Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
11 desember 2009 04:00
Konser Puisi, Asrizal Nur Menyikapi Karut-marut Kehidupan Bangsanya…
Jakarta - Ketika banyak orang, di mana-mana, berunjuk rasa soal korupsi yang semakin membudaya, dari kasus Century hingga upaya mengkriminalkan KPK, seorang penyair dan deklamator andal, Asrizal Nur, Rabu (9/12) malam, di Taman Ismail Marzuki, menggelar pertunjukkan spektakuler.
Berunjuk rasa dengan kekuatan kata dan kekuatan retorika. Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur, nama acaranya. Gedung Graha Bakti Budaya berkapasitas sekitar 800 orang jadi penuh sesak dibuatnya.
Jika punya hati/nyalakan jadi matahari/matahari hati/niscaya t ahu telah tiba di musim gelap/manakala orang-orang berpaling/menyangka malam tak pernah jelang//Ya, matahari hati jadi pembeda/mana terang mana kelam//pada musim gelap/badai menguji seberapa besar cahaya hati/bila padam kegelepan menipu pandang//
Demikian sebuah puisi yang dibacakan Asrizal dengan intonasi suara menggelora, yang ditingkahi permainan musik dan multimedia, serta sorot cahaya yang berganti-ganti warna untuk perkuat nuansa.
Tentang puisi itu, kritikus sastra terkemuka dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana mengatakan, melalui metafora dan simbolisme, Asrizal coba menyapa dan mengingatkan kita, bahwa negeri ini, kebobrokan nyaris terjadi di mana-mana. Kita setiap saat seperti dipaksa untuk memandangi tingkah laku brengsek para penguasa.
"Melalui puisi, Asrizal yang menyimpan kegeraman dan sekaligus kepedihan, melakukan persaksian tentang kehidupan penuh luka yang terjadi di negeri ini," katanya.
Sebagian besar dari belasan puisi yang ia bacakan memang terasa menyimpan kegeraman dan kepedihan, seperti antara lain puisi berjudul Belajar dengan Bahasa Daun, Percakapan Pohon dan Penebang , Revolusi Tikus Api , dan Riau.
Menurut Maman S Mahayana, secara tematik puisi-puisi Asrizal Nur bermain dalam tindak perlawanan menentang para penindas nilai-nilai kemanusiaan. Perlawanan terhadap sebuah rezim yang korup, temaha, dan busuk yang terjadi di negeri ini. Asrizal Nur dengan puisi-puisinya menjadi sebuah potret perlawanan, dan sekaligus perenungan.
darimu berjuta kilo cahaya/terangi Nusantara/ kau gulita//investor terhantuk kelam/generasi meraba masa depan/di ruang suram//berjuta barel minyak mengalir ke lading kuasa//dikau minyak tinggal setungku//miliaran devisa TKI/mengisi saku ibukota/kau hanya lalulalang duka//silih berganti anak bangsa/dipilih jadi pilar istana/kau melulu tatap punggung jendela //padahal kau juga Indonesia//sudah lama memberi/kini saatnya menerima/sepadan upeti/kelak kau tak berpunya/kesiapa harap beri?//Riau/jangan lagi anggukangguk/beranilah/gelenggeleng//jangan terbuai saying/nasib digantang//
Berkali-kali ratusan penonton mengapresiasinya dengan bertepuk tangan. Gubernur Riau Rusli Zainal, yang hadir dan turut membacakan puisi karya Asrizal Nur, sebelumnya pada Parade Baca Puisi setelah peluncuran buku Kumpulan Puisi Asrizal Nur Percakapan Pohon dan Penebang, juga tampak bertepuk tangan. Begitu juga Wali Kota Tanjungpinang, Suryatati A Manan, dan Wakil Bupati Bintan Mastur Taher.
Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur merupakan sebuah karya pertunjukan puisi yang berkolaborasi dengan musik hidup, musik program, teater, video, tari, sound effects, dan permainan tata cahaya yang sangat jarang di lakukan untuk sebuah pertunjukan puisi di Tanah Air, bahkan di luar negeri.
Masyarakat sastraIndonesia selama ini merindukan kehadiran penyair sekaligus pembaca puisi yang sekaliber WS Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri. Agaknya, sesudah kemunculan dua penyair besar itu, dunia pembacaan puisi di atas panggung seakan kosong dan sepi.
Maka, kehadiran Asrizal Nur diharapkan dapat mengisi jeda kalau tidak tepat dikatakan kekosongan itu. "Kemunculan Asrizal Nur yang seorang penyair dan deklamator terkemuka di Indonesia dapat mengobati kerinduan itu," kata KazzainiKS, Ketua Penyelenggara Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur.
Selain dibacakan pejabat dari Riau dan Kepulauan Riau, puisi-puisi Asrizal Nur juga dinyanyikan dengan irama balada oleh Franky, dinyanyikan irama rapp oleh rapper Aeril Lintin, Ismail, dan Muhammad Arif. Serta dibacakan dalam berbagai bahasa oleh pembaca puisi dari Aljazair, Portugal, Perancis, dan Madagaskar. (YURNALDI)