Close
 
Senin, 22 September 2014   |   Tsulasa', 27 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.971
Hari ini : 16.361
Kemarin : 16.234
Minggu kemarin : 142.163
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.143.289
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

23 januari 2008 03:19

Ahmadun Yosi Herfanda Ketua Komunitas Sastra Indonesia

Ahmadun Yosi Herfanda Ketua Komunitas Sastra Indonesia

Kudus- Ahmadun Yosi Herfanda yang sehari-hari bekerja sebagai redaktur sastra harian Republika terpilih sebagai Ketua Komunitas Sastra Indonesia dalam arena Kongres Komunitas Sastra Indonesia dan Seminar Nasional Komunitas Sastra yang mulai digelar Sabtu hingga Senin (21/1) di Gedung DPRD Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ahmadun akan memimpin Komunitas Sastra Indonesia untuk periode 2008—2010.

Kongres dan seminar sastra itu dihadiri oleh beberapa sastrawan dan budayawan terkemuka di Tanah Air. Mereka misalnya Sutardji Calzoum Bachri, Jose Rizal Manua, Sujiwo Tejo, Sihar Ramses Simatupang, Fatin Hamama, Thomas Budi Santoso (pimpinan PT Djarum Kudus), Saut Situmorang, KH Mustofa Bisri, dan para seniman muda dari berbagai daerah mulai Sumatera Barat, Lampung, Sumbawa, hingga Kalimantan. Secara keseluruhan sekitar 150 seniman terlibat dalam acara ini.

Yang menarik dalam kancah ini adalah hadirnya belasan guru dan siswa SMA penggemar sastra yang sengaja diundang panitia. Membumikan sastra sehingga lebih dikenal dan dicintai generasi muda lebih mengena dengan hadirnya mereka yang baru saja kenal soal sastra tersebut.

“Kami memang sangat peduli terhadap perkembangan sastra lewat jalur pendidikan itu,” kata pimpinan PT Djarum Kudus Thomas Budi Santoso. PT Djarum menjadi penyandang dana utama perhelatan ini.

KH Mustofa Bisri alias Gus Mus, ulama senior dari Rembang, juga membaca puisi. Parade baca puisi itu kembali digelar pada Minggu malam sebelum pementesan Wayang Klithik –sebuah seni tradisi yang langka– yang dimainkan oleh dalang tua Ki Sumarlan (76 tahun) dari Desa Wonosoca, Kecamatan Undaan, Kudus.

Pada Senin pagi (21/1) para seniman itu juga membacakan puisi di tengah-tengah para buruh pabrik rokok Djarum bekerja. Mereka membaca puisi di Brak (pabrik) Sigaret Kretek Tangan di Pengkol, Kudus.

Dalam kongres itu, para peserta akhirnya menelorkan enam rekomendasi. Beberapa isinya antara lain meminta pemerintah agar menurunkan harga kertas dan menghapus pajak atas karya sastra. Semua itu dalam upaya mendukung penerbitan dan penyebarluasan karya sastra.

Kongres juga meminta pemerintah Indonesia untuk membentuk semacam dewan sejarah kesusastraan Indonesia yang mampu menyusun sejarah kesusastraan Indonesia yang benar-benar mencerminkan realitas perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia.

Sumber : Harian Sinar Harapan
Kredit foto : www.geocities.com


Dibaca : 1.729 kali.

Tuliskan komentar Anda !