Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
06 desember 2010 06:26
60 Persen Aset Budaya Banjar Ada di Belanda
Banjarmasin, Kalsel- Permasalahan aset budaya Banjar ternyata tak hanya soal tiga tengkorak pejuang Banjar saja yang saat ini masih berada di Museum Leiden Belanda. Analisis sementara dari Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenian Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata, Merah Yusirwan Bangsawan mengungkapkan bahwa setidaknya ada 60 persen aset budaya BAnjar yang saat ini berada di negara Kincir Angin itu.
Dituturkan Merah, keyakinannya berawal saat ia bertemu dengan generasi keenam keturunan Pangeran Hidayatullah. Menurut Merah, orang tersebut yang tidak disebutkan namanya berasal dari Cianjur. Orang tersebut membawa dua buah koper berisi beberapa buku tentang sejarah Banjar yang belum pernah ia lihat.
Salah satunya adalah buku yang ditulis oleh Yan Yacobus Rush, seorang berkebangsaan Belanda yang mengikuti sejarah Banjar. “Ketika saya ketemu dengan orang tersebut, saya dibawakan dua koper yang berisi buku-buku sejarah Banjar yang menyebutkan banyak warisan sejarah yang saat ini tidak ada di Kalsel,” tutur Merah.
Apa saja aset budaya Banjar yang saat ini hilang, Merah tidak dapat menyebutkannya secara rinci. Namun, ia mengklasifikasikan dalam beberapa jenis benda bersejarah antara lain artefak, guci, dan beberapa benda berupa buku-buku kuno.
“Saya tidak bisa bilang apa saja, tapi sekarang coba kita lihat undang-undang yang dibuat oleh Sultan Adam ada dimana, kemungkinan ada di Belanda,” cetusnya.
Merah memprediksi ada sekitar 60 persen aset budaya Banjar yang saat ini masih hilang. Kemungkinan besar, kata dia, ada di Belanda tepatnya di Museum Leiden. Hal ini didasarkan dari sejarah Banjar yang tidak lepas dari sejarah kedatangan penjajah Belanda.
“Rosehan saat masih jadi wakil gubernur kan pernah ke sana dan melihat banyak warisan sejarah Banjar yang ada disana. Tapi waktu itu belum bisa dibawa ke sini karena perlu ada bukti-bukti yang menguatkan bahwa aset tersebut adalah bagian dari sejarah Banjar,” ucapnya.
Soal upaya yang akan ditempuh, Merah belum berani berbicara banyak. Namun ada beberapa rencana yang akan dilakukan salah satunya adalah mengirim rekomendasi kepada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata agar dapat membantu mengembalikan aset sejarah Banjar tersebut.
Ditanya tentang dampak banyaknya aset budaya Banjar yang hilang, Merah menyatakan setidaknya ada dua dampak negatif. Pertama adalah tidak adanya kelengkapan peninggalan sejarah Banjar. Jika tidak lengkap, generasi berikutnya tentu akan mengalami kesulitan mempelajari budaya Banjar.
Dampak kedua adalah hilangnya unsur budaya yang ada secara alami tersebut. Benda bersejarah bukanlah sembarang benda, dari situ masyarakat dan para generasi penerus dapat belajar menggali pelajaran. “Kalau ada kenapa tidak dihimpun,” pungkasnya.(tas/kpnn)