Close
 
Jumat, 20 April 2018   |   Sabtu, 4 Sya'ban 1439 H
Pengunjung Online : 1.469
Hari ini : 13.400
Kemarin : 26.156
Minggu kemarin : 301.831
Bulan kemarin : 6.223.364
Anda pengunjung ke 104.901.156
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

26 juli 2008 06:08

Melihat Rumah Lanting dan Kehidupan di Sungai Kapuas Sanggau

Melihat Rumah Lanting dan Kehidupan di Sungai Kapuas Sanggau

Sanggau, MelayuOnline.com- Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.37 Wib ketika rombongan kru MelayuOnline.com pada ahad (20/07) sampai di tepi Sungai Kapuas yang berada sekitar 300 meter di depan Istana Surya Negara Sanggau. Aktivitas masyarakat di pinggir sungai seperti mandi, mencuci, dan mancing dengan latar belakang bangunan-bangunan terapung menjadi pemandangan yang dapat menghilangkan penat para kru yang baru sampai jam 03.45 wib setelah melakukan perjalanan 8 jam dari Kota Pontianak.

“Indah banget, gimana kalau kita naik perahu menyusuri Sungai Kapuas sambil menyaksikan Rumah-rumah Lanting yang terayun-ayun terkena gelombang air sungai,” ungkap direktur pelaksana Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Hadi Kurniawan, S.H.I., kepada para kru. 


Tawaran Mas Hadi, panggilan akrab Hadi Kurniawan, ini langsung direspon oleh para kru dengan memanggil perahu motor yang kebetulan melintas. Setelah itu, mas Hadi bersama Pimred www.wisatamelayu.com Lukman Solihin, S.Ant., redaktur budaya www.melayuonline.com Ahmad Salehudin, M.A., dan Litbang Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Khidir Marsanto, S.Ant, serta fotografer Aam Ito Tistomo menikmati goyangan gelombang Sungai Kapuas.

Oleh karena hari masih cukup pagi, para kru dapat menyaksikan beragam aktivitas orang-orang yang tinggal di sekitar sungai Kapuas, seperti jual-beli, mandi, mencuci pakaian, dan sikat gigi. Mereka seolah-olah tidak peduli dengan air berwarna coklat dan di sekitar mereka berjejer gubuk-gubuk terapung untuk membuang hajat.


Para kru juga menyempatkan diri untuk memasuki salah satu Rumah Lanting. Di dalam Rumah Lanting yang berukuran sekitar 3 X 4 meter ini, menyatu antara ruang tidur, makan, dan dapur. Tidak ada sekat antara ruang-ruang tersebut, sehingga terkesan agak kumuh. Adanya, binatang peliharaan menambah sesak ruangan itu.


Setelah upaya dokumentsi data-data tentang kehidupan Rumah Lanting dianggap cukup, para kru segera naik ke darat untuk memburu data-data lainnya, seperti Rumah Limas Melayu yang telah berusia lebih dari 200 tahun, Masjid Jamik Sultan Ayyub yang didirikan tahun 1825-1828, dan situs-situs sejarah keraton Sanggau.

(AS/brt/6/07-08)


Dibaca : 9.659 kali.

Tuliskan komentar Anda !