Senin, 22 September 2014   |   Tsulasa', 27 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 510
Hari ini : 786
Kemarin : 18.381
Minggu kemarin : 144.183
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.143.735
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Benteng Kuto Besak

1. Sejarah Singkat

Benteng Kuto Besak merupakan peninggalan bersejarah dari Kesultanan Palembang Darussalam. Perencana pembangunan benteng ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758). Namun, Sultan Mahmud Bahauddin (1776-1803) kemudian baru mengimplementasikan proses pembangunan benteng tersebut pada tahun 1780. Proses pembangunannya memakan waktu hingga 17 tahun. Setelah selesai dibangun, benteng ini kemudian diresmikan pada tanggal 21 Februari 1797 oleh Sultan Mahmud Bahauddin.

Sebagai salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Palembang Darussalam, benteng ini ternyata juga berfungsi sebagai keraton. Pada abad ke-18, benteng ini menjadi pusat Kesultanan Palembang Darussalam yang keempat, setelah Keraton Kuto Gawang, Keraton Beringin Janggut, dan Keraton Kuto Batu/ Kuto Lama.

Pada awalnya, Keraton Kesultanan Palembang Darussalam adalah Kuto Gawang yang kini lokasinya dijadikan pabrik pupuk Sriwijaya. Pada tahun 1651, Belanda pernah menyerang keraton ini dengan tujuan ingin memonopoli perdagangan di Kesultanan Palembang Darussalam. Ternyata, penyerangan tersebut juga sekaligus membumihanguskan Keraton Kuto Gawang. Pusat pemerintahan kesultanan kemudian dipindahkan ke Beringin Janggut, yang letaknya di tepi Sungai Tengkuruk, sekarang berada di sekitar Pasar 16 Ilir. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758), pusat pemerintahan kesultanan dipindahkan ke Keraton Kuto Lama. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Bahauddin pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Benteng Kuto Besak.

2. Lokasi

Kota Palembang, termasuk Kesultanan Palembang Darussalam dan Benteng Kuto Besak berada di sebuah dataran yang dikelilingi oleh anak-anak sungai yang membelah kota menjadi gugusan pulau. Benteng Kuto Besak berada di belahan sisi utara Sungai Musi yang dibatasi oleh Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur, dan Sungai Kapuran di bagian utara. Sungai Tengkuruk sendiri telah ditimbun pada tahun 1928. Sungai ini kini menjadi Jl. Jendral Soedirman yang bersambung ke Jembatan Ampera. Dari sisi lain, benteng ini berada di sebelah barat Keraton Kuto Lamo.

3. Deskripsi Benteng

Sultan Mahmud Badaruddin I mendirikan benteng ini dengan tujuan ingin melindungi Kesultanan Palembang Darussalam dari serangan dan gempuran musuh. Dengan letak benteng yang berada di antara sungai-sungai, maka siapapun tidak mudah memasuki benteng karena harus melalui titik-titik tertentu. Jika ada musuh yang akan menyusup masuk, maka prajurit benteng dengan mudah mengetahuinya dan melakukan tindakan-tindakan antisipatif.

Benteng ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 288,75 x 183.75 meter. Tingginya adalah 9.99 meter (30 kaki), sementara tebal dindingnya adalah 1.99 meter (6 kaki). Benteng ini menghadap ke arah tenggara, tepat di tepi Sungai Musi. Di setiap sudut benteng terdapat bastion. Tiga bastion terletak di sisi timur, selatan, dan barat yang berbentuk trapesium, sedangkan sebuah bastion yang terletak di sudut barat laut berbentuk segi lima. Benteng ini mempunyai tiga pintu gerbang, yaitu di sisi timur laut dan barat laut, sementara itu gerbang utamanya (Lawang Kuto) berada di sisi tenggara yang menghadap ke Sungai Musi.  

Bahan dasar konstruksi benteng ini adalah batu bata yang disusun secara rapi. Sementara bahan baku yang digunakan untuk menempelkan susunan batu bata tersebut adalah batu kapur yang diambil dari pedalaman Sungai Ogan dan kemudian dicampur dengan putih telur.

Tembok sekeliling benteng mempunyai keunikan, yaitu bentuk dan tinggi dindingnya yang berbeda-beda pada masing-masing sisi benteng. Dinding tembok di sisi timur laut mempunyai ketebalan yang sama, ketinggian dinding tembok bagian depan adalah 12,39 meter, sedangkan bagian dalam tingginya 13,04 meter. Sehingga, bagian atas benteng berbentuk bidang miring yang landai.

Dinding di sisi timur laut dihiasai dengan profil dan dilengkapi dengan celah intai yang berbentuk persegi dengan bagian atas berbentuk melengkung. Bentuk lubang celah intai ini mengecil di bagian tengahnya. Sementara itu dinding tembok di sisi barat daya mempunyai dua bentuk yang berbeda. Mengapa demikian? Sebab, di bagian tengahnya terdapat pintu gerbang. Dinding tembok sisi barat daya bagian selatan mempunyai bentuk yang bagian bawahnya lebih tebal daripada bagian atas, yaitu 1,95 meter dan 1,25 meter. Namun, bagian dalam dan luar dinding mempunyai ketinggian yang sama, yaitu 2,5 meter. Dinding tembok sisi barat daya bagian utara mempunyai bentuk yang bagian bawahnya lebih tebal daripada bagian atas, yaitu 2,35 meter dan 1,95 meter. Ketinggian dinding bagian dalam dan luarnya adalah 2,5 meter. Sedangkan dinding tembok di sisi barat laut justru memiliki bentuk yang hampir mirip dengan dinding tembok barat daya bagian selatan. Tebal dinding bagian bawah adalah 1,6 meter dan bagian atasnya adalah 1,15 meter. Ketinggian dinding adalah 2,25 meter.

Di luar dinding benteng terdapat bangunan lainnya, yaitu Gedung Pemarekan (gedung tempat menerima tamu asing), dan Pendopo Pemarekan. Kedua bangunan ini terletak di sebelah kanan (timur) pintu gerbang Lawang Kuto.

4. Fungsi Sosial

Benteng ini kini berfungsi sebagai museum yang menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah dari Kesultanan Palembang Darussalam dan Pemerintah Kolonial Belanda. Peninggalan arkeologis dari masa Kesultanan Palembang Darussalam adalah tembok keliling dan pintu gerbang bagian barat daya, sedangkan peninggalan arkeologis dari masa Kolonial Belanda adalah gerbang utama Benteng Kuto Besak dan beberapa bangunan lainnya yang terdapat di dalam benteng.

Di samping itu, benteng ini kini juga digunakan sebagai Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya. Pemerintah Daerah Sumatera Selatan telah merencanakan benteng ini sebagai obyek wisata yang terbuka bagi masyarakat umum, baik lokal maupun mancanegara.

(HS/sej/27/10-07)

Sumber :

  • Bambang Budi Utomo, “Benteng Kuto Besak”, www.budpar.go.id.
  • www.bbs.keyhole.com.
  • www.id.wikipedia.org.
  • www.indonesia.go.id.

Kredit foto:

____________

Informasi lain tentang Benteng Kuto Besak bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 11.172 kali.