Kamis, 28 Agustus 2014   |   Jum'ah, 2 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.704
Hari ini : 14.703
Kemarin : 20.985
Minggu kemarin : 137.461
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.065.749
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan


Halaman Judul Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan Edisi 1852
Sumber: Amin Sweeney, 2005.

A. Pendahuluan

Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi adalah karya penting dalam sejarah kesusastraan Melayu. Selain sebagai karya Abdullah yang pertama dalam karir kepenulisannya (1838), karya prosa ini sering dianggap sebagai penanda pemisahan antara kesusastraan Melayu klasik dan modern pada pertengahan abad ke-19 M. Di dalam karya ini, Abdullah memang masih menggunakan gaya klasik, namun isi dan sikapnya lebih independen dan kritis, dan dia sekaligus juga memperkenalkan elemen-elemen modern dan perspektif yang baru (Muhammad Haji Salleh, 1988:xiii).

Sebagaimana yang tersirat dari judulnya, karya ini merupakan catatan tentang perjalanan tokoh utama, yakni Abdullah, dari Singapura sampai ke Kelantan, mulai dari hari Selasa, 27 Maret 1838 hingga Selasa, 24 April 1838 (Amin Sweeney, 2005:181-184). Perjalanan ini dilakukan melalui jalur laut karena jalur darat terlalu jauh untuk ditempuh—Singapura terletak di ujung selatan Semenanjung sementara Kelantan terletak di ujung utara Semenanjung.

Pada saat itu, Kelantan sedang mengalami perang saudara. Maksud perjalanan Abdullah adalah mengantarkan surat dari seorang saudagar Tionghoa di Singapura kepada penguasa yang sah di Kelantan. Dalam surat itu, si saudagar Tionghoa meminta agar hutang-piutang diselesaikan dan kepentingan ekonominya tidak diganggu oleh pihak-pihak yang sedang berperang.

Selama dalam perjalanan, Abdullah mencatat berbagai hal yang dijumpainya. Sudut pandang yang digunakannya adalah sudut pandang akuan (orang pertama). Catatan Abdullah tentang kota-kota, desa-desa, balairung istana dan adat istiadat orang Melayu ini sangat terperinci sehingga memberikan gambaran tentang Pahang, Terengganu, dan Kelantan, pada masa sebelum Inggris mengintervensi urusan dalam negeri di negeri-negeri pesisir timur Semenanjung tersebut. Walaupun demikian, pandangan dan pendapatnya dalam catatan ini tidak objektif. Abdullah secara total menggunakan nilai-nilai Inggris, yang sama sekali tidak tepat untuk memandang Melayu (Salleh, 1988:xiv; Sweeney, 2005:78-81).

B. Manuskrip dan publikasi

Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan sering dikenal publik bersama dengan karya Abdullah yang lain, yakni Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah, sebuah catatan perjalanan lain yang tidak selesai. Kedua karya ini kemudian sering dianggap sebagai pasangan dan dikenal sebagai Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan dan Negeri Jedah (Maman S. Mahayana, 1995:154) atau Hikayat Pelayaran Abdullah (Salleh, 1988:xiii) atau hanya Kisah Pelayaran Abdullah saja.

Walaupun demikian, kedua karya ini adalah dua karya yang sangat berbeda dan ditulis pada masa yang jauh berbeda. Sementara Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan (1838) merupakan pangkal karir penerbitan Abdullah, Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah (1854) merupakan karyanya yang paling akhir.


Halaman Pertama Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan Manuskrip W214
Sumber: Amin Sweeney, 2005.

Judul asli karya ini, sesuai yang tercantum pada teksnya yang dicetak paling awal, adalah Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura sampai ke Kelantan. Sweeney (2005:30-35) telah menelusuri keberadaan teks-teks karya ini dan menyatakan bahwa terdapat beberapa edisi tercetak. Selain dua edisi tercetak yang terbit pada masa Abdullah masih hidup, karya ini antara 1859 dan 1915 telah dicetak ulang hingga 19 kali di Singapura (Sweeney, 2005:47). Di samping itu, juga terdapat sebuah manuskrip tulisan tangan Abdullah sendiri, yang kemungkinan besar menjadi bahan persiapan sebelum karya ini dicetak (Sweeney, 2005:49). Edisi-edisi tersebut antara adalah:

  1. Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan, manuskrip, koleksi Von de Wall (W214), tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
  2. Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan edisi 1838, dengan bentuk cetak huruf, dengan versi Jawi dan versi Rumi, Jawi di halaman sebelah kanan, Rumi di halaman sebelah kiri, tebal 159 halaman, berukuran 23,5 x 14 cm, aksara Jawi 26 baris per halaman, aksara Rumi 39 baris per halaman, diterbitkan oleh Press of American Mission.
  3. Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan edisi 1852, dengan bentuk cetak batu (litograf), teks berupa eksemplar asli tersimpan di Universitas Cambridge, Inggris, tebal 146 halaman, berukuran 21 x 13,5 cm dalam bingkai 15,5 cm x 9,5 cm, 13 baris per halaman, diterbitkan oleh Bukit Zion.
  4. Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan edisi 1855, disunting oleh J. Pijnappel, dengan bentuk cetak huruf, dimuat dalam majalah Maleisch Leesboek voor Eerstbeginnenden en Meergevorderden (bacaan Melayu buat orang yang baru belajar bahasa Melayu serta orang yang sudah sampai tahap yang lebih maju).
  5. Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan edisi H.C. Klinkert, 1889, berdasarkan edisi 1838, tersimpan di Perpusnas RI.
  6. Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan edisi Kasim Ahmad, 1960 (1981?), berdasarkan edisi cetakan litograf 1852 dan edisi 1889 H.C. Klinkert.
  7. Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan, transliterasi, dalam Amin Sweeney, 2005, Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 1, Jakarta, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole francaise d`Extreme-Orient, hal. 93-168.

C. Beberapa kajian tentang Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan

1. Karya Modern dalam Era Klasik

Masa ketika Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan diciptakan sebenarnya masih tergolong sebagai era Klasik. Mainstream kesusastraan pada tahun 1800-an itu adalah kesusastraan yang masih melestarikan estetika dan mode produksi Zaman Klasik. Para sastrawan Melayu masih menulis dengan bertauladan kepada para sastrawan terdahulu. Mereka masih memperlihatkan “kesadaran diri” (Braginsky, 1998) yang secara eksplisit dieksekusi dalam mukadimah karya. Sedangkan khalayak masih mengapresiasi sastra, terutama sastra tertulis, dari segi didaktisnya.

Penanda yang tegas bagi era Klasik adalah mode produksi teks. Karya-karya dari era ini berbentuk naskah tulisan tangan (manuskrip) yang diperbanyak dan didistribusikan melalui penyalinan secara manual. Kemunculan teknologi percetakan modern di dunia Melayu, yang pada mulanya dibawa oleh para misionaris Protestan, mengubah mode produksi ini. Penggandaan teks kemudian dapat dilakukan dengan menggunakan teknik cetak huruf yang memungkinkan penyalinan dan distribusi naskah dilakukan secara massal. Teknik ini juga menjamin orisinalitas teks salinan karena semua hasil cetakan dapat dipastikan sama dengan teks asli. Walaupun pada saat yang sama teknik litograf (cap batu) juga dikenal, tetapi teknik cetak huruf secara modern inilah yang kemudian menjadi dominan pada masa-masa selanjutnya.


Halaman pertama Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan Edisi 1852
Sumber: Amin Sweeney, 2005.

Walaupun pada 1831 Sejarah Melayu telah dicetak dengan cap timah (cetak huruf) oleh Abdullah, tetapi pada masa transisi media ini, karya asli sastrawan Melayu yang pertama kali dicetak dengan teknik cetak huruf adalah Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan (lihat subbab B). Jadi, paling tidak dari segi mode produksi, Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan dapat dikatakan sebagai karya modern pertama dalam kesusastraan Melayu.

Harus ditekankan bahwa atribut “yang pertama” ini masih diperdebatkan. Syed Naguib Al-Attas (1990), misalnya, dengan menekankan argumennya pada segi isi, melekatkan julukan pelopor sastra Melayu modern pada Hamzah Fansuri. Tetapi, dalam kisah pelayarannya ke Kelantan ini Abdullah memang telah memanfaatkan perangkat-perangkat sastrawi yang secara dominan biasanya dijumpai hanya dalam karya-karya modern, dalam arti telah memperoleh pengaruh dari estetika sastra Barat.

Salah satu perangkat prosa naratif yang paling menonjol dari karya ini adalah penokohan yang menggunakan sudut pandang orang pertama di mana pengarang menjadi narator dengan persona dirinya sendiri (bahkan dalam karya-karyanya yang lain Abdullah selalu menggunakan perangkat ini). Selain sebagai narator, Abdullah juga menjadikan dirinya sendiri sebagai tokoh dalam cerita. Walhasil, karya ini seolah-olah menjadi catatan perjalanan yang biografis. Tetapi, Sweeney (2005:57-65) menyangkal hal ini.

Menurut Sweeney (2005: 57), catatan atau jurnal perjalanan adalah rentetan catatan harian. Setiap masukan mencerminkan keadaan ketika catatan itu dibuat. Inti patinya adalah kekinian. Catatan hari ini tidak mengandung pengetahuan apapun mengenai apa yang akan terjadi dan dicatat nanti. Narator maju sehari demi sehari tanpa mengetahui apa yang akan terjadi. Namun, narator dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan amat sadar tentang keseluruhan peristiwa (Sweeney, 2005:57). Karya ini ditulis dan diselesaikan sebulan setelah Abdullah kembali ke Singapura. Negeri-negeri Melayu yang dikunjungi bukan “negeri ini”, melainkan sudah menjadi “negeri itu” (Sweeney, 2005: 58).

Perincian Abdullah memang mumpuni mengenai berabagai hal yang “remeh temeh” seperti setiap ekor ikan yang ditangkap menggunakan pancingan tunda di laut dan hadiah yang diberi oleh Cina Baba. Namun, menurut Sweeney (2005:58) perincian semacam ini begitu baik karena memang mudah dicatat, berbeda dari perincian tentang interaksi antarmanusia yang lebih rumit. Misalnya, pementingan posisi Abdullah dalam perjalanan ke Kelantan itu.

Dalam perjalanan tersebut, anggota delegasi dari Singapura terdiri dari seorang Portugis bernama Granpre, seorang juru bahasa Cina bernama Ko An, dan seorang juru bahasa Melayu, yakni Abdullah. Yang berperan sebagai ketua adalah Granpre, namun dalam pengisahannya ini, Abdullah justru menunjukkan bahwa yang berperan penting adalah Abdullah. Karena misi utamanya adalah menyelamatkan kapal milik Baba Cina di Singapura, maka mereka harus bertemu dengan penguasa Kelantan. Tetapi justru Abdullah mengambil alih perundingan dengan Raja Bendahara yang mengaku sebagai penguasa Kelantan (Sweeney, 2005: 58:59).

Penonjolan diri Abdullah semakin kentara dengan pembandingan antara dirinya dengan Ko An. Setiap kali ada kabar angin tentang lanun dan perompak, Ko An digambarkan sebagai pengecut sampai menjadi pucat atau malah menangis karena ingin pulang ke Singapura. Sebaliknya, Abdullah menanggapi kabar angin itu dengan mengatakan, “Adatlah itu; ada air ada ikan; ada padang ada belalang; ada laut ada perompak!” (Sweeney, 2005:63).

Selain menonjolkan keberanian dirinya, Abdullah juga digambarkan sebagai orang yang dihormati oleh orang-orang Kelantan. Misalnya, dia dianggap sebagai Sayyid, dikagumi karena mampu menulis (dan menggambar) sembari berjalan, dan diperlakukan dengan hormat oleh Tengku Temena, salah seorang pembesar di Kelantan. Kiat lain yang digunakan untuk memperkuat penonjolan diri Abdullah adalah statistik. Walaupun diperoleh berdasarkan tebakan liar atau mungkin dari apa yang didengarnya sepanjang jalan (Sweeney, 2005:66-67), namun statistik seperti ini jelas bermaksud memperlihatkan keunggulan Abdullah Munsyi.

Retorika Abdullah dalam karya ini memperlihatkan adanya kontradiksi-kontradiksi dan pertentangan yang muncul karena klise-klise yang saling bertabrakan. Sehingga, Sweeney (2005) menyebut bahwa dalam karya ini, Abdullah sebagai pengarang masih “mentah”. Misalnya, ketika orang-orang dalam negeri Terengganu dilukiskannya secara klise dengan “orang2 dalam negeri itu miskin belaka, lagi dengan kelakuan malas dan lalai sepanjang hari”, sementara “laki2nya semuanya malas” (Sweeney, 2005:66). Namun beberapa saat kemudian dia melukiskan, juga secara klise, bahwa “Setengah tabi`at mereka itu hendak bercantik sahaja, memakai kain baju dan seluar yang bagus2, tetapi tiada ia mau mencari jalan kehidupannya” (Sweeney, 2005:66).

2. Bahasa

Dalam pengantarnya untuk Sejarah Melayu, Abdullah mengungkapkan bahwa penerbitan karya itu secara massal didorong oleh keinginan untuk memiliki bahan pengajaran bahasa Melayu yang halus dan betul adanya (Situmorang & Teeuw [eds.], 1952:xxi). Bahasa Melayu yang betul dan halus adanya inilah yang kemudian diadopsi oleh Abdullah dalam karya-karyanya sendiri, termasuk dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan.

Pengadopsian gaya bahasa Sejarah Melayu oleh Abdullah ini menarik jika dikaitkan dengan pernyataan Al-Attas (1990) bahwa gaya bahasa Sejarah Melayu adalah gaya bahasa istana lama. Gaya bahasa ini melestarikan nilai-nilai dari zaman lama yang dilandasi oleh cita rasa seni dan bukan oleh rasionalisme yang merupakan syarat utama modernitas. Jadi, menurut pandangan Al-Attas itu, dapat dikatakan bahwa Abdullah sebagai pengarang modern ternyata masih juga menggunakan gaya bahasa yang ditimba dari khasanah kebahasaan zaman lama.

Pengadopsian ini tentu saja tidak dilakukan secara membabi buta. Sweeney (2005: 88-91) menerangkan bahwa bahasa tulisan Abdullah adalah bahasa cantuman, yaitu antara bahasa tulisan komersil pelabuhan Malaka dengan bahasa tulisan istana, yang diperolehnya melalui tulisan. Kata-kata seperti bermula, syahdan, maka, dan sebagainya memang sering digunakan sebagai pemula bagian. Dalam tradisi manuskrip, kata-kata ini biasanya ditulis dengan tinta merah dan berbentuk lebih besar dan tebal daripada tulisan teks seluruhnya.

Namun, Abdullah cenderung menggunakan kata-kata ini bukan hanya sebagai kepala bagian baru, tetapi sering juga di tempat yang tampaknya kurang perlu, yang lazimnya akan diisi oleh maka (Sweeney, 2005:89). Contoh pengadopsian ini adalah:

Bermula Sungai Pahang itu hulunya bertemu dengan tanah Melaka (Sweeney, 2005: 104)

Hata maka pada malam Khamis datanglah sebuah perahu kecil dari Kuantan (Sweeney: 108)

Hata maka tiadalah saya panjangkan perkataan (Sweeney, 2005: 111)

Beberapa kata dan kombinasinya dalam konteks kalimat terlihat janggal. Menurut Sweeney (2005:90) kejanggalan itu terasa karena gaya bahasa Abdullah tidak cocok dengan bahasa istana. Selain itu, terdapat banyak idiom Abdullah yang tidak sesuai dengan bahasa istana, tetapi karena idiom itu telah menjadi lazim maka tidak terasa janggal. Misalnya, frasa (kata?) dapattiada yang oleh Klinkert (dalam Sweeney, 2005:90) sering dibetulkan menjadi ta` dapat tiada sebenarnya terdapat juga dalam majalah Cermin Mata, dalam karangan yang belum tentu ditulis oleh Abdullah.


Halaman Judul Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan Edisi 1838
Sumber: Amin Sweeney, 2005.

Dalam hal ortografis, Abdullah sering menggunakan angka dua. Sweeney (2005:86) menerangkan bahwa mengambil2 pada mengambil2 nyiur muda dan tuah bermaksud mengambil-ambil, sedangkan seorang2 seringkali bermaksud seorang-orang, tetapi juga bisa berarti seorang-seorang seperti dalam tiadalah sahaya kedua benarkan ia seorang2 pergi.

Tetapi reduplikasi tidak selalu dilakukan dengan angka dua, misalnya dalam bangun-bangunannya, mata-mata, selama-lamanya, buah-buahan, tanam-tanaman dan bahu-bahuan. Selain reduplikasi, angka dua juga digunakan untuk menuliskan kata yang digunakan dua kali secara berurutan dalam dua bagian kalimat (Sweeney, 2005:87). Misalnya dalam jawab sahaya”2 belum pernah berlayar, esok siapa mahu tinggal2lah, dan maka jawab sahaya”2 tiada tahu.

Huruf ha digunakan secara bervariasi. Sweeney (2005:87) menguraikan bahwa beberapa kata yang menurut ejaan Latin dan Jawi modern memakai huruf ha di ujungnya, dalam teks Kisah Pelayaran ini tidak berakhir dengan ha. Misalya dalam bentuk-bentuk seperti sebila, separu, rupia, dan luka. Sebaliknya, terdapat pula kata yang menurut ejaan sekarang harus berakhir dengan vokal a atau u, ditambahi pula dengan huruf ha, misalnya dalam tuah, ladah, tandah, dan tundah.

Tetapi terdapat juga beberapa kata yang tetap mengandung sisipan ha sesudah suku kata pertama, seperti sahaya dan baharu. Dalam hal kata dengan suku kata pertama berhuruf ha, Abdullah justru menghilangkannya seperti dalam anyut (bukan hanyut). Sebaliknya, terdapat beberapa kata yang sekarang dieja tanpa huruf awal ha namun justru memakai huruf itu, misalnya dalam hudang (udang), harus (arus), dan hulam (ulam).

3. Pengkritik Melayu

Abdullah sering dituduh sebagai tali barut atau kolaborator kolonial Inggris karena di dalam karya-karyanya dia mengkritik orang Melayu (Maman, 1995:152; Sweeney, 2005: 20-21). Kritik-kritiknya yang keras itu pertama kali muncul dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan ini. Sweeney (2005:78) menerangkan bahwa Abdullah mengandaikan adanya dua bakal khalayak, dalam arti jalinan nilai, selera, dan kebiasaan, yakni budaya Eropa dan budaya Melayu.

Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan adalah upaya Abdullah untuk meyakinkan pembaca yang memiliki nilai Eropa bahwa Abdullah Munsyi juga memiliki nilai itu, yang dianggapnya sebagai “modern” dan “rasional”. Maka, ketika dia mendengar tentang kepercayaan orang Pahang tentang akibat dari mengubah adat, dia merasa perlu menambahkan: Maka apabila sahaya dengar khabar itu, tersenyumlah sahaya lalu diam, tetapi dalam hati sahaya sekali2 tiada percaya akan hal itu (Sweeney, 2005:79). Dengan adanya keinginan untuk dianggap sebagai orang yang memiliki jalinan nilai yang lebih “unggul” (yakni Inggris), Abdullah selanjutnya menggunakan nilai-nilai itu untuk memandang dan menafsirkan Melayu, yang dianggap lebih inferior.

Kritiknya terhadap Melayu dimulai dari kehidupan sehari-hari hingga hal-hal yang berkaitan dengan ketatanegaraan. Dalam tingkat negara, dia mengkritik adat orang Kelantan yang mewajibkan agar para keturunan raja saling berperang untuk menentukan siapa yang berhak menjadi raja selanjutnya. Dalam soal makanan, Abdullah begitu sinis dalam mengisahkan dan mengomentari tentang jenis makanan yang disukai oleh orang Melayu dan membandingkannya dengan makanan yang lazim dimakan orang Inggris, yakni “... tiadalah mereka itu gemar memakan daging dan minyak sapi, melainkan ikan dan sayur dan perkara2 yang busuk2, seperti tempoyak dan pekasam dan petai dan jering dan sebagainya” (Sweeney, 2005:116).

Pahang dan Terengganu digambarkannya sebagai wilayah yang kacau balau. Menurutnya, rumah-rumah orang berantakan letaknya, “sekalian congkah mangkih dengan tiada beratur dan tiada sama, masing2 punya suka, dan pagarnya pun bengkang-bengkok”, serta dikelilingi sampah, kotoran, bercak dan semak-semak serta busuk baunya (Sweeney, 2005:66). Orang-orang di sana selalu memikul senjata, orang membakar sabut untuk mengusir nyamuk, pakaian orang semuanya kotor dan hitam. Orang-orang dalam negeri Terengganu dilukiskannya dengan “orang2 dalam negeri itu miskin belaka, lagi dengan kelakuan malas dan lalai sepanjang hari”, sementara “laki2nya semuanya malas” (Sweeney, 2005:66).

3. Invasi erosentrisme

Abdullah menggantungkan “periuk nasinya” kepada para misionaris Protestan (Thomsen, Milne, Klinkert, North) yang bekerja sama dengannya. Jadi, dapat dimaklumi jika dia harus menulis suatu karya yang direstui oleh mereka. Maka, karya Abdullah haruslah berupa karya yang memperlihatkan superioritas Inggris (Eropa-Barat-kulit putih) dalam bidang teknologi, sains dan kelakuan moral (Sweeney, 2005:82).

Selanjutnya, karya-karya Abdullah yang telah memenuhi kriteria itu, termasuk Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan ini, menjadi bagian dari strategi misi untuk menarik hati orang Melayu agar memeluk agama Kristen Protestan dan “menjadi Inggris”. Demi melancarkan strategi ini juga, mereka “tega” melakukan penyuntingan yang sangat cermat terhadap edisi-edisi karya ini agar sesuai dengan strategi tersebut (Sweeney, 2005) sehingga timbullah beragam versi karya ini.

D. Penutup

Walaupun sering dianggap sebagai karya yang keterlaluan dalam mengkritik orang dan adat istiadat Melayu, namun jelaslah bahwa karya ini sangat penting dalam kesusastraan Melayu. Paling tidak, inilah karya pertama yang memperkenalkan elemen-elemen modern yang berbeda dari elemen-elemen dalam kesusastraan tradisional. Dengan demikian, karya ini menjadi salah satu karya yang mengembangkan kemungkinan-kemungkinan modernitas yang dapat dicapai oleh bahasa Melayu.

Sayangnya, perhatian terhadap karya ini sebagai karya sastra Melayu modern masih kurang. Misalnya, dalam buku babon Pokok dan Tokoh I (1959), A. Teeuw melewatkan Abdullah bin Abdul Kadir dan karya-karyanya begitu saja, termasuk karya ini, dan memulai pembahasan tentang kesusastraan Indonesia modern sejak munculnya Balai Pustaka. Selain itu, Sweeney (2005) juga mengungkapkan bahwa khalayak sering merujuk Abdullah dan karya-karyanya sebagai milik Malaysia, padahal dengan dalam kenyataannya Abdullah dan karya-karyanya adalah kekayaan sastra Melayu seluruhnya.

___________

Referensi

  • A. Teeuw, 1959. Pokok dan Tokoh I. Diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Angku Raihul Amar gelar Datuk Besar. Cetakan kelima. Jakarta: Yayasan Pembangunan.
  • Amin Sweeney, 2005. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Ecole francaise d`Extreme-Orient di Jakarta.
  • Maman S. Mahayana, 1995. Kesusastraan Malaysia modern. Jakarta: PT Pustaka Dunia Jaya.
  • Muhammad Haji Salleh (ed.), 1988. An anthology of contemporary Malaysian literature. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Syed Naguib Al-Attas, 1990. Islam dalam sejarah dan kebudayaan Melayu. Cetakan ke-4. Bandung: Penerbit Mizan.
  • T.D. Situmorang & A. Teeuw (eds.). 1952. Sedjarah Melayu menurut terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsyi). Jakarta: Djambatan.
  • V.I. Braginsky, 1998. Yang indah, berfaedah dan kamal sejarah sastra Melayu dalam abad 7-19. Diterjemahkan dari bahasa Rusia ke dalam bahasa Indonesia oleh Hersri Setiawan. Jakarta: INIS

(An. Ismanto/sas/16/10-09)

Dibaca : 5.986 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password