Arbia', 28 Dzulqaidah 1435 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

23 Mei 2007

Melacak Akar Estetika Islam

Judul Buku : Melacak Akar Estetika Islam
Oleh : Mujtahid

Judul Buku : Estetika Islam; Menafsirkan Seni dan Keindahan
Penulis : Oliver Leaman
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan :  I, Maret 2005
Tebal : 315 halaman 

KARYA seni dalam khazanah pengetahuan Islam tergolong cukup langka. Berbeda dengan manuskrip bidang keislaman lainnya seperti tafsir, teologi, fikih, dan tasawuf, perkembangan estetika Islam, agaknya, jauh tertinggal daripada bidang kajian di atas.

 

Perhatian kaum muslim terhadap nilai estetika Islam tampaknya juga tidak begitu antusias. Buktinya masyarakat Indonesia, sebagai pemeluk mayoritas Islam, masih minim pengetahuan aspek-aspek estetika Islam monumental yang pernah tercipta saat peradaban Islam berkembang spektakuler, baik di kawasan Arab maupun Timur Tengah, khususnya Persia dan Baghdad.

 

Sekalipun terdapat buku yang mungkin agak berharga bagi Islam, yakni Atlas Budaya Islam karya Ismail Raji al-Faruqi dan Seni Islam dan Spiritualitas karya Seyyed Hossein Nasr, belumlah mewakili untuk memaparkan nilai-nilai estetika Islam yang pernah terukir di zaman keemasan Islam.

 

Stagnasi peradaban seni Islam hampir tak kunjung bangkit. Krisis karya seni Islam tentu ada sebuah something lack-untuk tidak menyebutnya sebagai something wrong-- dalam memahami makna dan hakikat seni dalam konteks Islam. Akibatnya, kini generasi muslim terasa kehilangan jejak dan akar-akar tradisi estetika Islam yang sangat berharga.

 

Pada 1999 di Mesir, ada sebuah buku--sebelumnya ditulis dari hasil penelitian disertasi--yang sangat kontroversial. Buku tersebut berjudul al-Fannu fi alquran al-Karim karya Muhammad Khalafullah, yang intinya adalah bahwa kisah-kisah sastra atau seni dalam Alquran bukanlah sepenuhnya benar terjadi, melainkan hanya sebagai `metafor` yang dapat diambil makna atau pesan (sosial, moral, spiritual) di balik kisah tersebut, dan itu hanya sebagai salah satu nilai estetik yang diungkap Alquran.

 

Karena dianggap kontroversial, beberapa saat ditangguhkan, karya tersebut harus dikonsultasikan lewat badan fatwa agama (mufti negara). Dan akhirnya, karya ini dicap sebagai karya yang provokatif dan berlawanan dengan kalangan mufasir (ahli tafsir) tradisional dan revivalis. Para mufasir menyatakan kisah sastra atau seni dalam Alquran merupakan kebenaran multak yang tidak bisa diutak-atik lagi.

 

Dari fenomena tersebut, dapat kita pahami bahwa kesadaran estetika kaum muslim masih rendah. Secara akedemis temuan yang jelas berlandaskan metodologi yang sah ternyata dikalahkan jalur agama, yang notabene tidak menggunakan kerangka berpikir rasional dan tidak berkompetensi pada wilayah `seni atau sastra`.

 

Buku yang ditulis Oliver Leaman ini mengajak kaum muslim agar mau melihat kembali akar sejarah estetika Islam. Estetika Islam yang hanya diwujudkan dalam bentuk kaligrafi arabes, lukisan atau gambar, musik, dan seterusnya bukanlah satu-satunya ekspresi seni Islam, melainkan bisa ditampilkan secara modern sesuai dengan konteks zamannya.

 

Kritik Leaman terhadap ekpresi seni yang selama ini ditampilkan adalah tidak adanya corak dan kekhasan yang dimiliki seni Islam. Citra seni Islam, kata Leaman, tak jauh beda dengan seni-seni umumnya. Lalu apa yang menjadi titik beda dari seni yang lain?

 

Di sinilah pentingnya melacak kembali akar-akar estetika Islam. Relasi estetika Islam dan sejarah sosial harus dipahami secara utuh dan komprehensif. Dulu, seni Islam dicipta dari multiaspek, yakni menyiratkan aspek sosial, moral, dan spiritual (teologis) yang memiliki pesan-pesan tersirat sangat tinggi. Namun, belakangan ini, seni cenderung manampilkan diri sebagai `nilai seni`, tidak lagi mengemban nilai positif.

 

Dari buku inilah Leaman berani mengemukakan alasan bahwa ada sebelas kesalahan umum tentang seni Islam. Setidaknya, terlihat bahwa seni Islam masih dibayang-bayangi dua sumbu utama, yaitu antara nilai esoteris dan nilai eksoteris. Kaum sufisme, misalnya, lebih mengekspresikan nilai seninya lewat jalur esoteris. Sedangkan di luar itu, ada yang menginginkan seni Islam harus tampil dengan wilayah eksoteris saja. Mujtahid, Peminat Karya Seni dan Sastra, Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Malang

Sumber: Media Indonesia

Dibaca : 5634 kali.