Close
 
Jumat, 25 Juli 2014   |   Sabtu, 27 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 1.675
Hari ini : 12.416
Kemarin : 23.254
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.943.814
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

14 maret 2008 08:24

Wisata Jembatan Barito yang Mulai Ditinggalkan

Wisata Jembatan Barito yang Mulai Ditinggalkan

Batola, Kalsel- Rumah khas Banjar bubungan tinggi tampak berdiri kokoh di bagian utara Jembatan Barito. Masing-masing dilengkapi dengan lambang daerah. Ada Banjarmasin, Banjar, dan barito Kuala. Sayang bangunan-bangunan itu tampak kurang terurus.

Banyak rumput dan ilalang memenuhi areal tempat berdirinya rumah-rumah itu. Kontras dengan kondisi di samping jembatan, aktivitas pengerukan pasir untuk bahan bangunan justru kian marak.

Ya, kondisi areal wisata Jembatan Barito kini sungguh memprihatinkan. Dibandingkan saat diresmikan Presiden Soeharto 23 April 1997 lalu, satu dasawarsa kemudian tempat wisata yang tepat berada di bawah jembatan itu mulai ditinggalkan pengunjungnya.

Jembatan dengan panjang 1.082 meter dan lebar 10 meter ini sempat didapuk menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Pasca diresmikan, kawasan setempat sempat menjadi ikon wisata Kalimantan Selatan yang dibanggakan. Sampai ada pameo, belum lengkap mengunjungi Kalsel tanpa mampir ke Jembatan Barito.

"Memang sudah lama kawasan wisata ini dibiarkan saja dan tak terawat. Kayaknya tak ada perhatian khusus dari pemerintah daerah," ungkap Buseri, warga setempat yang berjualan di tempat wisata ini, kepada BPost.

Areal di sekitar jembatan tidak lagi dipakai untuk tempat rekreasi keluarga. Kini malah menjadi tempat berpacaran muda mudi.

"Kita tak dapat melarang mereka karena mereka juga termasuk pengunjung dan membayar karcis masuk. Cuma disayangkan ada yang menjadikan tempat itu ajang bermesraaan," jelasnya.

Untuk menjaga jangan sampai kejadian serupa terulang kembali, pihaknya menganjurkan penjaga untuk selalu kontrol di setiap sudut tempat wisata tersebut.

Tak hanya persoalan muda mudi. Puluhan kios kecil yang berada di bawah Jembatan Barito, baik yang masuk Kecamatan Alalak maupun Kecamatan Anjir Muara sepertinya mubazir dibangun karena tak digunakan semestinya.

"Dulu memang banyak pedagang yang menempati kios tersebut saat wisata jembatan ini masih ramai. Karena sudah tak ada lagi," ungkap Juhairiah, warga yang berjualan keliling di sekitar jembatan.

Kasubdin Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel Syarifuddin R mengatakan, pengelolaan Jembatan Barito sudah diserahkan pada pihak ketiga, yakni PD Bangun Banua.

"Pada awalnya memang pengelolaannya bagus dan pengunjung banyak yang datang. Tetapi memasuki tahun 2000-an, pengunjung berkurang dan PD Bangun Banua mulai tak mantap lagi mengelolanya," paparnya lagi.

Dalam beberapa rapat di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, rencananya pengelolaannya akan diserahkan ke Disbudpar Batola yang cukup siap mengelolanya. "Sayang karena ada beberapa kendala hingga saat ini memang belum bisa dilakukan penyerahannya," pungkasnya.

Benarkah wisata Jembatan Barito sudah tidak menarik? Jawabannya adalah tidak. Masih ada yang berminat untuk berwisata ke tempat unik ini. Wisatawan lokal Kalsel mungkin sudah jauh berkurang. Tapi nama Jembatan Barito masih cukup terkenal di luar Kalimantan.

Jembatan Barito masih jadi tempat favorit bagi pengunjung Kalsel, selain pasar terapung, terutama bagi pehobi fotografi.

Ny Haryanti asal Jawa Tengah adalah wisatawan yang mengaku tertarik dengan Jembatan Barito."Saya tertarik ke sini karena dikatakan jembatan ini terpanjang di Indonesia. Kemudian desainnya juga mirip jembatan di luar negeri," papar Haryanti.

Pegawai Dinas Pendidikan Kota Semarang ini menuturkan, wisata rekreasi Jembatan Barito sebenarnya masih bisa dikembangkan.

"Misalnya, dibangun tempat peristirahatan di Pulau Bakut yang tepat berada di bawah jembatan. Ini kan cukup menarik," sarannnya.

"Memang belum ada bangunan di situ. Tapi biasanya pengunjung minta antar mengelilingi pulau itu dengan kelotok. Tarifnya 30 ribu," papar Rusliannor, salah satu pemilik kelotok, yang biasa mangkal di dermaga samping jembatan itu.

Ditambahkannya, kalau objek wisata ini bisa dikelola pemerintah daerah dengan maksimal, pengunjung akan kembali ramai sama seperti tahun 1997 hingga 2000.

Setelah dikelola PD Bangun Banua selama sepuluh tahun dan kurang menguntungkan, tahun 2008 pengelolaan objek wisata Jembatan Barito diserahkan ke Pemprov Kalsel. Selanjutnya akan diserahkan ke Pemkab Batola untuk dikelola sendiri.

"Kami akan mendesain ulang konsep tempat wisata di sana. kemudian memperbaiki fasilitas yang sudah rusak," Kata Kepala Dinas LHBP Batola, Hanafi Ali.

Sumber : www.banjarmasinpost.co.id
Kredit foto : mpus.blogspot.com


Dibaca : 5.433 kali.

Tuliskan komentar Anda !