Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
04 januari 2011 06:41
Telangkai Ujung Tombak Pelestarian Adat Istiadat Budaya Melayu
Lubukpakam, Sumut - Telangkai atau juru bicara yang biasa menjadi penyampai hajat dalam adat istiadat perkawinan adat melayu jumlahnya kini semakin berkurang. Padahal, Telangkai bagian dari ujung tombak dari upaya pelestarian adat istiadat dan budaya melayu dalam tradisi perkawinan.
Demikian dikatakan Ketua Pengurus Daerah Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (PD MABMI) Deliserdang Drs Tengku Achmad Thalaa saat membuka secara resmi pelatihan Telangkai di sekretariat Jalan Ahmad Dahlan, Kota Lubukpakam, Kamis (30/12).
Saat ini jumlah Telangkai yang mahir dan paham khususnya perkawinan dalam adat melayu sudah berkurang sehingga perlu digagas kembali agar tetap lestari dan tidak punah dihempang zaman,
Di Kota Medan misalnya, Telangkai yang menjadi juru bicara dalam adat perkawinan etnis melayu sudah sulit dicari. Bahkan ada masyarakat melayu yang harus menunda hajatan perkawinan dikarenakan tidak mendapatkan Telangkai sebagai juru bicaranya.
Secara ekonomis, Telangkai sangat menjanjikan meski tidak harus menjadi tujuan utama. Seorang Telangkai bisa mendapatkan finansial mencapai Rp1,5 juta dalam satu perhelatan meski itu tidak harus menjadi tujuan utama.
Lewat pelatihan Telangkai yang digelar MABMI Deliserdang, Akhad Thalaa yang akrab disapa Amek berharap, kegiatan tesebut menjadi tahap awal kegiatan pelestarian seni dan budaya melayu serta generasi muda bisa paham terhadap adat dan budaya melayu.
Pelatihan Telangkai juga dilatarbelakangi ketentuan hasil rapat kerja daerah MABMI Deliserdang yang menjadi bagian dari program bidang seni dan budaya di organisasi yang berfungsi untuk melestarikan semua adat istiadat juga budaya melayu.
Senada dengan Ketua MABMI Deliserdang, Biro Adat Seni dan Budaya PB MABMI Yuschan yang tampil sebagai narasumber menegaskan, saat ini banyak adat isitiadat dan budaya melayu yang hilang dan lebih banyak digunakan etnis lain.
Budaya melayu menjadi inspirasi banyak perkembangan namun kini semakin memudar dan justeru banyak ‘dicaplok’ suku lain. Sedangkan orang melayu sendiri tidak memakainya bahkan ‘ada’ yang malu menunjukkan jati dirinya sebagai orang melayu.
Sementara Ketua Panitia Pelaksana Datuk Fakhruroji melalui wakilnya Datuk Wan Syarifuddin Nong menjelaskan, pelatihan Telangkai diikuti 2 utusan dari 12 Pengurus Cabang MABMI se-Deliserdang dengan bentuk kegiatan meliputi, ceramah, praktek langsung mengikat kain samping dan serta workshop pantun.
Materi ceramah menghadirkan narasumber pengurus PB MABMI Biro Adat seni dan Budaya Yuschan, Mengikat kain samping Bahriun dan workshopTuanDrsRamliBay dan Datuk Wan Syarifuddin Nong.