Tuesday, 9 June 2026   |   Tuesday, 23 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 5.720
Hier : 25.426
La semaine dernière, : 227.151
Le mois dernier : 9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

07 april 2010 05:42

Rekacipta dan Reorientasi Budaya Banjar

Rekacipta dan Reorientasi Budaya Banjar
Para peserta Kongres Kebudayaan Banjar II.

Banjarmasin, MelayuOnline.ComKegiatan Kongres Budaya Banjar II kemarin (05/04/2010) memasuki tahap diskusi budaya. Dalam diskusi ini, isu-isu tentang rekacipta dan reorientasi budaya Banjar mulai muncul ke permukaan dan membuka perspektif baru bagi para peserta Kongres.

Diskusi tahap pertama ini berlangsung di Convention Hall Hotel Banjarmasin International dan terbagi menjadi dua sesi. Kedua sesi tersebut dibuka dengan pemaparan sebuah makalah berjudul “Dinamika Budaya Lokal dalam Globalisasi” yang disajikan oleh keynote speaker, Prof. Yasmine Zaki Shahab dari Pusat Kajian Melayu Universitas Indonesia, Jakarta.

Dalam pemaparannya, Prof. Yasmine menjelaskan tentang proses identifikasi, revitalisasi dan rekacipta budaya. Ahli budaya Melayu Betawi tersebut memberikan contoh berlangsungnya proses-proses tersebut dengan mengungkapkan tentang dinamika budaya yang terjadi dalam budaya Melayu Betawi.

“Betawi adalah salah satu contoh budaya lokal yang sukses dalam dinamika yang dialaminya,” ungkap Prof. Yasmine.

Pada dekade 70-an, lanjut Prof. Yasmine, Betawi mengalami keterpurukan identitas yang membuat sebagian warga Betawi merasa malu untuk mengakui kebudayaan mereka. Namun, sinergitas antara komunitas Betawi, birokrasi, dan kreativitas wujud kesenian Betawi mampu membalik itu semua. Melalui proses tersebut, budaya Betawi bisa dikatakan “mengalami rekacipta budaya yang positif”.

Rekacipta tersebut berjalan positif karena proses budaya Betawi mampu mengidentifikasi nilai-nilai kebetawiannya dan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai basis untuk mengarahkan budaya Betawi sehingga menjadi budaya yang dibanggakan oleh penghuninya sendiri.

“Tidak ada yang salah dengan pengarahan budaya saat budaya tersebut ternyata bisa berkembang lebih baik,” papar Prof. Yasmine. Pengarahan budaya tersebut, menurut Prof. Yasmine, menjadi sesuatu yang otomatis terjadi karena tanpa diubah, budaya pasti akan mengalami perubahan melalui inovasi dan difusi yang terjadi dalam konstelasi budaya.

 

Prof. Yasmine Zaki Shahab.

“Upaya pencegahan ketersingkiran suatu budaya telah dilakukan sejak 200 tahun yang lalu. Dan itu terjadi secara universal, dalam arti dialami oleh semua budaya dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Hal itu juga yang saat ini sedang terjadi dalam budaya Banjar dan menjadi inti dari penyelenggaraan kongres ini,” jelas Prof. Yasmin.

Toh, lanjutnya, proses pengarahan dan rekacipta kebudayaan tidak bertentangan dengan kebijakan nasionalisme dan multikulturalisme.

Identifikasi, Reorientasi, dan Rekacipta

Lalu, apakah rekacipta tersebut yang saat ini memang dibutuhkan oleh budaya Banjar? Topik inilah yang akhirnya muncul dan menjadi pembahasan dalam sesi pertama. Sesi pertama ini diisi oleh empat orang pembicara yang kesemuanya memiliki genealogi dengan budaya Banjar.

Para pembicara tersebut adalah Prof. Dr. H. Mahdini, M.A dari Riau, Dr. Faruk Tripoli dari UGM, Yogyakarta, Ahmad Lutfi dari Ikatan Keluarga Papadaan (IKP) Jambi, dan Dr. Mujiburrahman dari Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin.

 Dari kiri ke kanan: Ahmad Lutfi, Dr. Faruk Tripoli, Dr. Mujiburrahman, Rifkynizami K, S.H.LLM (moderator), dan Prof. Dr. H. Mahdini, M.A.

Keempat pembicara tersebut berusaha memberikan ulasan tentang identitas budaya Banjar, baik yang saat ini masih ada maupun yang sudah lekang termakan zaman. Prof. Mahdini, dengan kapasitasnya sebagai birokrat MUI Riau, menyampaikan ulasan mengenai pola dan perilaku masyarakat Banjar yang saat ini mulai bergeser ke arah yang hedonistik dan materialistik.

“Pergeseran budaya ini terjadi akibat ketimakmampuan orang Banjar dalam mempertahankan nilai-bilai budaya yang dianutnya selama ini,” ungkap Prof. Mahdini.

Hampir serupa dengan Prof. Mahdini, Ahmad Lufti dari IKP Jambi juga mempersoalkan pergeseran nilai-nilai budaya ini. Lutfi mengungkapkan bahwa pergeseran tersebut terjadi karena mulai tercerabutnya unsur Islam dalam keseharian budaya orang-orang Banjar.

Kondisi ini semakin diperparah dengan dampak negatif dari teknologi informasi seperti televisi, internet, dan sarana komunikasi seluler. “Akses menuju teknologi informasi saat ini semakin sulit diblokade,” jelas Lutfi.

Pemaparan berbeda dalam sesi pertama ini disampaikan oleh Dr. Faruk Tripoli. Dengan kritis, Dr. Faruk berani membedah kebiasaan-kebiasaan dan tradisi budaya Banjar yang selama ini sudah di-iya-kan secara kultural namun membuat urang banua (orang Banjar) terbuai dalam mimpi. Dengan mencontohkan kasus Lihan yang muncul pada tahun 2009 lalu, Dr. Faruk menyampaikan bahwa peng-iya-an atas tradisi tersebut membuat orang Banjar alpa akan realitas.

“Orang banjar memang melek huruf, tepatnya melek huruf Arab atau Jawi, tapi huruf dalam konteks masyarakat Banjar lebih berfungsi sebagai kekuatan magis daripada teknologi informasi. Huruf Arab berubah menjadi rajah dan jimat, Quran dibaca tanpa dimengerti maksudnya, kata tertulis yang suci itu dijunjung tinggo-tinggo, ditempatkan di tempat yang tinggi sehingga membuatnya bukannya menjadi panduan hidup melainkan justru menjauh dari kehidupan. Maka, tidaklah heran jika orang Banjar yang misalnya masih keturunan Dayak tidak mampu dan kemudian mau mengingat asal-muasalnya lagi,” ungkap Dr. Faruk.

Tradisi-tradisi tersebut, menurut doktor yang mengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM ini, adalah cerminan dari budaya lisan yang mendominasi kehidupan orang banjar. “Karena bahasa lisan akan menguap, maka orang Banjar memiliki ketidakmampuan untuk mendokumentasikan apa yang ada dan terjadi dalam dinamika budayanya,” tambah Dr. Faruk. Oleh karena itu, dengan dominasi bahasa lisan tersebut, orang Banjar sukar untuk mengatur sebuah komunitas besar.

Islam, menurut Dr. Faruk, memang menghantarkan orang Banjar ke dalam pengalaman, pengetahuan, dan tata kehidupan yang jauh di sana, di Arab sana, hidup dengan penuh cerita mengenai nabi-nabi dan pahlawan-pahlawan Islam. Karena itu, dapat dimaklumi, betapa gemarnya orang Banjar naik haji berkali-kali.

Tradisi lisan tersebut, jika tidak lekas disadari, akan membuat Banjar mengalami berbagai betuk pergeseran, salah satunya seperti yang disampaikan oleh Prof. Mahdini dan Ahmad Lutfi.

Sementara itu, Dr. Mujiburrahman juga memaparkan peran serta tokoh-tokoh Banjar dalam perkembangan budaya Banjar. Dengan paparan yang bersifat sosiologis dan historis, pengajar di Pascasarjana IAIN Antasari ini mengungkapkan bahwa ketokohan masih menjadi magnet utama perkembangan budaya Banjar. Tokoh-tokoh tersebut memiliki peran dan wilayah tertentu sesuai dengan keahliannya masing-masing dan menurut Dr. Mujiburrahman, ketokohan itu mampu menjelaskan perkembangan identitas budaya Banjar.

“Tidak mengherankan jika tokoh Banjar seperti Idham Khalid dan Johan Efendi baru menasional di dekade 40-an karena memang saat itu bidang pendidikan di Banjar sudah membuka pintu bagi pendidikan umum yang meskipun bercorak Barat tapi penting,” jelas Dr. Mujiburrahman.

Ketokohan itu, menurut Dr. Mujiburrahman, juga bisa menjadi upaya yang signifikan dalam mengarahkan rekacipta budaya Banjar agar menjadi lebih baik tanpa harus menanggalkan salah satu unsur budayanya.

Memasuki sesi diskusi dengan peserta Kongres, Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, membuka sesi dialog dengan pertanyaan tentang migrasi (diaspora) orang Banjar ke berbagai penjuru perantauan.

 

Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra, dalam sesi diskusi.

Di samping itu, Bang MAM, demikian Pemangku BKPBM tersebut akrab disapa, juga mengimbau agar Kongres ini tidak hanya berhenti pada seremonial saja, melainkan juga memiliki kontinuitas dalam bentuk pelaporan kegiatan puak-puak Banjar di tanah perantauan. “Ulun (saya-red) benar-benar berharap, di Kongres ketiga kelak, komunitas-komunitas Banjar di perantauan ini sudah mampu menyampaikan apa yang terjadi di komunitasnya. Dari situlah dampak salah satu dinamika budaya Banjar bisa tercatat,” pinta Bang MAM.

Orientasi dan Aplikasi Hasil Kongres

Memasuki diskusi sesi kedua, topik-topik tentang orientasi dan proyeksi aplikasi hasil kongres budaya Banjar mulai dibahas. Pembicara diskusi sesi kedua ini adalah Drs. H. Syafrudin dari Banjarmasin dan Ir. Hj. Suriatinah, M.S., Kepala Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan.

“Banyak orang Banjar di perantauan, baik di dalam maupun di luar, yang menjadi orang sukses di bidangnya masing-masing. Tetapi, apakah itu cukup?” ungkap Hj. Suriatinah.

Dengan pertanyaan itu, Suriatinah hendak menegaskan bahwa budaya Banjar tetap memerlukan semacam ciri dan orientasi yang mampu menjadi panduan bagi orang-orang Banjar. Orientasi itulah yang nantinya juga akan menjadi pijakan dalam pembuatan kebijakan oleh pemerintah.

Sementara itu, Drs. Syafrudin lebih banyak membahas tentang aplikasi praktis dari kongres budaya Banjar. Ia mencontohkan, misalnya, tentang keberadaan Badan Kontak Madam yang menjadi salah satu bentuk aplikasi dari hasil Kongres Kebudayaan Banjar I. (ATP/brt/21/04-10)

 


Read : 2.400 time(s).

Write your comment !