Close
 
Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.509
Hari ini : 22.202
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

07 sepember 2009 01:15

Upacara Adat Yadnya Kasada Suku Tengger

Upacara Adat Yadnya Kasada Suku Tengger

Lumajang, Jawa Timur - Sebagian masyarakat suku Tengger di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu, berjalan kaki menuju ke Gunung Bromo untuk mengikuti upacara Yadnya Kasada yang digelar Sabtu malam hingga Minggu (6/9). Kepala Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Martiam, mengatakan, ribuan masyarakat suku Tengger sudah menuju ke Gunung Bromo sejak Sabtu pagi, mereka menggunakan kendaraan bermotor dan berjalan kaki menuju ke sana. "Sebagian warga Tengger berjalan dengan berkelompok menuju Gunung Bromo melalui Dusun Gedog di Desa Argosari, namun sebagian lagi menggunakan sepeda motor melewati Desa Ranupane, Lumajang menuju ke Bromo," katanya.

Jumlah warga Tengger yang berjalan kaki menuju Bromo, kata dia, tiap tahun menurun karena sebagian besar warga Tengger lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk mengikuti upacara Kasada. "Meski jumlahnya relatif sedikit, namun masih ada warga Tengger yang membentuk kelompok menuju ke Bromo," katanya. Ribuan warga Tengger di Lumajang, kata dia, membawa sesajen berupa hasil panen (hasil bumi) mereka untuk upacara Kasada di Bromo.

"Semua warga Tengger membawa hasil bumi mereka, baik yang beragama Hindu maupun mualaf Tengger," katanya. Setelah melakukan upacara Kasada, kata dia, sejumlah warga membawa sisa sesajen yang sudah diberi doa dan diletakkan di sejumlah mata air di Desa Argosari. "Sesajen itu dipercaya membawa berkah untuk meningkatkan hasil panen suku Tengger dan sumber mata air bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Tengger di Lumajang," katanya. Ia berharap, seluruh warga Tengger di empat kabupaten yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang bisa melestarikan tradisi dan budaya suku Tengger, meski berbeda agama dan tempat tinggal. (antara)

Sumber: http://www.antaranews.com
Kredit Foto: http://andrik-dana.blogspot.com


Dibaca : 11.053 kali.

Tuliskan komentar Anda !