Jumat, 3 September 2010 |Jum'ah, 24 Ramadhan 1431 H
Pengunjung Online : 64
Hari ini
:
4.551
Kemarin
:
21.804
Minggu kemarin
:
147.463
Bulan kemarin
:
520.943
Anda pengunjung ke 78.614.511 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
18 juli 2008 14:25
Silang Pemikiran Budaya Melayu-Jawa
Yogyakarta, Melayuonline.com— Hari ini (16/7) para peserta dari tiga universitas ternama dari Indonesia dan Malaysia berkumpul dalam sebuah “Workshop Internasional Tiga Serangkai UGM-UKM-UNS” di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Tiga universitas tersebut adalah Universitas Gadjah Madadari Indonesia (Yogyakarta), Universitas Sebelas Maret dari Indonesia (Surakarta), dan Universiti Kebangsaan Malaysia dari Malaysia. Workshop yang bertema “Pemikiran Melayu-Jawa” ini merupakan hasil kerjasama tiga universitas tersebut dalam rangka mengelaborasi khasanah pemikiran budaya dan bahasa di dua negara yang notabene secara kultural berasal dari satu rumpun yang sama, yakni rumpun Melayu.
Acara yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB ini dibuka oleh Prof. Dr. Syamsul Hadi, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Dalam kata sambutannya, Syamsul mengatakan bahwa budaya Melayu dan budaya Jawa pada hakikatnya adalah sebuah budaya yang saling bersinggungan dan tumpang tindih. Menurutnya, pada hakikatnya budaya Jawa itu merupakan bagian dari Melayu, dan budaya Melayu itu juga bagian dari budaya Jawa. “Hakikatnya, Jawa itu Melayu dan Melayu itu adalah Jawi (Jawa—red),” tegasnya. Oleh karena itu, menurutnya, workshop yang melibatkan dua negara ini menjadi penting sebagai sarana untuk mengelaborasi pemikiran dalam bidang kebudayaan dan bahasa antara dua negara, khususnya tentang budaya Jawa dan Melayu.
Workshop yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan beberapa pembicara dari UGM, UNS, dan UKM yang berkompeten di bidang kebudayaan Melayu dan Jawa. Pada sesi pertama, pembicaranya berjumlah tiga orang, yakni Prof. Marsono, S.U. (Dosen Fakultas Ilmu budaya UGM), Prof. Dr. Noriah Muhamed (Dosen Universiti Kebangsaan Malaysia), dan Drs. Paina Partana, M.Hum (Dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret). Sedangkan pada sesi kedua, pembicaranya berjumlah empat, yaitu Drs. Akhmad Nugroho, S.U. (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM), Prof. Dr. Haron Daud (Universiti Kebangsaan Malaysia), Drs. Istadiyantha, MS (Dosen Sastra dan Seni Rupa UNS), dan Drs. Sudibyo, M.Hum (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM).
Para pembicara berusaha mempresentasikan dan sekaligus mengeksplorasi berbagai khasanah kebudayaan Melayu dan Jawa dalam bingkai bahasa dan sastra. Prof. Paina, misalnya, mengungkapkan bahwa bahasa Jawa, sesuai dengan struktur gramatikalnya, merupakan bahasa yang tergolong njlimet dan sering menggunakan ungkapan-ungkapan —dalam penyampaian pesannya— yang bersifat tidak eksplisit dan tidak langsung. Karakter bahasa ini tercermin dalam pola pikir masyarakat Jawa yang tidak menyukai ungkapan-ungkapan lansung dalam sebuah percakapan, seperti dalam ungkapan meminjam sesuatu, mengkritik, meminta, dan lain-lain. Dari cara bicara ini dapat diketahui bahwa masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan dengan seminim mungkin menghindari perselisihan maupun konflik yang bersifat frontal dan terbuka.
Berbeda dengan Paina yang berusaha menangkap pola pikir orang Jawa melalui struktur bahasa masyarakat Jawa, pembicara lain Prof. Dr. Noriah Muhamed dari Malaysia berusaha menggali khasanah budaya masyarakat Melayu dengan mengangkat seorang tokoh populer fiktif dari cerita jenaka kesusateraan Melayu yang bernama Pak Kaduk. Dalam kesusasteraan Melayu, Pak Kaduk dikenal sebagai seorang tokoh jenaka dan sekaligus tokoh oposan yang sering menentang kekuasaan kekuasaan sultan dengan guyonan-guyonan segarnya. Tokoh ini mempunyai kemiripan dengan tokoh Abu Nawas dalam kesusastraan Islam atau Kabayan dalam masyarakat Sunda. Dari sang tokoh ini, karakter dan nilai-nilai budaya Melayu dapat digambarkan sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan persatuan, seperti diungkapkan Noriah dengan menyitir sebuah ungkapan Melayu, “bersatu teguh, bercerai roboh, hidup biar seperti seperti aur dengan tebing, bulat air kerana pembentung dan bulat kata kerana mufakat”, tandasnya. Ia melanjutkan, “walaupun karakter Pak Kaduk sebagai rakyat jelata yang dianggap tidak begitu penting dan bahkan dianggap menyimpang, toh Pak Kaduk tetap merepresentasikan nilai-nilai dan karakter yang dipunyai oleh masyarakat Melayu”.
Selain itu, Drs. Istadiyanta, MS, selaku pembicara yang mewakili Universitas Sebelas Maret dari Surakarta juga banyak memaparkan dan mengeksplorasi kebudayaan Jawa dan Melayu yang menurutnya mempunyai beberapa kemiripan dalam bidangkesusasteraan, khususnya dalam sastra sufistik. Menurutnya, baik Jawa maupun Melayu, sama-sama memiliki beragam karya satra yang bernuansa spiritual dan mistik, seperti tertera dalam serat-serat yang ditulis oleh Ranggawarsito (Jawa), ataupun syair-syair yang ditulis oleh Hamzah Fansuri dan Abdulkadir Munsy (Melayu). Kesamaan-kesamaan ini, lanjut dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS ini, tentu memiliki akar sejarah yang panjang. Dia menegaskan, “Melalui kesamaan ini kita harus berpikir ulang mengenai budaya Jawa dan Melayu sebagai sebuah identitas kultural yang terpisah. Kita harus mulai menyadari bahwa budaya Melayu dan Jawa pada akhirnya merupakan sebuah entitas budaya yang saling bersinggungan dan tumpang tindih. Walaupun demikian, ternyata masih banyak kesalahpahaman budaya dari dua masyarakat ini yang perlu diperbaiki lagi”.
Senada dengan pernyataan yang dikemukan oleh Istadiyanta, Mahyudin Al Mudra, Pimpinan Umum MelayuOnline.com, mengungkapkan bahwa perlu adanya perbaikan kembali atas kesalahpahaman budaya yang terjadi antara budaya Jawa dan Melayu. Banyak orang Jawa yang berkunjung ke negara Malaysia, misalnya, ternyata masih mengalami kesulitan dan kesalahpahaman dalam berbahasa. Orang-orang Jawa, walaupun telah akrab dengan bahasa Indonesia, tetap saja merasa canggung dan kesulitan ketika berbicara dengan orang-orang Malaysia. Oleh karena itu, Bang MAM, sapaan akrabnya, merekomendasikan dibuatnya sebuah kamus poket praktis dan kamus manner (panduan tata krama) berkaitan hal-hal yang menyangkut tata krama berlatar budaya antara Malaysia dan Indonesia untuk menghindari kesulitan dan kesalahpahaman yang sering terjadi.