Thursday, 30 April 2026   |   Thursday, 13 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 496
aujourd hui : 10.894
Hier : 22.835
La semaine dernière, : 169.256
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

15 desember 2014 08:17

Kuliner Betawi, Kekayaan Kota yang Makin Terpinggirkan

Kuliner Betawi, Kekayaan Kota yang Makin Terpinggirkan
Gabus Pucung

Jakarta - Kekayaan kuliner khas Betawi kian terpinggirkan dan tak mendapatkan ”panggung” memadai di daerah asalnya sendiri. Akibatnya, perbendaharaan kuliner Betawi warga Ibu Kota pun terbatas.

Ini adalah makan siang yang istimewa bagi Sianna (37) dan rekan-rekannya dari komunitas Jalansutra. Di meja makan terhidang gabus pucung, sayur besan, semur jengkol, asinan jakarta, dan empal goreng, lengkap dengan sambal dan kerupuk. Berbagai menu masakan Betawi itu terbilang asing bagi Sianna.

”Rasanya dominan asin. Kuahnya, meskipun hitam, gurih dan enak. Ini pertama (saya) kali mencoba gabus pucung,” ucap Sianna sambil mengacungkan jempolnya.

Sabtu (6/12/2014) siang, aneka makanan khas Betawi sengaja disuguhkan dalam acara Betawi Maknyus Bersama Pak Bondan di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat. Tak hanya menu makanan berat, aneka camilan, seperti kerak telor, kue cubit, dan kue pancong, serta minuman bir pletok disajikan sejak pagi. Harum aroma aneka penganan itu pun menggoda pengunjung.

Acara ini menjadi salah satu cara untuk mengenalkan ikon kuliner Betawi kepada masyarakat. Menurut Bondan Winarno, penikmat dan pengamat makanan serta penulis buku kuliner Nusantara, pamor kuliner Betawi kian meredup. Padahal, Betawi menyimpan banyak potensi kuliner khas, seperti gabus pucung, gurame pecak, bandeng pesmol, ketupat sayur, pindang bandeng, sayur besan, dan sayur babanci.

”Ketika orang berbicara soal ikon kuliner Betawi, justru yang selalu muncul nasi uduk. Padahal, nasi uduk itu ada pengaruh Jawa-nya. Yang lebih khas Betawi justru nasi ulam,” ujar Bondan.

Menurut wartawan senior tersebut, kota-kota besar di dunia selalu memiliki ciri khas lokasi kuliner yang biasanya menyatu dengan lokasi kesenian. Ia mencontohkan, di New York, Amerika Serikat, sebelum menonton drama musikal di Broadway, pengunjung bisa menikmati aneka kuliner khas di sekitar lokasi pertunjukan itu. Hal yang sama, menurut dia, bisa diterapkan di Jakarta, misalnya di Cikini yang memiliki ruang pertunjukan Taman Ismail Marzuki.

Nilai sama

Sejarawan asli Betawi, JJ Rizal, berpendapat, kuliner memiliki nilai yang sama dengan karya sastra dan produk kebudayaan lain. Di dalam kuliner ada kearifan lokal, ada artefak budaya yang menyimpan sejarah dan osmosis kebudayaan. Kecap, misalnya, kental diadaptasi dan dimodifikasi dari budaya Tiongkok. Dalam perkembangannya, kecap digunakan sebagai bumbu semur daging kerbau yang disajikan warga Betawi saat Lebaran.

”Daging kerbau diambil dari tradisi Islam, sedangkan kecap ada pengaruh kebudayaan peranakan Tionghoa. Semur kerbau dibagikan kepada para tetangga saat Lebaran,” kata Rizal.

Menurut Rizal, melestarikan warisan kuliner Betawi sama artinya dengan melestarikan kebudayaan Betawi. Di dalam kuliner juga terdapat teks perjalanan sejarah suatu etnis.

”Butuh kerja sama dengan pihak swasta dan kemauan pemerintah untuk melestarikan warisan kuliner Betawi. Tak hanya yang disajikan di sini, ada banyak sekali kuliner asli Betawi yang perlu dihidupkan lagi,” kata Rizal.

Sumber: http://www.tribunnews.com


Read : 1.038 time(s).

Write your comment !