Sunday, 19 April 2026 |Sunday, 2 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui
:
1.709
Hier
:
26.672
La semaine dernière,
:
249.242
Le mois dernier
:
101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
28 sepember 2007 05:04
Ramadhan di Aceh Barat Daya tanpa Suara Beduk
Aceh Barat Daya- Tambo atau beduk merupakan media informasi sangat akrab di kalangan masyarakat Aceh sejak zaman dulu. Seluruh meunasah di kampung-kampung dan majid dilengkapi beduk. Suara yang khas ketika dipukul menjadikan beduk sebagai sarana penyampaian informasi atau tanda-tanda tertentu kepada warga kampung.
Sejak dari jadwal shalat sudah tiba, memberikan informasi bahwa salah seorang warga telah berpulang ke Rahmatullah sampai mengajak warga untuk melaksanakan gotong rayong membersihkan lingkungan, termasuk memberikan tanda-tanda bahaya bencana alam. Dalam hal ini, warga kampung sudah sangat mahfum mendifinisikan suara beduk yang dipukul dalam jumlah hitungan tertentu.
Memasuki bulan Ramadhan, suara beduk lagi-lagi menjadi pusat perhatian masyarakat Aceh zaman dulu. Saat berbuka, misalnya, mereka menunggu bunyi beduk yang dipukul sang penghulu di meunasah dan masjid, Demikian juga memasuki jadwal makan sahur. Lebih wah lagi, ketika menyambut lebaran atau hari raya, bunyi beduk menjadi simbol kegembiraan warga menyambut hari kemenangan tersebut.
Tapi itu dulu. Sekarang ini bunyi beduk tidak terdengar lagi, baik di meunasah-meunsah di kampung atau masjid. Tidak terkecuali selama bulan Ramadhan, suara beduk sepertinya menjadi barang langka, terutama di wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Kalau pun ada satu dua meunasah atau masjid masih memiliki tambo atau beduk, namun tidak dimanfaatkan lagi. Beduk dalam kondisi lampuk dimakan usia dibiarkan tidak terurus dan menjadi barang pajangan di sudut-sudut atas meunasah. Bisa jadi, bagi anak-anak Aceh ke depan tidak mengenal lagi barang yang dinamakan beduk.
Perkembangan teknologi tampaknya ikut menerpa meunasah dan masjid di Aceh, terutama di Kabupaten Abdya. Betapa tidak, pengurus masjid tidak segan-segan meninggalkan hal-hal yang sudah menjadi tradisi sejak nenek moyong dulu. Seperti fungsi beduk diganti dengan alat pengeras suara atau mikrofon.
Kalau zaman dulu, nenek moyang kita bangga dengan tambo dengan beragam model dan ukuran, namun pengurus masjid atau meunasah di Aceh sekarang ini lebih bangga menggunakan alat pengeras suara lengkap dengan tape recorder dan mengganggap beduk merupakan barang kuno.
Sehingga manakala memasuki saat berbuka, hanya tinggal menghidupkan tape recorder dan memutar casset yang telah direkam suara sirine yang menyurupai suara sirine dari mobil pemadam kebakaran.
Belum jelas kapan suara sirine populer menjadi tanda berbuka puasa bagi kalangan masyarakat Aceh. Yang jelas, kata salah seorang pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Abdya bahwa, suara sirine itu merupakan warisan penjajah Belanda. Biasanya, Belanda membunyikan sirine untuk memaklumkan kepada pasukannya tentang bahaya dan diminta harus siaga. Seperti adanya penyerangan dari pihak lawan.
Karenanya aneh sekali, bila bunyi sirine tanda bahaya seperti itu dipergunakan masyarakat Aceh untuk memaklumkan bahwa jadwal buka puasa sudah tiba. “Barang kali berbuka puasa merupakan bahaya yang perlu diwaspadai,” kata pengurus adat sambil ketawa lebar.
Jangan-jangan satu saat nanti untuk mengumandangkan adzan di masjid-masjid hanya tinggal merekam dalam kasset, lalu diputar pada saat dibutuhkan. Soalnya, sekarang ini, suara mengaji di masjid-masjid sekarang ini hanya cukup memutar kaset, tidak perlu tampil secara fisik warga yang mengaji. Ramadhan di Abdya, kita rindu suara beduk.
Sumber: www.serambinews.com Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu