Jumat, 3 September 2010   |   Jum'ah, 24 Ramadhan 1431 H
Pengunjung Online : 68
Hari ini : 4.555
Kemarin : 21.804
Minggu kemarin : 147.463
Bulan kemarin : 520.943
Anda pengunjung ke 78.614.517
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Peneliti Melayu

Bambang Budi Utomo

Bambang Budi Utomo

1. Riwayat Hidup

Di Indonesia, sangat jarang kita menjumpai seorang ilmuwan atau peneliti yang secara konsisten mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengkaji dan meneliti khusus pada bidang arkeologi. Bambang Budi Utomo merupakan salah satu ilmuwan atau peneliti arkeologi di Indonesia yang masih sangat produktif. Ia mencurahkan waktu dan segala pikirannya untuk menggeluti bidang arkeologi, yang dilakoninya sejak tahun 1975, yaitu sejak ia masih berada di bangku kuliah sarjana (S1).

Ia lahir pada tanggal 7 Agustus 1954 di Jakarta, Indonesia. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Trisula Jakarta (1967). Ia menempuh pendidikan tingkat menengahnya di SMP Negeri I Jakarta (1970) dan SMA Negeri IV Jakarta (1973). Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia (1981).

Bambang Budi Utomo kini bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Republik Indonesia. Sejak tanggal 1 Oktober 2003, ia berpangkat Pembina Utama Muda dengan golongan IV-c. Kini, jabatan fungsionalnya adalah sebagai Peneliti Utama (sejak tanggal 1 Januari 2006).

Sejak bekerja sebagai peneliti arkeologi, ia banyak melakukan kegiatan penelitian arkeologis terhadap sejumlah situs di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat, dan juga di Semenanjung Tanah Melayu, seperti di Malaysia dan Thailand Selatan. Ia banyak memfokuskan penelitian arkeologisnya tentang sejarah Sriwijaya. Di antara hasil penelitiannya, ia menemukan candi dan pemukiman di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi, yang diprediksikan sudah ada sejak abad ke-8-12 M.

Bambang aktif mengikuti berbagai simposium, seminar, kongres, dan lokakarya, baik sebagai pemrasaran atau hanya sebagai peserta biasa. Hingga kini, ia masih produktif menulis karya-karyanya, terutama yang berkenaan dengan arkeologi, sejarah Melayu, dan Nusantara.

2. Pemikiran

Bambang Budi Utomo memiliki sejumlah karya yang mengandung pemikiran-pemikiran yang sangat penting dalam pengembangan wacana keilmuan sejarah dan arkeologi Melayu. Berikut ini adalah pemikiran Bambang tentang Melayu dan kemelayuan serta pandangannya tentang masuknya Islam di Nusantara.

2.1. Pemikiran tentang Melayu dan Kemelayuan

Bambang Budi Utomo pernah menulis sebuah artikel berjudul “Adaptasi Lingkungan Masyarakat Melayu di Nusantara pada Abad Ke-7-9 Masehi”. Artikel ini dipresentasikan pada Seminar Antarabangsa Kesultanan Melayu-Nusantara: Sejarah dan Warisan dengan tema “Memupuk Warisan dan Tradisi Bangsa Beraja”, di Kuantan, Pahang Darul Makmur, Malaysia, tanggal 8-11 Mei 2005.

Dalam tulisan tersebut, Bambang berusaha mencari benang merah tentang apa yang dimaksud dengan identitas Melayu. Ia mengemukakan ada tiga konsep tentang apa itu Melayu. Pertama, konsep ras Melayu yang memiliki ciri-ciri fisik tertentu secara biologi yang membedakannya dengan ras-ras lain. Kedua, konsep suku bangsa yang lebih menitikberatkan pada jatidiri yang mengacu pada ciri-ciri fisik dan gaya bicara yang khas. Ketiga, konsep kebudayaan (culture) yang mengacu pada bagaimana cara memahami lingkungan yang digunakan sebagai pendorong tingkah-laku dan karya budaya.   

Bambang mengatakan bahwa ketiga konsep tersebut perlu dipahami sebagai satu-kesatuan yang utuh dalam memahami siapa itu yang disebut sebagai “orang Melayu”, meski dengan penjabaran yang berbeda-beda. Pertama, ketika berbicara Melayu secara ras, maka hal itu akan melampaui identitas suku-bangsa dan melibatkan suku-bangsa lainnya, seperti Jawa, Sunda, Minangkabau, dan Batak, karena mereka termasuk dalam kesatuan ras Melayu. Kedua, ketika berbicara Melayu secara suku-bangsa, maka hal itu akan mengarah pada pengelompokkan jatidiri Melayu yang didasarkan pada interaksi antar kelompok suku-bangsa Melayu, seperti suku-bangsa Riau, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan sebagainya. Ketiga, ketika berbicara Melayu secara kebudayaan, maka akan tampak perbedaan-perbedaan yang mencolok di antara kelompok-kelompok Melayu karena mereka hidup dalam lingkungan alam dan sosial yang memang berbeda. Pemikiran Bambang di atas penting dijadikan sebagai dasar pemahaman bahwa untuk memahami identitas Melayu, seorang peneliti perlu memahaminya secara integratif dan holistik. Tujuannya, agar tidak terjadi saling tumpang-tindih antara satu konsep dengan konsep lainnya.

Bambang kemudian menyoroti bagaimana persebaran orang Melayu secara suku bangsa. Ia menganjurkan agar seorang peneliti menggunakan pendekatan mitologi dalam memahami bagaimana kelompok suku-bangsa Melayu itu menetap dan tinggal. Pendekatan mitologi akan menggambarkan dan memetakan bagaimana persebaran orang Melayu itu terjadi, misalnya kapan mereka datang, bagaimana mereka berinteraksi, dan sampai batas-batas di mana saja suku-bangsa Melayu itu hidup berdampingan dengan suku-bangsa yang menempati wilayah di sekelilingnya.

Menurut Bambang, persebaran orang-orang terkemuka (elite) Melayu terjadi melalui bahasa yang pada gilirannya berkembang menjadi tulisan. Bahasa dan tulisan itu terekam dalam bentuk pahatan di batu prasasti. Pada sekitar abad ke-7-9 M, di Jawa dan Sumatera terdapat prasasti-prasasti yang berbahasa Melayu kuno. Prasasti-prasasti tersebut mengandung ragam informasi tentang unsur-unsur penanggalan, nama raja atau pejabat yang mengeluarkan prasasti, perintah raja atau pejabat untuk menetapkan sima, sebab-sebab penetapan sima, sistem birokrasi kerajaan, saji-sajian, upacara penetapan sima, dan penulis prasasti.

Bahasa Melayu telah digunakan sejak abad ke-7 M. Hal itu ditandai dengan adanya prasasti-prasasti Sriwijaya yang berkembang dan tersebar ke beberapa daerah di pesisir Nusantara. Proses persebaran bahasa terjadi melalui kontak dagang yang dilakukan oleh berbagai suku bangsa pada saat itu. Bahasa Melayu merupakan alat komunikasi di antara mereka. Sejak saat itu, bahasa Melayu menjadi bahasa yang umum digunakan sebagai linguafranca.  

Lebih lanjut, Bambang mengajukan tesis bahwa masyarakat Melayu adalah masyarakat “pengembara” yang cakupan pengembaraannya sangat luas, meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan sejumlah pulau lain di Nusantara. Kelebihan masyarakat Melayu adalah bahwa mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal barunya. Artinya, mereka bisa cepat menyesuaikan diri dengan wilayah atau daerah yang sedang disinggahinya. Di antara mereka ada yang menetap di pesisir, di pedalaman, dan ada pula yang menetap di tepian-tepian sungai.

Bambang juga melihat bahwa persebaran puak-puak Melayu di berbagai wilayah di Nusantara pada gilirannya menimbulkan khasanah budaya yang berbeda antar suku bangsa Melayu. Perbedaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan lingkungan secara geografis. 

2.2. Pemikiran tentang Masuknya Islam di Nusantara

Bambang Budi Utomo pernah mengemukakan tesisnya bahwa sebagian besar masyarakat Muslim di Sumatera dan Jawa pada awal mulanya adalah penganut paham Syiah. Hal itu dirunut berdasarkan sejarah masuknya Islam di Nusantara berikut ini.

Masuknya Islam di Nusantara dapat dipahami melalui sejumlah teori. Ada teori yang mengungkap fakta bahwa Islam datang dari Arab, Persia, India, bahkan juga dari Tiongkok (China). Menurut Bambang, meskipun teorinya berbeda namun ada garis lurus yang dapat disimpulkan, yaitu bahwa Islam datang ke Nusantara melalui “perantaraan” saudagar. Mereka berdagang sambil menyebarkan Islam di Nusantara. Dengan adanya hubungan antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan Timur Tengah, Persia, India, dan Tiongkok yang telah berlangsung lama, maka sulit dipastikan kapan Islam masuk di Nusantara. Yang muncul kemudian adalah beragam interpretasi tentang hal ini.

Bambang mengungkapkan fakta penting tentang masuknya Islam di Nusantara pada abad ke-10 M. Ia mendasari penelitiannya tersebut pada bukti-bukti arkeologis, yaitu berupa artefak-artefak yang ditemukan dari kapal yang tenggelam di perairan Cirebon. Isi muatan kapal adalah berupa bermacam-macam barang seperti perabotan rumah tangga dan benda-benda berharga lainnya, yang secara keseluruhan berasal dari luar Nusantara. Diduga barang-barang tersebut berasal dari Timur Tengah, India, dan Tiongkok.

Menurut catatan sejarah, berkembangnya pelayaran dan perdagangan melalui Teluk Persia dan Tiongkok pada abad ke-7 M disebabkan karena perkembangan imperium-imperium besar di ujung barat dan ujung timur benua Asia. Tercatat di ujung barat terdapat imperium Islam, yaitu Khilafah Bani Umayyah dan Khilafah Bani Abbasiyah. Di ujung timur Asia terdapat kekaisaran Tiongkok di bawah kekuasaan Dinasti T‘ang.

Perkembangan imperium Islam pada masa Khilafah Bani Umayyah juga berpengaruh di Nusantara. Salah satu bukti sejarah tersebut adalah hubungan perdagangan antara beberapa wilayah di Nusantara dengan bangsa Persia pada sekitar abad ke-7 M. Komoditi perdagangan dari Persia adalah berupa barang-barang yang terbuat dari kaca dan gelas, dikenal dengan sebutan “Persian glass”. Yang termasuk dalam kategori barang-barang ini adalah vas, karaf, piala, dan mangkuk. Sementara itu, pelabuhan Sriwijaya saat itu yang bernama Barus (Fansur) menjadi salah satu kawasan perdagangan yang sangat vital. Dinamakan Barus karena komoditi perdagangan yang dibeli oleh para pedagang Persia dan Timur Tengah adalah kapur barus, kemenyan, dan getah damar.

Menurut catatan orang-orang Tiongkok, nama Persia (sekarang lebih dikenal Iran) dikaitkan dengan nama Po-sse atau Po-ssu karena diidentifikasi sebagai orang-orang Zoroaster yang berbicara bahasa Persia atau juga sebagai orang-orang Muslim asli Iran. Bangsa Persia bersama bangsa Ta-shih atau Ta-shih K‘uo (Arab) datang di bandar-bandar sepanjang tepian Selat Malaka (pantai barat Sumatera), pantai timur Semenanjung Melayu, sampai ke pesisir Laut Cina Selatan. Diperkirakan kedatangan mereka terjadi sejak abad ke-7 M. Bangsa Persia dikenal  sebagai pedagang dan pelaut ulung.   

Kedatangan bangsa Persia menambah semaraknya kegiatan perdagangan dan pelayaran di Selat Malaka. Hubungan perdagangan di antara bangsa Arab, Persia, dan Sriwijaya ternyata juga berimbas pada hubungan politis di antara kerajaan-kerajaan ketiga bangsa ini. Sebagai contoh, Mahārāja Śrīwijaya beberapa kali mengirimkan surat melalui utusannya kepada Umar ibn ‘Abd. Al-Aziz (717-720 M).

Hubungan dagang dan politis itu ternyata juga berimbas pada proses Islamisasi di sekitar kawasan Selat Malaka. Perkembangan proses ini ditandai dengan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-13 M, dengan Malik as-Saleh sebagai Sultan I. Berdirinya kesultanan ini semakin mempererat hubungan antara suku bangsa Melayu di Sumatera dengan bangsa-bangsa Arab dan Persia.

Ada sebuah fakta penting berkaitan dengan pengaruh Persia di Sumatera. Pada pertengahan abad ke-14 M, Ibnu Batutah, seorang penjelajah dunia, pernah singgah di Samudera Pasai yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Malik al-Zahir. Menurut catatan Ibnu Batutah, Sultan Malik al-Zahir adalah penganut agama Islam yang sangat taat. Suatu ketika ia dikelilingi oleh sejumlah ulama Nusantara dan dua orang ulama terkenal asal Persia, yaitu Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraz dan Taj ad-Din dari Isfahan. Dari catatan tersebut terungkap fakta penting bahwa pengaruh ajaran Islam yang dibawa ulama-ulama Persia ke Malaka dan Samudera Pasai kian berkembang. Di antara bidang keilmuan yang berkembang pesat pada saat itu adalah ilmu tasawuf. Sultan Malik al-Zahir dikenal sangat menyukai ilmu tasawuf, seperti konsep “manusia sempurna (insan kamil)”, sebagai salah satu konsep tasawuf yang berkembang di dataran Persia (Iran).

Dengan demikian, tidak tertutup kemungkinan perkembangan tersebut juga berimbas pada level kehidupan masyarakat pada umumnya. Ada banyak pedagang atau pendatang asal Persia yang menetap di sekitar kawasan Malaka dan Semenanjung Sumatera. Diperkirakan terjadi proses interaksi dan komunikasi antara sejumlah pedagang Persia dengan masyarakat di daerah-daerah tersebut. Salah satu bentuk interaksi tersebut adalah kontak budaya antara budaya pendatang (Persia) dan budaya pribumi (masyarakat Melayu). Sehingga, dalam perkembangan selanjutnya terdapat banyak masyarakat pribumi yang menganut madzhab Syi‘ah. Sehingga, tesis yang dikemukakan Bambang Budi Utomo menjadi masuk akal dan dapat diterima secara ilmiah.  

3. Karya-Karya

Bambang Budi Utomo telah menulis banyak karya. Bahkan, hingga saat ini ia masih terbilang produktif menulis. Berikut ini adalah karya-karyanya yang dikelompokkan ke dalam karya buku, artikel dalam buku, artikel jurnal ilmiah, makalah seminar, artikel di media massa, dan hasil penelitian.

3.1. Penelitian:

  1. Penelitian Arkeologi Situs Padang Lawas, Sumatera Utara (1993-1995, 2002, 2003)
  2. Penelitian Arkeologi Situs Padangroco, Sumatera Barat (1991, 2002)
  3. Penelitian Arkeologi Situs Tanjungmedan, Sumatera Barat (2003)
  4. Penelitian Arkeologi Situs Muara Takus, Riau (1985, 1995)
  5. Penelitian Arkeologi Situs Muara Jambi, Jambi ( 1983-1984, 1986)
  6. Penelitian Arkeologi Situs Candi Teluk, Jambi (1985-1986)
  7. Program Penanggulangan Kasus Situs Candi Teluk, Jambi (1985)
  8. Studi Kelayakan Arkeologi Situs Candi Teluk, Jambi (1985)
  9. Penelitian Arkeologi Situs Koto Kandis, Jambi (1984, 1991)
  10. Penelitian Arkeologi Situs Gedungkarya, Jambi (1996)
  11. Penelitian Arkeologi Situs-situs Kerajaan Melayu (2001, 2002)
  12. Penelitian Arkeologi Situs-situs Palembang, Sumatera Selatan (1985-1990, 2007)
  13. Penelitian Arkeologi Situs Gedingsuro, Palembang, Sumatera Selatan (2001)
  14. Penelitian Arkeologi Situs Kota Kapur, Sumatera Selatan (1990)
  15. Penelitian Arkeologi Situs Air Sugihan, Sumatera Selatan (1990)
  16. Penelitian Arkeologi Situs Bumiayu, Sumatera Selatan (1991-1992, 2002)
  17. Penelitian Arkeologi Situs Lesung Batu, Sumatera Selatan (1992, 1993)
  18. Penelitian Arkeologi Situs Tingkip, Sumatera Selatan (1992)
  19. Penelitian Arkeologi Situs Pagaralam, Sumatera Selatan (1990)
  20. Penelitian Arkeologi Situs Benua Keling, Sumatera Selatan (1991)
  21. Penelitian Arkeologi Situs Candi Jepara, Sumatera Selatan (1985)
  22. Penelitian Arkeologi Situs Palas Pasemah, Lampung (1990)
  23. Penelitian Arkeologi Situs Pugung Raharjo, Lampung (1990)
  24. Penelitian Arkeologi Situs Batu Berak, Lampung (1990)
  25. Penelitian Arkeologi Situs Banten Lama, Jawa Barat (1976-1979)
  26. Penelitian Arkeologi Situs Banten Girang, Jawa Barat (1976)
  27. Penelitian Arkeologi Situs Cibuaya, Jawa Barat (1992, 1994, 1999)
  28. Penelitian Arkeologi Situs Batujaya, Jawa Barat (1992-1993, 1995-1997, 2003, 2004, 2005, 2006)
  29. Studi Kelayakan Arkeologi Situs Batujaya, Jawa Barat (2002)
  30. Penelitian Arkeologi Situs Cirata, Jawa Barat (1981)
  31. Penelitian Arkeologi Situs Pangandaran, Jawa Barat (1986-1987)
  32. Penelitian Arkeologi Situs Candi Ronggeng, Jawa Barat (1986)
  33. Penelitian Arkeologi Situs Cangkuang, Jawa Barat (2001)
  34. Program Penanggulangan Kasus Situs Batutulis, Bogor, Jawa Barat (2003)
  35. Penelitian Arkeologi Situs Pejaten, DKI Jakarta ((1975)
  36. Penelitian Arkeologi Situs Candi Puntadewa, Dieng, Jawa Tengah (1987)
  37. Penelitian Arkeologi Situs-situs di Temanggung, Jawa Tengah (1979)
  38. Penelitian Arkeologi Situs Candiretno, Jawa Tengah (1975)
  39. Penelitian Arkeologi Situs Candi Barong, Jawa Tengah (1982)
  40. Penelitian Arkeologi Situs Rembang, Jawa Tengah (1975)
  41. Penelitian Arkeologi Situs Lasem, Jawa Tengah (1975)
  42. Program Penanggulangan Kasus Situs Sumurpule, Jawa Tengah (2001)
  43. Penelitian Arkeologi Situs Pamotan, Jawa Tengah (1975, 1982)
  44. Penelitian Arkeologi Situs Candi Angin, Jawa Tengah (1985)
  45. Penelitian Etno-arkeologi di Mayong, Jawa Tengah (1985)
  46. Penelitian Arkeologi Situs Kedungombo, Jawa Tengah (1982)
  47. Penelitian Arkeologi Situs Candi Bulujowo, Jawa Timur (1981)
  48. Penelitian Arkeologi Situs-situs di Tuban, Jawa Timur (1981, 1999)
  49. Penelitian Arkeologi Situs-situs di Bojonegoro, Jawa Timur (1999-2000)
  50. Penelitian Arkeologi Situs Trowulan, Jawa Timur (1981-1982, 1988-1989)
  51. Studi Kelayakan Arkeologi III, Pemugaran Bekas Ibu Kota Majapahit di Trowulan (1983)
  52. Penelitian Arkeologi Situs-situs di Gresik, Jawa Timur (2000-2001)
  53. Penelitian Arkeologi Situs-situs di Lamongan, Jawa Timur (2002)
  54. Penelitian Arkeologi Situs Kutogirang, Jawa Timur (1992)
  55. Penelitian Arkeologi Situs Lumajang, Jawa Timur (2002)
  56. Penelitian Arkeologi Situs Gua Gajah, Bali (1978)
  57. Penelitian Arkeologi Situs Batu Pait, Kalimantan Barat (1985, 1997)
  58. Penelitian Arkeologi Situs Benua Lama, Kalimantan Barat (1997-1998)
  59. Penelitian Arkeologi Kalimantan Selatan (2004)
  60. Penelitian Arkeologi Kalimantan Timur, Malaysia, dan Brunei-Darussalam (2004)
  61. Penelitian Arkeologi Situs Kiling-kiling, Sulawesi Selatan (1996-1997)
  62. Penelitian Perkampungan Suku Kajang, Bantaeng, Sulawesi Selatan (1995)
  63. Program Penanggulangan Kasus Situs Tambora, Kab. Bima, Prov. NTB (2006)
  64. Penelitian Arkeologi Situs Tambora, Bima, NTB (2007)
  65. Penelitian Arkeologi Kota Lama Padang, Sumatera Barat (2007)
  66. Penelitian Arkeologi Situs Sabokingking, Palembang, Sumatera Selatan (2007)

3.2. Buku:

  1. Aspek Budaya Klasik Indonesia Se-Sumatera. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1994.
  2. Situs-situs Masa Klasik di Wilayah Palembang. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1994.
  3. Pertanggalan dan Arsitektur Bangunan Gedingsuro. Jakarta: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata.
  4. Awal Peradaban di Pantai Utara Jawa Barat. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
  5. Prasasti-prasasti Sumatera. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. 2007
  6. Chêng-Ho: Diplomasi Kebudayaannya di Palembang. (editor). Palembang: Dewan Kesenian Sumatera Selatan dan Pembina Iman Tauhid Islam, 2007.
  7. Zaman Klasik di Nusantara: Tumpuan Kajian di Sumatera. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. 2007.

3.3. Artikel dalam Buku:

  1. “Belajar Menata Kota dari Dapunta Hyang Sri Jayanasa”. Sriwijaya dalam Pers­pek­tif Arkeologi dan Sejarah. Palembang: Pemerintah Daerah Tk. I Provinsi Suma­tera Selatan. 1992.
  2. “Yang Tertinggal dari Sriwijaya: Seni Lakuer”. Sriwijaya dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah. Palembang: Pemerintah Daerah Tk I. Provinsi Sumatera Selatan. 1992.
  3. “Membangun Tradisi Maritim: Kadātuan Śrīwijaya”.  Draft Bab. 3 Jilid II Sejarah Indonesia (Jaman Hindu-Buddha).
  4. “Permukiman dalam Perspektif Arkeologi”, dalam Permukiman di Indonesia: Perspektif Arkeologi (eds. Rr. Triwuryani dkk.), hlm. 1-15. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
  5. “Sriwijaya”, dalam Permukiman di Indonesia: Perspektif Arkeologi (eds. Rr. Triwuryani dkk.), hlm. 137-153. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
  6. “Kepurbakalaan dan Sejarah Kalimantan Barat” dalam Kalimantan Barat dan Sumbawa dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. 2007.
  7. “Peradaban di Pulau Sumbawa Sebelum dan Setelah Meletusnya Gunung Tambora”, dalam Kalimantan Barat dan Sumbawa dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. 2007.
  8. “Indonesia, Ultimate in Diversity”, dalam Trail of Civilization: the Six Uniqueness Countries Experiences, hlm. 45-78. Jakarta: Ministry of Culture and Tourism, Republic of Indonesia, 2006.
  9. “Buddha dan Sangha di Nusantara pada Abad ke-9-13 Masehi”, dalam Archaeology Goes to Mall, hlm. 10-23. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional & Konferensi Agung Sangha Indonesia. 2007.
  10. “Koleksi Arkeologi”, dalam Archaeology Goes to Mall, hlm. 24-29. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional & Konferensi Agung Sangha Indonesia. 2007.
  11. “Pahatan Relief Maha Karmawibhangga: Apa Acuan Dasarnya?”, dalam Archaeology Goes to Mall, hlm. 32-33. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional & Konferensi Agung Sangha Indonesia. 2007.

3.4. Artikel Jurnal Ilmiah:

  1. “Manfaat Data Agraria bagi Telaah Arkeologi Pemukiman”, Amerta No. 5 Tahun 1981.
  2. “Situs-situs Arkeologi di Daerah Tepi Sungai Batanghari”, Amerta No.8 Tahun 1984.
  3. “Pemukiman Kuno di Daerah Tepi Sungai Batanghari pada Masa Melayu”, Berkala Arkeologi No.1 Th.IX/1989.
  4. “Identifikasi Nama Tempat”. Romantika Arkeologia No. 53 Thn XI/1989.
  5. “Rakay Panamkaran Dyah Sankhara Sri Sangramadhananjaya”. Amerta No. 11 Thn 1989.
  6. “Jambi: Its Role in The International Affair During the Classical Period”, Kalpataru No. 9 Thn 1990.
  7.  “Teori Garis Pantai Sumatera Timur: Pengaruhnya terhadap Penempatan Pusat Sri­wijaya”. Monu­men (Seri Penerbitan Ilmiah No 11, Edisi Khusus) Thn 1990. Jakar­ta: Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.
  8. “Catatan Perjalanan ke Situs Kota Kapur, Bangka (Sumatra Selatan) dan Prospek Pengembangan Penelitiannya”. Jurnal Arkeologi Indonesia No. 1 Thn 1992.
  9. “Garis Pantai di Daerah Jambi pada Masa Sejarah: Tinjauan Berdasarkan Bukti Geologi dan Arkeologi yang Mutakhir”. Romantika Arkeologia No. 67 Thn XIV/1992
  10. “Sistem Pertahanan Sungai di Palembang pada Masa Kesultanan”. Makalah dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi VI. Amerta No. 13 Thn. 1993.
  11. “Penelitian Arkeologi di Tapak (Situs) Percandian Tanah Abang Tahun 1991 dan 1992”. Jurnal Arkeologi Malaysia Bilangan 6, 1993.
  12. “Bangunan Candi di Hulu Sungai Rawas, Sumatera”. Jurnal Arkeologi Malaysia Bilangan 7 Thn 1994.
  13. “Kompleks Percandian Padanglawas: Sebuah Kompleks Pusat Upacara Agama Buddha Wajrayana”. Jurnal Arkeologi Malaysia Bilangan 9 Thn 1996.
  14. “Brave Enemies Killer is in West Nusantara and Malay Peninsula” Jurnal Arkeologi Siddhayatra No. 2/II/November/1997.
  15. “Masalah Sekitar Penaklukan Sriwijaya atas Bhumijawa: Tinjauan Arkeologis Ber­dasar­kan Bukti-bukti Mutakhir”. Makalah Festival Sriwijaya IX-2000, Simposium Sriwijaya antara Mitos dan Fakta. Palembang, 22 Juni 2000. Diterbitkan dalam Jurnal Arkeologi Siddhayatra Vol. 8 No. 1  Mei 2003.
  16. “Pengembangan Kawasan dan Kepariwisataan Situs Batujaya: Usaha Pelestarian dan Pemanfaatan”, dalam Jurnal Arkeologi Indonesia hlm. 113-128. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. 2005
  17. “Sambas in the History of West Borneo”, dalam Archaeology: Indonesian Perspective, hlm. 434-447, Jakarta: Indonesian Institute of Science & International Center for Prehistoric and Austronesian Studies.

3.5. Makalah Seminar dan Lain-lain:

  1. “Timbul dan Berlanjutnya Pemukiman di Daerah Kedu”, makalah dalam Seminar Sejarah Nasional III, Jakarta, 9-14 Nopember 1981.
  2. “Hasil Penelitian di Daerah Tuban”,  makalah dalam Rapat Evaluasi Hasil Pene­liti­an Ar­keologi I, Cisarua, 5-13 Maret 1982.
  3. “Situs-situs Arkeologi di Daerah Lembah Sungai Musi”, makalah dalam Pertemu­an Ilmiah Arkeologi III, Ciloto, 23-28 Mei 1983.
  4. “Konservasi Benda-benda Perunggu”, makalah dalam Rapat Evaluasi Metode Pene­li­tian Arkeologi II, Pandeglang, 6-12 Mei 1985.
  5. “Karanganyar as a Srivijayan Site: New Evidence for The Study of Settlement Pattern of the Srivijayan Period”, makalah dalam SPAFA Consultative Workshop on Archaeological and Environmental Studies on Srivijaya, September 1985.
  6. “Palembang Barat sebagai Situs Ibu Kota Sriwijaya?: Suatu Studi Perbandingan dengan Asia Tenggara Daratan”,  makalah dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, Cipanas, 3-9 Maret 1986.
  7. “Permasalahan Umum Arkeologi Jambi”,  makalah dalam Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi III, Pandeglang, Desember 1988.
  8. “Air Sugihan: Tempat Mendaratnya Pasukan Laut Dapunta Hyang?”, makalah da­lam Diskusi Panel Pemantapan Lokasi Pusat Kerajaan Sriwijaya, Palembang, 12 Juni 1989.
  9. “Manusia, Hunian, dan Pertanian: Agroekosistem yang Berkesinambungan di Dae­rah Temanggung”, makalah dalam Analisis Hasil Penelitian Arkeologi, Denpasar, 9-11 Oktober 1989.
  10. “Peranan Sriwijaya dalam Pengembangan Agama Buddha Mahayana”, makalah dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, Yogyakarta, 4-7 Juli 1989.
  11. “Sriwijaya dan Informasi Arkeologi dari Kota Palembang”, makalah Pertemuan Antar Departemen di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 4 Juni 1990.
  12. “Taman Purbakala Kadatuan Sriwijaya di Palembang”, makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, Malang, 26-30 Juli 1992.
  13. “Batanghari Riwayatmu Dulu”, makalah Seminar Sejarah Malayu Kuno, Jambi, 7-8 Desember 1992.
  14. “Suwarnadwipa Abad XIII-XIV Masehi: Penguasaan atas Sumber Emas di Hulu Batanghari (Sumatera Barat)”, makalah Seminar Evaluasi Data dan Interpretasi Baru Sejarah Indonesia Kuno, Yogyakarta, 23-24 Maret 1994
  15. “Perkembangan Kota Palembang: Gambaran Dinamika Masyarakat di Daerah Pesisir”, makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, Cipanas, Maret 1996.
  16. “Daerah Aliran Sungai Batanghari dan Kerajaan Malayu: Gambaran Aktivitas Kehi­dupan Manusia pada Masa Klasik”, makalah Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi 1996, Ujungpandang, 20-26 September 1996.
  17. “Beberapa Situs Masa Klasik di Jawa Bagian Barat”, makalah Lokakarya Peneli­tian Arkeologi Jawa Barat, Depok, 16 Desember 1998.
  18. “Padanglawas, Barus, dan Kota Cina: Sebuah Analisis Pendahuluan Kajian Wila­yah di Sumatera Utara”, makalah Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi 1998, Cipa­yung, 16-20 Februari 1998.
  19. “Pengembangan Wisata Budaya Palembang”, makalah Festival Sriwijaya IX-2000, Sim­posium Sriwijaya antara Mitos dan Fakta, Palembang, 22 Juni 2000.
  20. “Kerajaan-kerajaan Kuno di Tepi Selat Malaka: Sebuah Kajian dalam Konteks Re­gional”,  makalah Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Bedugul 14-18 Juli 2000.
  21. “Kerajaan Malayu: Sebab dan Masalah Perpindahannya ke Pedalaman Sumatera Barat”, makalah ceramah di Museum Negeri Adityawarman Padang, 22 Maret 2002.
  22. ”Pengembangan Kawasan dan Kepariwisataan Situs Batujaya: Usaha Pelestarian dan Pemanfaatan”, makalah Workshop Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Percandian Situs Batujaya, Kabupaten Karawang, di Cikampek, 15-18 April 2002.
  23. “Komunitas Tamil di Barus dan Peranannya dalam Perdagangan di Nusantara”, makalah Seminar Internasional Penemuan Benda-benda Bersejarah di Barus Raya Sejak Abad 1-17 Masehi, Jakarta, 14-15 Oktober 2002.
  24. “Teknologi Rancang Bangun Perahu/Kapal di Nusantara pada Masa Lampau”, makalah dalam Diskusi Panel Ahli II “Pembahasan Materi Tata Pamer Museum Bahari”, Jakarta, 21 Oktober 2002.
  25. “Program Pengembangan Sumberdaya Manusia pada Pusat Penelitian Arkeologi dan Balai Arkeologi”, makalah Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi 2003, Cisarua, 4-8 Agustus 2003.
  26. “Pengembangan Kawasan dan Kepariwisataan Situs Bumiayu: Perencanaan, Penelitian, Pelestarian, dan Pemanfaatan”, makalah Lokakarya Penataan dan Pengembangan Situs Bumiayu, Tanjung Enim, 14-17 Juli 2004.
  27. “Dinamika Palembang dan Kawasan Pendukungnya”, makalah dalam ceramah di Museum Negeri Balaputradewa, Palembang, 2 September 2004.
  28. “The Homeland of Śailendra Family”, makalah Seminar Trans Border Malaysia/Thailand (Seminar Thailand-Malaysia: Malay Peninsula Archaeology Programme), Nakhon Si Thammarat (Thailand) –Alor Setar (Malaysia), 4-10 September 2004. Peserta.
  29. “Manfaat Kerja Sama dalam Penelitian Arkeologi Regional”, makalah  dalam ceramah Arkeologi Nusantara di Universiti Kebangsaan, Malaysia. Kuala Lumpur, 19-20 Januari 2005.
  30. “Adaptasi Lingkungan Masyarakat Melayu di Nusantara pada Abad Ke-7-9 Masehi”, makalah Seminar Antarabangsa Kesultanan Melayu-Nusantara Sejarah dan Warisan: “Memupuk Warisan dan Tradisi Bangsa Beraja”, Kuantan (Pahang Darul Makmur, Malaysia), 8-11 Mei 2005.
  31. “Pengaruh Budaya Tionghoa yang Melekat pada Lakuer”, makalah Seminar Peringatan 600 Tahun Pelayaran Cheng Ho di Nusantara, Palembang, 18 Juni 2005.
  32. “Pandanglah Laut Sebagai Pemersatu Nusantara”, makalah Lokakarya Sehari tentang Pengawasan dan Pengendalian Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam, Jakarta, 29 November 2005.
  33. “Peradaban di Pulau Sumbawa pada Awal Abad ke-18 Masehi”, makalah Seminar “Menguak Misteri, Mengurai Sejarah Peradaban Gunung Tambora: Meng­urai Khazanah Alam dan Budaya Gunung Tambora Serta Peluang Pengembangan­nya” yang diselenggarakan oleh Federasi Mountaineering Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, di Gedung LIPI,  22 April 2006.
  34. “Tinggalan Budaya Masa Lampau di Palembang: Manfaatnya untuk Pengembangan Wisata Budaya dalam Konteks IMT-GT”, makalah dalam Lokakarya “Sebiduk di Sungai Musi: Pengelolaan Warisan Budaya di Kota Palembang”, yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi Palembang bekerja sama dengan  Harian Umum Berita Pagi, di Hotel Suwarnadwipa, Palembang, 30-31 Mei 2006.
  35. “Adakah Pengaruh Persia pada Rumah Gadang dan Menara Masjid?”, makalah Diskusi Rumah Gadang Aset Budaya Masyarakat Minangkabau, yang diselenggarakan oleh Museum Negeri Adityawarman, Padang, 2 Agustus 2006.
  36. “Kadātuan Śrīwijaya: Bentuk Awal Kota dan Negara di Nusantara”, makalah Seminar “Wawasan Kebangsaan dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia: Refleksi Sejarah Kejayaan Sriwijaya dan Melayu Riau”, yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Kepulauan Riau Asal Sumatera Selatan (IKKRA-SUMSEL), di Batam, 8 Agustus 2006.
  37. “Pandanglah Laut Sebagai Pemersatu Nusantara”, pokok-pokok pikiran yang disampaikan dalam Diskusi Panel Ahli tentang Penyusunan Konsep Dasar Pendirian Museum Maritim, yang diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Jakarta, tanggal 9 Agustus 2006.
  38. “Awal Hunian di Pulau Bangka”, makalah yang disampaikan dalam Seminar Hari Jadi Kota Toboali yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Bangka Selatan, di Toboali, 15 Agustus 2006.
  39. ”Building Harmonious Relationship through the Civilization Pathway among Nations in South East Asia”, makalah dalam “International Symposium on the Trail of Civilization”, di Yogyakarta, 28 Augustus 2006.
  40. “Ulasan tentang Penemuan Candi di Tapak Sungai Mas (Sungai Muda, Kedah, Malaysia)”, laporan sebagai konsultan pada Penelitian Arkeologi di Situs Lembah Bujang, Kedah, Malaysia, 18-22 April 2007.
  41. “Kalimantan Barat dalam Lintasan Sejarah Bahari”, makalah yang dipresentasikan dalam kegiatan “Arung Sejarah Bahari II” yang diselenggarakan oleh Direktorat Geografi Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, di Pontianak, 15-20 Juli 2007.
  42. “Kadatuan Sriwijaya dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah”, makalah dalam “Sarasehan Sriwijaya: Aspek-aspek Kehidupan Masyarakat Kerajaan Sriwijaya” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, di Palembang, 31 Juli 2007.
  43. “Pemaknaan Indonesia Raya dalam Konteks Kekinian”, makalah dalam Temu Sejarahwan II, Kontroversi Lagu Indonesia Raya, yang diselenggarakan oleh Yayasan Bung Karno dan Yayasan Bung Hatta, Jakarta, 24 Agustus 2007.

3.6. Artikel di Media Massa:

3.6.1. Kompas
  1. “Harta Karun Keramik di Perairan Tuban” (29 Pebruari 1988).
  2. “Pusat Kajian Kebudayaan Melayu: Sarana Penyelamatan Khazanah Budaya Melayu” (25 Mei 2005).
  3. “Melacca Strait Dream Merasuki Singapura” (31 Mei 2005).
  4. “Aceh dan Pendatang” (10 Juni 2005).
  5. “Candi Bumiayu yang Terancam Erosi Lematang” (25 Juni 2005).
  6. “Kearifan Lingkungan Ada di Relief Candi Borobudur” (8 Agustus 2005).
  7. “Mencari Jejak Manusia Purba di Dalam Bilik Batu” (26 Agustus 2005).
  8. “Tarian Raksasa dari Padanglawas” (23 September 2005).
  9. “Kembalikan Arca-arca Buddha Kami ...” (19 Oktober 2005).
  10. “Aku Sultan Mahmud Badaruddin II” (21 November 2005).
  11. “Kuburan Terimpit Bangunan Stupa” (28 Desember 2005).
  12. “Nenek Moyang Kita Lebih Arif dalam Menyikapi Lingkungan” (24 Desember 2005).
  13. “Berburu Harta Karun di Dasar Laut Nusantara” (8 Mei 2006).
  14. “Kalau Gunung Itu Meletus ...” (22 Mei 2006).
  15. “Lakuer: Kerajinan Khas Palembang Kurang Mendapat Perhatian Masyarakat” (16 Agustus 2006).
  16. “Peradaban yang Tergerus. Kota Tua di antara Menara Walet” (23 Agustus 2006).
  17. “Deklarasi Borobudur: Mari Bersahabat dengan Menapaki Jejak Peradaban” (27 September 2006).
  18. “Arkeologi: Kompleks Percandian Muara Jambi” (11 November 2006).
  19. “Jejak Peradaban: Batanghari dan Eksploitasi Emas” (22 November 2006).
  20. “Harta Karun: Jangan Biarkan Stempel itu Dilelang” (4 Desember 2006).
  21. “Budaya Timur Tengah: Melihat Separuh Dunia di Isfahan” (19 Mei 2007).
  22. “Melayu Raya: Nieuw Guenia, Irian Barat, Irja, Papua” (28 Agustus 2007).

3.6.2. The Jakarta Post

  1. “Palembang: Old Town with Sustainable Development” (23 Desem­ber 1994).
  2. “Anusapati Epitomizes Unwavering Dedication” (13 Oktober 1995).
  3. “Sifting through Pieces of Indonesian Maritime History” (13 Okto­ber 1996).
  4. “Tracing the Roots of the Capital‘s Flooding Problem” (9 Juni 1996).
  5. “Arid Areas Develop Own Farming System” (11 Juni 1996).
  6. “Kuto Besak Fortress Assailed by Modernization” (17 Maret 2003).

3.6.3. Suara Pembaruan

  1. “Warisan Budaya di Palembang Terancam Rusak” (20 Maret 1987).
  2. “Menebang Pohon Malam Hari Dihukum Mati” (21 Mei 1988).
  3. “Arkeologi dan Pengembangan Wisata Budaya” (8 Juli 1986).
  4. “Di Zaman Sriwijaya Kita Mengarungi Laut Hingga Negeri Cina” (23 September 1988).
  5. “Pemburu Memporak-porandakan Situs Air Suguhan” (11 No­pem­ber 1988).
  6. “Yang Dilupakan dalam Pembangunan Waduk: Peninggalan Arkeologi Harus Diin­ven­tarisasikan” (3 Februari 1989).
  7. “Pemda DKI Jakarta Belum Siap Kembangkan Wisata Budaya” (14 April 1989).
  8. “Wisata Budaya Setelah 10 Tahun Pencanangan” (24 Maret 1990).
  9. “Sejak Zaman Kompeni Praktek Pungli Selalu Berpusat di Pelabuhan” (11 April 1990).
  10. “Candu Merupakan Komoditi yang Serba Salah” (12 Mei 1990).
  11. “Hubungan Keluarga Kerajaan antara Sriwijaya dan Jawa pada Abad 8-9 Masehi” (2 September 1991).
  12. “Padanglawas, Kompleks Percandian yang Kurang Dikenal” (14 April 1993).

3.6.4. Sriwijaya Post

  1. “Pariwisata untuk Pelestarian Warisan Budaya: Modal yang Belum Terjamah” (24 Agustus 1988).
  2. “Pariwisata untuk Pelestarian Warisan Budaya: Wisata Air Mengapa Tidak?” (25 Agustus 1988).
  3. “Pariwisata untuk Pelestarian Warisan Budaya: Sadar Lingkungan Dilupakan” (26 Agustus 1988).
  4. “Dengan Teknologi Sederhana Berjaya di Lautan Nusantara” (20-21 Juni 1989).
  5. “Kambang Unglen: Sumber Pemasok Manik-manik Kaca” (2 Sep­tem­­ber 1989).
  6. “Benteng Kuto Besak dari Masa ke Masa: Benteng Terbesar di Kepulauan Hindia” (25 April 1990).
  7. “Benteng Kuto Besak dari Masa ke Masa: Perang Menteng dan Peran Sultan Mah­mud Badauddin II” (26 April 1990).
  8. “Benteng Kuto Besak dari Masa ke Masa: Pulung Keraton telah Berpindah” (28 April 1990).
  9. “Benteng Kuto Besak dari Masa ke Masa: Tangguh tapi Merana di Hari Tuanya” (29 April 1990).

3.6.5. Pelita

  1. “Pagaralam dan Misteri Rumah Batu” (18 November 1990).
  2. “Jalan Raya Batavia-Cirebon Dibangun dari Hasil Penjualan Candu”(18 No­vem­ber 1990).
  3. “Pemukiman dan Landasan Kosmologis” (18 November 1990).
  4. “Peta Perdagangan Kompeni di Indonesia” (18 November 1990).
  5. “Dari Prasejarah ke Wisata Budaya” (20 Januari 1991).
  6. “Bangunan Bersejarah di Jakarta: Sampai Kapan Aset itu Akan Selamat?” (6 Januari 1991).
  7. “Musoleum Kertanagara Pernah Disambar Petir” (20 Januari 1991).
  8. “Arca Dwarapala Singosari: Bisa Bedakan Gelap dan Terang” (17 Februari 1991).
  9. “Tahun 1293: Pasukan Cina Menyerbu Pulau Jawa” (10 Maret 1991).
  10. “Dengan Wanita Wijaya Mengecoh Tentara Cina” (10 Maret 1991).
  11. “Siasat Wijaya Menguasai Nusantara” (10 Maret 1991).

3.6.6. Lain-lain

  1. “Mahayana, Madzhab Kendaraan Besar”. Karmawibhangga, 1987. Jakarta, Bentara Budaya Jakarta.
  2. “Candi-candi Peninggalan Melayu di Muara Jambi”. Suasana No. 12 Thn 1988.
  3. “Melestarikan Warisan Budaya: Tugas Khas Pariwisata”. Suasana No. 20 Thn 1988.
  4. “Old Civilization Along The Batanghari”. Voice of Nature Vol. 69 April 1989.
  5. “Muara Jambi‘s: Ancient Ruin in Peril”. Voice of Nature Vol 69 April 1989.
  6. “Khubilai Khan Tersandung di Jawa”. Intisari Juni 1989.
  7. “Pemasyarakatan Arkeologi untuk Pengamanan Situs: Sebuah Uji-Coba di Palem­bang”. Warta IAAI No. 1 Thn 1990.
  8. “Junk-junk Cina: Naga Penguasa Lautan”. Warta IAAI No. 2 Thn 1990.
  9. “Archaeological Artifacts of The Malay Kingdom in East Sumatera”. Voice of Nature Vol. 88 December 1990.
  10. “If only Indonesian‘s Underwater Treasure are Taken Care Property”, The Point, Monday, 20 November 2006.
  11. “Evidence of Islam‘s Entry into RI to be Auctioned”, The Point, Tuesday, 2 January 2007.

4. Penghargaan

Masih dalam proses pengumpulan data

(HS/pnl/42/04-08)

Sumber

  1. “Bambang Budi Utomo”, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Pengguna:Bambang_Budi_Utomo, diakses tanggal 10 Maret 2008.
  2. Utomo, Bambang Budi. “Adaptasi Lingkungan Masyarakat Melayu di Nusantara pada Abad Ke-7-9 Masehi”, makalah dalam Seminar Antarbangsa Kesultanan Melayu Nusantara: Sejarah dan Warisan, 8-11 Mei 2005, Kuantang Pahang Darul Makmur, Malaysia.
  3. ---, “Islam di Nusantara pada Kurun Abad Ke-10 Masehi Sebagaimana Tercermin dalam Tinggalan Budaya”, dalam http://article.melayuonline.com/?a=RlBQL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=, diakses tanggal 3 Maret 2008.
Dibaca : 11.032 kali.