Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
23 november 2010 02:30
“Perang Topat” Ujud Kebersamaan Umat
Lombok, NTB - Wakil Bupati Lombok Barat H. Mahrip mengatakan, perang "topat" merupakan wujud kebersamaan dan keharmonisan umat Islam dan Hindu di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat.
"Perang "Topat" ini bukan peperangan yang identik dengan saling membunuh. Tapi ini adalah even yang menyebabkan terjadinya rasa persaudaraan antara umat muslim dengan Hindu," kata Mahrip, usai membuka secara resmi ritual perang topat, di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Minggu petang.
Perang Topat digelar setiap tahun pada bulan purnama Sasih keenam menurut kalender Bali dan kepitu (tujuh) menurut kalender Sasak.
Ritual perang topat diikuti oleh ribuan warga dari berbagai pelosok Pulau Lombok. Wisatawan asing juga tampak menikmati suasana kebersamaan umat beragama yang sedang menggelar acara tersebut.
Menurut Mahrip, tradisi tahunan warga Pulau Lombok, khususnya yang ada di Kecamatan Lingsar itu adalah bentuk rasa syukur kepada sang pencipta alam yang telah menganugerahkan sumber daya alam terutama air sebagai sumber kehidupan manusia.
Oleh sebab itu, kata dia, ritual itu dirangkaikan dengan berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat dan tokoh agama di Kecamatan Lingsar.
Kegiatan keagamaan dilakukan dalam bentuk "syafaah" yakni pembacaan Surat "Al Ikhlas" sebanyak 1.000 kali yang dibacakan khusus oleh tokoh agama dari umat Islam.
"Pembacaan "syafaah" sudah dilakukan tadi malam, sedangkan sore hari ini merupakan puncaknya yang dilakukan setelah shalat ashar atau dalam bahasa Sasak "rorok kembang waru" (gugur bunga waru). Tanda itu dipakai oleh orang tua dulu untuk mengetahui waktu shalat Ashar," katanya.
Ritual "Perang Topat", kata Mahrip, memiliki tiga dimensi manfaat. Pertama, mewujudkan rasa syukur kepada sang pencipta atas limpahan sumber daya air yang diberikan. Kedua,adanya rasa kebersamaan yang ditimbulkan antara suku Sasak dan Suku Bali (Islam - Hindu) yang menggelar ritual dengan tujuan yang sama.
Manfaat ketiga, dari sisi ekonomi. Tradisi "Perang Topat" merupakan even NTB, khususnya Lombok Barat, dan satu-satunya di dunia, sehingga pasti laku dijual kepada wisatawan untuk mengetahui bagaimana sejarah dan proses "Perang Topat" terjadi.
"Perang topat ini kita jadikan even bagaimana kita melakukan perubahan dari sisi kebersamaan beragama, pendidikan, pariwisata dan lain-lain untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Ia juga berharap agar rasa kebersamaan umat beragama yang terjalin pada "Perang Topat" bisa diimplementasikan di seluruh wilayah Indonesia, sehingga bisa menjadi modal besar dalam mewujudkan pembangunan di segala bidang.