Tuesday, 25 August 2026   |   Tuesday, 11 Rab. Awal 1448 H
Visiteurs en ligne : 1.866
aujourd hui : 23.098
Hier : 23.903
La semaine dernière, : 178.006
Le mois dernier : 11.454.048
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

22 april 2007 06:45

Kekayaan Musik Melayu Perlu Dikembangkan

Kekayaan Musik Melayu Perlu Dikembangkan

Pekanbaru- Musik Melayu di Provinsi Riau yang beragam dan tersebar dari pesisir hingga pedalaman merupakan aset berharga yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Untuk mengembangkan musik Melayu dibutuhkan dukungan dari semua pihak.

Wacana ini mengemuka dalam Dialog Tradisi Musik Melayu yang merupakan bagian dari Pertemuan Memartabatkan Tamadun Melayu Serumpun, Jumat (20/4) di aula Pemkot Pekanbaru. Hadir sebagai pembicara Mohd Nasir dan Indirawati Zahid dari Universiti Malaya serta Hukmi dan Zuarman Ahmad dari Akademi Kesenian Melayu Riau.

Keragaman budaya Melayu, menurut Hukmi, belum disertai dengan penggarapan kesenian secara mendalam. Salah satu yang masih menjadi problematika adalah keterbatasan ruang eksplorasi seniman.

"Budaya Melayu agaknya belum menjadi sesuatu yang prinsipil, sehingga pengembangannya tampak ketinggalan di tengah budaya lain. Saya khawatir ketradisian kita terputus," tutur dia.

Ia mencontohkan salah satu upaya untuk melestarikan musik Melayu, yakni dengan melakukan penelitian pada laras musik di setiap subetnis Melayu di Riau. Ragam suku yang ada di Riau mempunyai beragam corak budaya, termasuk seni musik. Bila dilakukan penelitian, Riau bisa menghasilkan beragam tangga nada dari musik Melayu ini.

Zuarman menambahkan, sejumlah seniman lisan juga menjadi kekayaan seni Melayu di Riau. Namun, nama-nama seniman seperti Wak Setah atau Wak Sarkem kurang terangkat. Karena itu, Zuarman berpendapat perlu adanya dukungan untuk memunculkan seni musik serta seniman dalam wacana lokal hingga nasional.

Sementara di Malaysia, seni musik Melayu sudah berkembang pesat, termasuk menjadi objek penelitian. Pengembangan seni musik di Melayu, menurut Nasir, tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah untuk melindungi musik Melayu, antara lain melindungi karya seni dari pembajakan.

"Salah satu yang perlu diperhatikan untuk pelestarian seni adalah cara kita mengemas seni itu agar bisa diterima pada masa kini. Selain itu, perlu juga menciptakan pasar dan segmen pendengar," paparnya.

Dalam seminar itu, Nasir juga memaparkan hasil penelitian tentang pembawaan syair. Penelitian akademis itu menghasilkan sejumlah pemahaman tentang perbedaan cara membawakan syair. Disitulah letak kekayaan budaya Melayu di Malaysia.

Kepunahan

Di sisi lain, Zuarman juga mengakui kemungkinan hilangnya seni lokal di setiap daerah, seiring dengan habisnya habitat hidup masyarakat setempat. Ia mencontohkan ketobong atau kendang yang terbuat dari kulit kayu di daerah Sorek, Kabupaten Pelalawan, yang sudah sangat sulit diperoleh akibat masyarakat setempat kesulitan mendapatkan bahan baku pembuat ketobong. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari semakin habisnya hutan di Riau.

"Kita tidak perlu menangis kalau seni di masyarakat lokal itu hilang secara alamiah bersama dengan hilangnya masyarakat setempat. Namun, saya akan menangis bila ada pembunuhan kesenian yang berawal dari penebangan hutan secara besar-besaran. Ini merupakan bagian dari pembunuhan kesenian," ucap Zuarman dengan suara lantang.

Sumber:

Kompas.com


Read : 3.130 time(s).

Write your comment !