Sabtu, 18 November 2017   |   Ahad, 28 Shafar 1439 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

10 Oktober 2016

Raja dan Kerajaan dalam Kepustakaan Melayu



Judul Buku
:
Raja dan Kerajaan dalam Kepustakaan Melayu
Editor
:
Mahdini
Penerbit:
Yayasan Pusaka Riau
Cetakan
:
Pertama, 2003
Tebal
:
V + 343 Halaman
Ukuran
:14,5 cm x 30 cm.

Buku ini membahas mengenai raja dan kerajaan dalam kepustakaan Melayu, atau secara sederhana dapat dimaksudkan membahas mengenai raja dan kerajaan Melayu yang ditulis berdasarkan referensi atau literatur yang telah ada sebelumnya.

Pembahasan dalam buku ini sangat beragam sesuai dengan aspek-aspek tertentu meliputi raja dan kerajaan Melayu. Misalnya tentang sejarah, pendidikan, karya dan pemikiran, kondisi sosial, budaya, agama, syarat menjadi raja, pengangkatan raja, pemberhentian raja, petikan naskah-naskah kuno, tujuan kerajaan, dan sebagainya. Di samping itu, penulis juga menjelasakan mengenai pembesar atau pesohor pada zaman kerajaan Melayu, contohnya Raja Ali Haji.

Pada bagian awal buku ini, penulis juga sedikit menjelaskan mengenai sejarah kebesaran pulau Bintan dengan kerajaan Melayu di kawasan semenanjung dan sekitar Selat Malaka yakni kesultanan Malaka hingga kesultanan Riau-Lingga. Kesultanan-kesultanan tersebut semuanya pernah menjadikan pulau Bintan sebagai pusat pemerintahannya.

Berawal dari zaman Sriwijaya, pulau Bintan telah dikenal sebagai pulau yang telah memiliki raja sebelum berdirinya Malaka. Sultan Mahmud Syah, sultan Malaka terakhir sebelum runtuhnya Malaka, juga berundur ke pulau Bintan hingga kemangkatan beliau. Sejarah kesultanan Malaka dilanjutkan oleh Johor yang didirikan putra Sultan Malaka terakhir yaitu Alauddin Riayat Syah II. Begitu juga setelah Johor mengalami masa-masa sulit, Sultan Alauddin Riayat Syah II kemudian memindahkan ibu kota pemerintahan Johor ke pulau Bintan, tepatnya di Sungai carang/Hulu Riau (Tanjungpinang).

Dari sejarah kesultanan Melayu tersebut jelas bahwa Pulau Bintan sejak dahulu telah menjadi kawasan yang sangat diperhitungkan oleh para sultan. Bahkan pada zaman kesultanan Riau-Johor Thomas Slicher, Gubernur Belanda untuk Malaka, melaporkan pada tahun 1678 Riau (meliputi Pulau Bintan dan pulau di sekitarnya) sangat ramai dikunjungi oleh perahu-perahu dan kapal-kapal dagang, sehingga sungai yang menjadi alur masuk ke pelabuhan itu hampir tidak dapat dilayari karena padatnya lalu lintas.

Buku ini juga menjelaskan konsep raja dan kerajaan dalam kebudayaan Melayu yang dianggap sakral. Menurut konvensi Melayu, “Raja” (Sultan) dan “Kerajaan” (Kesultanan) dipandang sebagai suatu anugerah yang datangnya dari Yang Maha Kuasa. Karena itu ia dianggap suci. Kesucian ini kemudian melahirkan mitos tentang asal-usul genealogi raja-raja Melayu yang dihubungkan dengan tokoh yang dianggap sebagai keturunan Iskandar Zulkarnain yeng terkenal itu. Yaitu sosok seorang manusia setengah dewa yang disebut dalam sejarah Melayu bernama Sang Sapurba. Tokoh inilah yang kemudian dianggap sebagai nenek moyang raja-raja Melayu. (h.213)

Banyak hal lain menarik yang juga dibahas dalam buku ini yang secara singkat memberi pemahaman terhadap kita tentang raja dan kerajaan yang tertera dalam dunia kepustakaan berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.(Oki Koto/Res/113/8-2016)

Dibaca : 928 kali.