Minggu, 26 Oktober 2014   |   Isnain, 2 Muharam 1436 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

28 April 2010

Ikhtisar Kesusastraan Indonesia

Ikhtisar Kesusastraan Indonesia

Judul Buku
:
Ikhtisar Kesusastraan Indonesia
Penulis
:
Nursisto
Penyunting:
Ir. Tuti Sumarningsih.,S.T, et al.,
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, Agustus 2000
Tebal
:
vii + 171 halaman
Ukuran
:
0,6 x 14,8 cm
 

Buku ikhtisar kesusastraan Indonesia tulisan Nursisto ini berisi tentang ulasan sederhana tentang berbagai macam bentuk kesusastraan dan hasil karya sastra di Indonesia, mulai dari pantun, bidal, gurindam, puisi kontemporer, dongeng, hikayat, roman hingga cerita pendek dan novel. Buku ini juga dapat dikategorikan sebagai ensiklopedi sastra karena berisi tentang riwayat singkat para sastrawan dan karya-karya mereka.

Meskipun dengan ulasan sederhana yang berisi definisi dan contoh, buku ini cukup memberi informasi bagi para pelajar/mahasiswa jurusan sastra maupun pengkaji sastra. Di dalam buku ini terangkum pelajaran perkuliahan atau diktat yang dapat digunakan sebagai referensi.

Tentang Kesusastraan

Kata “kesusastraan” berasal dari kata “susastra”. Awalan ke- dan akhiran -an dalam kata ”kesusastraan” mengandung arti tentang atau hal. Sedangkan kata “susastra” berasal dari kata dasar “sastra” yang berarti tulisan. Awalan su- dalam kata ini berarti baik atau indah. Dengan demikian, secara etimologi kata “kesusastraan” berarti pembicaraan tentang berbagai tulisan yang indah bentuknya dan mulia isinya (hal 1).

Sejarah kesusastraan Indonesia digolongkan berdasarkan waktu dan bentuk. Dari segi waktu, periode kesusastraan Indonesia secara garis besar dibagi dalam dua masa, yaitu masa klasik (purba, Hindu, dan Islam) dan masa modern (Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, dan Angkatan kontemporer).

Berdasarkan bentuk, kesusastraan Indonesia digolongkan menjadi prosa, puisi, dan drama. Prosa dibagi dalam tiga periode, yaitu prosa lama (dongeng, legenda, mite, hikayat, tambo, fable, dan lain-lain), prosa peralihan (biografi, otobiografi, riwayat perjalanan, dan hikayat), dan prosa baru (roman, novel, cerpen, dan prosa liris).

Sementara itu, puisi dibagi dalam dua kategori, yaitu puisi lama dan puisi baru. Puisi lama meliputi bidal, pantun, gurindam, seloka, syair, mantra, dan lain-lain. Sedangkan puisi baru meliputi soneta, puisi bebas, dan puisi kontemporer.

Hal yang sama juga terjadi pada drama. Drama dibagi dalam dua jenis, yaitu drama lama dan baru. Drama lama meliputi ketoprak, opera, wayang, ludruk, reog, dan randai. Adapun yang termasuk drama baru di antaranya adalah sandiwara, fase, komedi, tragedi, pantomim, dan lain-lain.

Sastra Melayu Menunggu Perhatian

Melayu dan karya sastra bukanlah sesuatu yang asing di telinga pengkaji sastra. Jejak kesusastraan Melayu telah banyak ditorehkan oleh tokoh-tokoh budaya dan sastrawan Melayu. Tersebutlah nama-nama sastrawan Melayu seperti Tun Sri Lanang, Hamzah Fansuri, Abdur Rauf As Singkili, Marah Rusli, Tengku Amir Hamzah, Raja Ali Haji, Tenas Efendi, dan masih banyak nama lagi.

Konon, sejarah kesusastraan Melayu tidak terlepas dari pola kehidupan masyarakat Melayu yang terbiasa menggunakan pantun. Pantun selalu disenandungkan dalam setiap acara masyarakat Melayu. Pantun bahkan menjadi salah satu unsur dalam upacara adat Melayu, seperti proses lamaran, pernikahan, atau menyambut tamu.

Hubungan erat antara kajian sastra dengan kebudayaan Melayu membuat citra peradaban Melayu terangkat dan mampu berdiri sejajar dengan kebudayaan bangsa lain. Adapun sastra telah dianggap sebagai salah satu pintu masuk untuk memperdalam kebudayaan Melayu lebih jauh. Hal ini tentu saja membanggakan orang Melayu.

Namun, di balik itu semua, ada satu hal sangat disayangkan. Kejayaan kebudayaan Melayu tampaknya tidak diikuti oleh kepedulian orang Melayu sendiri dalam merawat jejak kebudayaan Melayu. Hingga hari ini, kajian tentang karya sastra Melayu masih sedikit dilakukan, terutama oleh orang-orang Melayu sendiri.

Selain kajian sastra, saat ini masih banyak ditemui bekas-bekas kerajaan Melayu yang terbengkalai dan tidak terurus. Salah satu penyebab mengapa hal ini bisa terjadi karena sangat kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kelestarian peninggalan-peninggalan kebudayaan Melayu.

Realitas ini tentu saja ironis. Melayu hanya besar dan terkenal dalam karya-karya sastranya, tetapi miskin kepedulian dan perhatian. Jika hal ini terus terjadi, maka apa yang diserukan Hang Tuah, “tak kan Melayu hilang di bumi”, agak sulit terwujud. Kebudayaan Melayu menunggu perhatian yang serius dari semua pihak, terutama dari orang Melayu sendiri.

Yusuf Efendi

Dibaca : 3318 kali.