Close
 
Kamis, 24 Juli 2014   |   Jum'ah, 26 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 244
Hari ini : 7.984
Kemarin : 18.051
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.937.755
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

01 juli 2009 02:15

Parade Tari Tradisional di Pekanbaru

Parade Tari Tradisional di Pekanbaru

Pekanbaru, Riau - Sabtu (27/6) siang, para penari dari Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, beraksi di panggung di pelataran Gedung Bandar Serai Purna MTQ Pekanbaru, Riau. Di sekitar panggung, para penari dari beberapa kota di Nusantara, termasuk dari Kota Semarang yang diwakili Sanggar Greget, menunggu giliran tampil.

Parade tari tradisional itu bagian dari Rakernas Ke-7 Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) dan ICE (Indonesia City Expo) di Pekanbaru. Dari kursi penonton, sembari menunjuk ke penari Sanggar Greget, seseorang bertanya, Mereka penari Betawi ya? Ketika saya jawab asal para penari, seseorang yang lain menceletuk, Tapi pakaiannya kok mirip dari Betawi ya?

Belum lagi saya usai memberi secuplik penjelasan bahwa ada beberapa kemiripan kultural antara Semarang dan Betawi, pembawa acara memanggil penari Sanggar Greget untuk beraksi. Narasi mengenai dua nomor tarian yang dibaca pembawa acara menyelamatkan saya dari keharusan jadi juru suluh dadakan.

Pada parade itu, Greget menampilkan tarian Denok Deblong dan Warak Dugder garapan Yoyok B Priyambodo. Dalam narasi dipaparkan tentang identitas kultural Semarang yang jadi inspirasi kedua tarian itu. Denok Deblong tarian riang, rancak, dan kenes yang terinspirasi gaya pergaulan para gadis Semarang tempo dulu. Warak Dugder yang dilengkapi replika warak merupakan tarian yang terinspirasi ritus tahunan Kota Semarang menyambut ramadan. Disebutkan pula warak adalah binatang mitologis yang jadi salah satu ikon Kota Semarang.

Narasi itu penting karena sebagian besar penonton orang Melayu Riau ditambah peserta parade dari berbagai kota di Nusantara. Selanjutnya, ketika kedua tarian dimainkan, penonton yang menghubung-hubungkan Semarang dan Betawi boleh dibilang menemu benang merah kemiripan itu. Iringan tari yang memadukan gamelan dan instrumen gambang kromong Betawi jelas memperlihatkan proses akulturasi kedua wilayah itu.

Tepat Pada perhelatan yang bisa dibilang pertemuan budaya kota-kota di Nusantara seperti Apeksi dan ICE, pemunculan tarian yang dimuati identitas sebuah kota sangat penting. Karena itu, Denok Deblong dan Warak Dugder, dua dari sekian garapan tari Yoyok yang memunculkan identitas Kota Semarang (sebut antara lain Tari Goyang Gambang Semarang atau  Tari Pasar Ya`ik), tepat untuk mengenalkan salah satu khazanah budaya Kota Semarang, paling tidak di ranah Melayu.

Kenyataannya, penonton cukup apresiatif ketika dua nomor itu disajikan. Sebagian besar menyimak semua gerakan lincah, rampak, dinamis, dan kenes empat penari perempuan dalam Denok Deblong. Pun ketika mereka bergabung dengan empat penari pria dalam Warak Dugder yang energetik, penonton seolah-olah lupa panas udara Pekanbaru siang itu.

Dua tarian dari Sanggar Greget itu cukup representatif sebagai medium pengenalan budaya Kota Semarang di ranah Melayu. Tentu batik semarangan dan penganan khas yang dipamerkan Pemerintah Kota Semarang di stan ICE adalah medium penting lain untuk sosialiasi budaya. (Saroni Asikin-53)

Sumber: http://suaramerdeka.com
Kredit Foto: http://kotapalembang.blogspot.com


Dibaca : 5.746 kali.

Tuliskan komentar Anda !