Minggu, 21 Desember 2014   |   Isnain, 28 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 847
Hari ini : 3.770
Kemarin : 18.132
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.478.854
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pantun Nasihat

Pantun nasihat adalah jenis pantun penuntun, berisi penyampaian pesan moral (message) yang sarat dengan nilai-nilai luhur agama, budaya dan norma sosial masyarakat. Melalui pantun nashehat-nilai-nilai luhur disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat, serta diwariskan kepada anak cucu. Ada banyak jenis pantun yang berkembang di masyarakat, di antaranya pantun nasihat atau pantun tunjuk ajar. Pantun ini digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan moral di tengah masyarakat, misalnya oleh orang tua pada anaknya, para pemimpin pada bawahannya, para guru pada muridnya ataupun antar sesama anggota masyarakat dalam interaksi sehari-hari.

Pantun nasihat juga berisi gabungan antara jenis pantun nasihat dan pantun adat yang ada dalam jenis pantun orang tua. Pantun nasihat adat ini berisi petuah dan nilai-nilai sopan santun yang berlaku dalam masyarakat. Nilai-nilai kebaikan benar-benar harus ditanamkan seperti dalam berunding hingga mencapai mufakat; berpikir dahulu sebelum bercakap; pandai-pandai menempatkan diri; sabar; rendah hati dan damai; menghargai adat orang lain; menjenguk orang sakit; menimbang hukum dengan seadil-adilnya;  hingga tidak patah arang dalam mencari ilmu. Sementara nilai-nilai buruk yang berlaku umum dalam suatu masyarakat, seperti memutus pembicaraan orang; mencari kesalahan orang lain; mengada-ada kenyataan; meminta balas ketika melakukan kebaikan; berdebat tak berujung pangkal; membuka aib orang lain; mengeluh; iri hati; banyak mengeluh; balas dendam.

Disebut dengan Pantun Nasihat karena:

Di dalamnya sarat dengan pengingat
Mengingatkan kepada semua umat
Supaya jangan berbuat jahat
Supaya jangan mendekati maksiat
Supaya jangan dengki khianat
Supaya jangan umpat- mengumpat
Supaya jangan cacat-mencacat
Supaya jangan hambat-menghambat
Supaya jangan melupakan akhirat
Supaya jangan meninggalkan ibadat
Supaya jangan hasud dan hasad
Supaya jangan membuang adat
Supaya jangan membuang tabiat

Melalui pantun nasihat, nilai-nilai luhur dalam ajaran agama dan adat resam diwariskan secara lisan kepada anak cucu dan seluruh warga masyarakat. Melalui pantun nasihat ini juga, pergaulan yang seresam bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Secara sekilas, fungsi pantun nasihat ini tergambar dalam ungkapan: dengan pantun banyak yang dituntun; pantun dipakai memperbaiki perangai; pantun mengajar bersopan santun; melalui pantun syarak menuntun. Pemakaian pantun nasihat ini tidak terbatas, boleh kapan dan di mana saja asalkan sesuai dengan fungsinya. Untuk bentuk pemakaian, pantun ini dapat dipakai dalam nyanyian, upacara atau kegiatan adat, percakapan sehari-hari ataupun sekedar untuk berbalas pantun. Walaupun pemakaian pantun ini tidak terbatas, para orang tua mengingatkan supaya penyampaiannya dilakukan sesuai dengan kandungan isi, situasi, kondisi pendengarnya.

Tak kalah pentingnya, jangan sampai penyampaian pantun ini justru merendahkan harkat dan kandungan nilai isinya, karena situasi dan kondisi yang kurang tepat. Maka dari itu, para orang tua Melayu selalu mengingatkan supaya pantun ini disampaikan dalam situasi yang tertib dan sopan, agar kandungan nilainya bisa dipahami dengan baik oleh pendengarnya. Satu catatan lagi, penyampaian pantun ini akan lebih bermanfaat, bila yang menyampaikannya menunjukkan perilaku terpuji, sesuai dengan kandungan nilai pantun yang ia sampaikan. Karena itu, sebenarnya pantun ini secara tidak langsung mensyaratkan suatu kesesuaian antara kualitas moral pemakainya dan isi pantun yang ia sampaikan, sehingga pesan tersebut tidak mendapat penolakan dari orang yang mendengarnya. Dalam ungkapan disebutkan: sesuaikan cakap dengan sikap; kalau menyampaikan pantun berisi, tunjukkan dengan budi pekerti. Kondisi pemakaian pantun nasihat di atas merupakan sebuah gambaran ideal, dengan harapan hasilnya juga ideal. Namun, tidak selamanya pantun ini harus disampaikan dalam kondisi yang tertib dan sopan, adakalanya situasinya meriah riang gembira, seperti dalam sebuah nyanyian.

Dalam upacara adat, pantun nasihat biasanya diselipkan dalam pembicaraan atau percakapan. Sebagai contoh, dalam upacara perkawinan adat, biasanya pantun nasihat diselipkan dalam pembicaraan pinang-meminang, antar belanja ataupun antar tanda, pembuka dan penutup pintu ataupun dalam khutbah nasihat nikah. Dalam musyawarah adat, upacara penabalan raja, tokoh adat dan datuk ataupun upacara tradisional lainnya, seperti menjejak benih dan menuai, pantun ini sangat sering digunakan. Semuanya menunjukkan bahwa pantun nasihat sangat populer dan dimanfaatkan dengan baik oleh warga masyarakat untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka, demi tegaknya nilai moral dan adat-resam Melayu dalam kehidupan sehari-hari.

Dewasa ini, para orang tua Melayu mengakui bahwa, keadaan pantun nasihat ini sudah tidak seperti dulu lagi. Jumlahnya sudah jauh berkurang, pemakaiannya tidak lagi populer, dan fungsinya juga sudah melemah. Perubahan ini terjadi karena beberapa sebab di antaranya: (1) terjadinya perubahan dan pergeseran nilai dalam kehidupan orang Melayu; (2) semakin sempitnya peluang atau kesempatan untuk menampilkan atau menyelipkan pantun ini kepada khalayak. Misalnya, sekarang sangat jarang diadakan upacara adat, acara berbalas pantun atau sekedar cerita pengantar tidur dari seorang ibu kepada anaknya; (3) kurang berminatnya generasi muda untuk mewarisi pantun-pantun ini, baik karena mereka belum mengenalnya, ataupun karena kurangnya kesadaran terhadap khazanah budaya sendiri.

Demikianlah, perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Melayu telah ikut mempengaruhi eksistensi budaya mereka. Ringkasan isi dan fungsi pantun nasihat tercakup dalam jenis pantun besar berikut ini:
  1. Pantun Nasihat Agama.
  2. Pantun Nasihat Adat. (1)
Dibaca : 110.542 kali.