Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
12 januari 2011 02:36
Bahasa Indonesia Akan Membahana di Forum Parlemen se-Asia Pasifik
Jakarta - Forum Parlemen Asia Pasifik (APPF) pada 2011 ini kan digelar di Ulaanbaatar, Mongolia. Dalam forum yang dihadiri sekitar 300 negara tersebut, delegasi Indonesia akan membahanakan bahasa Indonesia.
"Kita akan menggunkan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Kalau orang-orang bisa menggunakan bahasa Spanyol, China, dan lainnya, kita juga akan pakai bahasa Indonesia," kata Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) Hidayat Nur Wahid dalam rapat persiapan delegasi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/1/2011).
Dia menambahkan, bahasa Indonesia akan digunakan delegasi Indonesia saat menyampaikan pemaparan. Namun ketika debat dalam forum, menurut Hidayat, tidak apa-apa menggunakan bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional.
"Ini kita lakukan karena taat dengan UU tentang bahasa, bagian dari diplomasi kita, dan karena kita bangga dengan bahasa kita," sambung Hidayat.
Sementara itu Wakil Ketua DPD Laode Ida yang akan menjadi delegasi dalam forum mengatakan, pada saat APPF digelar di Singapura tahun lalu, Indonesia bersama dengan Malaysia dan Brunei Darussalam menyepakati penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi mereka dalam forum. Sebab dalam forum, para delegasi dari berbagai negara itu menyampaikan pemaparan dalam bahasa mereka masing-masing.
"Konsekuensinya ya kita harus membawa interpreter. Ini bagian diplomasi juga. Diplomasi itu bukan hanya dilakukan diplomat, tapi bisa dilakukan dengan cara lain, seperti ini misalnya," ucap Laode.
Dalam APFF di Ulaanbataar yang akan berlangsung pada 22-27 Januari 2011, akan dibahas sejumlah isu di kawasan Asia Pasifik. Isu yang dibicarakan antara lain masalah politik dan keamanan, ekonomi dan perdagangan serta kerjasama regional. Sekitar 300 peserta dari 27 negara Asia Pasifik akan berpartisipasi.
APPF adalah forum antar parlemen sekawasan Asia Pasifik yang didirikan pada 14 Januari 1993. Forum ini lahir dari gagasan mantan Perdana Menteri Jepang Yasuhiro Nakasone dan beberapa diplomat senior Jepang dengan tujuan menghimpun anggota parlemen se-Asia Pasifik untuk membahas masalah aktual di kawasan Asia Pasifik.