Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
14 sepember 2011 08:55
Membangun Yogyakarta, Kota Kreatif Berbasis Budaya
Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” Seri-45
Yogyakarta, MelayuOnline - Bertempat di Bangsal Kepatihan, Danurejan, Kota Yogyakarta, Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” dilangsungkan pada Selasa malam (13/9). Agenda rutin bulanan yang memasuki seri ke-45 kali ini bertepatan dengan akan digelarnya Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kota Yogyakarta untuk periode 2011-2016 pada hari minggu tanggal 25 September 2011 mendatang. Dialog yang dipandu oleh Hari Dendi ini bertujuan untuk mengenalkan pandangan tiga pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota yang akan bertarung, serta mempertanggungjawabkannya nanti ketika terpilih. Dialog ini dapat dikatakan sebagai dialog rakyat Yogyakarta dengan calon pemimpinnya.
Selain dihadiri oleh tiga pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota, yaitu Ir. Muhammad Zuhrif Hudaya dan Drs. Aulia Reza Bastian , M. Hum (MULIA), Ahmad Hanafi Rais, SIP., MPP dan Ir. Tri Harjun Ismaji, M.Sc (FITRI), dan Drs. H. Haryadi Suyuti dan Imam Priyono D. Putranto, SE., M.Si (HATI), “Yogya Semesta” kali ini juga menampilkan beberapa narasumber, di antaranya adalah Prof. (Em) Dr. Wuryadi Sutomo, MS (Ketua Dewan Pendidikan DIY) Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch, Ph.D (Ketua Badan Pengembangan Industri Pariwisata Yogyakarta), Drs. Sindung Tjahyadi, M.Hum (Kepala Pusata Studi Pancasila-UGM), Ir. Laretna T. Adhisakti, M. Arch, Ph.D, dan Dr. Revrison Baswir, MBA (Staf Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan-UGM).
Acara ini juga dihadiri oleh Walikota Yogyakarta, Bapak H. Herry Zudianto, SE., Akt., MM, Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, Bapak H. Mahyudin Al Mudra, SH.,MH, dan para cerdik pandai di Yogyakarta. Para narasumber yang berasal dari berbagai disiplin ilmu serta para hadirin diharapkan dapat memberi masukan, saran, dan kritikan kepada tiga pasangan calon Walikota dan wakilnya, untuk bekal membangun Yogyakarta yang berbasis budaya dalam aspek pendidikan, pariwisata, ekonomi, dan tata kota.
Dialog ini dibuka dengan penampilan kelompok musik Kuartet Spontan yang terdiri dari Titok (vokal), Nano (flute), Panjoel (saxophone), dan Tono (keyboard). Setelah penampilan Kuartet Spontan, dialog budaya pun dimulai dengan penyampaian visi misi masing-masing calon Walikota secara singkat tentang arti Yogyakarta sebagai kota budaya dan apa bayangan mereka kelak untuk mewujdukannya jika terpilih. Dari seluruh pasangan calon Walikota dan Walikota bersepakat, bahwa untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai kota budaya haruslah berpijak pada kreatifitas budaya masyarakat Yogyakarta. Tugas pemimpin adalah memfasilitasi dan melayani kebutuhan masyarakat untuk mewujudkan dan meningkatkan kreatifitas warga. Dengan begitu, masyarakat Yogyakarta akan maju bersama dalam suasana kehidupan gotong-royong.
Dalam dialog ini, para narasumber dan hadirin memberikan masukan kepada tiga pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota agar mereka menepati janjinya selama masa kampanye. Mempertahankan Yogyakarta sebagai kota kreatif berbasis budaya bukanlah tugas ringan, karena tantangan yang berat ke depannya. Oleh karena itu, diperlukan pemimpin yang memiliki karakter kuat dan berpihak kepada masyarakat. Pemimpin yang hanya sekadar berjanji tapi tidak ditepati akan menjadikan identitas Yogyakarta sebagai kota budaya menjadi hilang. Karena identitas tersebut berkorelasi dengan kedisiplinan, ketertiban, kejujuran, dan semangat.
Dialog seni dan budaya ini ditutup dengan pergelaran tari “Bhineka Tunggal Ika” oleh siswa-siswi SMKN 1 atau SMKI pimpinan Drs. Sunardi dan dilanjutkan dengan menyanyi bersama lagu “Jogja Istimewa” yang dipopulerkan oleh kelompok Jogja Hip Hop Foundation pimpinan Marzuki oleh Kuartet Spontan. Pada saat itu, para undangan dan hadirin larut dalam lagu ini, sehingga suasana guyup, rukun, dan damai masyarakat Yogyakarta begitu terasa. (Yusuf Efendi/Brt/07/09-2011)