Selasa, 21 Oktober 2014   |   Arbia', 26 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.862
Hari ini : 17.527
Kemarin : 22.025
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.248.862
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Canang

a:3:{s:3:

Canang adalah alat musik idiofon dari perunggu yang terdapat di Jambi. Canang terdiri atas 4 - 5 alat berbentuk bonang dengan garis tengah antara 30 dan 40 cm. Alat ini diletakkan berjejer di atas kerangka kayu atau rentangan rotan. Sebagai pemukul, digunakan sepotong kayu atau rotan. Sepasang canang dapat dimainkan oleh satu orang, adakalanya dimainkan oleh dua orang.

Istilah canang di kawasan berkebudayaan Melayu dikenal dengan penyebutan yang berbeda-beda dengan penggunaan yang berbeda pula. Orang Aceh, misalnya, menyebutnya dengan canang trieng dan orang Minang memakai canang dalam esambel talempong. Di daerah Bengkulu, canang ini berupa gong berukuran kecil. Canang tidak berfungsi dalam kesenian musik, melainkan untuk alat pemberitahu, misalnya untuk memberitahukan kerja bakti pembersihan halaman rumah. Sedangkan di lampung, terdapat istilah gelinting yang terdiri atas beberapa instrumen canang yang masing-masing mempunyai nada tertentu. Canang ini berbentuk bulat dengan garis tengah 15 - 30 cm dan tinggi 10 - 15 cm. Canang terdiri atas bagian badan dan buduk dari perunggu.

Canang merupakan salah satu alat musik yang mirip dengan gong. Hanya canang lebih kecil ukurannya jika dibandingkan dengan gong. Canang berfungsi sebagai alat ‘penanda masa‘ (time marker) dalam ensemble pukulan tradisional yang terdapat di Kelantan.

Dalam pertunjukan, seperti teater tradisional, canang disertakan berpasangan, yaitu Canang ‘ibu‘ dan ‘anak‘. Bila dalam  ensemble bagi pengiringan tarian istana seperti Tarian Asyik pada masa itu, canang digunakan sebanyak empat buah disamakan dengan mengikuti sistem diatonik yang mempunyai pitch suara yang tepat (definite pitch). biasanya dalam ensemble pukulan Tarian Asyik, canang yang bernada seperti C, D, E dan G mengikuti skala tangga nada Major, digunakan untuk memainkan mode rithme yang bersifat minimalism, dengan cara berulang-ulang. Kini terdapat dua jenis canang yang sering digunakan: canang dibuat dari ‘besi‘ dan ‘gangsa‘.

Sumber :

  1. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid IV, (Jakarta, PT. Cipta Adi Pustaka: 1988).
  2. http://www.heritage.gov.my
Kredit foto : malaysiana.pnm.my
Dibaca : 13.198 kali.