Friday, 4 September 2026 |Friday, 21 Rab. Awal 1448 H
Visiteurs en ligne : 2.416
aujourd hui
:
22.220
Hier
:
25.579
La semaine dernière,
:
32.264.566
Le mois dernier
:
43.463.948
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
08 oktober 2013 07:08
Tradisi "Mepe Kasur Abang Cemeng" di Banyuwangi
Banyuwangi, Jatim - Tradisi 'mepe kasur' atau menjemur kasur (tempat tidur) merupakan tradisi unik yang ada di Desa Wisata Using, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Berbeda dengan desa-desa lain, kasur dijemur secara bersamaan sepanjang jalan di Desa Kemiren mulai jam 7 pagi. Selain itu, warna kasur yang dijemur juga seragam yaitu warna hitam dan merah.
Paidi, warga setempat menjelaskan kepada Kompas.com bahwakasur di desa Kemiren memang unik dan berbeda dibandingkan desa-desa lain yang ada di Banyuwangi.
"Kasur Abang Cemeng. Abang artinya merah dan cemeng artinya hitam. Jadi sisi atas dan bawah kasur berwarna hitam, sedangkan kelilingnya berwarna merah," katanya.
Paidi menjelaskan setiap pengantin baru yang tinggal di Kemiren akan mendapatkan kasur abang cemeng. Paidi mengaku sudah belasan tahun sejak menikah, dia menggunakan kasur abang cemeng sampai saat ini.
Sementara itu, Purwadi, Ketua Masyarakat Adat Desa Kemiren mengatakan, jika ada filosofi khusus dari pemilihan warna hitam dan merah pada kasur masyarakat Kemiren.
"Cemeng atau hitam adalah simbol dari tolak bala, sedangkan abang atau merah adalah simbol dari keabadian rumah tangga. Jadi dengan menggunakan kasur abang cemeng diharapkan pasangan pengantin baru terhindar dari kesialan dan bisa langgeng," katanya.
"Mepe kasur" sendiri dilaksanakan setiap awal bulan Dzulhijjah dalam kalander Islam. Setelah 'mepe kasur', warga Kemiren berdoa di makam Buyut Cili, leluhur Desa Kemiren dilanjutkan dengan arak-arakan barong dan obor blarak yang dibuat dari daun kelapa kering.