Wednesday, 29 April 2026   |   Wednesday, 12 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 3.004
Hier : 22.835
La semaine dernière, : 169.256
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

23 agustus 2007 05:52

Untuk Mewujudkan Komunitas ASEAN 2015, Harus Dibangun Nilai Kebersamaan

Untuk Mewujudkan Komunitas ASEAN 2015, Harus Dibangun Nilai Kebersamaan

Medan- Untuk mewujudkan ASEAN Community atau Komunitas ASEAN (Perhimpunan Negara Asia Tenggara) pada 2015, maka terlbih dulu harus dibangun nilai-nilai kebersamaan sesama anggota ASEAN.

Di samping itu segenap komponen di masing-masing negara, seperti institusi pemerintahan, pendidikan, bahkan masyarakat, juga harus lebih mengedepankan persamaan-persamaan yang ada, bukan justru menyoroti perbedaan-perbedaan yang timbul.

Demikian dikemukakan Guru Besar dari Pusat Pengajian Kominikasi Universitas Sains Malaysia (USM), Penang, Malaysia, Prof Madya Mohamad MD Yusoff, dan Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP-USU), Dr Subhilhar di Kampus USU Padang Bulan, Medan, Selasa (21/8).

Keduanya menjadi narasumber dalam seminar internasional “Membangun Visi Komunikasi Menjelang ASEAN Community 2015” yang diselenggarakan FISIP-USU untuk memperingati Dies Natalis ke-55 USU. Tampil juga sebagai nara sumber Ketua Departemen Komunikasi FISIP-USU, Amir Purba.

Sayangnya, menurut Yusoff, nilai-nilai kebersamaan yang akan menjadi nilai pemersatu itu justru belum terlihat muncul sampai sekarang. Padahal, jika digali lebih mendalam bisa ditemukan banyak nilai itu, khususnya pada masyarakat Melayu yang ada di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Di antara nilai kebersamaan itu ialah agama, kebudayaan, dan lain sebagainya. “Nilai-nilai kebersamaan ini harus jelas terlebih dulu untuk bisa mewujudkan Komunitas ASEAN,” katanya.

“Kalau tidak bersatu, kita tidak akan bisa bersaing dengan India, China atau Jepang,” tambahnya.

Kendala lain adalah belum meluasnya sosialisasi dan interaksi, khususnya di kalangan masyarakat, tentang visi dan misi dari Komunitas ASEAN ini. Akibatnya, yang lebih banyak muncul ke permukaan ialah perbedaan-perbedaan yang terkesan cukup tajam seperti sering diungkap di media massa.

Guru Besar USM ini menyatakan, sebenarnya persoalan-persoalan yang timbul itu tidak sebesar seperti diungkapkan. Dalam pandangannya, ini lebih pada akibat upaya dari media massa dalam menarik perhatian.

Menurut Subhilhar, jika persamaan ditonjolkan dan dibangun, maka bisa menjadi semacam sarana percepatan perwujudan Komunitas ASEAN 2015.

“Kalau kita hanya mengedepankan perbedaan-perbedaan itu, maka akan selalu timbul konflik dan perbedaan,” ingatnya.

Intensifkan Komunikasi

Salah satu upaya yang bisa menjadi terobosan membangun nilai-nilai kebersamaan ASEAN, khususnya bagi Indonesia-Malaysia, ialah lebih mengintensifkan komunikasi secara tepat dan proporsional.

“Sangat penting dibangun komunikasi dan kerja sama yang baik, termasuk di media massa yang berperan vital membentuk persepsi atau pemahaman masyarakat,” tuturnya.

“Kita harus mampu memberikan informasi secara tepat dan cermat sebagai upaya untuk menuntaskan perbedaan-perbedaan. Apa yang terjadi selama ini lebih akibat kurangnya informasi,” kata Yusoff pula.

Yusoff juga menyatakan, media efektif lain untuk membangun persamaan dan pemahaman adalah bidang pendidikan dan saat ini sedang dirintis. Peluang pemanfaatannya cukup terbuka karena banyak mahasiswa dari masing-masing negara yang belajar di kedua ini.

“Kalau dengan negara-negara lain dan jauh seperti Eropa kita melakukan pertukaran, mengapa di antara kita yang dekat dan satu rumpun tidak kita lakukan?” katanya dalam nada tanya.

Studi Independen

Sementara Dekan FISIP-USU, Prof M Arif Nasution, menjelaskan, untuk membangun nilai kebersamaan dan komunikasi yang lebih baik itu, USU, dalam hal ini FISIP, dalam waktu dekat akan melakukan program pertukaran mahasiswa dengan USM Penang.

Mahasiswa FISIP-USU akan ditempatkan di USM untuk mengikuti perkuliahan sesuai dengan sistem yang berlaku di universitas ini. Demikian pula sebaliknya, mahasiswa USM melakukan hal serupa di USU. Lamanya program pertukaran mahasiswa itu antara tiga-enam bulan.

“Bagaimana mekanisme persisnya, saat ini sedang dijajaki dan dipersiapkan kedua universitas,” kata Arif.

“Program studi independen ini juga diharapkan bisa menjawab kekurangan-kekurangan informasi di kalangan generasi muda kedua negara,” katanya.

Sumber : www.analisadaily.com
Kredit foto : id.wikipedia.org


Read : 3.828 time(s).

Write your comment !