Close
 
Jumat, 1 Agustus 2014   |   Sabtu, 4 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 1.656
Hari ini : 17.066
Kemarin : 19.543
Minggu kemarin : 139.911
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.967.083
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

06 februari 2012 08:02

Songket Batu Bara Diminati di Malaysia

Songket Batu Bara Diminati di Malaysia

Batu Bara, Sumut - Tenunan tradisional songket asal Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, tidak hanya dikenal di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan Makassar, tetapi juga sangat diminati di Malaysia.

Nur Azizah (45) pengrajin songket asal Desa Padang Genting, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sabtu, menyebutkan tenunan songket daerah ini memiliki desain yang cukup menarik, sehingga banyak kosumen yang memesannya.

Menurut dia, tertariknya konsumen dengan industri kerajinan Songket Batu Bara, karena desain atau motif tenunan asal daerah tersebut memiliki nilai seni budaya yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, jelasnya, banyak dari negara tetangga seperti Malaysia membeli songket tersebut, ketika mereka berkunjung atau liburan ke Kota Medan.

"Songket Batu Bara itu juga memiliki berbagai jenis warna seperti merah jambu, hijau laut, kuning, merah hati, krem, merah muda dan kombinasi warna menarik lainnya," katanya.

Ketika ditanya berapa harga kain songket itu, Nurhalizah mengatakan, bervariasi dari mulai terendah Rp500.000, Rp1 juta, Rp2 juta dan bahkan ada yang mencapai Rp5 juta. Harga tenunan Songket yang mencapai Rp5 juta itu, tentunya bahan kainnya bukan jenis yanga biasa, tetapi yang terbuat dari Sutera.

"Kalau yang menengah ke bawah itu, kainnya biasa, tetapi benangnya terbuat dari benang perak dan emas. Jadi wajar saja harganya relatif tinggi. Ini juga karena harga benang untuk songket itu sekarang cukup mahal," kata Azizah.

Selanjutnya ia menjelaskan, proses pembuatan kain songket ini, masih menggunakan alat tenun terbuat dari kayu dan tradisional, namun memiliki kualitas bagus. Alat pembuat songket itu, yakni alat tenun bukan mesin (ATBM) masih banyak terdapat di Kabupaten Batu Bara itu. ATBM tersebut saat ini tergolong sangat langka yang digunakan pengrajin songket dari daerah tersebut.

"Alat tenun ini masih tetap digunakan pengrajin Songket Batu Bara, tetapi tidak kalah dengan songket yang dihasilkan dengan menggunakan mesin yang serba canggih saat ini," kata Azizah.

Hasil pemekaran Kabupaten Batu Bara merupakan hasil dari pemekaran dari Kabupaten Asahan. Kabupaten Batu Bara terdiri atas tujuh kecamatan, 98 desa, dan tujuh kelurahan dengan luas cakupan wilayah 92.220 hektare. Kabupaten Batu Bara sekitar lebih kurang 139 km arah tenggara Kota Medan, memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa.Potensi yang dimiliki antara lain potensi bidang perkebunan,pertanian, perikanan dan kelautan, peternakan, dan potensi pariwisatanya.

Bahkan, Batu Bara telah lama dikenal dunia internasional sebagai pengespor aluminium hasil olahan PT Inalum. Nama Batu Bara sendiri berasal dari sebuah batu di pedalaman yang konon pada malam hari mengeluarkan cahaya merah berapi.

Sumber: http://www.antaranews.com


Dibaca : 1.185 kali.

Tuliskan komentar Anda !