Senin, 24 November 2014   |   Tsulasa', 1 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.386
Hari ini : 6.454
Kemarin : 22.432
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.375.140
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Sultan Abu Bakar (Johor)

1. Sejarah

Masjid Sultan Abu Bakar merupakan salah satu peninggalan sejarah yang menunjukkan kebesaran Kerajaan Johor di masa lalu. Sejarah pendirian masjid ini bisa dirunut dari salah seorang sultan Johor yang terkenal, Sultan Abu Bakar bin Temenggong Daeng Ibrahim (1862-1895). Di era kepemimpinan Abu Bakar, Johor mengalami perkembangan ekonomi yang pesat, sehingga rakyatnya hidup cukup makmur, dan kerajaan mampu mendirikan berbagai bangunan megah dan besar, di antaranya masjid ini. Bukti lain yang menunjukkan kegemilangan periode Sultan Abu Bakar bisa dilihat dari bangunan yang masih berdiri megah hingga saat ini dan dijadikan sebagai Museum Sultan Abu Bakar. 

Pembangunan masjid berlangsung setelah ibukota Kerajaan Johor dipindahkan dari Teluk Belanga di Singapura, ke Tanjung Puteri, sebuah kampung nelayan yang kemudian diberi nama Johor Bahru oleh Sultan Abu Bakar. Pemindahan ini terjadi pada tahun 1866, dan seiring dengan itu, dibangun pula berbagai bangunan untuk melengkapi kebutuhan sebagai pusat kerajaan yang baru. Di antara bangunan tersebut adalah masjid agung ini yang dibangun pada tahum 1893 M (1311 H), dan selesai pada tahun 1900. Diperkirakan, pembangunan masjid ini menghabiskan biaya sekitar RM 400.000,-.

Saat ini, Masjid Sultan Abu Bakar merupakan salah satu warisan sejarah yang dilindungi oleh Kerajaan Malaysia. Sebagai lokasi wisata, masjid ini terbuka setiap hari untuk dikunjungi para pelancong, dari jam 9.00 am--16.00 pm. tanpa dipungut bayaran, kecuali hari Jumat yang tertutup untuk kunjungan wisata.

2. Lokasi

Masjid Sultan Abu Bakar terletak di lokasi yang sangat strategis di atas bukit di Pantai Lido, menghadap ke Selat Tebrau, selat yang memisahkan daratan Malaysia dengan Singapura. Tepatnya, lokasi masjid berada di Jalan Masjid Sultan Abu Bakar, 80990, Johor Bahru, Johor Darul Takzim, bersebelahan dengan Kompleks Islam Johor. Dari halaman belakang masjid ini, kota Singapura terlihat jelas.

3. Luas

Belum didapat data yang menjelaskan secara detail luas masjid ini. Dari segi daya tampung, diperkirakan masjid ini memiliki kapasitas 2000 jamaah.

4. Arsitektur

Arsitektur masjid ini merupakan gabungan arsitektur India Muslim, Persia dan Eropa Klasik, sangat sedikit sekali unsur arsitektur lokal. Denah masjid berbentuk segi empat, namun pada sisi kiblatnya tampak lebih panjang. Unit utama merupakan ruang sembahyang dengan atap yang berbentuk limas tunggal tidak bertumpuk, sebagaimana masjid bersejarah lainnya.

Masjid ini memiliki empat menara, masing-masing terdapat pada setiap sisinya. Menara pada sisi utara menyatu dengan pintu masuk utama, yang lainnya berada pada sisi timur yang menghadap ke Pantai Lido, pada sisi kiblat dan sisi selatan. Denah fondasi menara berbentuk segi empat bujur sangkar yang menjorok keluar dari ruang utama (ruang sembahyang). Pada menara sisi utara dan selatan, terdapat plengkung model Romawi.

Setiap menara memiliki empat lantai. Pada lantai dua, denahnya berbentuk bujur sangkar, sedangkan lantai tiga dan empat berdenah segi delapan, dengan puncak yang berbentuk kubah kecil bersisi delapan model Persia. Setiap lantai dihiasi dengan balustrade yang berbentuk dentil (hiasan yang berderet mirip dengan susunan gigi). Setiap sudut menara terdapat pilaster dengan alur-alur (molding), dan pada setiap dua pasang pilaster, terdapat jendela. Hiasan ini menunjukkan adanya pengaruh seni arsitektur yang berkembang di Eropa pada era Renaissance. Hiasan amortizement yang terdapat pada ujung atas pilaster semakin menunjukkan adanya pengaruh klasik Eropa, terutama era Renaissance.   

5. Perencana

Belum didapat data yang menjelaskan, siapa sebenarnya arsitek atau perancang masjid ini. Data sejarah yang ada hanya menjelaskan penanggungjawab pembangunan selama prosesnya berlangsung, yaitu Datuk Yahya Awaluddin. Sebagai pengawas kerja, kemudian ditunjuk Batwip Mohamad Arif.

6. Renovasi

Dalam proses pengumpulan data.

Sumber :

  • Yulianto Sumalyo, 2006. Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • http://www.johordt.gov.my

Kredit foto: www.wisatamelayu.com

____________

Informasi lain tentang Masjid Sultan Abu Bakar bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 22.229 kali.