Senin, 22 Desember 2014   |   Tsulasa', 29 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.193
Hari ini : 5.726
Kemarin : 20.356
Minggu kemarin : 123.047
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.482.383
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pantun Dukacita

Pantun berdukacita pada masyarakat Melayu, justeru lebih di dominasi pada kisaran dunia anak-anak dan remaja. Hal ini disebabkan pada seusia tersebut juga menentukan kepribadian anak-anak dan remaja yang dianggap belum stabil dibanding yang terjadi pada orang dewasa dan orang tua. 

Berbagai macam cara memang di lakukan untuk mengekspresikan keadaan berduka cita. Suasana hati ini, biasanya diekspresikan melalui tangisan, berdiam diri atau merajuk. Dalam kehidupan masyarakat Melayu, biasanya mereka juga mengggunakan pantun untuk mengungkapkan suasana hati yang sedang dirundung duka tersebut. Kemudian muncullah pantun yang menceritakan tentang kedukaan yang mereka alami. Suasana duka tersebut biasanya berkaitan dengan ibu atau bapak yang belum pulang ke rumah, orang tua yang meninggal dunia, berkelahi dengan saudara atau teman sendiri, tidak punya uang untuk berbelanja, dan berbagai kondisi lainnya yang bisa membawa pada kesedihan. Berikut ini beberapa contoh pantun-pantun tersebut:

  001. Sinangis lauk ‘rang tiku
Diatur dengan duri pandan
Menangis duduk di pintu
Melihat ayah pergi berjalan

002.Diatur dengan duri pandan
Gelombang besar membawanya
Melihat ayah pergi berjalan
Entah ‘pabila kembalinya

003.Lurus jalan ke Payakumbuh
Kayu jati bertimbal jalan
Dimana hati tidakkan rusuh
Ibu mati bapak berjalan

004.Kayu jati bertimbal jalan
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan
Kemana untung diserahkan

005.Besar buahnya pisang batu
Jatuh melayang selaranya
Saya ini anak piatu
Sanak saudara tidak punya

006.Hiu beli belanak beli
Udang di Manggung beli pula
Adik benci kakak pun benci
Orang di kampung benci pula

007.Rakit ditetas dengan kapak
Hanyutkan dari pulau kukus
Sakitnya saya tidak berbapak
Apa kehendak tidaklah lulus

008.Lurus jalannya ke Tanjung Sani
Berkelok tentang ladang lada
Jauh bedanya nasibku ini
Dengan anak orang berada

009.Ke balai membawa labu
Labu amanat dari si tunggal
Orang memakai baju baru
Hamba menjerumat baju bertambal

010.Merpati terbang ke jalan
Ikan belanak makan karang
Bunda mati bapak berjalan
Melarat anak tinggal seorang

011.Orang Padang pergi ke Pauh
Sampai di Pauh membeli lokan
Bunda kandung berjalan jauh
Tergemang anak ditinggalkan

012.Tukang batu mengasah pahat
Mengambil air dari tepian
Ayah bunda cobalah lihat
Anak menanggung perasaan

013.Mengambil air dari tepian
Pembasuh cangkir cawan pinggan
Anak menanggung perasaian
Sejak anak bunda tinggalkan

014.Di mana padi takkan luluh
Padi basah tidak di tampi
Di mana hati takkan rusuh
Bunda hilang bapak berbini

015.Elang berculit tengah hari
Cenderawasih mengirai  kepak
Alangkah sakitnya berbapa tiri
Awak menangis disangka gelak

016.Anak orang di Tanjung Sani
Duduk bersandar di pedati
Tidak disangka akan begini
Pisau dikandung makan hati

017.Panjanglah rumput di pematang
Disabit orang Inderagiri
Disangka panas sampai petang
Kiranya hujan tengah hari

018.Rumah beranjung di ulakan
Rumah baginda Merahganti
Kami dimulia, dihinakan
Alangkah iba rasa hati

019.Anak orang  di Padang Tarap
Peram pisang dalam jerami
Kami diberi harap-harap
Itu mengiba hati kami

020.

Orang Padang ke Sukabumi
Berangkat dari Pulau Karam
Jangan ditumpang biduk kami
Biduk tiris menanti karam

  1. Pantun Melayu tentang Duka Cita.
Dibaca : 49.978 kali.