<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Berita MelayuOnline.com</title>
<link>http://melayuonline.com/ind/news</link>
<description>Menyajikan berita-berita terhangat dan terkini seputar melayu dan kemelayuannya se-dunia (www.melayuonline.com)</description>
<docs>http://infokorupsi.com/rss/rss_berita</docs>

	<item>
		<title> Bertadarus Puisi untuk Hargai Seni</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12103</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c8741c74c8a3.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Surabaya, Jatim – Dengan suara  lantang, Surat Al Maun dibacakan. Salah satu surat dalam Al Quran yang membicarakan  beberapa sifat manusia yang dipandang sebagai mendustakan agama dan ancaman  terhadap orang-orang yang melakukan salat dengan lalai dan riya ini dibacakan  dengan tegas Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf. Mengenakan kaos berkerah  warna hitam kombinasi abu-abu, Gus Ipul-panggilan akrabnya seakan mengingatkan  kembali makna beragama yang tidak hanya beribadah kepada Tuhan tetapi juga&amp;nbsp; memberikan perhatian yang mendalam terhadap  orang-orang lemah, yaitu mereka yang miskin dan tertindas.    Surat  Al Maun itu dibacakan Gus Ipul di acara Tadarus Puisi yang diadakan Arek TV di  Kompleks Rich Palace, Sabtu (4/9) malam. Dengan nada bercanda, Wakil Gubernur  yang dikenal humoris ini mengatakan dia sedikit menyesal menghadiri acara  semalam. ”Kalau tahu bakalan disuruh membacakan puisi, aku mending gak teko  rek. Gak iso moco puisi aku. Tapi karena bertepatan dengan Ramadan, saya ambil surat dalam Al Quran ini  saja untuk mengingatkan kita kembali,” ujarnya.&amp;nbsp;      Tidak  hanya Gus Ipul yang malam itu ‘’dipaksa’’ berpuisi. Wakil Ketua DPRD Jatim,  Sirmadji pun tidak ketinggalan. Dengan gayanya, ia membacakan puisi yang  berasal dari surat TKW asal Jatim yang saat ini  bekerja di Hong Kong. Surat yang dipuisikan tersebut berisi  permohonan maaf seorang ibu kepada anaknya karena Lebaran kali ini tidak bisa  pulang dan tidak bisa memberikan apa-apa untuk anaknya.    Surat  berjudul ‘Maaf Hari Raya Ini Mama Tidak Bisa Kirim Apa-apa’ ini dikirimkan  Karmi untuk putrinya Katrin. Mendengar puisi ini dibacakan, kita seakan  diingatkan kembali betapa kasih sayang ibu kepada putrinya. Nampak jelas  kerinduan dan pengharapan-pengharapan seorang ibu kepada putrinya terangkai  melalui kata-kata &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12103&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Tarian dan Musik Islami Pererat Hubungan RI - Mesir</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12102</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c87413e0d37e.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Kairo,  Mesir - Masyarakat kota Kairo, Alexandria dan Damanhur Mesir menikmati beragam tampilan  musik dan tarian Indonesia  yang bernafaskan keislaman.    Kegiatan  ini adalah promosi tahunan budaya Indonesia di Mesir dalam tema &quot;Ramadhan  Lifestyle in Indonesia&quot;  oleh KBRI Kairo sejak 2004. Acara pertunjukan dilakukan di Cairo Opera House  (27/8), Alexandria Opera House (28/8) dan Damanhur Opera House (29/8).    Ragam  tampilan tersebut dipersembahkan tim Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berjumlah 34 yang dipimpin langsung oleh  Rektor ISI, Prof. Dr. Soeprapto Soedjono.    Mereka  menampilkan musik angklung, talimpong dan gamelan bambu khas Bali  serta berbagai tarian daerah yang ditampilkan dengan kareografi baru seperti  tari Zapin, Jamus (Jawa Muslim) dan tari Cak Janger (gabungan antara tari Kecak  dan Janger).    Duta  Besar RI di Kairo, A.M. Fachir, dalam pidato pembukaannya menyampaikan  penampilan ini menampilkan keragaman yang mencerminkan wajah Islam di Indonesia  yang moderat dan menghargai pluralitas. Pergelaran ini juga menyampaikan kepada  masyarakat Mesir akan berbagai kesamaan yang dimiliki kedua bangsa, yang dapat  membangun ikatan emosional dan kerja sama yang baik antara keduanya.    Dubes  juga menyampaikan Ramadhan tahun ini terasa lebih spesial bagi Indonesia  karena bertepatan dengan perayaan HUT ke 65 RI. Proklamasi Indonesia pada 17 Agustus 1945 juga  bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Bagi yang merayakannya di Mesir, hal ini  juga terasa semakin istimewa meningat Mesir merupakan negara pertama yang  mengakui kemerdekaan Indonesia.    Dengan  panduan dari pembawa acara yang mahir berbahasa Arab amiyah (bahasa Arab  setempat), acara juga &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12102&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Semarak Lebaran, Makan Ketupat 15 Ribu Buah</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12101</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c8740035f1e4.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Singkawang, Kalbar - Komunitas  Mahasiswa Kota Singkawang Yogyakarta menggelar makan ketupat sebanyak 15 ribu  buah. Saat ini, semuanya sedang dipersiapkan. Sejumlah pengayam ketupat sudah  diperintahkan untuk membuat ketupat tersebut.     “Sebanyak  15 ribu ketupat itu akan dimakan secara bersama-sama secara gratis. Ketupat ini  makan bersama lauknya,” kata Ketua Panitia Pelaksana yang juga Ketua Komasi  Yogyakarta, Eka Juniawan, kepada Pontianak Post, kemarin.     Makan  ketupat tersebut akan dilaksanakan 18-19 Spetember 2010 dipusatkan di halaman  mess daerah Singkawang. “Ide awalnya sejak awal tahun lalu. Lalu kita  komunikasikan dengan sejumlah tokoh di Singkawang dan direspon dengan baik,  akhirnya diwujudkanlah seperti ini,” katanya.    Dia  mengatakan, targetnya adalah pemecahan rekor MURI makan ketupat terbanyak.  Dijelaskan, antara makan ketupat asli dengan ketupat terbesar yang dipajang di  mess daerah sangatlah berbeda.     “Kalau  itu hanya berbentuk ketupat. Sementara kita benar-benar asli ketupat dan kita  makan bareng,” katanya. Makan bareng tersebut, bentuk silaturahmi dalam bulan  Syawal.     “Selain  itu, kita juga akan mengundang seluruh kesultanan di Kalbar ini,” ujarnya  mahasiswa magister UGM ini. Gawe ini, adalah melengkapi khasanah budaya Melayu  yang selama ini nyaris tak terdengar lagi di Kota Singkawang.     “Acara  ini kita sebut tumpahan sallok. Kita berharap, tumpahan salok tersebut sukses,”  katanya. Kata Eka, elemen masyarakat memberikan respon positif termasuk MABM  (Majelis Adat Budaya Melayu) dan elemen lainnya.    Ketua  panitia pengarah, Aan memberikan penjelasan, samprahan dalam budaya Melayu  nyaris luntur dan makan bersama-sama ketupat merupakan budaya &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12101&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Festival Beduk, Penonton Pun Dapat Hadiah</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12100</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c873f6fc30a8.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Martapura, Kalsel -  Festival Beduk se-Kalsel 2010 di halaman Pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS)  Martapura, Kabupaten Banjar, Kamis malam (9/9/2010) besok, mendapat perhatian  tersendiri dari Bupati Banjar Pangeran Khairul Saleh.    Bahkan  secara khusus dia mengajak warga bersama-sama menyaksikan event berhadiah Rp  16,5 juta tersebut, sekaligus merayakan malam kemenangan Idulfitri 1431 H.    &quot;Sesuai  budaya masyarakat di daerah kita yang religius, ayo kita isi malam takbiran  dengan menyaksikan festival beduk. Insya Allah meriah dan barokah,&quot; kata  bupati bersemangat.    Untuk  diketahui, ada enam finalis yang lolos dari babak penyisihan yang diikuti 19  tim peserta dari Banjarbaru dan Kabupaten Banjar di lapangan basket Hirang  Putih Martapura, 28 Agustus lalu. Mereka adalah Asyyuban, Tarbiatul Aulad,  Jamaatus Sabil, Irhamma, Darul Mustafa dan Darul Aman Almujtahid.&amp;nbsp;&amp;nbsp;     Kemarin  semua persiapan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan dilakukan pihak Disbudpar  Banjar. Sepuluh beduk berukuran besar ditata rapi di teras gedung Disbudpar  Banjar. Sedangkan satu beduk yang disebut Gajah, ditaruh di halaman.  Selanjutnya tinggal mengangkutnya ke tempat pelaksanaan festival di taman CBS.    Menurut  Kadisbudpar Banjar Drs Syahda Mariadi MSi, ke-11 beduk tersebut dipersiapkan  untuk tim finalis penabuh beduk. &quot;Jumlahnya sesuai personel satu grup  finalis, yakni 10 atau 11 penabuh beduk dan tiga sampai lima pembaca takbir,&quot; kata Syahda.    Syahda  menambahkan, tak hanya juara yang bakal mendapat piala dan hadiah uang,  masyarakat atau penonton pun berkesempatan mendapatkan doorprize dari  Banjarmasin Post Group selaku pendukung utama acara.    &quot;Syaratnya,  masyarakat &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12100&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Tarian Kreasi Baru Indonesia Tampil di Festival Brisbane</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12099</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c873ef831834.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Jakarta - Dua karya tari  kreasi baru, yang menonjolkan penggabungan seni tradisional dan modern,  ditampilkan di Brisbane Powerhouse Theatre sebagai bagian dari Festival  Brisbane, 7 hingga 12 September 2010.    Sumber  resmi di Kedutaan Besar Australia di Jakarta menyebutkan karya tari kreasi baru  ini kontemporer dan asli dengan dasar seni tari Minangkabau. Penata tari yang  mengisahkan keunikan Indonesia  ini adalah Ery Mefri --dari Kelompok Tari Nan Jombang-- dan Hartati.    Dua  tarian tersebut berjudul Sang Hawa dan Rantau Berbisik. Sang Hawa menceritakan  perenungan wanita pertama dalam kisah penciptaan. Kisah yang diangkat mengimani  secara bersama semua unsur keberagaman agama. Sedangkan Rantau Berbisik terinspirasi  tradisi lama pria Minang yang merantau ke berbagai pulau untuk mencari rezeki.     Kelompok  Tari Nan Jombang melakukan pentas di luar negeri untuk pertama kalinya di  Brisbane Powerhouse pada 2007. Sejak itu, berlanjut ke berbagai pentas di Australia,  Filipina dan Jepang.&amp;nbsp; Selama kunjungan ke  Australia  kali ini, Nan Jombang juga akan berpentas dan memberikan kursus tari di  Festival Darwin serta tampil di Festival OzAsia di Adelaide.    Sedangkan  Hartati kerap pentasnya mengeksplorasi keindahan dan bahasa tubuh wanita.  Hartati telah berpentas dan mempersembahkan karyanya secara luas di Indonesia  dan telah bekerja sama sebagai penata tari dengan artis dari segala penjuru  dunia.    Pentas  kelompok tari kontemporer Indonesia di Brisbane Powerhouse didanai oleh  Pemerintah Australia  melalui Lembaga Australia-Indonesia.&amp;nbsp;  Informasi lebih lanjut tentang program Lembaga Australia-Indonesia untuk  mendukung kerja sama dan kolaborasi bilateral dalam bidang seni dan budaya  tersedia di http://www.dfat.gov.au/aii.     &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12099&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Pelajar lombok ke Australia Berbagi Budaya Sasak</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12098</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c873e3d15bc7.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Jakarta - Sembilan  pelajar dan dua guru dari SMP dan SMA Kesuma Mataram, Nusa Tenggara Barat,  melakukan kunjungan selama 12 hari ke Victor Harbour High School, di luar kota  Adelaide, Australia. Mereka berbagi tentang budaya Sasak sebagai bagian dari  program pertukaran pelajar dan guru BRIDGE.    Kepala  Sekolah SMA Kesuma Mataram Vincentius Utomo, melalui siaran pers Kedubes  Australia, di Jakarta, Selasa (7/9), mengatakan kemitraan ini juga sebagai  kesempatan untuk belajar tentang praktik pengajaran di Australia dan kemudian  menyesuaikan bagian-bagian yang relevan dengan kurikulum Indonesia.    Sedangkan  rombongan dipimpin oleh Johanes Budi Walujo. Mereka terlibat dalam berbagai  kegiatan kebudayaan, seperti pementasan tari dan lagu tradisional Sasak, tari  modern dan pameran kerajinan setempat. Kunjungan ini dibangun di atas  pertukaran kemitraan sekolah yang dibentuk di bawah program BRIDGE Pemerintah Australia.    Vincentius  mengatakan dukungan orangtua terhadap program BRIDGE juga kuat.&amp;nbsp; Menurut mereka, BRIDGE telah meningkatkan  metodologi pengajaran di sekolah yang menjadikan para pelajar lebih bersemangat  dalam belajar.    Proyek BRIDGE  dimulai pada 2008 dan diselenggarakan oleh Lembaga Australia-Indonesia  dalam kemitraan dengan Asia Education Foundation. Dukungan dana telah diberikan  oleh Myer Foundation dan program bantuan Australia. Sejak itu, 91 guru dari  47 sekolah Indonesia di tujuh provinsi telah berkunjung ke Australia sebagai  upaya untuk membangun hubungan antar sekolah di kedua negara.    Sekolah-sekolah Indonesia  yang ambil bagian dalam program&amp;nbsp; ini  terdapat di Jakarta, Sumatera Selatan, Bali, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat  dan Kalimantan Barat. Termasuk beberapa sekolah yang menerima bantuan proyek &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12098&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Ribuan Lampu Colok Terangi Pulau Karimun Besar</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12097</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c873ded29faf.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Karimun,  Kepri - Lebih dari seribu lampu colok berbahan kaleng bekas  dengan bahan bakar minyak tanah menerangi sejumlah pemukiman penduduk di Pulau  Karimun Besar, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu malam.    Cahaya  kemerahan dari api lampu colok menimbulkan suasana semarak beberapa jalan dan  pemukiman penduduk di tiga kecamatan, Tanjung Balai Karimun, Meral dan Tebing  di Pulau Karimun Besar.    Setiap  pemukiman penduduk terdapat ratusan lampu colok berjejer bergelantungan pada  seutas kawat ditopang tiang kayu di kiri kanan jalan. Keindahan festival  semakin terasa dengan bermunculannya gapura lampu colok yang didirikan warga  sejak H-10 Lebaran. Gapura-gapura tersebut dibuat dengan menggunakan kawat dan  kayu-kayu penyangga membentuk miniatur mesjid atau kubah mesjid.    Warga  banyak yang berkeliling kota  dengan kendaraan roda dua maupun empat guna menikmati indahnya festival lampu  colok yang digelar setiap bulan Puasa. Kawasan pemukiman Parit Benut, Kelurahan  Sei Raya, Desa Pangke dan Pasir Panjang Meral merupakan kawasan paling semarak  dengan lampu colok yang berjejer sepanjang dua kilometer.    Kondisi  sama juga terlihat di kawasan Batu Lipai, Bukit Senang, Teluk Air di Tanjung  Balai Karimun dan kawasan Sei Ayam, Kampung Harapan, perumahan Griya Praja  Karimun, Desa Pangke dan Pongkar Tebing.    “Pemasangan  lampu colok sudah menjadi tradisi tahunan menyambut malam tujuh likur (malam 27  Ramadhan),” kata Samsul, warga Tanjung Balai Karimun.    Warga,  kata dia, bergotong royong membuat lampu colok dengan memanfaatkan  kaleng-kaleng bekas yang kemudian diberi sumbu.    “Bahan  bakar minyak tanah diperoleh dari dana &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12097&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Festival Lampu Colok Pekanbaru Perebutkan Uang Tuna</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12096</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c873c8fb5e3f.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Pekanbaru,  Riau - Festival lampu colok yang akan digelar mulai Minggu,  tanggal 5 sampai Selasa, 7 September dan diikuti oleh 12 Kecamatan di Pekanbaru  memperebutkan uang tunai hingga Rp9 juta.    &quot;Untuk  festival lampu colok tahun ini Pemko telah menyediakan hadiah uang tunai Rp4  juta bagi pemenang pertama, Rp3 juta untuk pemenang kedua dan Rp2 juta untuk  pemenang ketiga,&quot; ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Dastrayani,  kepada ANTARA News di Pekanbaru, Minggu.    Lampu  colok adalah semacam lentera berbahan bakar minyak tanah, berwadahkan kaleng  atau botol bekas dan bersumbukan tali tambang.    Dia  mengatakan festival lampu colok kali ini berbeda dengan tahun lalu, karena  tahun ini Pemko telah menyebar undangan 1.000 lembar yang penyebaran  undangannya dilakukan hingga ke tingkat RT.    &quot;Diharapkan  yang hadir kali ini mencapai 1.000 orang, lebih banyak dari tahun lalu,&quot;  ungkapnya.    Menurut  dia, guna memeriahkan festival lampu colok ini, 12 Kecamatan diwajibkan menampilkan  lampu colok terbaiknya. Agar lebih semarak Walikota juga mengimbau masyarakat  yang hadir saat acara festival lampu colok menggunakan pakaian melayu.    &quot;Selama  3 malam festival lampu colok panitia akan memberi penilaian langsung dengan  turun ke Kecamatan masing-masing secara serentak pada tanggal 27  Ramadhan,&quot; urainya.    Dia  juga menambahkan guna menyemarakkan festival ini Pemko juga memberikan dana  bantuan biaya pelaksanaan festival lampu colok berupa uang tunai Rp2,5 juta  ditambah 200 liter minyak tanah ke masing-masing Kecamatan.     &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12096&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Tradisi Malam Laila di Banggai</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12095</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c85eed3aa801.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Luwuk, Sulteng -  Ribuan lampu minyak tanah dinyalakan masyarakat etnis Banggai, Balantak dan  Saluan&amp;nbsp; sebagai tradisi menyambut malam  Laila (malam Lailatulqadar).    Malam  Laila dilaksanakan tiap 27 Ramadhan dengan menyalakan lampu botol atau bambu di  halaman rumah warga.    Warga  etnis Babasal yang mendiamai Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan (Bangkep)  Sulawesi Tengah telah turun temurun melaksanakan tradisi malam Laila seperti.    &quot;Ini  sudah tradisi masyarakat di sini untuk menyambut turunnya malam Lailatulqadar  dengan menyalakan lampu di halaman rumah masing-masing,&quot; kata Imam Masjid  Anggung An Nur Banggai Luthfie Yusuf di Luwuk, Minggu malam.    Ia  mengatakan tradisi malam Laila terpeliharan dengan baik di Banggai.    &quot;Kita  tidak mengetahui kapan dimulainya tradisi ini, tapi lampu Laila telah  mengakar,&quot; kata Lutfie.    Lampu  Laila dinyalakan setelah berbuka puasa hingga pagi sebelum salat subuh. Tradisi  lampu Laila ini berlangsung sejak malam ke 27 Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan  ditandai pawai takbir.    Tiap  rumah menyalakan lampu botol sedikitnya tiga buah. Masyarakat meyakini jumlah  lampu yang dinyalakan mempengaruhi turunnya malam seribu bulan.    Untuk  menyalakan lampu Laila memiliki syarat tersendiri yakni harus orang dewasa,  mengambil air wudhu dan membaca surah ke 97 kitab Al Quran Al Qadr tiga kali.  Surah Al Qadr menceritakan tentang turunnya kitab Al Quran dan turunnya malam  seribu bulan.     &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12095&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

	<item>
		<title> Pagelaran Wayang Tutup Festival Indonesia di Ceko</title>
		<link>http://melayuonline.com/ind/news/read/12094</link>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:24:18 +0700</pubDate>
		<description>&lt;img src=&quot;http://melayuonline.com/pict/tp4c85ed4c1b6a9.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;    Jakarta -  Pagelaran Wayang Golek Ajen yang dimainkan dalang Wawan Gunawan dari Jawa Barat  menjadi penutup acara Festival Indonesia 2010 yang digelar Kedutaan Besar  Republik Indonesia (KBRI) Praha di Kota Plzen, Ceko.    Kuasa  Usaha Ad Interim/Counsellor Penerangan, Sosial, Kebudayaan dan Pariwisata  (Pensosbudpar) KBRI Praha, Azis Nurwahyudi, dalam siaran pers yang diterima  ANTARA News, Minggu, menyebutkan, Wayang Golek Ajen yang dimainkan dalang Wawan  Gunawan menampilkan cerita Rama-Shinta itu mampu menarik perhatian para  pengunjung.    Dalam  acara penutupan pagelaran yang dihadiri masyarakat dan Wakil Wali Kota Plzen,  Marcela Krejsova, juga ditampilkan lagu dari Ceko, Vcelka Maja, yang  dinyanyikan dengan irama gamelan, membuat penonton ikut menyanyi dan menari di  panggung.    Festival  Indonesia 2010 yang berlangsung sejak 28 Juli merupakan kerja sama KBRI Praha  dengan pemerintah Kota Plzen dengan menampilkan tari tradisional, pameran kain  tradisional, pameran produk unggulan, pemutaran film, dan ceramah tentang  budaya Mingakabau, Sumatra.    Penampilan  selama 30 menit ini dibumbui dengan adegan lucu ketika Cepot tampil dengan  mengucapkan beberapa patah kata berbahasa Ceko dan direspons para penonton  dengan tepuk tangan meriah.    Selain  wayang juga ditampilkan tari Merak, Mojang Priangan dan Topeng Klono oleh tim  kesenian dari Jawa Barat yang dipimpin oleh Dr. Tetet Cahyati.    Tim  Kesenian Jawa Barat secara khusus diundang KBRI Praha dan Asosiasi Folklore  Ceko untuk berpartisipasi pada acara folklore di beberapa daerah.    Selain  tampil di Plzen  untuk menutup Festival Indonesia 2010, tim kesenian ini juga tampil di &lt;a href=&quot;http://melayuonline.com/ind/news/read/12094&quot;&gt;Selengkapnya &lt;/a&gt;</description>
</item>

<atom:link href="http://infokorupsi.com/rss/rss_berita" rel="self" type="application/rss+xml" /></channel></rss>