Wednesday, 10 June 2026 |Wednesday, 24 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 3.489
aujourd hui
:
39.620
Hier
:
25.426
La semaine dernière,
:
227.151
Le mois dernier
:
9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
16 februari 2010 02:00
Masyarakat Sejarawan: Sejarah Belum Dilhat Sebagai Pengetahuan
Medan, Sumut - Sejarah dinilai belum dilihat sebagai sebuah pengetahuan dan pelajaran untuk memahami masa lampau demi menata kehidupan bangsa di masa yang akan datang untuk lebih baik dan berkembang.
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumut, Dra Ratna MS, di Medan, Senin, mengatakan, secara struktur hal ini terjadi karena sejarah dan pelajaran sejarah pada pendidikan formal dianggap sebagai pelengkap mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial.
Secara kultural, masyarakat yang masih gemar dengan budaya lisan mencoba mengembangkan budaya tulis menulis.
Dampaknya, praktik ini adalah berbagai program pengembangan dan pembangunan terkesan memusuhi masa lampau sehingga menimbulkan masalah baru dari pada memecahkan masalah yang ada.
"Oleh karena itulah MSI sebagai organisasi profesi sejarawan mencoba dan mengembangkan program penyadaran sejarah bagi masyarakat dengan mengadopsi perkembangan jaman dalam visi dan misi penyadaran," katanya.
Staf pengajar di Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) ini, menyatakan MSI Cabang Sumut didirikan pada tahun 1995 sebagai wadah komunikasi para sejarawan indonesia.
MSI memiliki misi pengembangan studi sejarah kritis yang berwawasan Indonesia sentris.
Hal itu dapat dilakukan dengan pengembangan sarana dan prasarana dokumentasi sejarah, penerbitan dan penyebarluasan hasil dan kegiatan penelitian. Lalu membangun jejaring dengan berbagai pihak dalam rangka membangun dan memelihara kesadaran sejarah masyarakat.
Menurut dia, dalam perkembangannya, MSI menemukan banyak kegiatan organisasi bersifat elitis, namun tidak berimplikasi luas bagi masyarakat.
Disamping itu terjadi pula ironi, yakni perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang semakin panjang malah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang ahistoris.
"Hal ini harus segera disikapi, jika tidak generasi mendatang tidak akan tahu lagi sejarah bangsanya. Padahal bapak negara bangsa ini, Sukarno mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya," katanya.