Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 8.966
Hari ini : 60.563
Kemarin : 72.414
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.989.870
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tenun Doyo: Kain Tradisional Suku Dayak Benuaq, Kalimantan Timur


Wanita Dayak Benuaq sedang menenun kain doyo

Tenun doyo adalah kain tradisional hasil kerajinan tangan kaum perempuan suku Dayak Benuaq di Tanjung Isuy (ibukota Kecamatan Jempang), Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Tenun yang terbuat dari serat tanaman doyo ini biasa dipakai oleh suku Dayak Benuaq dalam upacara-upacara adat dan digunakan sebagai mahar pada upacara perkawinan.

1. Asal-usul

Sejak berabad-abad yang silam, suku Dayak Benuaq dikenal sebagai perajin tenun doyo. Namun, tidak diketahui secara pasti sejak kapan mereka mulai mengembangkan seni kriya ini hingga ke daerah Tanjung Isuy, Kabupaten Kutai Barat. Beberapa sumber mengatakan bahwa tenun doyo sebelumnya pernah berkembang di dalam suku Ot Danum dari Kalimantan Selatan (Usman Achmad, et al., 1994/1995:12).  Menurut Widjono (1998:77), suku Ot Danum termasuk dalam keluarga Barito (http://repository.ui.ac.id). Namun, karena tanaman doyo (curculigo latifolia lend) sebagai bahan baku untuk membuat tenun doyo semakin sukar didapatkan menyebabkan sebagian dari suku Ot Danum pindah ke daerah Kalimantan Tengah (Achmad, et al., 1994/1995:11). Mereka itulah kemudian dikenal dengan suku Lewangan atau suku Luangan. 

Suku Lewangan tidak begitu lama menetap di Kalimantan Tengah karena tanaman doyo sukar untuk dikembangkan di daerah tersebut. Suku Lewangan kemudian pindah lagi ke daerah Kalimantan Timur dengan melewati alur-alur sungai dan daerah pegunungan (Dalmasius Madrah T., 2002:4). Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai suku Dayak Benuaq. Suku Dayak Benuaq sebagian besar menempati daerah-daerah yang ada di Kabupaten Kutai Barat, khususnya Kecamatan Jempang. Di kecamatan ini, mereka tersebar lagi ke beberapa desa seperti Tanjung Isuy, Pentat, Muara Nayan, dan Lempunah.

Tanjung Isuy yang merupakan ibukota Kecamatan Jempang adalah desa yang paling dikenal sebagai sentral industri rumah tangga tenun doyo di daerah Kalimantan Timur. Sejak akhir 1970-an, desa ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berbelanja kain tenun doyo. Tenunan khas suku Dayak Benuaq ini digemari oleh wisatawan karena motif dan bahannya yang alami (Indra, http://indonesia-life.info).

Bahan baku yang digunakan untuk membuat tenun doyo diambil dari serat daun tanaman doyo. Maka sebab itulah tenun ini dinamakan dengan tenun doyo. Serat daun doyo diperoleh dengan cara memotong daun tanaman doyo sepanjang 1-1,5 meter, lalu direndam ke dalam air sungai hingga daging daun hancur. Setelah itu, daun yang telah hancur dikerik dengan menggunakan sebilah pisau bambu untuk memisahkannya dari tulang tengah daun doyo sehingga yang tersisa hanya seratnya. Serat itulah yang dibuat benang oleh kaum perempuan suku Dayak Benuaq untuk ditenun, dan kemudian diolah menjadi destar (laukng), baju atau kemeja, celana pendek, kopiah, dompet, tas, hiasan dinding, dan lain sebagainya.

Tenun doyo memiliki warna dan motif yang beragam. Warna yang paling menonjol pada tenun ini adalah warna merah, hitam, dan coklat muda. Sementara itu, motif yang sering digunakan adalah motif flora, fauna, dan alam mitologi. Bahan baku untuk pewarna motif tenun doyo biasanya diambil dari batu lado, biji buah glinggam, daun putri malu, umbi kunyit, dan getah akar kayu oter. Salah satu ciri khas tenun doyo dan yang membedakannya dengan tenun tenun ikat di daerah lain adalah adanya titik-titik hitam yang muncul pada bidang yang berwarna terang. (http://www.tamanmini.com).

Menurut Achmad, et al., penggunaan motif atau ragam hias pada tenun doyo tidak saja mengandung nilai-nilai estetika yang mengagumkan, tetapi juga mengandung nilai-nilai fungsional yang bersifat rohaniah (Achmad, et al., 1994/1995:35). Begitu pula penggunaan warna-warna tertentu pada tenun ini juga memiliki arti simbolik. Misalnya, warna hitam pada laukng (destar) dan tapeh (sarung atau kain panjang) menandakan bahwa pemeliaten atau pemakainya memiliki pengetahuan dan kemampuan menolak sihir hitam. Jika pada warna hitam itu terdapat garis-garis putih, maka hal itu menandakan bahwa pemakainya dapat mengobati segala bentuk sihir dan berbagai macam penyakit (Mohd. Noor, et al., 1990: 134-135).

Tenun doyo dapat dipakai oleh kaum laki-laki maupun perempuan dari suku Dayak Benuaq dalam berbagai kegiatan seperti pada upacara-upacara adat, tari-tarian, dan untuk pakaian sehari-hari. Kain tenun doyo yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam, sedangkan pada upacara-upacara adat, kain tenun diberi hiasan berwarna-warni yang bermotif bunga atau dedaunan. Kaum perempuan biasanya mengenakan baju kebaya tanpa lengan (sape sonakng) dan berlengan panjang, sedangkan kaum pria hanya mengenakan baju kemeja tanpa lengan yang dikombinasikan dengan celana pendek.

Pada mulanya, kain tenun doyo tidak diproduksi secara besar-besaran oleh kaum perempuan suku Dayak Benuaq karena kain tenun ini baru merupakan barang antik dan untuk pakaian sehari-hari. Namun, dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin modern, keberadaan tenun doyo di Desa Tanjung Isuy semakin banyak dikenal oleh masyarakat luas. Hingga saat ini, kerajinan tenun doyo merupakan salah satu sumber mata pencaharian bagi suku Dayak Benuaq di Desa Tanjung Isuy. Sedikitnya terdapat lebih kurang 150 kepala keluarga yang berprofesi sebagai perajin tenun doyo di desa tersebut (http://east-borneo.net). Dengan menjadikan tenun doyo sebagai sumber ekonomi, suku Dayak Benuaq telah menunjukkan kepeduliaannya dalam melestarikan salah satu warisan budaya bangsa. 

2. Bahan-bahan

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat tenun doyo dibagi menjadi dua bagian, yaitu bahan baku dan bahan pewarna.

a. Bahan Baku

Bahan baku utama yang digunakan untuk membuat tenun doyo adalah serat daun tanaman doyo. Tanaman yang menyerupai tanaman pandan ini banyak tumbuh secara alamiah di Desa Tanjung Isuy dan sekitarnya (Noor, et al., 1990:133). Tanaman yang tumbuh secara berkelompok ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu batang induk, tanaman muda yang tumbuh mengelilingi induknya, dan beberapa sulur yang tumbuh pada pangkal batang. Secara umumnya, tanaman doyo memiliki ciri-iri seperti berikut:

  • daunnya berbentuk panjang dan runcing pada ujungnya
  • panjang daunnya sekitar 80–120 cm, dan lebarnya sekitar 10–20 cm
  • serat daunnya sejajar dan beralur datar
  • tangkai daun membalut batangnya dengan panjang sekitar 70-112 cm
  • batang dan daunnya berwarna hijau kekuningan hingga hijau muda (Achmad, et.al., 1994/1995:13).


Tanaman doyo yang tumbuh dalam semak belukar di Tanjung Isuy

Tanaman doyo yang banyak tumbuh di daerah tersebut memiliki beberapa varietas dan ciri-ciri yang berbeda. Suku Dayak Benuaq menggolongkan tanaman doyo ke dalam 6 (enam) varietas. Namun, dua dari keenam variates tersebut tidak dapat dijadikan sebagai bahan tenun karena tidak memiliki serat. Oleh karena itu, variates yang akan disebutkan berikut ini hanya yang memiliki serat untuk dijadikan sebagai bahan tenun, yaitu:

1). Doyo temoyo

Doyo temoyo merupakan varietas tanaman doyo yang paling baik (nomor 1). Ciri-cirinya adalah bentuk daunnya agak langsing dan melengkung, berwarna hijau muda, dan urat daunnya tidak terlalu keras. Varietas ini terdapat di Desa Mencong dan Desa Perigi, Kecamatan Jempang

2). Doyo pentih

Serat doyo pentih hampir sama dengan serat doyo temoyo. Hanya warna daun dan tangkainya yang membedakan kedua varietas tersebut. Daun doyo pentih berwarna hijau kekuningan dan lebih tahan terhadap sinar matahari

3). Doyo biang

Ukuran daun dan tangkai daun doyo biang ini lebih panjang dan lebih lebih dari doyo temoyo dan doyo pentih. Panjang daun varietas ini bisa mencapai 150 cm dan lebar 25 cm, sedangkan panjang tangkai daun bisa mencapai 113 cm

4). Doyo tulang

Ukuran daun doyo tulang lebih kecil daripada doyo biang dan doyo pentih. Namun, daun varietas ini agak tegak dan lentur karena tulangnya lebih keras. Oleh karena itu, serat daunnya akan pecah-pecah ketika dikerik (Achmad, et al., 1994/1995:15-16).

Selain keempat varietas tanaman doyo tersebut di atas, para perajin di Tanjung Isuy juga menggunakan benang katun, serat nanas, dan bahan-bahan tekstil lainnya sebagai kombinasi kain tenun doyo sehingga proses pembuatannya lebih cepat. Penggunaan bahan-bahan tekstil selain tanaman doyo tersebut tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.

b. Bahan Pewarna

Pada dasarnya, warna asli serat doyo untuk bahan tenun adalah berwarna putih atau krem. Agar warna kain tenun doyo menjadi bervariasi dengan motif-motif yang indah, maka digunakan berbagai jenis bahan pewarna. Adapun jenis warna dan bahan pewarna yang biasa digunakan dalam tenun doyo adalah sebagai berikut:

1). Warna hitam

Warna ini diperoleh dari asap hasil pembakaran damar yang dicampur dengan cairan pekat. Selain itu, bahan pewarna hitam juga dapat diperoleh dari daun pohon kebuau yang sudah tua. Serat daun kebuau tersebut direbus bersama dengan serat daun doyo sehingga serat tersebut menjadi berwarna hitam.

2). Warna merah

Bahan pewarna merah untuk tenun doyo terdiri dari tiga macam, yaitu:

  • batu alam atau batu lado. Batu alam yang diperoleh dari Sungai Lawa Bentian Besar di daerah Tanjung Isuy ini hanya merupakan alat untuk memberi warna merah pada tenun. Caranya adalah batu ini digosokkan pada piring putih dengan sedikit campuran air, kemudian dicoletkan pada benang tenun
  • biji buah glinggam (annatto bixa orellana) yang agak tua. Caranya adalah beberapa biji buah glinggam yang telah dicampur dengan air diremas di dalam mangkuk hingga mengeluarkan cairan berwarna merah kental. Setelah itu, cairan berwarna merah tersebut dioleskan atau dicoletkan pada benang tenun
  • kulit batang pohon uar. Kulit pohon ini dikupas dan dipotong-potong, kemudian ditumbuk hingga air getahnya keluar, dan selanjutnya direndam selama satu malam hingga airnya menjadi merah tua. Setelah itu, serat daun doyo direndam dalam air getah kulit uar selama beberapa jam hingga serat tersebut menjadi merah


Buah Glinggam untuk pewarna merah pada tenun doyo

3). Warna hijau

Warna ini dapat diperoleh dari daun putri malu (aminosa pudica) dengan cara terlebih dahulu dilumatkan, kemudian direbus hingga berwarna hijau kental, dan selanjutnya dioleskan pada benang tenun

4). Warna kuning

Warna ini diambil dari umbi kunyit (curcuma longa) dengan cara diparut dan diberi air sedikit, kemudian diperas hingga mengeluarkan cairan berwarna kuning kental, dan selanjutnya dioleskan pada benang tenun

5). Warna coklat

Warna ini diperoleh dari akar kayu oter dengan cara diambil getahnya dan kemudian dioleskan pada benang tenun (Achmad, et al., 1994/1995:22-23).

Dewasa ini, para perajin sudah banyak yang menggunakan bahan sepuhan kue sebagai bahan pewarna dan cat warna rhodamine (I.C.I.) untuk pencelupan benang tenun. Hanya saja cat warna yang juga biasa digunakan sebagai bahan pewarna makanan ini daya tahannya terhadap air sangat rendah.

3. Peralatan

Peralatan yang digunakan untuk menenun kain doyo terdiri beberapa komponen, yaitu antara lain:

  • pengampat atau ikat pingggang. Alat ini biasa juga disebut band
  • apit atau penjepit, yaitu berfungsi untuk menggulung pangkal tenun. Oleh karena itu, alat ini biasa juga disebut penggulung kain
  • blira atau penumbuk. Alat ini biasa juga disebut parang-parang.
  • buyun atau sisir, yaitu berfungsi untuk menyusun benang.
  • telonk atau bambu, yaitu berfungsi sebagai pembuka benang
  • parasai merua atau bambu tipis selebar 2 cm, yaitu berfungsi untuk memisahkan benang
  • gigi, yaitu berfungsi mengatur benang lungsi
  • duat atau bambu, yaitu berfungsi sebagai pengait benang lungsi
  • daag, yaitu berfungsi untuk memasang rangkaian benang tenun
  • tukar atau tangga pijatan kaki, yaitu berfungsi sebagai pengencang benang tenun
  • tukar tekuat atau sekoci dari kayu, yaitu berfungsi sebagai tempat benang yang akan ditenun pada benang lungsi (Achmad, et al., 1994/1995:27-28).


Peralatan tenun doyo

4. Cara Pembuatan

Secara garis besar, proses pembuatan tenun doyo terdari dari dua tahap, yaitu tahap pengolahan bahan baku dan tahap penenunan.

a. Pengolahan Bahan Baku

Langkah pertama dalam pengolahan bahan baku adalah pengambilan daun doyo di hutan. Proses pengambilan ini biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki maupun kaum perempuan dengan menggunakan mandau. Jumlah daun doyo yang dibutuhkan untuk sekali pengambilan sekitar 60-100 lembar dengan waktu sekitar lebih kurang 2 jam. Daun doyo yang dipilih adalah daun yang masih tergolong muda dari varietas doyo temoyo atau pentih. Daun tersebut dipotong sepanjang lebih kurang 1-1,5 meter. Untuk setiap pohon doyo diambil dua atau tiga lembar, dan untuk setiap rumpunnya dipilih tangkai nomor dua hingga nomor lima. Tangkai nomor dua dan tiga digunakan untuk bahan tenun, sedangkan tangkai nomor empat dan lima biasanya digunakan sebagai pengikat serat pada pencelupan serat ke dalam bahan pewarna. Untuk sekali pengambilan

Daun serat yang telah dipilih segera dibawa ke sungai untuk diambil seratnya. Sebelum pengambilan serat dilakukan terlebih dahulu daun doyo direndam di dalam air hingga daging daunnya hancur. Setelah itu, serat diambil dengan cara dikerik dengan menggunakan sebilah pisau bambu yang panjangnya sekitar 20 cm dan lebar 4 cm. Pengerikan serat sebaiknya dilakukan pada air sungai setinggi lutut dengan posisi menghadap ke hilir sungai. Selain itu, proses pengerikan diusahakan di aliran air sungai yang deras agar posisi serat tetap lurus ke depan si pengerik dan tidak kusut. Semakin deras aliran air maka semakin baik pula hasilnya.


Pengrajin sedang mengerik daun doyo di Sungai

Selama proses pengerikan berlangsung, posisi serat harus tetap berada di dalam air karena jika serat tersebut terkena udara akan berubah menjadi warna merah atau coklat tua. Jika serat tersebut telah berubah menjadi warna merah atau coklat, maka akan sulit untuk dihilangkan (luntur). Serat yang telah dikerik tidak langsung diangkat atau dimasukkan dalam wadah, akan tetapi dikaitkan pada dua batang kayu atau bambu yang ditancapkan di dasar sungai agar sisa-sisa getah pada serat tersebut larut dan hanyut di dalam air sungai. Proses pengerikan ini biasanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Setelah proses pengerikan selesai, serat tersebut dibawa pulang ke rumah untuk dijemur dengan cara digantung hingga benar-benar kering dan siap untuk ditenun (Achmad, et al., 1994/1995:17-22).


Pengrajin sedang menjemur serat daun doyo di depan rumah

b. Proses Penenunan

Setelah serat dan peralatan disiapkan, maka proses penenunan dapat segera dimulai. Adapun tahap-tahap dalam proses pembuatan tenun doyo adalah sebagai berikut:

1). Moyong doyo (memintal)

Dalam proses pemintalan, serat-serat doyo dibelah menjadi 2 sampai 3 mm dengan menggunakan pisau. Setelah itu, serat-serat yang dibelah tersebut kemudian dipilin hingga menjadi benang.

2). Ngukui  (menyambung benang)

Proses penyambungan benang ini dapat dikatakan tergolong mudah, namun memerlukan kesabaran. Benang-benang doyo yang telah dipintal disambung dengan satu demi satu dengan cara disimpul rapat hingga sepanjang 100 sampai 200 meter.


Pengrajin sedang menyambung serat doyo untuk dijadikan benang

3). Muntal lawai (menggulung benang)

Setelah proses penyambungan selesai, benang-benang tersebut digulung seperti bola sebesar kepalan tangan yang disebut muntal lawai. Benang dengan ukuran panjang 200 meter biasanya mencapai sepuluh gulungan.

4). Ngorak uta (menyusun corak)

Dalam penyusunan corak dibutuhkan sebuah alat yang disebut ngorak uta. Alat ini digunakan untuk menyusun dan mengencangkan benang-benang hingga rapi. Itulah sebabnya proses penyusunan corak ini disebut juga ngorak uta. Proses penyusunan corak ini memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 2 sampai 3 minggu agar susunan benang-benang tersebut dapat lebih rapi.

5). Telegat (mengikat)

Proses pengikatan ini disebut juga telegat karena menggunakan alat yang bernama telegat. Alat ini berfungsi untuk mengikat dan melipat benang yang tidak kencang menjadi dua.

6). Nyarau (pewarnaan)

Setelah pengikatan selesai, benang-benang dilepas dari telegat untuk selanjutnya diwarnai. Jika sebuah kain tenun akan diberi beberapa warna, maka warna pertama yang harus dituangkan pada benang adalah warna yang paling rendah intensitasnya, seperti warna kuning, hijau, merah, dan hitam. Jika permukan kain tenun tidak terlalu lebar, maka proses pewarnaan cukup dilakukan dengan dicolet pada benang yang masih terpasang di telegat. Kecuali pada proses pewarnaan hitam, benang harus dilepas dari telegat untuk dicelupkan pada bahan pewarna karena warna hitam merupakan warna dasar yang memerlukan bidang yang luas. Proses pewarnaan biasanya memakan waktu selama satu malam (Achmad, et al., 1994/1995:17-22).

Setelah diberi warna dan motif-motif tertentu, kain tersebut kemudian dikeringkan. Namun, seluruh ikatan pada telegat tersebut terlebih dahulu dilepaskan. Setelah kering, kain tersebut kembali dipasang pada alat ngorak uta agar benangnya menjadi lebih kencang. Setelah itu, lembaran kain dilepas dari ngorak uta dan motif-motif yang masih kurang jelas atau terputus-putus disambung atau dirapikan sehingga menghasilkan motif yang sempurna. Selanjutnya, pangkal ikatan di pinggir kain dipotong dan dijahit sehingga terbentuklah lembaran kain doyo yang siap untuk diproses menjadi pakaian seperti baju, celana, kopiah, dompet, tas, dan lain sebagainya.  

5. Ragam Hias

Ragam hias pada kain tenun doyo pada umumnya hampir sama dengan ragam hias yang diterapkan pada kain tenun di daerah lain di Nusantara. Motif-motif yang paling menonjol pada tenun doyo adalah motif dengan gaya swastika,[1] misalnya pada motif timang atau harimau (Achmad, et al., 1994/1995:29). Motif dengan gaya swastika pada tenun doyo diperkirakan mendapat pengaruh dari tenunan Gujarat, India, yang dibawa oleh para pedagang-pedagang Islam yang datang ke Indonesia hingga sampai ke daerah Kalimantan (Achmad, et al., 1994/1995:11). Kini, tenun doyo memiliki puluhan jenis ragam hias atau motif yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas. Ragam hias atau motif-motif tersebut adalah sebagai berikut:

  • motif naga, yaitu melambangkan keayuan seorang wanita
  • motif limar atau perahu, yaitu lambang kerja sama dalam usaha. Perahu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Benuaq merupakan alat transportasi yang di sungai dan di danau
  • motif kimas atau ikan, yaitu bermakna sebagai suatu pertanda atau peringatan berupa nasehat dari leluhur kepada generasi penerusnya
  • motif timang atau harimau, yaitu melambangkan keperkasaan seorang pria
  • motif tangga tukar toray atau tangga rebah atau terbalik, yaitu bermakna melindungi usaha dan kerjasama dalam masyarakat
  • motif tipak mening knowala atau gigi graham, yaitu melambangkan peran orangtua dalam suatu kerjasama atau bermasyarakat
  • motif timang nuat atau harimau yang tunduk, yaitu melambangkan suatu harapan agar keperkasaan atau keberanian seseorang tidak boleh lemah atau pudar

  • motif timang sesat sungkar atau tangga harimau, yaitu melambangkan agar kerjasama dan usaha masyarakat harus senantiasa tegar dan berani untuk mencapai cita-cita
  • motif tengkulut tongau atau patung, yaitu sebagai lambang kepercayaan masyarakat setempat tentang kehidupan di alam lain setelah manusia mengalami kematian. Oleh karena itu, patung itu memegang peranan penting dalam upacara kwangkai
  • motif brabang atau senduk yang bersusun-susun, yaitu melambangkan kemewahan dan kesenangan seseorang
  • motif upak talang atau kulit bambu, yaitu melambangkan kesuburan
  • motif wahi nunuk atau akar pohon beringin, yaitu melambangkan keberhasilan suatu pekerjaan yang tergantung pada kerjasama di dalam masyarakat
  • motif tempaku atau pinggiran tenun yang berbentuk tumpal, yaitu melambangkan keberhasilan yang sempurna suatu usaha
  • motif tekulut atau katak, yaitu melambangkan akhir dari suatu pekerjaan
  • motif tekuran atau titik-titik hujan, yaitu melambangkan kesuburan lingkungan si perajin tenun
  • motif tapus tongan atau kembang anggrek, yaitu melambangkan kesuburan generasi muda untuk mencapai cita-cita
  • motif rakang atau kembang penggerek kelapa, yaitu melambangkan suatu masalah kecil yang lama-kelamaan akan membawa petaka besar
  • motif pupu atau kupu-kupu, yaitu melambangkan harapan dan kesuburan
  • motif pucuk rebun atau bambu muda, yaitu melambangkan kekuatan dari dalam dan secara abstrak menggambarkan manusia itu sendiri (Achmad, et al., 1994/1995:30-34).

6. Jenis dan Fungsi Tenun Doyo

Berdasarkan jenis dan fungsinya, tenun doyo dibagi menjadi tiga macam yaitu, pakaian untuk upacara-upacara adat, pakaian untuk tari-tarian, dan pakaian sehari-hari.

a. Pakaian untuk Upacara Adat

Dalam masyarakat suku Dayak Benuaq dikenal berbagai macam upacara adat. Pelaksanaan setiap upacara adat tersebut berdasarkan pada kepercayaan nenek moyang. Menurut mereka, arwah nenek moyang yang sudah meninggal akan selalu memperhatikan dan melindungi anak cucunya yang masih hidup. Mereka juga meyakini bahwa alam semesta ini dihuni oleh makhluk-makhluk halus yang memiliki roh baik dan roh jahat, yang dapat membahagiakan dan mencelakakan manusia. Itulah sebabnya, mereka sangat menghormati arwah nenek moyang dan arwah makhluk-makhluk halus. Bentuk penghormatan tersebut diwujudkan melalui upacara-upacara adat (Noor, 1990:112-113).

Menurut kepercayaan mereka, jika upacara adat tersebut dilaksanakan secara lengkap, maka arwah yang meninggal akan mencapati tempat yang tinggi dan mendapat kebahagiaan di Gunung Lumut. Di samping itu, arwah tersebut akan memberikan kekuatan kepada cucunya untuk berusaha memperoleh kebahagiaan di dunia (Noor, 1990:121). Oleh karena itu, suku Dayak Benuaq selalu berupaya melaksanakan setiap upacara secara lengkap, dalam artian berupaya memenuhi segala perlengkapan upacara yang diperlukan menurut kepercayaan mereka.

Salah satu perlengkapan yang memiliki peranan penting dalam upacara tersebut adalah tenun doyo. Tenun doyo dapat dipakai oleh kaum laki-laki maupun kaum perempuan dalam upacara memelas kampung, erau padi, kwangkai, dan perkawinan. Bahkan, tenun doyo sering digunakan sebagai mahar atau mas kawin dalam upacara perkawinan. Jenis pakaian dari tenun doya yang biasa dikenakan kaum laki-laki dalam upacara adat adalah kesapu‘ng, sapai, dan belet begamai (cancut). Sementara itu, jenis pakaian dari tenun doyo yang dipakai oleh kaum perempuan adalah sapai atau sape (baju), dan ketau atau tapeh (sarung, kain) yang biasanya dilengkapi dengan hiasan tambahan (Achmad, et al., 1994/1995:13).

b. Pakaian untuk Tari-tarian Adat

Masyarakat suku Dayak Benuaq juga mengenal berbagai macam tarian yang biasanya diadakan dalam upacara-upacara adat. Salah satu tarian tersebut adalah tari ngerangkaw. Tari ini biasanya diadakan pada upacara kenyau dan kuangkai. Upacara kenyau adalah upacara kematian yang dilaksanakan selama sembilan hari sembilan malam sedangkan upacara kuangkai adalah upacara penanaman kembali tulang dan tengkorak orang yang telah dikuburkan. Upacara kuangkai ini dilaksanakan selama empat belas hari empat belas malam. Tari ngerangkaw diadakan pada malam kelima dalam upacara kenyau, dan malam keempat dalam upacara kuangkai. Menurut kepercayaan mereka, pelaksanaan tari tersebut bertujuan untuk menghibur meghibur orang-orang yang sudah meninggal (Noor, 1990:121).

Tari ngerangkaw biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki dan kaum perempuan yang terdiri dari pengawara atau penyentangih (pemimpin upacara), pihak keluarga yang meninggal, dan para tamu undangan. Pada masa sebelum suku Dayak Benuaq mengenal tenun doyo, para penari tersebut mengenakan pakaian dari kulit kayu yang terbuat dari pohon jomoq. Penari laki-laki biasanya dilengkapi dengan topi yang terbuat dari anyaman rotan dan dihiasi dengan kulit pohon jomoq. Khusus pada bagian depan topi yang dikenakan oleh pemimpin penari biasanya dipasang hiasan menyerupai tanduk kerbau yang terbuat dari kayu (Noor, 1990:122).

Kini, pakaian para penari telah diganti dengan pakaian yang terbuat dari tenun doyo. Jenis tenun doyo yang dikenakan kaum laki-laki adalah kesapu‘ng (topi), sapai atau sape (baju), dan belet begamai. Sementara itu, jenis tenun doyo yang dikenakan para penari perempuan adalah sapai atau sape, dan ketau atau tapeh (Achmad, et al., 1994/1995:14).

c. Pakaian Sehari-hari

Sebelum masyarakat suku Dayak Benuaq mengenal tenun doyo, pakaian sehari-hari yang mereka kenakan kebanyakan terbuat dari kayu jomoq. Dalam perkembangannya, saat ini mereka umumnya telah mengenakan pakaian sehari-hari dari tenun toyo. Jenis pakaian sehari-hari yang biasa dipakai kaum laki-laki adalah sapai sona‘aq (baju), belet beta‘aq (cancut atau cawat), dan kesapu‘ng (topi). Sementara itu, jenis pakaian sehari-hari untuk kaum perempuan adalah sapai (baju) leher bundar, ketau atau tapeh, dan seraung (tutup kepala) (Achmad, et al., 1994/1995:14).

Kini, pakaian sehari-hari suku Dayak Benuaq telah mengalami banyak perubahan, baik bagi mereka yang berdiam di kota-kota maupun yang tinggal di desa-desa. Pakaian tradisional sehari-hari yang dikenakan pada umumnya mengikuti cara dan model suku-suku lain di Indonesia. Perubahan cara berpakaian ini mulai terjadi pada masa sebelum perang dunia II, yakni sekitar tahun 1911. Pada masa itu, para misionaris Khatolik mulai mendirikan sekolah di Laham, Kecamatan Long Ira. Daerah ini merupakan wilayah kediamaan suku Bahau, suku Penihing, suku Long Gelat, dan suku Tunjung. Kemudian mereka memperluas penyebaran agama Kristen hingga ke daerah kediaman suku Dayak Benuaq. Dalam misinya, kaum misionaris tidak saja menyebarkan agama Kristen, tetapi juga berusaha untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk mengenalkan jenis dan cara berpakaian kepada masyarakat setempat (Noor, 1990:121-122).

7. Nilai-nilai

Tenun doyo yang merupakan hasil kerajinan tangan suku Dayak Benuaq tidak saja berfungsi sebagai pelindung dari cuaca panas dan dingin, tetapi juga mengandung berbagai macam nilai. Nilai-nilai tersebut dapat diketahui dengan melihat pada fungsi-fungsi yang lain serta memahami makna corak dan motif tenun ini. Nilai-nilai tersebut adalah nilai budaya, pemanfaatn sumber daya alam, dan nilai ekonomis.

a. Nilai Budaya

Secara fungsional, tenun doyo merupakan salah satu perlengkapan dalam upacara-upacara adat masyarakat suku Dayak Benuaq, seperti pada upacara kenyau dan kuangkai. Tenun ini memiliki peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan upacara adat tersebut. Oleh karena itu, keberadaan tenun doyo ini merupakan bentuk ekspresi dari keyakinan masyarakat suku Dayak Benuaq. 

b. Nilai Kreativitas

Dengan melihat pada bahan baku yang digunakan tenun doyo, maka kita dapat mengetahui bahwa masyarakat suku Dayak Benuaq memiliki pemahaman dan penghayatan yang luar biasa terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di sekitarnya. Melalui tanaman doyo mereka mampu menciptakan lembaran-lembaran kain berupa tenun doyo yang memiliki fungsi dan nilai-nilai estetis tinggi dalam kehidupan mereka. 

c. Nilai Pemahaman terhadap Alam

Nilai pemhaman terhadap alam dapat dilihat pada motif tenun doyo. Bagi para perajian di Desa Tanjung Isuy, alam merupakan sumber inspirasi untuk menciptakan motif-motif tenun, seperti motif flora, fauna, dan alam. Jadi, dengan melihat dan mempelajari motif-motif yang tertuang dalam tenun doyo, maka kita dapat mengetahui kondisi alam di mana masyarakat suku Dayak Benuaq hidup dan membangun kebudayaannya, serta mengetahui jenis-jenis flora dan fauna yang hidup di sekitar mereka.

d. Nilai Ekonomi

Meskipun pada mulanya hanya merupakan barang antik, namun pada perkembangannya tenun doyo mampu mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat suku Dayak Benuaq, khususnya para perajin yang tinggal di Desa Tanjung Isuy. Kini, tenun hasil kerajinan tangan suku Dayak Benuaq ini telah mampu menembus pasar nasional maupun internasional. Banyak pedagang yang sengaja datang ke Desa tanjung Isuy untuk membeli kerajinan tangan ini dalam jumlah besar untuk dijual ke daerah Pulau Jawa, Bali, dan Malaysia. Oleh karena itu, para perajin dituntut untuk lebih menggali nilai-nilai ekonomi yang terkandung dalam tenun ini, sehingga keberadaan kain ini dapat memberikan manfaat lebih, tidak hanya bagi masyarakat setempat tetapi juga kepada masyarakat luas.

e. Nilai Pemberdayaan Perempuan

Proses pembuatan tenun doyo memerlukan ketukanan, kecermatan, dan ketelitian yang tinggi. Maka sebab itulah pembuatan tenun doyo ini pada umumnya dilakukan oleh perempuan karena mereka dianggap lebih tekun, cermat, dan teliti dibandingkan dengan kaum laki-laki. Mulai dari proses pengolahan bahan baku dan proses penenun hingga menjadi lembaran-lembaran kain tenun doyo semuanya dilakukan oleh kaum perempuan. Sementara itu, kaum laki-laki biasanya hanya berladang dan berburu di hutan. Dari sini tampak jelas bahwa melalui potensi yang dimiliki dengan didukung oleh sumber daya alam yang tersedia kaum perempuan suku Dayak Benuaq mampu menghasilkan sebuah kreasi yang bernilai tinggi, yaitu kain tenun doyo.

f. Nilai Pariwisata

Keberadaan para perajin tenun doyo di Desa Tanjung Isuy menjadi desa tersebut sebagai salah satu obyek wisata kerajinan di Kalimantan Timur. Setiap tahun, desa ini ramai dikunjungin oleh para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Kedatangan para wisatawan ke desa ini tidak sekedar untuk berbelanja tenun doyo, tetapi juga mereka ingin menyaksikan secara langsung proses pembuatan tenun doyo yang dilakukan oleh kaum perempuan suku Dayak Benuaq tersebut. Oleh karena itu, keberadaan Desa Tanjung Isuy sebagai sentra kerajinan industri kain tenun doyo harus dikembangkan agar tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

8. Penutup

Tenun doyo merupakan salah satu wujud ekspresi dari keyakinan masyarakat suku Dayak Benuaq di Kalimantan Timur. Melihat begitu pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam tenun ini, maka seyogyanya tenun ini terus dilestarikan dan dikembangkan. Pengembangan terhadap tenun ini tidak berarti hanya menggali nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, tetapi yang tak kalah pentingnya adalah mengembangkan nilai-nilai ekonomisnya sehingga mampu meningkatkan kesejahtaraan masyarakat suku Dayak Benuaq, khususnya para perajin di Desa Tanjung Isuy. Dalam hal ini, peran pemerintah juga sangat diperlukan untuk memberikan perhatian kepada para perajian agar mereka bisa tetap eksis dalam menggali dan mengembangkan keseluruhan nilai yang terkandung di dalam tenun doyo ini.

(Samsuni/bdy/05/03-10)

Referensi

  • Aat Soeratin dan Jonny Purba. “Busana Tradisional Kutai”, [Online], tersedia (http://www.tamanmini.com), [diunduh pada tanggal 15 Maret 2010] 
  • Anonim. “Muara Muntai, Jempang, dan Tanjung Isuy”, [Onlin], tersedia di (http://east-borneo.net), [diunduh pada tanggal 17 Maret 2010]
  • Anonim. “Swastika”, [Online], tersedia di (http://id.wikipedia.org), [diunduh pada tanggal 17 Maret 2010]
  • Dalmasius Madrah T. 2002. Adat sukat Dayak Benuaq dan Tonyooi. Jakarta: Yayasan Rio Tinto.
  • Indra. 2009. “Wisata Kutai Kertanegara 3”, [Online], tersedia di (http://indonesia-life.info), [diunduh pada tanggal 15 Maret 2010] 
  • Mohd. Noor, et al.. 1990. Pakaian adat tradisional daerah Kalimantan Timur. Kutai: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Investasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.
  • Sri Murni. “Nilai selaras dalam sistem budaya etnik: kasus Dayak Benuaq, Desa Tanjung Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur”, [Online], tersidia di (http://repository.ui.ac.id), [diunduh pada tanggal 15 Maret 2010] 
  • Usman Achmad, et al. 1994/1995. Tenun doyo daerah Kalimantan Timur. Kutai: CV. Krisna Agung bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Wilayah Provinsi Kalimantan Timur, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Timur.
  • Sumber foto: Usman Achmad, et al. 1994/1995. Tenun doyo daerah Kalimantan Timur. Kutai: CV. Krisna Agung bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Wilayah Provinsi Kalimantan Timur, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Timur.


 

[1] Gaya swastika merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi agama Hindu, tetapi ia bukan hasil kreasi atau milik agama tersebut. Simbol religius yang diyakini sebagai simbol tertua di dunia ini tidak dapat dikatakan sebagai salah satu kreasi atau milik suatu bangsa atau kepercayaan tertentu karena ia memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang cukup kompleks. Sejak berabad-abad yang silam, gaya swastika ini telah diterapkan pada koin, keramik, senjata, perhiasan, atau pun altar keagamaan yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas (http://id.wikipedia.org/wiki/Swastika).

 
Dibaca : 39.795 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password