Close
 
Kamis, 30 Oktober 2014   |   Jum'ah, 6 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.461
Hari ini : 8.632
Kemarin : 22.978
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.289.956
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

23 maret 2009 09:27

Gambus Melayu Riau di Kota Pekanbaru

Dari Atas Perahu Ke Pentas Pertunjukan
Gambus Melayu Riau di Kota Pekanbaru

Oleh: Arzul dan I Made Bandem

Abstract

The purpose of this research is about the course of Malayan Gambus Riau from boat to stages in Pekanbaru, the Capital of Province Riau. This research uses method of analytical descriptive and the multi-discipline approach as its main approach. The multi-discipline approach, which consists of dimension of history, sociology, anthropology and literature is used because Gambus Melayan Riau performence has various different aspects that are related to each other.

Gambus Riau Malayan is one of much traditional music influence by Islam, which became traditional music among Malayan community in Riau especially in Pekanbaru. In addition, it was also developed in other Malayan communities in Jambi, Deli, Malaysia, Brunie, and Singapore. From its historical point of view, Gambus Malayan was supposed to be an acculturation of Arabian and Persian culture that was first brought by Arabian and Persian traders when they traded and introduced Islam to the Archipelago/Indonesia.

At first Malayan Gambus in Pekanbaru and Siak Sri Indrapura was functioned individually, at home, as an entertainment that was aimed to religious sense, and all at once as companion of sailors on boat at the time they waited for fishing eaten by fish.

In its development, Gambus was more dominantly functioned to accompany Zapin dance that also developed among Riau Malayan community. Changing in function happened to Malayan Gambus also brought another changing in play concept. In  the context as an individual expression, the Gambus picker often applied improvisation, without playing one type of Gambus often accompanied Malayan songs, and the play was tightened by the rules of the dance.

By functioning Malayan Gambus as an accompanist of Zapin performance on the stage, this performing art quantitatively was more developed and interested among Malayan community in Pekanbaru than before. Otherwise, in another side this caused Islamic songs to be disappeared from Gambus Riau Malayan vocabulary.

A. Pengantar

Latar Belakang Masalah

Masuknya ajaran Islam ke daerah Nusantara, khususnya ke daerah Riau pada abad ke XII-XIV yang dibawa oleh bangsa Arab dan Parsi, telah meninggalkan pengaruhnya dalam bidang budaya dan kesenian. Kesenian yang berkembang sebagai hasil pengaruh kedua budaya di atas di antaranya adalah tari Zapin dan Gambus Riau. Kesenian ini banyak berkembang di pulau Bengkalis, pulau Penyengat, dan Siak Sri Indrapura.

Semula di Riau Gambus Melayu banyak dimiliki oleh keluarga sebagai  musik rumah, dimainkan secara individu tanpa disertai dengan instrumen lainnya, sebagai hiburan yang mengarah pada rasa religius, media dakwah, dan hiburan terutama bagi para nelayan di atas perahu sambil menunggu pancing atau rewai dimakan ikan.[1] Dalam lagu-lagu tersebut, tersusun syair-syair dan pantun yang memuat nilai-nilai ajaran Islam. Inilah yang semula menjadi jiwa dan spirit utama dalam karakter permainan musik Gambus. Konsep ini dahulu berurat berakar dalam hati masyarakat Melayu Riau.

Apabila diperhatikan dari sudut organologis, Gambus Melayu Riau  berbeda dengan Gambus Arab (al‘ Ud), tetapi dari teknik dan lagu-lagu yang dimainkan, besar kemungkinan Gambus Riau merupakan jelmaan dari Gambus Arab. Sebagian masyarakat percaya bahwa Gambus Riau merupakan hasil modifikasi (tiruan) dari al‘ Ud, sedangkan sebagian lagi terutama seniman-seniman dan masyarakat tradisi menyatakan bahwa Gambus benar-benar merupakan kepunyaan atau ciptaan seniman-seniman Riau dahulu. Pendapat ini didasarkan pada sebuah legenda yang masih hidup di tengah masyarakat Melayu Riau.

Dikisahkan, pada zaman dahulu hidup sepasang insan yang asyik masyuk berkasih sayang. Sedang asyik dimabok kepayang, tiba-tiba sang dara meninggal karena diserang sakit. Tinggallah pemuda meratapi untung nasibnya. Ia menangis sepanjang hari. Untuk mengobati hatinya yang rindu diambilnya sepotong kayu, lalu dibentuknya seperti tubuh seorang wanita, bentuk tubuh itu dipeluk dan dibelai setiap saat. Di bagian yang berbentuk pinggul diraba-rabanya dan bagian kepalanya dibelai-belai sembari menyanyikan lagu-lagu sedih menghiba-hiba. Lama kelamaan timbullah inspirasi pemuda agar benda itu dapat bersuara, direntangkannya tali atau benang dari kepala sampai ke bagian pinggul. Dari sinilah asal lahirnya instrumen Gambus Melayu Riau.[2]

Gambus al‘ Ud mempunyai badan lebih besar, agak pendek dan mempunyai 11 buah snar, sedangkan badan Gambus Riau agak ramping, lebih panjang, mempunyai 6 atau 7 buah snar dengan posisi sebagai berikut:

  1. Tali pertama terdiri dari 2 buah snar, bernada d.
  2. Tali kedua terdiri dari 2 buah snar, bernada A,
  3. Tali ketiga terdiri dari 1 atau 2 buah tali bernada E,
  4. Tali keempat terdiri dari 1 buah snar bernada B atau D.

Gambus dimainkan dalam posisi duduk bersila di atas tikar atau di atas kursi, pemain Gambus langsung bertindak sebagai vokalis. Penyajian Gambus kadang-kadang disertai pula dengan 2 atau 3 gendang Marwas, terutama pada saat mengiringi tari.

Di sisi lain, kesenian Zapin yang berkembang ke daerah-daerah lainnya yang dipengaruhi Melayu, selalu mengalami perkembangan sesuai dengan konsep dari Masyarakat yang dikunjunginya, seperti: Malaysia, Brunei, Sumatera Utara, dan Riau. Situasi perkembangan ini menyebabkan munculnya konsep-konsep musik yang saling memiliki perbedaan dan kekhasan pada daerah di atas.

Pada mulanya, instrumen yang digunakan untuk mengiringi Zapin adalah al‘ Ud dan Tambor, tetapi karena kedua alat tersebut sukar didapatkan di Riau, sedangkan di satu sisi senimannya sangat antusias dalam mengembangkannya, maka digantilah musik pengiring Zapin dengan Gambus Melayu dan Marwas. Secara otomatis, konsep permainan dan komposisi musiknya juga mengalami perubahan, semula berfungsi untuk hiburan  secara individual kini berubah sesuai dengan konsep kebutuhan tari Zapin yang berkembang dalam masyarakat Melayu Riau. Lagu-lagu yang bersyair Arab yang semula sering disenandungkan secara improvisasi di atas rumah atau di atas perahu tersisihkan, berganti dengan lagu-lagu Melayu untuk mengiringi Zapin.

Ada banyak lagu-lagu Melayu yang biasa dimainkan dalam mengiringi Zapin, antara lain lagu Sayang Serawak, Pulut Hitam, Lancang Kuning, Kasih Budi, dan lain-lain. Namun sayang, dalam perkembangannya lagu-lagu yang bernafaskan Islam mulai hilang dari vokabuler Gambus Melayu.

Landasan Teori

Perubahan fungsi yang terjadi dalam kesenian tradisional berjalan bersama-sama dengan perubahan masyarakat. Gambus Riau bermula hadir dalam masyarakat pedesaan di Siak Sri Indrapura. Gambus pada mulanya di samping digunakan untuk hiburan secara individu yang mengarah pada rasa religius juga sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak melalui lagu-lagu yang dibawakan.

Kesenian adalah produk masyarakat yang tidak pernah lepas dari masyarakat dengan segala aktivitas budaya yang mencakup, mencipta, memberi peluang untuk bergerak, memelihara, menularkan, dan mengembangkan untuk kemudian  menciptakan kebudayaan baru lagi.[3] Merriam mengatakan bahwa bunyi musik dihasilkan oleh perilaku manusia, tanpa perilaku tiada bunyi. Perilaku dilandasi oleh tingkatan lain, yaitu tingkatan konsep-konsep mengenai musik. Pangkal perilaku adalah konsep untuk dapat bergerak di dalam suatu sistem musik, orang harus mempunyai konsep terlebih dahulu mengenai perilaku apa yang akan menghasilkan bunyi seperti yang diinginkan.[4]

Dalam melihat konteks Gambus Melayu di tengah masyarakat Melayu di Pekanbaru sebagai motivasi yang mengarah pada peristiwa musik, Merriam memberikan empat pengertian, yaitu (1) sinonim dari penyelenggaraan, ‘memainkan partitur‘ atau sedang aktif melakukan sesuatu; (2) fungsi dibuat dengan tidak sembarangan, semua fakta sosial mempunyai fungsi; (3) fungsi didasarkan rasa secara fisik; (4) fungsi dapat diletakkan sebagai keefektifan khusus.[5]

Kajian terhadap struktur musik Gambus Melayu dilakukan melalui penulisan dengan menggunakan pendekatan sistem transkripsi yang bersifat deskriptif. Dalam hal ini, Nettl menyarankan bahwa pendeskripsian  ritem sebaiknya dimulai dengan membuat daftar harga not yang dipakai dalam sebuah komposisi dan menerangkan fungsi dan konteks dari masing-masing harga not.

Cara Penelitian

Dalam memecahkan masalah dalam penelitian ini, digunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan etnomusikologi sebagai pendekatan utama. Di samping itu, digunakan pula pendekatan dari dimensi antropologis, historis, dan sosiologis.

Disebabkan penelitian lebih bersifat sosial, maka penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu suatu cara yang digunakan dalam pengamatan berpartisipasi. Data kualitatif untuk penelitian seni pertunjukan didapatkan dari sumber tertulis, sumber lisan, peninggalan sejarah, serta sumber-sumber rekaman.

Pengumpulan data yang diperlukan sesuai dengan judul yang telah dipilih, maka dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah dan metode sebagai berikut.

1. Persiapan

Kegiatan survei awal dilaksanakan untuk mencari informasi dan gambaran global tentang kesenian Gambus yang berkembang di Pekanbaru. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kelompok-kelompok Gambus Melayu yang masih aktif, setengah aktif, dan sudah tidak aktif sama sekali. Pada tahap ini, juga didata tokoh-tokoh pemain Gambus Melayu dan tokoh masyarakat yang mengetahui seluk-neluk kesenian Gambus Melayu. Selain itu, juga dilakukan studi  pustaka untuk mengetahui berbagai aspek yang berhubungan dengan kesenian Gambus, terutama dalam penyusunan proposal penelitian.

2. Sumber Lisan

Sumber lisan kebanyakan dikumpulkan melalui wawancara pada saat melakukan penelitian lapangan. Wawancara dilakukan dengan cara lebih bersifat tidak formal dan berusaha menumbuhkan keakraban dengan informan yang dipilih, baik pada saat pelaksanaan pertunjukan maupun sewaktu mengunjungi informan.

3. Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan kerja dalam menyeleksi dan menguji data-data yang dikumpulkan, baik dari hasil rekaman di lapangan maupun data-data wawancara dan observasi yang telah dilakukan. Data-data yang didapat diklasifikasikan ke dalam kelompok masing-masing.

Dengan demikian, penelitian Gambus Melayu yang berbentuk studi analisis ini diolah dalam beberapa tahapan: pertama, proses pentranskripsian musiknya langsung dari caset audio hasil rekaman di lapangan; kedua, generalisasi data sesuai dengan kajian struktur musik melalui analisis melodi musik sesuai dengan jumlah repertoar lagunya; ketiga, data yang masih diragukan kebenarannya ditinjau kembali karena belum valid; keempat, setelah semua data diyakini dan dianggap valid barulah dilanjutkan dengan pembuatan laporan.

B. Hasil Pembahasan

Lintasan Sejarah

Dengan mempelajari perkembangan masyarakat Melayu di kota Pekanbaru, diketahui bahwa Gambus Melayu yang berkembang di Pekanbaru dibawa oleh masyarakat Melayu dari arah Siak Sri Indrapura.

Konsep Pertunjukan

Dari teknisnya penyajian Gambus Melayu, terdapat perbedaan konsep sesuai dengan konteks pertunjukannya, yaitu konsep pertunjukan secara individual, dan konsep pertunjukan dalam mengiringi Zapin.

Dalam konteks pertunjukan secara individual, pemain tidak memainkan sebuah tangga nada yang teratur, tetapi memainkan melodi secara improvisasi secara spontan. Sebaliknya dalam konsep pertunjukan mengiringi tari Zapin, Gambus disertai dengan 2 atau 3 buah gendang Marwas sehingga membentuk sebuah ensambel. Konsep permainan lebih diikat dengan ketentuan yang ada pada tari. Pemain Gambus memainkan melodi dan lagu-lagu yang digunakan untuk mengiringi Zapin, seperti lagu Lancang Kuning, Pulut Hitam, Sayang Serawak, dan lain-lain.

Struktur dan Analisis Lagu-lagu Gambus Melayu

Struktur penyajian Gambus terutama dalam mengiringi Zapin selalu diawali dengan introduksi (melodi improvisasi), berbentuk free ritem, disusul dengan melodi lagu yang dinyanyikan, dan diakhiri dengan melodi penutup. Syair-syair lagu yang dibawakan kebanyakan berbentuk pantun. Pada setiap akhir pantun lagu, selalu ditingkah dengan pukulan senting Marwas, dan pada akhir lagu dari tari, ditingkah dengan pukulan Marwas yang disebut tahtim.

Setelah dilakukan pendeskripsian dan analisis terhadap dua buah lagu yang populer dalam penyajian Gambus dan Zapin, yakni lagu Sayang Serawak dan Pulut Hitam, ternyata tangga nada yang dimiliki lagu-lagu Gambus adalah tangga nada pentatonik.

Berbeda dengan komposisi musik Barat, yang motif melodinya sebagai sumber penggarapan melodi dan tema lagu, tetapi masalah motif melodi pada musik tradisional hanya dapat dilihat dari segi motif ritemnya saja dengan berbagai kecenderungan penggarapan yang memakai nada-nada yang bervariasi.

Guna dan Fungsi

Semula Gambus Melayu digunakan secara individual di atas rumah atau bagi nelayan di atas perahu sebagai sarana ungkap, baik yang mengarah pada rasa religius maupun sebagai hiburan secara sekuler. Di samping itu, Gambus juga difungsikan sebagai media pendidikan, mengiringi lagu-lagu yang bernuasa Islami.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah tari Zapin berkembang di daerah Riau umumnya, guna dan fungsi Gambus tak bisa dilepaskan dengan guna dan fungsi Zapin bagi masyarakat Melayu di Pekanbaru dalam berbagai konteks pertunjukan.

Gambus Melayu dan Zapin untuk Perayaan

Sebagai kesenian, tradisi Gambus Melayu dan Zapin memenuhi keperluan sebagai hiburan sekuler dalam pesta perkawinan dan kegiatan sosial lainnya, sekaligus sebagai hiburan dalam konteks keagamaan, misalnya peringatan  Maulid Nabi dan Hari Raya Idul Fitri. Tidaklah mengherankan dahulu tari Zapin dan Gambus Melayu dibolehkan ditampilkan di tempat-tempat yang berdekatan dengan mesjid. Di samping itu, Gambus dan Zapin juga dipertunjukkan pada saat memeriahkan perkawinan, khitanan, khatam Qur‘an, dan cukur rambut, serta upacara keagamaan lainnya.

Gambus dan Zapin untuk Pariwisata

Pemanfaatan kesenian sebagai  paket dalam menarik wisatawan tampaknya belum lagi dilakukan secara maksimal. Pertunjukan kesenian-kesenian di hotel-hotel yang biasa didatangi para tamu dari luar Pekanbaru belum sering dilakukan. Soedarsono secara umum memberikan formulasi tentang wujud seni atau budaya yang disuguhkan kepada wisatawan, dengan ciri-ciri: (1) bentuk tiruan, (2) bentuk miniatur, (3) singkat dan padat, (4) penuh variasi, (5) tidak sakral, dan (6) murah menurut kocek wisatawan.[6] Ada keccenderungan pengelola hotel di Pekanbaru belum lagi mampu memanfaatkan kesenian sebagai daya tarik terhadap tamu-tamu yang datang berkunjung ke Pekanbaru.

Gambus dan Zapin Penguat Identitas Adat melayu

Meskipun Zapin dan Gambus yang berkembang di tengah masyarakat Melayu sekarang tidak sama dengan Gambus dan Zapin yang tumbuh di tempat asalnya (Arab), tetapi karena tradisi ini dikembangkan pada awalnya dari pengaruh Islam dan tradisi Arab, menyebabkan kesenian ini mendapat tempat di hati masyarakat Melayu khususnya di Pekanbaru. Gambus dan Zapin adalah budaya masyarakat Melayu, di samping berfungsi sebagai hiburan, juga berfungsi sebagai penguat identitas masyarakat (Islami) yang beradat.

Gambus dan Zapin Pengukuh Silaturrahmi Masyarakat Melayu

Masyarakat Melayu yang bermukim di Pekanbaru bekerja sesuai dengan profesi masing-masing, baik sebagai karyawan, pegawai negeri, ABRI, Pengusaha, dan lainnya. Untuk menjaga komunikasi antar sesama anggota, baik di tempat bekerja maupun di luar, mereka memanfaatkan Zapin dan Gambus sebagai perekat hubungan. Kecintaan terhadap budaya Melayu tetap terpelihara dan dijunjung tinggi. Pada waktu-waktu tertentu Gambus dan Zapin difungsikan sebagai sarana pertemuan bagi masyarakat Melayu di Pekanbaru.

Perkembangan Gambus dan Zapin di Pekanbaru

Pergeseran nilai spiritual dan kebersamaan dalam masyarakat Melayu di Pekanbaru yang terjadi dari waktu ke waktu akan menyebabkan terjadinya perubahan pandangan masyarakat terhadap kesenian Gambus dan Zapin. Dipandang dari peralihan fungsi, semula sebagai hiburan secara individual beralih fungsi menjadi pengiring Zapin di atas pentas, musik Gambus terasa lebih berkembang dari sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari kreativitas yang diberikan seniman-senimannya, khususnya di tengah masyarakat Melayu di Pekanbaru. Bila dipandang dari nilai-nilai yang melekat selama ini pada vokabuler kesenian Gambus, ternyata perubahan fungsi tersebut telah menggeser lagu-lagu yang bernuansakan Islami menjadi lagu-lagu yang lebih sekuler.

C. Kesimpulan

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumen musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu. Dilihat dari sudut organologis, Gambus Melayu berbeda dengan Gambus Arab al‘ Ud, tetapi dari sudut teknis memainkan, besar kemungkinan Gambus Melayu Riau merupakan jelmaan atau adopsi dari Gambus al‘ Ud. Semula Gambus ini hanya difungsikan sebagai sarana hiburan yang mengarah pada rasa religius, dimainkan secara individu di atas rumah atau sebagai hiburan bagi nelayan di atas perahu.

Kesukaran seniman untuk mendapatkan al‘ Ud dan tambor yang digunakan sebagai pengiring tari Zapin, telah mendorong senimannya untuk menggantikan fungsinya dengan alat musik Gambus Melayu Riau dan gendang Marwas. Dalam perjalanannya, ternyata setelah Gambus lebih berfungsi sebagai pengiring Zapin, kesenian Gambus lebih berkembang dibanding sebelumnya.

Kepustakaan

Anwar, 1982, Sejarah Daerah Riau, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Arzul Jamaan, et. al, 1994. “Ensambel Gambus Riau di Kelurahan Tanjung Medang, Kotamadya Pekanbaru”, Laporan Penelitian, Padangpanjang, Akademi Seni Karawitan Indonesia.

Berrin, S., 1991, “Sejarah Zapin di Riau”, Makalah, Pekanbaru, Bidang Kesenian Depdikbud Propinsi Riau.

Departemen pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Riau, 1984, “Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Riau”, Laporan Penelitian, Pekanbaru.

Edi Sedyawati, 1981, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta, Sinar Harapan.

Merriam, Alan, P., 1964, The Anthropogy of Music, Northwestern, University Press.

Nettl, Bruno, 1964, Theory and Method in Ethnomusicology, London, the Free Press of Clencoe Collier-Macmilan Limited.

Soedarsono, R.M., 1999, Seni Pertunjukan dan Pariwisata, Yogyakarta, BP ISI.

Umar, Kayam, 1981, Seni, Tradisi, Masyarakat, Jakarta, Sinar Harapan.

__________________

Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Sosiohumanika, 15 (2), Mei 2002.

Arzul, adalah Dosen STSI Padang Panjang

I Made Bandem, adalah Dosen ISI Yogyakarta



[1] “Peralatan Hiburan dan Kesenian Daerah Riau”, Laporan Penelitian, Bidang Kesenian Depdikbud Propinsi Riau, 1984, 107.

[2] Ibid., 107.

[3] Umar Kayam, Seni, Tradisi, Masyarakat, (Jakarta: Sinar Harapan, 1981), hlm. 39.

[4] Alan P. Merriam, The Anthropology of Music, (Northwestern: University Press, 1964), 32-33.

[5] Merriam, Ibid., 33.

[6] R.M. Soedarsono, Seni Pertunjukan dan Pariwisata, (Yogyakarta: BP ISI, 1999), 129.


Dibaca : 17.618 kali.

Tuliskan komentar Anda !