Close
 
Selasa, 2 September 2014   |   Arbia', 7 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.418
Hari ini : 6.979
Kemarin : 22.071
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.077.780
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

13 agustus 2009 02:00

Rumah Betang, Tempat Tinggal Khas Suku Dayak

Rumah Betang, Tempat Tinggal Khas Suku Dayak

Samarinda, Kaltim - Rumah Betang atau rumah panjang merupakan tempat tinggal khas masyarakat Dayak. Biasanya banyak terdapat di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar). Di Samarinda, rumah ini dibentuk dengan ukuran mini. Dengan menggunakan bahan sederhana, sang pembuat, Supriadi, merepresentasikan karyanya itu sebagai bentuk dukungan atas pelestarian kebudayaan lokal. Betang mini ini tingginya sekitar 5 cm dan panjang 12 cm (ukuran aslinya, panjang 268 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 8 meter). Miniatur ini memakan waktu pembuatan sekitar 1 minggu. Karya unik ini dipamerkan di Art Exhibition and Samarinda Death Festival di Taman Budaya, Minggu lalu.

Supriadi mengatakan, karyanya ini juga diapresiasikan sebagai bentuk perlawanan atas dominasi globalisasi yang kian mengancam eksistensi budaya lokal. Menurutnya, rumah panjang miniatur tersebut terinspirasi saat ia berada di kawasan Sungai Ulu, Kecamatan Embaloh Hilir, sekitar 720 km dari Kota Pontianak. Di sana, ia banyak menemui Rumah Betang dengan beragam ukuran. Terlebih ketika ia menyambangi satu-satunya rumah panjang yang tersisa di Kabupaten Pontianak, Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, sekitar 200 km dari Kota Pontianak. Rumah panjang yang usianya lebih dari 300 tahun itu ditetapkan sebagai cagar budaya dan sudah dihuni masyarakat Dayak Kanayatn selama enam generasi.

Baginya, dewasa ini hanya sebagian kecil masyarakat Dayak yang masih tetap mempertahankan rumah panjang. Seperti masyarakat Dayak Iban yang lebih banyak tinggal di Kabupaten Kapuas Hulu, terutama di kawasan perbatasan Kalbar-Sarawak. “Padahal fungsi rumah itu tak cuma sebatas tempat tinggal, tapi juga pusat kegiatan kebudayaan,” kata Supriadi. Di rumah panjang, kata Supriadi, masyarakat Dayak melakukan berbagai aktivitas seperti menenun, memahat, mengukir, menari, dan yang paling utama melaksanakan upacara adat. Misalnya, upacara Gawai Kenyalang, pesta syukuran atas panen padi yang merupakan gawe terbesar dalam masyarakat Dayak Iban.

Upacara adat lainnya yang dilaksanakan di rumah panjang adalah Pupu Kenyalang. Yakni upacara pemberian sumbangan atau derma sebagai bentuk persembahan kepada dewa-dewa melalui kenyalang. Pentingnya mempertahankan rumah panjang, karena di sanalah masyarakat Dayak dapat melestarikan keterampilan kerajinan anyaman, tenunan, pahatan dan sebagainya. "Selain itu, tinggal di rumah panjang bermanfaat untuk memelihara rasa kekeluargaan," ucapnya.

Lewat karyanya itu pula, Supriadi ingin mengingatkan generasi muda untuk selalu menjaga kelestarian budaya. Khususnya generasi muda suku Dayak. Ia menilai, arus modernisasi yang ada banyak mengubah kehidupan masyarakat Dayak yang tinggal di rumah panjang. Salah satunya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. "Dulu, kalau salah seorang penghuni rumah panjang memperoleh ikan dan hasil buruan lainnya, perolehan itu dibagi-bagi dan dimakan bersama-sama. Namun kini warga makin memahami nilai ekonomi, sehingga hasil buruan dijual ke sesama penghuni rumah panjang," urai pria berambut panjang ini.

Perubahan lainnya, sesuai perkembangan zaman tentunya, adalah penggunaan pakaian. "Dulu penghuni rumah panjang hanya menggunakan cawat, sekarang sudah mengenakan celana," ujarnya. Selain itu pada masa lalu, wanita-wanita melubangi telinganya dan memiliki telinga panjang. Kini pemandangan seperti itu jarang ditemukan lagi pada wanita muda, kecuali menyaksikan sisa-sisa, wanita tua dengan telinga panjang yang menggendong sang cucu. Yang memprihatinkan adalah banyaknya anak muda dari suku Dayak yang tidak lagi memahami budaya Dayak. "Karena mereka tidak lagi tinggal di rumah panjang, dan merantau ke kota, pemahaman mereka terhadap budaya Dayak semakin hilang," pungkas Supriadi. (*/fr)

Sumber: http://www.kaltimpost.web.id
Kredit Foto: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=519636&page=4


Dibaca : 8.741 kali.

Tuliskan komentar Anda !