Close
 
Rabu, 23 April 2014   |   Khamis, 22 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 1.695
Hari ini : 12.170
Kemarin : 20.000
Minggu kemarin : 147.823
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.628.745
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

15 mei 2012 03:33

Islam di Haruku Membawa Perubahan Sosial

Islam di Haruku Membawa Perubahan Sosial
Masji Kubah Terang di Pulau Harulu

Yogyakarta - Dinamika masyarakat dalam rentetan peristiwa historisnya menunjukkan bahwa keberadaan agama (Islam) telah menjadi fondasi bagi perkembangan masyarakat dan perubahan sosial di Pulau Haruku, Maluku Tengah.

Melalui pilihan terhadap Islam sebagai agama formal, orang Pelauw dan negeri-negeri muslim lain di Pulau Haruku dengan mudah membangun hubungan dagang dengan para pedagang Arab dan suku bangsa Melayu lain yang beragama Islam.

Konstruksi identitas keagamaan tidak terlepas dari pengaruh kepentingan ekonomi, budaya dan politik. Agama Islam telah menjadi kekuatan penting bagi perkembangan masyarakat dan perubahan sosial di kalangan Komunitas Muslim Hatuhaha di negeri Pelauw.

Perbedaan penafsiran dan praktik keagamaan kelompok syariah dan kelompok adat berdampak pada sikap keberagaman mereka. Itu dipaparkan Yance Zadrak Rumaharu pada ujian terbuka program doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Senin (14/5/2012).

Disertasi Yance berjudul Islam Syariah dan Islam Adat: Konstruksi Identitas Keagamaan dan Perubahan Sosial di Kalangan Komunitas Muslim Hatuhaha di Negeri Pelauw.

Penelitian Yance, dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Ambon ini dilakukan pada Komunitas Muslim Hatuhaha (KMH) di Negeri Pelauw,  Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Dari disertasinya ia memperoleh nilai cum laude.

Sejak Islam diterima di negeri Pelauw, kata Yance, ajaran agama dan adat diposisikan sejajar dan tidak saling menghakimi satu dengan yang lain. Kelompok adat lebih terbuka terhadap kebudayaan lokal dengan mengkombinasikan nilai-nilai agama dan kebudayaan lokal setempat sebagai kekuatan religius dan spiritual.

Sementara kelompok syariah memisahkan secara tegas unsur-unsur kebudayaan jenis-jenis budaya lokal. Sebagian warga yang dikategorikan sebagai kelompok transformasi memiliki sikap positif terhadap kebudayaan lokal dan agama, dengan tetap menjaga jarak kritis terhadap agama maupun kebudayaan lokal. 

Sumber: http://edukasi.kompas.com
Foto: http://www.seruu.com


Dibaca : 283 kali.

Tuliskan komentar Anda !