Selasa, 29 Juli 2014   |   Arbia', 1 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 1.047
Hari ini : 2.831
Kemarin : 19.510
Minggu kemarin : 121.346
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.957.380
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Gurindam

a:3:{s:3:

Gurindam adalah bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua larik (baris), mempunyai irama akhir yang sama dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Larik atau baris pertama berisikan semacam soal atau perjanjian, sedangkan bait kedua adalah jawaban soal atau akibat dari perjanjian tersebut. Berikut ini kutipan definisi Raja Ali Haji mengenai gurindam, yaitu: “...perkataan yang bersajak akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya saja. Jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab”. Berdasarkan definisi Raja Ali Haji ini, Takdir Alisjahbana kemudian menjelaskan bahwa, gurindam terbentuk dari sebuah kalimat majemuk yang dibagi menjadi dua baris yang bersajak. Tiap-tiap baris adalah kalimat. Perhubungan antara kalimat pertama dan kedua seperti perhubungan anak kalimat dengan induk kalimat. Jumlah suku kata tiap baris dan pola rimanya tidak ditentukan. Biasanya, untuk menyampaikan suatu ide tertentu, diperlukan beberapa rangkain bait gurindam.

Kata gurindam berasal dari bahasa Tamil yang berarti perhiasan atau bunga. Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa gurindam berasal dari bahasa Sangsekerta. Gurindam berisi nasehat ataupun filsafat hidup, karena itu tidak bisa digunakan untuk bersenda gurau atau berkasih-kasihan dalam kehidupan keseharian. Mungkin karena sifat dan fungsinya yang formal, maka jenis sastra ini tidak begitu populer di masyarakat Melayu. Karena kurang populer, maka tentu saja agak sulit mencari contoh gurindam-gurindam lama. Satu-satunya yang sering dirujuk adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji (1847 M). Gurindam ini disebut dua belas karena terdiri dari dua belas pasal. Contoh bait gurindam karangan Raja Ali Haji adalah: Barang siapa meninggalkan sembahyang; bagai rumah tiada bertiang (pasal 2); Jika anak tidak dilatih; jika besar bapaknya letih (pasal 7). Di antara gurindam-gurindam yang ada, terdapat pula yang awal kata tiap barisnya menggunakan kata yang sama. Contohnya: Cahari olehmu akan guru--Yang boleh tahukan tiap seteru; Cahari olehmu akan isteri—Yang boleh menyerahkan diri (dikutip dari Gurindam Dua Belas). Dalam portal ini terdapat penjelasan-penjelasan penting mengenai gurindam ini.

  1. Gurindam Dua Belas.
Dibaca : 82.364 kali.