26 April 2009
Nusantara Fragmentaris
Judul Buku
| : | Nusantara, Sejarah Indonesia
|
Penulis
| : | Bernard H.M. Vlekke
|
| Alih Bahasa | : | Zaim Rofiqi dan Mardi Siswoko Bakti
|
| Penerbit | :
| Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
|
Cetakan
| :
| Pertama, Oktober 2008 |
Tebal
| :
| xxxiii + 528 halaman |
Dengan merenungi bentang wilayah dari Sabang hingga Merauke lewat peta, apa yang terlintas di benak kita? Jika membayangkan luas laut dan daratan dalam logika skala bidang datar saja kita sudah cukup tertegun, bagaimana pula jika perenungan tentang skala itu diandaikan dalam dimensi waktu? Kita dengan segera akan bergetar. Betapa wilayah seluas 10 juta kilometer persegi ini, dengan segala macam perbedaan khazanah hidupnya yang sangat rumit itu, bisa terangkai sedemikian rupa atas nama Indonesia.
Membuat peta Indonesia secara utuh dalam skala waktu yang panjang jelas lebih sulit daripada menyusun gambar topografis. Dan Bernard H. M. Vlekke, guru besar dari Universitas Leiden, memberanikan diri untuk membuatnya. Buku ini sangat ambisius lantaran merangkum tak kurang dari zaman prasejarah dan berhenti pada senjakala kekuasaan Belanda di Indonesia.
Pertama-tama, para pembaca akan sangat terbantu menguasai isi buku ini dengan memeriksa tinjauan yang ditulis Taufik Abdullah (xxiv-xxxiii). Di situ Pak Taufik menyajikan ulasan yang sangat menarik perihal latar belakang keilmuan Vlekke, yang sangat mempengaruhi proses dan hasil penulisan karyanya ini. Vlekke adalah sarjana international relations, jadi ia bukan sejarawan murni. Buku ini sesungguhnya digarap demi memperkenalkan wilayah jajahan Belanda kepada khalayak Amerika Serikat. “Khalayaknya bukanlah orang Indonesia,” demikian Pak Taufik, “melainkan dunia Barat.”
Sejak awal Vlekke mengaku bahwa “buku ini dirancang sebagai sejarah Indonesia dan bukan perluasan perusahaan dan koloni Belanda di Luar negeri”. Namun, sekalipun landasan moralnya sudah berubah, Vlekke tetap saja tak bisa lepas dari perspektif kolonial --bukan perspektif komprehensif seperti yang Lutfi Assyaukanie tuliskan dalam Pengantar. Artinya, menurut Pak Taufik, dengan mengisahkan Indonesia, Vlekke sesungguhnya hendak mencari jawaban dari pertanyaan besar “Bagaimana proses Pax Neerlandica tercapai dan akhirnya bubar?”
Pendekatan yang dipakai dalam buku ini adalah sejarah naratif. Tiga ciri utamanya: collligation, plot, dan struktur (Kuntowijoyo, 2008) terlihat pada upaya Vlekke dalam mencari “hubungan dalam” antar peristiwa sejarah, menatanya dalam alur kronik, dan kemudian melakukan rekonstruksi. Kelebihan Vlekke yang perlu diapresiasi dalam pendekatan ini adalah kemampuannya dalam olah-bahasa yang lincah dan rancak, sehingga nyaman untuk dibaca-tuntaskan. Dengan piawai, seolah menulis novel, ia bisa mengatur klimaks dan memberi kejutan-kejutan tak terduga pada pembaca.
Dimulai dengan menjelaskan kondisi geografis Indonesia, Vlekke menulis ulang hasil penemuan para arkeolog mengenai geneaologi orang Indonesia secara singkat. Saking singkatnya, ia mencukupkan diri dengan lebih banyak mengulas Jawadwipa, yang oleh Ptolemeus ditulis sebagai Iabadiu (Pulau Padi) dan Semenanjung Emas alias Semenanjung Malaya. Berdasar catatan Ptolemeus dan kisah Ramayana, Vlekke menyimpulkan bahwa sejak abad pertama Masehi sudah terjadi kontak dagang antara India dan Indonesia. Dari situ telaah kehadiran Hindhu-Budha dan segenap asumsi tentang pengaruhnya di Indonesia dibeberkan (Bab1, Fajar Sejarah Indonesiai).
Kesan dari Bab 1 yang juga muncul di Bab 2 (Kerajaan-Kerajaan Jawa dan Sumatera) adalah kemampuan orang Indonesia untuk “menerima kultus baru tanpa menolak yang lama”. Pada titik ini, Vlekke berasumsi dinamika kekuasaan tradisional di Indonesia ditentukan oleh tiga entitas: kekuasaan lama, kekuasaan baru, dan kekuasaan penentang. Pasang surut dari satu kerajaan ke kerajaan berikutnya, betapapun beratnya konflik yang terjadi, pada dasarnya adalah bentuk lain dari kesinambungan trah atau pewarisan sah kekuasaan dari penguasa pendahulu. Sultan Agung, misalnya, mengklaim dirinya sebagai pewaris dari raja-raja Majapahit. Sama halnya dengan raja-raja dengan gelar Girindrawardhana yang menisbatkan diri sebagai penerus Syailendra.
Terdapat bias pelaku sejarah yang dengan mudah terbaca pada dua bab tersebut. Hal yang sama juga ditemukan pada Bab 3 (Pendiri-pendiri Imperium di Jawa), Bab 15 (Berakhirnya Suatu Koloni, Lahirnya Suatu Bangsa), dan Bab 16 (Menuju Perang dan Revolusi). Pelaku utama dalam lima bab itu adalah Jawa. Cukup membingungkan bahwa Vlekke gemar sekali mengesankan Jawa sebagai Indonesia. Terlepas dari motif memudahkan penyebutan, hal ini tentu saja membuat klaim Vlekke tentang “Nusantara” tidak bisa diterima begitu saja.
Bab 4 (Muslim dan Portugis) menarasikan konfigurasi persebaran Islam pada abad ke-15, yang kemudian disusul kedatangan Portugis yang masih kental dengan semangat Perang Salib. Pada bab ini Vlekke merekonstruksi gambaran awal abad ke-16 dengan kombinasi antara teks-teks Portugis dan naskah-naskah Indonesia seperti Pararaton dan Negarakretagama. Dari bab ini, sekurang-kurangnya, kita mendapatkan penjelasan dini mengapa Islam lebih banyak dipeluk di Indonesia bagian Barat dan Kristen di bagian Timur. Menarik pula untuk disimak bahwa keruntuhan Majapahit, bagi Vlekke, bukan karena pengaruh Islam, melainkan konstelasi politik saat itu memang membawa Majapahit harus segera “tutup buku” dan sementara Islam semakin menemukan aksentuasinya sendiri.
Bab 5 hingga Bab 11 praktis mengisahkan Belanda sebagai aktor utama dalam sejarah Indonesia. Gambaran Nusantara pada bab-bab ini merupakan penjumlahan dari “klik” antara raja-raja Indonesia dan kekuatan asing, perang harga rempah, perang senjata, dan konstelasi politik di Eropa. Vlekke sangat bersemangat menerangkan segala sesuatunya dalam konteks perniagaan. Ia mengandaikan segala yang terjadi di darat pada mulanya bermula dari peristiwa-peristiwa di laut. Jadi, jangan bayangkan buku ini akan bercerita kisah-kisah rakyat agraris. Dalam kacamata Vlekke, mereka yang jauh dari lingkar kekuasaan, sama sekali tak dapat sorotan.
Hanya saja, harus diakui bahwa Vlekke dengan baik mampu menuturkan bagaimana Portugis, Inggris, dan Spanyol perlahan mulai melemah peranannya di Nusantara, sehingga Belanda mampu merangsek cepat dalam wilayah yang luas. Sejalan dengan itu, dikisahkan pula bagaimana kekuasaan dan wibawa raja tradisional kian hari kian surut, terutama ketika Mataram mulai terbagi-bagi.
Ada satu cerita menarik tentang Jakarta. Pada awal abad ke-17 terjadi persaingan sengit antara pembeli-pembeli rempah dari Belanda, Inggris, dan Cina. Tersulut oleh peristiwa pembakaran pos dagang Inggris di Jayakarta, perang terbuka dimulai. Tujuh kapal yang dipimpin Coen berhasil dipukul mundur oleh sebelas kapal Inggris hingga akhirnya mundur ke Maluku dengan meninggalkan garnisun di benteng Jayakarta. Di luar perkiraan Coen, benteng itu selamat hanya karena antara Inggris, raja Jayakarta, dan raja Banten tak bisa mufakat siapa yang akan memilikinya setelah ditaklukkan. Dan ketika garnisun itu berpesta bahagia karena selamat, mereka mendapati benteng itu ternyata tak bernama. Lantas, dipasanglah nama Batavia. Demikianlah, asal-usul kota Jakarta memang jauh dari menyenangkan.
Tak berhenti di situ, Vlekke mengutip Dr. De Haan yang menyatakan bahwa setiap homo batavus, yakni orang Belanda asli yang bertipikal rajin, keras kepala dan bertemperamen tinggi menjadi homo bataviensis akibat pengaruh tropis. Jenis baru ini lebih malas dan lebih temperamental. Uniknya, homo bataviensis cenderung takut pada udara segar tropis, jarang mandi, dan jorok. Mereka ini umumnya segan pulang ke Belanda karena sudah menyandang kelas sosial yang tinggi di Batavia. Sesuatu yang tak mungkin didapat di negeri sendiri.
Nah, sembari bercerita tentang kekuasaan Inggris yang hanya sesaat di Bab 12, Vlekke menunjukkan apresiasinya terhadap Raffles dengan cara sinis. “Raffles bukanlah orang berkarakter hebat, tapi dia cukup bijaksana untuk memilih reputasi dalam sejarah daripada penghasilan material sesaat,” tulis Vlekke mengomentari karya monumental Raffles, History of Java.
Bahasan untuk periode setelah kekuasaan Inggris yang singkat ditulis Vlekke dalam empat bab berikutnya. Bertolak dari titik kisar kembalinya kekuasaan Belanda, wacana kaum liberal yang melahirkan politik etis, berakhirnya koloni, kisah perang di laut Jawa yang menandai kemenangan Jepang dan kemudian sedikit cerita tentang revolusi yang dipimpin tokoh-tokoh nasional Indonesia modern. Untuk telaah lanjutan pada periode ini, pembaca bisa mendapatkan lebih banyak informasi dari buku sejarah lain yang sudah terbit sebelumnya.
Kata Luthfi Assyaukanie, Vlekke memilih judul Nusantara sebagai penghormatan terhadap Ki Hadjar Dewantara yang untuk pertama kalinya mempopulerkan istilah ini. Namun, secara pribadi, sulit bagi saya untuk menemukan keutuhan Nusantara dalam buku ini. Yang saya tangkap tak lain berkisar dari Jawa, Sulawesi, Sumatera, Bali, dan sedikit dari Kalimantan. Lantas di mana, misalnya, Papua atau Nusa Tenggara? Bahkan momen-momen penting seperti pembangunan jalan Daendels pun luput untuk diurai. Apalagi kisah tentang Tirtho Adhi Soerjo. Tidakkah nusantara ala Vlekke sangat fragmentaris?
Namun anehnya, hanya dalam jangka waktu lima bulan, Nusantara edisi bahasa Indonesia ini sudah naik cetak tiga kali. Sekalipun begitu, saya tetap sepakat dengan Pak Taufik, “Bagi pemula, buku ini baik dan berguna, namun tak perlu direkomendasikan.”
________________________
Ahmad Musthofa Haroen, Divisi Riset BPPM BALAIRUNG UGM, Yogyakarta
Sumber: Koran Tempo, Minggu, 28 Oktober 2008Sumber Cover: ruangbaca.com Dibaca : 1523 kali.