Kamis, 23 Oktober 2014   |   Jum'ah, 28 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 898
Hari ini : 1.367
Kemarin : 23.762
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.259.535
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Latar Belakang Sejarah Kesusastraan Melayu Masa Pengaruh Islam/Arab-Persia

Orang Melayu telah menciptakan kesusastraannya pada zaman prasejarah dan selama masa ketika pengaruh India tertanam di seantero gugusan pulau-pulau Melayu. Bukti-bukti kesusastraan dari masa-masa itu memang sangat sulit didapatkan karena hampir semuanya bercorak lisan, sementara hasil-hasil sastra yang ditulis dengan bahasa Melayu Kuno dan aksara pinjaman dari India dan juga aksara kreasi lokal lenyap begitu saja.[1] Akibatnya, tidak aneh jika pandangan umum menyepakati bahwa kesusastraan Melayu “yang sebenarnya” mulai bisa dilacak jejak-jejak awalnya sejak sekitar abad ke-16 M.

Hal ini didasari fakta bahwa manuskrip-manuskrip sastra Melayu paling tua berasal dari masa sekitar abad ke-16 (Syed Naguib Al-Attas dalam Harun Mat Piah et.al., 2002:26), yakni setelah pengaruh Islam tertanam kuat di Nusantara dan khususnya setelah orang Melayu mengadopsi dan memodifikasi aksara Arab menjadi huruf Jawi.

Eskalasi karya-karya yang menggunakan aksara Jawi ini begitu besar dan menjadi arus utama dalam kesusastraan dan kebudayaan Melayu selama abad-abad berikutnya, dan bahkan menentukan perkembangan kebudayaan Melayu secara umum, sehingga V.I. Braginsky (1998:1) menyatakan bahwa “dasar tradisi” kebudayaan Melayu adalah kesusastraan—yaitu kesusastraan tertulis yang tercipta semenjak abad ke-16 M.

Walaupun asersi Braginsky patut untuk direnungkan ulang—karena orang Melayu mungkin sekali telah menghasilkan kesusastraan juga pada masa-masa sebelumnya—namun faktanya adalah bahwa Islam telah menjadi daya dorong utama dalam evolusi kesusastraan Melayu. Islam berhasil mendorong lahirnya suatu lanskap kesusastraan yang matang.

Islam di Dunia Melayu

Pola utama penyebaran Islam di dunia Melayu dari Tanah Suci diperkirakan mengikuti jalur perdagangan. Para pedagang dari Arab seringkali hidup dalam negara-negara di Sumatra selama waktu yang panjang. Dengan demikian mereka sempat mempelajari bahasa dan adat istiadat orang Melayu, menikahi perempuan setempat, menjalin persahabatan dan berlindung pada para bangsawan, dan berangsur-angsur bahkan mencapai kedudukan tinggi di kalangan istana (Braginsky, 1998:57). Mudah dipahami jika para pedagang tersebut kemudian menyebarkan pengaruhnya, termasuk agama Islam, pada semua kalangan masyarakat.

Selain faktor eksternal tersebut, di masyarakat Melayu sendiri pada masa itu telah tersedia prasayarat untuk menerima pengislaman dengan lebih lancar. Dalam periode antara abad ke-13 dan abad ke-14, sendi-sendi kebudayaan Hindu-Buddha yang berkarakter elit di dunia Melayu semakin rapuh dengan melemahnya Sriwijaya, terutama di kalangan elit kerajaan yang menjadi penyangga dan praktisi utama kebudayaan tersebut. Pada saat yang sama, kelas menengah dalam masyarakat menjadi semakin kuat dan memerlukan wadah ideologis baru yang lebih egaliter. Wadah inilah yang diberikan oleh agama Islam.

Dunia Melayu diketahui berhubungan dengan dunia Arab sejak sekitar abad ke-5 Masehi. Pada masa itu, kapal-kapal dagang Arab singgah di Semenanjung Melayu dalam perjalanan dagang yang panjang ke Cina. Karena itu, tidak berlebihan jika dianggap bahwa para juru dakwah telah menyebarkan Islam di seluruh dunia Melayu bahkan sejak abad ke-7 M, yakni tak lama setelah Islam diwahyukan di Jazirah Arab (Arnold dalam Harun et.al., 2002:26).

Jadi, dapat diperkirakan bahwa pada masa kejayaan Sriwijaya yang Buddhis, Islam pun telah hadir di dunia Melayu. Hal ini dibuktikan dengan sebuah berita Cina yang menyebutkan bahwa seorang utusan muslim bernama Phu Ali atau Pu Ya-Li atau Abu Ali telah berkunjung ke Cina pada 977 M sebagai wakil dari Kerajaan Poni, yakni nama kerajaan Brunei pada masa kuno (Harun et.al., 2002:26; Mohd. Jamil Al-Sufri, 2000:5-6).

Beberapa wilayah pantai di Burma telah menerima kedatangan para saudagar muslim dari Persia dan Cina pada abad ke-9 M (Yegar; Harvey dalam Mohd. Thaib Osman, 1997:9), dan Kerajaan Ayuthya di Thailand mungkin juga telah menerima saudagar Islam pada abad ke-14 M (Osman, 1997:9). Sebelum Majapahit yang berkebudayaan Hindu-Siwa berjaya, Islam pun telah menanamkan pengaruhnya di beberapa bagian nusantara, sebagaimana dibuktikan dengan penemuan batu-batu nisan di Gresik dan Brunei serta sebuah batu bersurat di Pekan, Pahang, yang bertarikh 1028 M (Noriah Mohamed, 2000:67).

Islam baru menyebar luas di dunia Melayu setelah berdirinya kerajaan Samudra-Pasai pada abad ke-13 M, sebagaimana yang terbukti dengan penemuan batu nisan Sultan Malikus Saleh yang bertarikh 1297 M. Sebuah batu bersurat yang ditemukan di Terengganu dan bertarikh 1303 M mengungkapkan bahwa hukum Islam, dan dengan demikian juga kekuasaan dan pengaruh Islam, telah tertanam di Semenanjung Melayu di sekitar tarikh tersebut. Pada 1460, kantong-kantong penduduk muslim telah berdiri di Mindanao, Filipinia (Majul dalam Osman, 1997:9).

Ibnu Battuta (Braginsky, 1998:57) melaporkan bahwa pada 1345-1346 Samudera-Pasai telah menjadi kerajaan yang sepenuhnya Islam. Tetapi pada paruh kedua abad ke-14, kerajaan ini dihancurkan oleh Majapahit. Walaupun demikian, Pasai tetap menjadi pusat perdagangan yang ramai hingga abad ke-15.

Ramainya Pasai sebagai pusat ekonomi disebabkan oleh situasi keamanan. Para pedagang Arab tidak berani berlayar di perairan yang lebih dalam dan berbahaya, sehingga mereka di Pasai, di mana mereka dapat bertemu dengan para pedagang dari Jawa dan daerah-daerah lain. Cerita-cerita dalam Hikayat Raja Pasai maupun Sulalat-us-Salatin menyiratkan bahwa Pasai pada masa itu tetap menjadi pusat tertua kegiatan sastra dan agama Islam di dunia Melayu, yang bahkan lebih tinggi daripada martabat ekonominya.

Tetapi kebesaran Melayu sebagaimana yang dicapai pada zaman keemasan Sriwijaya tidak diteruskan oleh Samudera-Pasai, melainkan Malaka. Kerajaan Malaka didirikan oleh Raja Palembang, Paramesywara, atau Iskandar Syah dalam Sulalat-us-Salatin. Paramesywara pada mulanya adalah vasal di bawah kekuasaan Majapahit, tetapi kemudian berusaha melepaskan diri sehingga mengundang kemarahan Majapahit. Palembang diserang sehingga Paramesywara harus melarikan diri ke Temasek atau Singapura. Sesudah diusir lagi oleh salah seorang vasal raja Siam, Paramesywara mendirikan kerajaan di Malaka.

Pada 1346, cucu Paramsywara menikah dengan putri Kerajaan Pasai, memeluk Islam, dan menamakan diri Sultan Muhammad Syah. Dengan cara ini dia berhasil menarik ke pelabuhan Malaka sebagian pedagang Islam dan pedagang Jawa, yang dahulu berkiblat ke pelabuhan di Pasai. Pertumbuhan Malaka sebagai pusat dagang dan pusat agama Islam bagi kawasan sekitarnya terus berkembang, sehingga Malaka lalu dikenal sebagai “Mekah Kedua” (Braginsky, 1998:58).

Dekade pertama abad ke-16 merupakan zaman kegemilangan politik dan kebudayaan Malaka. Malaka menjadi salah satu pusat perdagangan dunia, berpenduduk 40.000 jiwa lebih, dan menjadi pusat permukiman pedagang hampir dari seluruh negeri timur.

Pada abad ke-16, dapat dipastikan bahwa hampir seluruh penduduk Semenanjung Melayu telah memeluk agama Islam. Penaklukan Malaka oleh Portugis pada 1512 menjadi pertanda awal kolonialisme dan imperialisme negara-negara Eropa atas dunia Melayu dan melenyapkan pusat Islam terbesar di dunia Melayu. Tetapi pusat-pusat baru segera muncul.

Sepanjang abad ke-16 dan ke-17, ada dua kerajaan yang saling bergantian menjalankan peran sebagai penerus Malaka, yaitu Johor sebagai penerus langsung Malaka, dan Aceh yang telah menaklukkan Pasai. Keduanya saling berebut hegemoni atas dunia Melayu. Perebutan ini dimenangkan oleh Aceh. Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, tepatnya pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda (1608-1646), Kesultanan Aceh meluaskan pengaruhnya hingga meliputi sebagian besar Sumatra, Johor, Pahang, Perak, dan Kedah.

Johor bangkit pada 1640 dan memulihkan dominasi di Semenanjung. Namun Johor mengalami kemunduran pada abad ke-18 karena pecahnya konflik internal dan munculnya campur tangan imigran Minangkabu dan pelarian dari Bugis yang melarikan diri dari Sulawesi setelah Belanda menduduki Makassar pada 1667. Pada akhir abad ke-18, Johor jatuh di bawah kekuasaan Belanda yang menempatkan garnisunnya di ibukota negara, yang pada waktu itu berkedudukan di Kepulauan Riau. Sementara itu, Aceh tetap mempertahankan kedaulatannya dari campur tangan Belanda hingga awal abad ke-20.

Selain Aceh dan Johor, beberapa pusat Melayu-Islam lain juga tumbuh, seperti Banjarmasin, Pattani, dan lain-lain. Kerajaan-kerajaan ini tidak hanya memainkan peran aktif dalam bidang politik dan perdagangan, tetapi juga menjadi pusat-pusat kebudayaan Melayu Islam (Harun et.al., 2002:27). Hubungan mereka dengan Pasai, Malaka, Aceh, dan Johor adalah hubungan yang rumit, tetapi mereka tidak pernah mencapai taraf perkembangan segemilang keempat kerajaan besar tersebut.

Pengislaman Badan dan Pengislaman Jiwa

Tentu saja kebudayaan Melayu-Islam yang matang tidak serta merta terbentuk, tetapi harus melalui tahap-tahap peralihan. Naguib Al-Attas melukiskan tahap-tahap Islamisasi ini sebagai tahap “konversi jasmani/pengislaman badan” dan tahap “konversi rohani/pengislaman jiwa” (Al-Attas dalam Braginsky, 1998:60 & 154).

Pada tahap “pengislaman badan”, terjadi penyerapan dasar-dasar agama baru (Al-Qur‘an dan Hadist), walaupun dalam bentuk luarnya saja, dan juga penetapan hukum-hukum Islam (syariat). Yang memegang peran penting dalam proses ini adalah khotbah-khotbah para ulama yang mudah dipahami oleh orang awam dan juga oleh yurisprudensi Islam (fikih).

Tahap pertama ini kira-kira sejalan dengan periode yang menurut pandangan umum disebut sebagai “Zaman Peralihan” (dari masa pengaruh India ke masa pengaruh Islam secara umum). Oleh Braginsky (1998:60), masa ini disebut sebagai “Sastra Islam Awal”. Pada tahap berikutnya, yakni “pengislaman jiwa”, penyebaran Islam semakin mendalam dan tidak hanya dilakukan secara horisontal tetapi juga—dan terutama—secara vertikal. Tahap kedua ini sejalan dengan periode atau Zaman Klasik dalam sejarah kesusastraan Melayu yang bermula sejak akhir abad ke-16 dan terus berlangsung hingga pertengahan abad ke-19.

“Pelaksana teknis” pengislaman ini adalah aksara Jawi. Aksara ini adalah modifikasi orang Melayu atas aksara Arab yang kemudian ditambah dengan empat huruf lain dari aksara Parsi, yaitu ca, ga, nya, dan nga dan kemudian ditambah lagi dengan pa. Walaupun tidak diketahui siapa yang memberikan nama “Jawi” kepada aksara hasil modifikasi itu (Hashim Musa, 2006:8), tetapi dengan aksara ini, yang biasa juga disebut sebagai Arab-Melayu atau Arab-gundul (mungkin karena tidak menggunakan tanda-tanda harakat), para penulis Melayu menuliskan hasil-hasil kesusastraan yang meliputi berbagai genre itu dan mengangkat derajat bahasa Melayu menjadi bahasa keagamaan, pengetahuan, dan kesusastraan.

Begitu pentingnya peran bahasa Melayu ini dalam persebaran Islam di dunia Melayu hingga Syed Naguib Al-Atttas menyebut bahwa bahasa Melayu, yang dipilih secara sadar dalam proses tersebut, merupakan bahasa agama Islam yang kedua setelah bahasa Arab (Al-Attas, 1990:56, 62-63).

Tahap Pengislaman Badan (Sastra Islam Awal/Zaman Peralihan)

Walaupun Pasai tetap menjadi pusat keagamaan terpenting di dunia Melayu setelah dihancurkan Majapahit pada abad ke-14, tetapi kesusastraan Melayu Islam pada abad ke-14 dan abad ke-15 justru berkembang pesat di Malaka. Braginsky (1998:59) mengaitkan perkembangan kesusastraan di Malaka ini dengan tata kota. Malaka ditata menurut ideal tata kota Timur Tengah dan India yang terdiri dari tiga lingkaran. Lingkaran pertama adalah istana raja yang dikelilingi bangunan-bangunan pemerintahan dan asrama tentara, lingkaran kedua diisi masjid, balai pendidikan keagamaan, dan pasar, sementara lingkaran ketiga merupakan kawasan permukiman penduduk yang ditempati oleh pedagang dan pengrajin dari berbagai kelompok etnis (Johns dalam Braginsky, 1998:59).

Sesuai dengan keperluan, kecenderungan, dan wawasan kebudayaan para penghuni di ketiga lingkaran tersebut, lahir berbagai tulisan yang berbeda-beda sifat dan jenisnya. Semua itulah yang membentuk sastra Melayu tertulis secara utuh.

Dari kalangan istana, lahir kronik, epik-epik kepahlawanan dan hikayat petualangan, yang bertugas mendidik para bangsawan muda dengan jiwa kepahlawanan dan budi pekerti. Dari kalangan guru dan ulama, baik yang menetap maupun sekadar singgah, lahir tulisan-tulisan tentang tokoh-tokoh suci (hagiografi) dan berbagai kitab pengetahuan Islam.

Yang agak kurang jelas adalah hasil-hasil sastra “golongan ketiga” atau masyarakat awam. Mungkin mereka tidak menghasilkan kesusastraan tertulis, tetapi jelas di kalangan mereka hidup tradisi sastra yang berkaitan erat dengan folklor yang sebagian besar masuk ke dalam kota dari daerah-daerah pertanian, yang tidak dipisahkan dari kota dengan batas yang jelas, tetapi seolah-olah “mengalir” perlahan ke dalam kawasan kota.

Tulisan-tulisan Melayu juga menceritakan tentang majelis-majelis sastra penduduk kota. Dalam kesempatan itu, mereka membaca naskah dengan suara keras secara bergantian, dan juga tentang para pembaca profesional yang membaca di pasar atau acara-acara tradisional.

Pola apresiasi sastra oleh berbagai lapisan penduduk Malaka tersebut memperkaya khasanah kesusastraan Melayu dengan motif-motif dan alur-alur cerita baru. Dengan daya serap sosial kota-kota Melayu, ditambah dengan peran para ulama dan guru agama sebagai perantara sosial, motif-motif dan alur-alur cerita baru tersebut menyentuh pusat-pusat dunia aksara atau tulisan, yaitu istana dan balai pendidikan. Di sinilah bahan-bahan baru itu ditulis, diolah dan disempurnakan.

Kesusastraan Melayu pada tahap ini adalah kesusastraan yang mulai menerima pengaruh yang besar dari kebudayaan Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh integrasi, baik secara eksplisit maupun implisit, dari karya-karya sastra bercorak Islam ke dalam karya-karya berbahasa Melayu. Namun, pada saat yang sama, pengaruh dari kebudayaan India, yang diperoleh melalui kesusastraan Jawa, juga masih dijumpai dengan kadar yang kurang lebih masih cukup tinggi, walaupun telah diubahsuaikan sedemikian rupa dengan asas-asas Islam.

Dua karya besar yang dihasilkan oleh dunia Melayu pada tahap awal ini adalah Sulalat-us-Salatin, yang lebih dikenal sebagai Sejarah Melayu, dan Hikayat Raja Pasai. Karya prosa mendominasi lanskap kesusastraan pada tahap ini karena puisi Melayu tertulis diperkirakan masih dipraktekkan secara lisan.

Pengaruh dari kebudayaan India, terutama dari Mahabharata, meresap ke dalam karya-karya sastra Melayu melalui perantaraan karya-karya sastra dari Jawa, kemungkinan besar melalui puisi-puisi epik-naratif berbentuk kakawin. Walaupun pengaruh ini memang ada, tetapi pengaruh yang jauh lebih besar tetap pengaruh dari kebudayaan Arab-Persia. Beberapa karya yang memperoleh pengaruh besar dari kebudayaan India antara lain Hikayat Pandawa Jaya, Hikayat Pandawa Lima, dan Hikayat Sang Boma.

Sementara Sejarah Melayu yang sering dianggap sebagai ciptaan Tun Sri Lanang kemungkinan ditulis pada 1535-1536 atau 1612, Hikayat Raja Pasai adalah karya yang anonim dan diperkirakan lebih tua daripada Sejarah Melayu, yaitu diciptakan pada permulaan abad ke-15 (Braginsky, 1998:79)—walaupun salinannya yang paling tua baru ditemukan pada abad ke-18. Kedua karya ini, yang sering dianggap sebagai karya sastra kesejarahan atau kronik, menyediakan berbagai data yang dapat digunakan untuk memperkirakan situasi kesusastraan Melayu pada abad ke-14 hingga abad ke-15.

Penggambaran perang dalam Hikayat Raja Pasai memperlihatkan pengaruh yang sangat besar dari Hikayat Muhammad Hanafiyah, yang juga disebutkan secara eksplisit dalam Sejarah Melayu. Penggambaran tentang kekuatan Tun Beraim Bapa mirip dengan penggambaran kekuatan Amir Hamzah dalam Hikayat Amir Hamzah. Kedua hikayat rujukan itu adalah karya sastra yang diterjemahkan dari bahasa Persia. Adanya nama Megat Sekandar Syah dalam Hikayat Raja Pasai dan pengisahan secara eksplisit tentang Iskandar Zulkarnain dalam Sejarah Melayu mengisyaratkan bahwa legenda Iskandar Zulkarnain telah dikenal pada masa itu. Jadi, pada masa itu orang Melayu dipastikan telah mengenal kesusastraan terjemahan dari bahasa Arab atau Persia maupun karya-karya sastra bercorak Islam.

Selain karya-karya sastra yang bersifat kesejarahan, para penulis Melayu pada masa itu juga telah mengenal berbagai teks yurispruedensi Islam dan filsafat agama, baik yang ortodoks maupun nonortodoks. Misalnya, salah satu cerita dalam Sejarah Melayu berkisah tentang Sultan Melayu yang mengirim utusan ke Pasai untuk memecahkan paradoks yang membahas apakah para penghuni surga dan neraka akan tetap tinggal di sana selamanya. Pertanyaan ini telah diajukan juga oleh para filsuf muslim seperti Ibnu Arabi. Pada masa ini juga diperkirakan dunia Melayu telah mengenal berbagai aliran pemikiran Islam yang datang dari Timur Tengah, seperti aliran Wahdat al-Wujud, Ahlu Sunnah wal-Jamaah, pemikiran mazhab Syafii, dan sebagainya.

Walaupun tidak disebutkan secara eksplisit dalam Hikayat Raja Pasai maupun Sejarah Melayu, namun cerita-cerita panji mempengaruhi kedua karya tersebut. Nama Radin Galuh, putri Majapahit, yang jatuh cinta kepada Tun Abdul Jalil, pangeran Pasai, dapat diasosiasikan dengan Galuh Candrakirana. Motif cerita pengutusan pelukis untuk menggambar orang pilihan sang putri dijumpai juga dalam cerita panji Jawa-Bali, dan perjalanan Raden Galuh ke Pasai mengingatkan orang pada perjalanan Candrakirana mencari Raden Inu. Diperkirakan bahwa cerita Panji sudah dikenal orang Melayu dalam akhir abad ke-14 (Braginsky, 1998:86).

Cerita Panji pasti sudah populer di Malaka pada sekitar abad ke-15 dan ke-16 sehingga penulis Sejarah Melayu dapat mengadaptasikannya sedemikian rupa untuk mengangkat kedudukan raja-raja Melayu sehingga lebih tinggi dari Batara Majapahit. Cerita-cerita panji diperkirakan menyebar dan populer di kalangan masyarakat Melayu melalui media-media seperti wayang kulit (wayang gedog), wayang wong, wayang topeng, wayang golek, dan gambuh. Harun et.al. (2002:34) menyatakan bahwa episode-episode dari cerita-cerita panji ini juga dilestarikan dalam bentuk relief. Beberapa cerita panji yang telah dihasilkan dalam bahasa Melayu antara lain Hikayat Cekel Waneng Pati, Hikayat Panji Kuda Semirang, dan Hikayat Andaken Penurat.

Pada tahap pengislaman yang kedua, penetrasi kebudayaan Hindu sudah diminimalisasi sedemikian rupa. Islam tidak lagi hanya memberikan pengaruh, tetapi telah menjadi unsur integral dalam kemelayuan kesusastraan Melayu.

Tahap Pengislaman Jiwa (Zaman Klasik)

Periode yang dimulai sejak akhir abad ke-16 hingga sebagian abad ke-19 dipandang sebagai masa klasik dalam kesusastraan Melayu, dan abad ke-17 sebagai zaman keemasannya (Braginsky, 1998:154). Perkembangan yang luar biasa pada masa ini justru disebabkan oleh kekalahan politik dunia Melayu akibat invasi bangsa-bangsa Barat. Karena tidak ada lagi tuntutan untuk mengembangkan diri di bidang politik, kelas elit dan cendekiawan dalam masyarakat Melayu “mengalihkan” tenaga mereka ke ranah yang lebih “lembut”, yakni ranah kebudayaan, terutama kesusastraan.

Tahap perkembangan kesusastraan ini, yang juga dapat disebut sebagai tahap “pengislaman jiwa”, ditandai oleh berkembangnya pembahasan tentang asas-asas teologi Islam dan sufisme yang melahirkan karya-karya baru yang bersifat religius, didaktis, historis dan beletris. Peranan pengarang pribadi meningkat dan mulai lahir genre “modern” pertama, yakni puisi tertulis. Seluruh khasanah kesusastraan Melayu ditafsir ulang menurut asas-asas Islam sebagai suatu keutuhan yang teratur, yakni sebagai suatu sistem sastra (Braginsky, 1998:154).

Proses kreasi, fungsi keindahan, dan didaktisme sastra direnungkan ulang. Seperti yang ditunjukkan dalam karya-karya seperti Hikayat Indraputra, Tajus Salatin, Hikayat Isma Yatim, Syair Perang Mengkasar, dan karangan-karangan Hamzah Fansuri, “kesadaran-diri” dalam sastra Melayu mulai terbentuk. “Kesadaran-diri” dalam sastra Melayu adalah kesadaran pencipta karya bahwa karyanya merupakan ciptaan berupa komposisi yang hanya bisa lahir berkat adanya campur tangan ilahi.

Karya-karya Melayu klasik lazimnya diawali oleh sebuah pengantar yang menerangkan sekaligus mengakui bahwa karya tersebut lahir berkat kuasa Allah, seperti yang terlihat pada pengantar untuk Syair Negeri Lampong (t.t., dalam Braginsky, 1998:161):

Bismillah itu mula dikata,
Limpah rahmat terang cuaca...
Kepada mu‘min hati nurani
Di situlah tempat mengasihani
Berkat Muhammad penghulu kita
Fakir mengarang suatu cerita

Walaupun terinspirasi bentuk-bentuk persajakan dari sastra Arab dan Persia, yaitu syi‘ir dan ruba‘i, tetapi syair adalah murni ciptaan penulis Melayu. Suatu bentuk puisi yang persis memenuhi syarat untuk disebut sebagai syair tidak terdapat di dalam sastra lisan bangsa Melayu, atau bangsa-bangsa lain di nusantara, namun terbuka kemungkinan bagi sastra lisan untuk mempengaruhi syair (Braginsky, 1998:226).

Setelah diciptakan pertama kali sebagai karya sastra tertulis oleh Hamzah Fansuri, syair disukai oleh para penulis dan audiens Melayu hingga terus berkembang dan dikolaborasikan dengan bentuk-bentuk lain (seperti yang terlihat dalam Hikayat Banjar). Popularitas syair juga disertai dengan dokumentasi berbagai bentuk puisi lain (yang awalnya dipraktekkan secara lisan) secara tertulis, seperti pantun dan mantera.

Para penulis-ulama Melayu melahirkan juga bentuk-bentuk karya sastra tertulis lain, yaitu Kitab dan Hidayat. Kitab adalah analog Melayu untuk karangan-karangan sistematis Arab dan Persia (khususnya karangan-karangan tentang keagamaan dan mistisisme). Hidayat adalah cermin didaktis, berbentuk traktat pengajaran untuk keperluan pendidikan, berdasar ilmu ketuhanan dan tasawuf, namun bertumpu pada aturan tingkah laku yang benar dalam bidang ketatanegaraan dan hidup sehari-hari manusia.

Perkembangan kepenulisan sejarah di dunia Melayu ditandai oleh semakin banyaknya karya-karya kesejarahan yang tidak hanya ditulis di pusat-pusat dunia Melayu yang besar (Aceh dan Johor-Riau) tetapi juga di hampir seluruh kerajaan Melayu di nusantara. Karya-karya ini sebagian besar mengambil bentuk syair sejarah dan silsilah kerajaan, tidak melukiskan rangkaian kejadian yang bertalian, tetapi satu kejadian tersendiri dan yang lebih sering tentang suatu peperangan.

Braginsky (1998:263) menyatakan bahwa karya-karya semacam ini barangkali merupakan bagian yang paling asli dari sastra Melayu tradisional. Beberapa hasilnya adalah Salasilah raja-raja di Negeri Kutai, Hikayat Patani, dan Hikayat Marong Mahawangsa. Kadang-kadang anasir kesejarahan juga dikombinasikan dengan epos, sehingga menghasilkan karya seperti Hikayat Hang Tuah.

____________

Referensi

Harun Mat Piah et.al., 2002. Traditional Malay literature. Second edition. Diterjemahkan dari Bahasa Malaysia ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Hashim Musa, 2006. Sejarah perkembangan tulisan Jawi. Edisi ke-2. Kuala Lumpur: Siri Lestari Bahasa.

Mohd. Taib Osman (ed.), 1997. Islamic civilization in the Malay world. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka & The Research Centre for Islamic History, Art and Culture.

Noriah Mohamed, 2000. Sejarah sosiolinguistik bahasa Melayu Lama. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Sains Malaysia.

Syed Naguib Al-Attas, 1990. Islam dalam sejarah dan kebudayaan Melayu. Cetakan ke-4. Bandung: Penerbit Mizan.

Uli Kozok, 2006. Kitab Undang-undang Tanjung Tanah Naskah Melayu yang tertua. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

V.I. Braginsky, 1998. Yang indah, berfaedah dan kamal. Diterjemahkan dari bahasa Rusia ke dalam bahasa Indonesia oleh Hersri Setiawan. Jakarta: INIS.

(An. Ismanto/11/10-09)



[1] Walaupun mayoritas pembahas kesusastraan Melayu mengakui hal ini, namun berbagai perkembangan terbaru membuka kemungkinan untuk peninjauan kembali. Uli Kozok (2006), misalnya, menerbitkan sebuah buku yang membahas tentang Kitab Undang-undang Tanjung Tanah. Manuskrip ini berasal dari Kerinci dan ditulis pada masa pra-Islam, kira-kira pada abad ke-14. Manuskrip aslinya ditulis di atas kulit kayu dengan menggunakan aksara yang disebut sebagai surat incung. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu (Kuno) yang sama sekali tidak mengandung kata-kata serapan dari bahasa Arab. Kata-kata serapan dari bahasa asing yang ada pada manuskrip ini adalah kata-kata serapan dari bahasa Sanskerta dan tercantum di bagian akhir manuskrip.

Dibaca : 11.929 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password