Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
07 juni 2010 04:00
Budaya Sulsel Diusulkan Menjadi Mata Kuliah
Makassar, Sulsel - Mantan Wapres Jusuf Kalla mengatakan, budaya Provinsi Sulawesi Selatan sebaiknya dimasukkan dalam kurikulum pendidikan pascasarjana di sejumlah perguruan tinggi di daerah tersebut agar semangat nilai positifnya menular dan menjadi panutan.
Pada diskusi terbuka dengan Gubernur Sulsel, sejumlah rektor serta unsur muspida di Makassar, Jumat (4/6/2010), Kalla mengatakan, budaya Sulsel banyak mengandung nilai positif.
Menurut Kalla, jika ingin budaya tersebut hidup panjang, sebaiknya dikaji dengan dijadikan mata kuliah berjudul "Pabbambangang Na Macca" yang bermakna sikap temperamental namun disertai kecerdasan.
Dia mengatakan, bahan mata kuliah tersebut terdiri atas dua sub, yakni Pengantar Budaya Sulsel serta Perilaku dan Praktik. "Kuliah diberikan oleh tokoh yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidangnya dan mempunyai prestasi baik. Serta dapat menjadi contoh untuk generasi muda," katanya.
Kalla menjelaskan, dalam budaya Indonesia, kultur masyarakat Sulsel dikenal sebagai kultur yang dinamis dan banyak hal mendukung kemajuan masyarakat nasional, karena masyarakat Sulsel sebagian besar adalah perantau. "Di samping dinamika tersebut, masyarakat Sulsel dikenal sangat temperamental atau cepat emosi," katanya.
"Emosi berarti mempunyai daya tangkap yang cepat tetapi emosi yang negatif dapat juga menyebabkan perilaku yang merusak, karena itu sering disebut 'Pabbambangang Na Tolo' atau temperamental tapi bodoh," papar Kalla.
Untuk itu, kata dia, sifat temperamental itu perlu diarahkan pada hal positif seperti meningkatkan semangat maju dalam pendidikan berusaha, pemerintahan, agama, dan aspek yang lain untuk dipahami dan ditularkan pada generasi muda.
Budaya "siri" atau malu di Sulsel yang melekat dalam kehidupan masyarakat sebaiknya tidak hanya dihayati sebagai mudah tersinggung tetapi seharusnya sebagai harga diri untuk bisa berhasil. "Pemahaman budaya yang positif ini haruslah dengan contoh-contoh dan tokoh-tokoh yang menjadi panutan dengan dasar ilmu dan praktik budaya itu," demikian Jusuf Kalla.