Minggu, 26 Oktober 2014   |   Isnain, 2 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.882
Hari ini : 17.521
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.272.564
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rumah Bubungan Tinggi (Rumah Tradisional Banjar)

rumah bubungan tinggi
Rumah Bubungan Tinggi


1. Asal-Usul

Rumah Bubungan Tinggi merupakan salah satu rumah adat Banjar yang paling bernilai tinggi karena rumah jenis ini biasanya dipakai untuk bangunan keraton. Jenis rumah ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera (1596–1620). Pada awalnya pangeran Samudera memeluk agama Hindu dan kemudian memeluk agama Islam dengan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang.

Pada mulanya, rumah ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan. Dalam perkembangannya, bentuk segi empat memanjang tersebut pada samping kiri dan kanannya mendapatkan tambahan bangunan. Tambahan bangunan tersebut kelihatan menempel (Pisang Sasikat) dan menganjung keluar. Selain penambahan bangunan pada bagian samping kanan dan kirinya, pada bagian belakang juga ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang (disumbi).  

Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan Rumah Bubungan Tinggi. Oleh karena bentuk arsitektur rumah ini telah diadopsi oleh semua kalangan masyarakat di daerah Banjarmasin, Rumah Bubungan Tinggi tidak hanya sebagai bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.

Keberadaan Rumah Bubungan Tinggi di Kalimantan Selatan tidak semata-mata sebagai identitas bangunan adat, tetapi juga sebagai refleksi dari pelapisan sosial-ekonomi masyarakat dan pengejawantahan kecerdasan masyarakat Banjarmasin dalam menyikapi alam tempat mereka hidup. Sebagai refleksi dari pelapisan sosial, keberadaan Rumah Bubungan Tinggi dapat dilihat pada pribahasa banjar berikut ini:

Bubungan tinggi wadah Raja-raja 
Palimasan wadah Emas Perak
Balai Laki wadah Penggawa Mantri
Balai Bini wadah Putri Gusti-Gusti
Gajah Manyusu wadah Nanang-Nanangan, Raja-Raja atau Gusti Nanang.

Dengan demikian, jelas bahwa Rumah Bubungan Tinggi merupakan tempat para Raja bertempat tinggal. Dalam perkembangannya, Rumah Bubungan Tinggi tidak hanya dimiliki oleh Sultan tetapi juga oleh orang-orang yang mempunyai harta banyak, misalnya para saudagar. Dalam hal ini, terdapat pola perubahan pelapisan sosial. Jika pada awalnya pelapisan sosial ditentukan oleh keturunan, maka dalam perkembangannya ditentukan oleh kekayaan. Semakin kaya seseorang, maka rumah yang dibangun biasanya semakin megah.

Selain aspek sosial ekonomi tersebut, konstruksi Rumah Bubungan Tinggi merupakan pengejawantahan dari kearifan lokal masyarakat Banjar dalam menyikapi kondisi alam. Keadaan alam yang berawa-rawa di tepi sungai sebagai tempat awal tumbuhnya kehidupan sosial masyarakat Banjar, mengharuskan rumah yang dibangun dapat mengatasi semua kondisi alam tersebut. Melalui pengalaman empiris yang sangat panjang, arsitektur Rumah Bubungan Tinggi menemukan solusi empiris dengan elemen vertikal struktural, yaitu: pondasi, tiang, dan tongkat. Tidak itu saja, pemilihan bahan-bahan bangunan (kayu) juga menunjukkan bagaimana masyarakat Banjar dapat mengatasi kendala-kendala geografis tersebut, misalnya penggunaan kayu Kapur Naga atau kayu Galam sebagai pondasi. Walaupun ditanam dalam lumpur, kayu Kapur Naga atau kayu Galam dapat bertahan hingga 70 tahun.

rumah bubungan tinggi
Rumah Bubungan Tinggi yang sudah berumur puluhan tahun

2. Bahan-Bahan dan Tenaga

a. Bahan-bahan

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membangun rumah bubungan tinggi di antaranya adalah:

  • Kayu Galam dan Kapur Naga. Kedua jenis kayu tersebut biasanya digunakan untuk pondasi rumah. Pondasi merupakan bagian yang vital dalam pembangunan Rumah Bubungan Tinggi. Rumah Bubungan Tinggi yang biasanya dibangun di daerah berawa dan berlumpur, maka pondasi tersebut tidak saja harus kokoh dan kuat tetapi juga tidak mudah lapuk ketika ditanam di dalam rawa atau lumpur. Untuk keperluan tersebut, biasanya dipakai kayu Galam atau Kapur Naga. Kedua jenis kayu tersebut mempunyai keunikan tersendiri, yaitu dapat bertahan hingga 70 tahun jika ditanam di tempat yang berawa, dan 60 tahun jika berada di tempat kering.
  • Kayu Ulin. Kayu ini dikenal awet, tahan air dan tahan panas. Kayu Ulin biasanya digunakan untuk tiang, tongkat, gelagar, susuk, lantai, watun barasuk,  rangka pintu dan jendela, dan kasau.
  • Kayu Lanan. Kayu jenis ini biasanya digunakan untuk membuat dinding.
  • Kayu Damar Putih. Kayu jenis ini biasanya digunakan untuk gelagar, turus tawing, balabat, titian tikus, bujuran sampaian, dan riing.
  • Daun Rumbia, digunakan untuk membuat atap.
  • Paring (bambu), dipergunakan untuk membuat dinding palupuh halayung dan hanau. Selain itu, Paring juga dapat digunakan untuk membuat lantai pada bagian padu atau pambayuan

b. Tenaga

Untuk mendirikan Rumah Bubungan Tinggi, diperlukan tenaga ahli yang tidak saja mempunyai keahlian untuk membuat rumah yang kokoh dan tahan lama, tetapi juga harus mempunyai keahlian spiritual sehingga rumah yang didirikan dapat memberikan ketenangan kepada penghuninya. Dalam membuat Rumah Bubungan Tinggi, tukang ahli dibantu oleh tukang biasa. Tenaga lain yang dibutuhkan dalam pendirian Rumah Bubungan Tinggi adalah tenaga umum, yaitu tenaga yang dibutuhkan untuk kerja gotong royong seperti penggalian tanah untuk pondasi dan pemasangan atap rumah.

3. Tahapan Pembangunan Bubungan Tinggi

a. Tahap Persiapan

1) Musyawarah

Tahap paling awal pembangunan awal Rumah Bubungan Tinggi adalah Musyawarah. Dalam musyawarah, dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan pembangunan Rumah Bubungan Tinggi, mulai dari penentuan tempat, besarnya rumah yang hendak dibangun, bahan-bahan yang dibutuhkan, sampai pada siapa tukangnya. Oleh karena tahapan-tahapan dalam proses pembangunan Rumah Bubungan Tinggi merupakan keahlian yang diwariskan secara turun-temurun, maka fungsi musyawarah nampaknya sekedar formalitas adat, sehingga orang yang hendak membangun rumah tidak dianggap tidak tahu adat.

2) Menentukan ukuran rumah

Ukuran luas, dimensi, besar, skala, proporsi bangunan, ataupun sudut-sudut kemiringan antar Rumah Bubungan Tinggi tidak ada yang sama. Ini nampaknya berkait erat dengan penentuan ukuran yang menggunakan khasanah lokal masyarakat.

Sedikitnya ada tiga cara menentukan ukuran Rumah Bubungan Tinggi, yaitu: pertama, panjang dan lebar rumah ditentukan dengan menggunakan ukuran depa suami dalam jumlah ganjil. Kedua, ukurannya dihitung dengan mengambil gelagar pilihan. Kemudian dihitung dengan urutan perhitungan: gelagar, geligir, gelugur. Bila hitungannya berakhir dengan geligir atau gelugur maka itu pertanda kurang baik sehingga harus ditambah sehingga berakhir pada gelagar. Hitungan gelagar akan menyebabkan rumah dan penghuninya mendapatkan kedamaian dan keharmonisan.

Ketiga, ukuran panjang dan lebar rumah diukur dengan delapan nama binatang,  yaitu: naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, dan gagak. Panjang ideal dilambangkan naga dan lebarnya dilambangkan gajah. Ukuran yang kurang baik jika hitungan jatuh pada binatang asap, anjing, keledai, atau gagak. Jumlah panjang depa dikalikan 12. Bila panjang rumah 6 depa, berarti 6 x 12 atau 72 ukuran, maka jika ukurannya dilambangkan oleh binatang naga, haruslah ditambah 1/12 depa lagi. Untuk memperoleh ukuran lambang gajah, panjang itu harus ditambah 7/12 depa atau dikurangi 1/12 depa.

3) Pengumpulan Bahan

Tata cara pengumpulan bahan-bahan untuk membangun Rumah Bubungan Tinggi dalam proses pengumpulan data.

b. Tahap Pembangunan

Setelah semua persiapan untuk membangun Rumah Bubungan Tinggi dianggap cukup, maka pembangunan dapat segera dimulai. Secara garis besar, proses pembangunan Rumah Bubungan Tinggi dapat dibagi dalam empat tahap, yaitu tahap pembangunan bagian bawah, bagian tengah, bagian atas, dan pemasangan ornamen pendukung.

1) Bagian Bawah

Pembangunan bagian bawah Rumah Bubungan Tinggi terdiri dari pembuatan Pondasi dan pemasangan tiang dan tongkat. Pondasi, tiang dan tongkat merupakan bagian yang sangat penting karena merupakan bagian yang menentukan kokoh-tidaknya Rumah Bubungan Tinggi yang didirikan.

  • Pondasi

Secara garis besar ada dua macam tehnik pemasangan pondasi, yaitu pondasi batang besar dan pondasi dengan batang kecil. Pondasi pada Rumah Bubungan Tinggi merupakan representasi dari kebudayaan masyarakat yang hidup di lingkungan lahan basah (rawa), khususnya tentang bagaimana masyarakat lokal membuat tekhnologi sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi geografis di mana ia tinggal.

Untuk menahan beratnya beban bangunan dan menyalurkan gaya berat secara merata, pondasi menggunakan batang (log) kayu sebagai bantalan. Pondasi menggunakan batangan kayu  dipilih karena bisa mengapungkan bangunan yang dibangun di atas rawa. Kayu  yang digunakan biasanya kayu Galam atau Kapur Naga. Tehnik pembuatan pondasi Rumah Bubungan Tinggi ada dua cara yaitu:

rumah bubungan tinggi
Bentuk pondasi Kalang Pandal

Pertama, pondasi batang besar. Sesuai namanya, pondasi ini menggunakan batangan (log) kayu berukuran besar (berdiameter 40-50 cm). Jika menggunakan kayu besar, maka tehnik pemasangannya dengan cara Kalang Pandal. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:

  1. Kayu besar yang dipersiapkan sebagai pondasi pada bagian atasnya ditarah sampai rata dengan menggunakan belayung.
  2. Selanjutnya pada bagian yang telah ditarah tersebut dibuat lubang untuk menancapkan tiang dan tongkat.
  3. Kemudian batang kayu untuk pondasi tersebut ditanam di tanah dalam posisi berjajar sesuai dengan deretan tiang dan tongkat yang akan digunakan.
  4. Kemudian tongkat dan tiang ditancapkan ke lubang-lubang yang telah dibuat di atas kayu pondasi tersebut. Agar tongkat dan tiang yang ditancapkan kokoh dan tidak bergerak-gerak, maka diberi suduk (pengganjal).
  5. Setelah semuanya terpasang dengan baik, pondasi batang pandal tersebut ditimbun dengan tanah sampai tertutupi secara keseluruhan.
rumah bubungan tinggi
Bentuk pondasi Dua Lapis

Kedua, pondasi dengan batang kecil. Jika batang kayu Galam atau Kapur Naga berukuran besar tidak ada, maka cukup dengan menggunakan kayu yang berdiameter kecil, 15 cm sampai 20 cm. Oleh karena diameter kayu berbeda dengan jenis yang pertama, maka tehnik pemasangannya juga berbeda. Jika pada pondasi besar cukup satu lapis, maka pada pondasi kayu kecil dibuat dua lapis. Lapis terbawah disebut Kacapuri dan lapisan atas disebut Kalang Sunduk, yaitu sebagai penahan Sunduk Tiang atau Sunduk Tongkat. Sedangkan ujung tiang dan ujung tongkat tidak tertancap ke Kacapuri atau kalang Sunduk, tetapi tertancap ke dalam tanah hingga kedalaman dua meter dari permukaan tanah.

  • Tiang dan Tongkat

Setelah pembuatan pondasi selesai, maka proses selanjutnya adalah pemasangan tiang dan tongkat. Tiang dan tongkat merupakan struktur vertikal yang menyalurkan beban dari bagian atap ke pondasi. Untuk bahan tiang, biasanya digunakan kayu Ulin yang panjangnya sekitar 12 meter dengan lebar 20 cm, dan tebal 20 cm. Adapun jumlah yang dibutuhkan untuk membangun Rumah Bubungan Tinggi sebanyak 60 batang. Sedangkan untuk tongkat, panjang kayu Ulin yang dibutuhkan sekitar 5 meter dengan tebalan 20 cm dan  lebar 20 cm. adapun jumlah tongkat yang dibutuhkan sekitar 120 sampai 150 batang.

2) Bagian Tengah

Setelah pemasangan tiang dan tongkat selesai, maka tahap selanjutnya adalah pembuatan kerangka Rumah Bubungan Tinggi. Kerangka rumah tradisional Banjar ini cukup unik karena selain mempunyai arsitektur yang cukup tinggi, juga karena menggunakan ukuran depa dan panjang telapak kaki yang jatuh pada hitungan ganjil. Pembangunan bagian tengah Rumah Bubungan Tinggi dapat diklasifikasikan dalam dua aktivitas kegiatan, yaitu pemasangan lantai dan dinding.

Pemasangan lantai biasanya dengan bertumpu pada tiang utama, yaitu dengan  memasukkan balok lantai ke dalam lubang yang ada pada tiang utama. Namun sebelum papan lantai dipasang, terlebih dahulu dipasang balok gelagar di atas balok lantai yang pertama. Tujuannya adalah selain untuk mengikat tiang utama, juga agar jarak balok lantai yang lebar tidak menyebabkan lantai melentur.

Setelah balok lantai dan balok gelagar terpasang, maka tahap selanjutnya adalah pemasangan lantai. Papan yang digunakan untuk lantai adalah papan yang terbuat dari kayu Ulin dengan ketebalan 2-3 cm. Adapun tehnik pemasangannya ada dua macam, yaitu: lantai dipasang rapat dan dipasang berjarak antara 0,25-0,5 cm. Sebagian besar ruangan pada Rumah Bubungan Tinggi dipasang rapat, kecuali: surambi sambutan, anjung jurai kiri, pedapuran, dan pelatar belakang.

rumah bubungan tinggi
Cara menyambung bagian-bagian
pada Rumah Bubungan Tinggi.
Sambungan pada Rumah Bubungan Tinggi
biasanya dipenuhi ukiran-ukiran

Setelah lantai terpasang, maka dilanjutkan dengan pemasangan dinding. Dinding pada Rumah Bubungan Tinggi merupakan batas ruang-ruang, walaupun dinding yang dimaksud terkadang hanya berupa selisih ketinggian lantai. Penjelasan tentang jenis-jenis ruang akan dijelaskan di bagian akhir tulisan ini.

3) Bagian Atas (Atap)

Setelah lantai dan dinding terpasang, walaupun terkadang tidak selalu urut dari pembangunan dari bawah ke atas, dilanjutkan dengan pemasangan hatap (atap). Atap Rumah Bubungan Tinggi terdiri beberapa jenis atap, yaitu atap bubungan tinggi, atap sindang langit (atap yang memanjang dari kaki atap bubungan sampai ke pelataran), atap hambin awan (atap yang memanjang dari kaki atap bubungan ke arah belakang), dan atap anjung (atap yang menutup bagian ajung). Dalam kesempatan ini, hanya akan dijelaskan pemasangan atap bubungan. Hal ini karena proses pemasangan dan bahan yang digunakan pada semua jenis atap adalah sama.

Atap bubungan bentuknya menjulang tinggi dengan kemiringan 600. Atap tipe ini merupakan salah satu pembeda Rumah Bubungan Tinggi dengan jenis rumah tradisional dari daerah lain. Bahan yang digunakan untuk membuat atap biasanya daun Rumbia. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat kerangka atap.
  2. Dilanjutkan dengan pemasangan kasau dan usuk.
  3. Kemudian daun Rumbiayang akan digunakan sebagai atap disusun berlapis dan dijepit dengan pelepah Rumbiaatau menggunakan bambu yang diiris sebesar ibu jari tangan.
  4. Selanjutnya dirangkai dengan menggunakan tali yang terbuat dari Banban.
  5. Kemudian dipasang. Cara pemasangan dimulai dari bawah ke atas, dengan posisi saling menindih, yang di atas menindih bagian bawah sampai pertengahan daun. Kemudian diikat dengan tali Banban. Cara seperti ini memungkinkan daun Rumbiatidak mudah terbawa angin dan tidak mudah bocor ketika turun hujan.
  6. Setelah seluruh atap terpasang, dilanjutkan dengan pemasangan kayu pemberat pada bagian atas daun Rumbia. Dan pada bagian ujungnya (puncak), kayu pemberat dibuat membentuk persilangan (layang-layang).

Dalam perkembangannya, penggunaan daun Rumbiasebagai atap rumah semakin berkurang. Hal ini disebabkan selain karena atap daun Rumbiasangat rentan terhadap angin, juga karena masyarakat Banjar semakin menyadari bahwa alam di mana mereka tinggal menyediakan kayu yang melimpah. Selain itu, perubahan tersebut ditunjang oleh kesadaran untuk memanfaatkan sisa pembangunan Rumah Bubungan Tinggi. Sisa-sisa bangunan tersebut kemudian dibelah tipis-tipis sehingga bisa difungsikan sebagai pengganti daun Rumbia. Dengan kata lain, digunakannya kayu sebagai atap Rumah Bubungan Tinggi merupakan salah satu bukti kearifan masyarakat Banjar dalam memanfaatkan hasil-hasil alam sekitar. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Sisa-sisa kayu Ulin dari pembangun rumah dikumpulkan dan dibelah menjadi belahan yang tipis-tipis.
  2. Kemudian dilekatkan pada konstruksi rangka atap menggunakan tali. Dalam perkembangannya, tali kemudian digantikan dengan menggunakan paku.
  3. Setelah semuanya terpasang, pada bagian atas atap diberi kayu pemberat dan bagian pucuknya dibuat membentuk persilangan (layang-layang). Hanya saja, setelah masyarakat Banjar mengenal paku, kayu pemberat tidak lagi digunakan dan layang-layang hanya menjadi sekedar hiasan saja.

4) Pemasangan Ornamen Pendukung

Setelah pemasangan atap selesai, maka secara formal pembangunan Rumah Bubungan Tinggi telah selesai. Hanya saja, bagi sebagian orang yang mempunyai kekayaan, Rumah Bubungan Tinggi perlu dilengkapi dengan ornamen-ornamen atau ukiran-ukiran. Banyak-sedikitnya dan mewah-tidaknya ukiran menunjukkan tinggi rendahnya  status sosial seseorang.

Ukiran adakalanya dibuat sendiri, tetapi biasanya dengan memesan kepada ahlinya. Ukiran diletakkan antara lain di sebelah kiri dan kanan puncak bubungan, pilis samping, pilis muka, tataban, dahi lawang, dan sebagainya.

rumah bubungan tinggi
Rumah Bubungan Tinggi yang dibangun di atas tanah rawa

4. Bagian-Bagian Rumah Bubungan Tinggi

Secara garis besar, Rumah Bubungan Tinggi terbagi ke dalam empat kelompok ruang, yaitu kelompok ruang pelataran, kelompok ruang tamu, kelompok ruang tinggal, dan kelompok ruang pelayanan.

a. Kelompok Ruang  Pelataran

Kelompok ruang pelataran merupakan bagian terdepan dari Rumah Bubungan Tinggi. Ruang pelataran merupakan ruangan terbuka, atau berdinding dan beratap sebagian. Dalam masyarakat Banjar, dan mungkin juga bagi masyarakat-masyarakat yang hidup di daerah basah (berawa), ruang pelataran mempunyai fungsi yang sangat penting, karena di area ini sebagian aktivitas sosial dilakukan  baik dalam lingkup keluarga ataupun masyarakat.

rumah bubungan tinggi
Area pelataran pada Rumah Bubungan Tinggi terdiri dari surambi muka,
surambi sambutan, dan lapangan pamedangan.

Area pelataran terdiri dari tiga bagian ruang yaitu: pelataran muka (surambi muka), pelataran tengah (surambi sambutan), dan pelataran dalam (lapangan pamedangan). Pelataran muka (surambi muka) secara fungsional seperti teras pada rumah-rumah modern. Hal ini disebabkan karena Rumah Bubungan Tinggi di bangun di atas rawa sehingga penghuninya tidak mungkin memilki halaman untuk beraktivitas. Pada bagian ini, biasanya terdapat tempat air (balanai) untuk mencuci kaki bagi siapaun yang hendak masuk ke dalam rumah. Pelataran tengah disebut juga surambi sambutan. Tempat ini biasanya digunakan oleh yang punya rumah untuk menyambut tamu. Adakalanya, surambi sambutan digunakan sebagai tempat menjemur padi. Selanjutnya, jika terus melangkah akan sampai pada pelataran dalam (lapangan pamedangan). Lapangan pamedangan merupakan bagian yang sudah beratap dan dikelilingi pagar setinggi kurang lebih 80 cm. Tempat ini, biasanya digunakan oleh para anggota keluarga untuk bersantai. Selain itu, tempat ini juga sering digunakan untuk menerima tamu laki-laki.

Area pelataran dengan area lainnya pada bagian dalam Rumah Bubungan Tinggi dipisahkan oleh sebuah dinding yang disebut tawing hadapan. Keberadaan tawing hadapan nampaknya tidak sekedar berfungsi sebagai pembatas dengan bagian dalam rumah, tetapi juga menunjukkan bahwa ruangan ini mempunyai fungsi-fungsi khusus. Pada tawing hadapan ini terdapat pintu yang disebut lawang hadapan. Lawang hadapan berfungsi sebagai penghubung area pelataran dengan bagian dalam Rumah Bubungan Tinggi.

Lawang hadapan merupakan penghubung
antara area pelataran dengan
bagian dalam Rumah Bubungan Tinggi
rumah bubungan tinggi

b. Kelompok ruang tamu

Jika dari area pelataran terus melangkahkan kaki melewati lawang hadapan, maka akan masuk pada kelompok ruang tamu yang bersifat publik dan semi-publik. Kelompok ruang ini terdiri dari empat ruang yang tidak dipisahkan oleh dinding tetapi hanya ditandai oleh balok lantai dan perbedaan tinggi lantai, yaitu: ruang antara (pacira), ruang tamu muka (panampik kacil), ruang tamu tengah (panampik tangah), dan ruang tamu utama (panampik basar).

Batas ruang tamu dengan bagian Rumah Bubungan Tinggi yang lebih dalam dibatasi oleh sebuah dinding yang disebut tawing halat. Pada tawing halat ini akan dijumpai hiasan berupa ukiran berbentuk tumbuhan atau flora dan kaligrafi yang berwarna-warni. Jika orang yang punya rumah mengadakan syukuran atau pesta, misalnya pernikahan, maka tawing halat ini biasanya dilepas. Pada posisi tawing halat yang sudah dilepas itulah tempat bersanding penganten diletakkan.

rumah bubungan tinggi
Tawing Halat merupakan pembatas antara ruang tamu dengan ruang tinggal

c. Kelompok ruang tinggal atau hunian

Di bagian belakang tawing halat, terdapat ruang yang sangat pribadi (privat) yaitu ruang tinggal atau hunian. Ruangan ini tediri dari empat ruangan, yaitu: pertama, ruang keluarga (paledangan). Tempat ini berada pada bagian tengah Rumah Bubungan Tinggi dan merupakan tempat berinteraksi antar penghuni rumah. Kedua,  ruang tidur orang tua (anjung dan anjung jurai). Tempat ini merupakan tempat tidur para orang tua. Tempat tidur orang tua ini terletak di sisi kanan dan sisi kiri Rumah Bubungan Tinggi.

rumah bubungan tinggi
Anjung Kiwa pada
Rumah Bubungan Tinggi

Ketiga, ruang tidur untuk anak (karawat dan katil). Ruangan ini digunakan sebagai tempat tidur anak atau anak gadis yang belum bersuami. Ruangan ini berada di atas panampik pananggah dan panampik padu. Keempat, pelatar belakang. Ruangan ini digunakan untuk tempat kegiatan mandi, mencuci, dan menjemur cucian. Ruang pelatar balakang ini dikelilingi pagar dari kayu Ulin yang cukup tinggi  namun tanpa penutup di atasnya. Lantai ruang palatar belakang dipasang renggang dengan jarak sekitar 0,25 cm-0,5 cm, tujuannya untuk memudahkan air sisa mandi dan mencuci mengalir ke bawah.

d. Kelompok ruang pelayanan

Pada bagian belakang Rumah Bubungan Tinggi atau bagian belakang ruang hunian yang dipisahkan dengan sebuah dinding pembatas (tawing pahatan padu), terdapat ruang pelayanan. Kelompok ruang ini terbagi atas empat ruang yaitu: ruang saji dan ruang makan (panampik dalam atau panampik padu), ruang dapur (padapuran atau padu), dan ruang penyimpanan (jorong). Sebenarnya, di atas ruang pelayanan ini masih terdapat sebuah ruang, ruang katil, untuk tempat anak atau anak gadis tidur. Tempat ini hanya bisa diakses dari ruang hunian.

Lantai ruang pelayanan lebih rendah sekitar satu meter dari kelompok ruang hunian. Untuk menunju ke ruang pelayanan, dari ruang hunian harus melalui sebuah pintu yang ada di tengah dinding pembatas (tawing pahatan padu) dan menuruni tiga buah anak tangga (tiga tatang).

Ruangan ini, tidak hanya berfungsi sebagai tempat masak-memasak, tetapi juga berfungsi sebagai tempat menyiapkan dan menyimpan bahan makanan, tempat makan, tempat mengasuh anak, tempat tidur dan lain sebagainya.  

5. Ragam Hias

Ragam hias pada Rumah Bubungan Tinggi dibuat dengan metode tatah. Ada tiga macam metode tatah yang digunakan, yaitu: tatah surut (ukiran berbentuk relief), tatah babuku (ukiran berbentuk tiga dimensi), dan tatah baluang atau bakurawang (ukiran tembus pada lembaran kayu).

Adapun motif hias yang digunakan untuk membuat ukiran pada Rumah Bubungan Tinggi secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu: motif flora, motif fauna, dan motif kaligrafi.

a. Motif Flora

Motif flora yang digunakan mempertimbangkan tidak saja faktor keindahan tetapi juga faktor kemanfaatan. Bentuk dari flora yang digunakan secara garis besar ada empat macam, yaitu: sulur-suluran, kambang barapun, kambang dalam jambangan, dan kambang malayap. Adapun jenis flora yang sering digunakan secara garis besar ada tiga macam, yaitu: buah-buahan, bunga-bungaan, dan tanaman-tanaman khusus lainnya.

  • Untuk motif buah-buahan, yang digunakan adalah buah-buahan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat. Di antara jenis buah-buahan yang digunakan sebagai motif hias adalah: Buah Belimbing, Manggis, Mengkudu/Pacekap, dan Nenas.   
  • Motif bunga-bungaan yang digunakan adalah bunga-bungaan yang berada di lingkungan sekitar, memilki keindahan, dan juga digunakan dalam upacara-upacara adat. Jenis bunga yang digunakan di antaranya adalah: Bunga Cempaka, Kacapiring, Kenanga, Pakis, Mawar, Melati, Taratai dan Tapak Kuda.
  • Sedangkan jenis tanaman khusus lainnya adalah berbagai macam tanaman yang tumbuh di lingkungan sekitar, dapat diolah menjadi bahan makanan dan dapat digunakan sebagai obat. Di antara tanaman khusus tersebut adalah: Tanaman Kangkung, Jamur, Cengkeh, Paku Alai, Tunas Bambu / Pucuk Rabung, Jaruju, dan sirih.
rumah bubungan tinggi
Motif Flora dengan model
tatah baluang atau bakurawang

b. Motif Fauna

Motif fauna yang digunakan dalam arsitektur rumah tradisional Banjar, di antaranya: Motif Ayam Jantan (Babulungan Hayam Jagau), Cacak Burung, Gigi Ikan Gabur (Gigi Haruan), Lipan (halilipan), Kumbang (Kumbang Begantung), Unggas (I-itikan), Sarang Tawon (wanyi), Burung Enggang, dan Naga.

Dalam menggunakan motif fauna ini, hewan yang dijadikan ukiran tidak ditampilkan secara utuh tetapi hanya merupakan bagian-bagian tertentu saja. Hal ini dilakukan nampaknya terkait dengan keyakinan masyarakat bahwa pembuatan bentuk hewan secara utuh dilarang oleh agama. Oleh karena itu, biasanya motif hewan telah mengalami proses stilisasi sedemikian rupa sehingga hasil ukiran kelihatan seperti simbol-simbol saja.  

c. Motif kaligrafi

Motif ini mulai digunakan sejak semangat ke Islaman semakin menguat dalam masyarakat Banjar.

rumah bubungan tinggi
Ragam hias pada Rumah Bubungan Tinggi

6. Nilai-Nilai

Rumah Bubungan Tinggi tidak semata-mata sebagai tempat berlindung dari sengatan matahari, cucuran air hujan dan terpaan angin, tapi ia merupakan sebuah mahakarya peradaban manusia yang dilandasi sifat arif dan bijaksana. Rumah Bubungan Tinggi merupakan cerminan dari kemampuan manusia beradaptasi terhadap lingkungannya, sistem sosial yang dibentuk, dan ekspresi keyakinan dan pengharapan masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

a. Pola adaptasi

Rumah Bubungan Tinggi merupakan arsitektur hasil adaptasi masyarakat Banjar terhadap kondisi alam yang basah (berawa). Penggunaan pondasi Kalang Pandal dan Dua Lapis dengan menggunakan kayu Galam dan Kapur Naga secara jelas menunjukkan pengetahuan dan kearifan lokal (local wisdom and knowledge) masyarakat Banjar dalam menyikapi kondisi alam. Walaupun tanah tempat mendirikan Rumah Bubungan Tinggi merupakan tanah labil, tetapi dengan arsitektur dan pemilihan bahan bangunan yang tepat, maka mereka dapat membangun tempat tinggal yang kokoh dan tahan lama.

Kemampuan adaptasi lainnya dapat dilihat pada pembangunan ruang palataran. Keberadaan ruang pelataran merupakan cara masyarakat Banjar menyikapi tidak adanya lahan untuk melakukan aktivitas sosial. Penggunaan kayu Ulin sebagai kerangka, lantai, dan dinding rumah juga merupakan bentuk adaptasi masyarakat Banjar. Dengan menggunakan kayu Ulin, bangunan Rumah Bubungan Tinggi dapat bertahan hingga 60 tahun. Selain itu, kemampuan adaptasi masyarakat juga dapat dilihat pada bentuk atap yang menjulang tinggi dengan kemiringan sampai 600. Dengan cara ini, walaupun hanya menggunakan daun Rumbia atau irisan kayu Ulin sebagai atapnya, Rumah Bubungan Tinggi tidak akan mengalami kebocoran pada musim penghujan.     

b. Sistem sosial

Rumah Bubungan Tinggi merupakan sebuah potret sistem sosial masyarakat Banjarmasin. Pada saat Kerajaan Banjar masih berdiri, Rumah Bubungan Tinggi merupakan rumah kediaman raja dan bangsawan. Setelah kerajaan Banjar hancur, Rumah Bubungan Tinggi dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai kekayaan yang cukup banyak. Artinya, Rumah Bubungan Tinggi merupakan cerminan dari stratifikasi sosial dalam masyarakat. Selain Rumah Bubungan Tinggi itu sendiri, stratifikasi sosial juga ditunjukkan oleh banyak-sedikitnya ragam hias dalam Rumah Bubungan Tinggi.

Selain sebagai potret dari stratifikasi sosial, Rumah Bubungan Tinggi juga menunjukkan etika bermasyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada pembagian-pembagian ruang yang menyebabkan munculnya konsep ruang publik dan privat. Sistem sosial pada Rumah Bubungan Tinggi sebenarnya juga dapat dilihat sejak awal dari pendirian rumah tersebut, yaitu pada tahap musyawarah. Tahapan ini, tidak saja secara formal meminta masukan masyarakat sekitar tentang hal-hal yang berkait dengan pendirian rumah, tetapi juga berkait dengan adat dan kesopanan. Orang yang membangun rumah tanpa bermusyawarah dapat dianggap tidak tahu adat dan sopan santun.

c. Ekspresi keyakinan dan pengharapan

Rumah Bubungan Tinggi juga merupakan ekspresi keberagamaan masyarakat Banjarmasin. Penggunaan depa orang yang hendak mendirikan rumah dan nama-nama binatang yang baik untuk menentukan lebar sebuah bangunan, menunjukkan bahwa pembangunan Rumah Bubungan Tinggi mempunyai unsur sakral. Penggunaan tukang yang tidak saja ahli dalam hal tehnis pembangunan tetapi juga yang bersifat non tehnis, juga membuktikan bahwa Rumah Bubungan Tinggi tidak saja berada dalam dimensi profan tetapi juga sakral.

Selain ekspresi keyakinan, Rumah Bubungan Tinggi juga sebagai bentuk dari pengejawantahan pengharapan masyarakat. Pengharapan ini dapat dilihat pada penggunaan dan penempatan ragam hias baik yang berbentuk flora, fauna, dan kaligrafi. Stilisai buah Manggis yang diletakkan di sungkul tangga, misalnya, bertujuan agar orang yang tinggal di dalam Rumah Bubungan Tinggi mempunyai watak pekerja keras sebagaimana dibutuhan kerja keras untuk mengupas kulit buah Manggis agar dapat makan isinya. Penggunaan hiasan Kaligrafi Arab juga tidak semata-mata keindahan tetapi juga sebagai bentuk pengharapan agar rumahnya terhindar dari marabahaya.

Jika penerokaan terhadap Rumah Bubungan Tinggi terus dilakukan, niscaya kita akan semakin banyak mendapatkan samudera pengetahuan. Dengan cara ini, akan diketahui bahwa masyarakat mempunyai segudang kearifan dalam menyikapi kondisi tempat mereka tinggal. Oleh karena di dalam Rumah Bubungan Tinggi menyimpan segudang kearifan, maka yang saat ini dibutuhkan adalah menggali nilai-nilai tersebut dan mengaplikasikannya dalam kehidupan masa kini. (AS/bdy/25/01-08)

Referensi:

  • ”Anjungan Kalimantan Selatan”, dalam http://www.tamanmini.com/anjungan/kalsel/profil, diakses tanggal 10 Desember 2007.
  • Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, 1997
  • ”Anjungan Kalsel Makin Bungas”, dalam  http://www.indomedia.com/bpost/012007/4/ragam/art-4.htm, diakses tanggal 8 Desember 2007.
  • Bani Noor Muhammad dan Ira Mentayani, Anatomi Rumah Bubungan Tinggi, Pustaka Banua, Banjarmasin, 2007.  
  • Brotomoeljono, Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1986
  • Depdikbud, Rumah Tradisional Banjar: Rumah Bubungan Tinggi, proyek pengembangan permuseuman Kalimantan Selatan tahun 1980-1981.
  • ”Mewujudkan Gagasan Konservasi Perkampungan Rumah Adat Banjar”, dalam http://kompas.com/ver1/Negeriku/0708/30/194253.htm, diakses tanggal 10 Desember 2007.
  • ”Rumah Banjar”, dalam  http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Banjar, diakses tanggal 10 Desember 2007.
  • ”Rumah Banjar”, dalam http://www.urangbanua.com/wisata%20banjarmasin.htm, diakses tanggal 10 Desember 2007.
  • ”Rumah Bubungan Tinggi”, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Bubungan_Tinggi, diakses tanggal 10 Desember 2007.
Dibaca : 17.053 kali.