Saturday, 13 June 2026 |Saturday, 27 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui
:
5.896
Hier
:
18.545
La semaine dernière,
:
227.151
Le mois dernier
:
9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
29 agustus 2015 07:06
Wayang Orang Keliling Desa Hadirkan ‘Sumbodro Larung’ di Sewon
Suasana latihan Sumbodro Larung (Foto: Trasmara)
Yogyakarta, Melayuonline.com – Wayang Orang Panca Budaya yang didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan DIY akan menggelar lakon ‘Sumbodro Larung’ di daerah Sewon, Bantul, Yogyakarta, Minggu (30/8) malam.Grup ini memang memiliki program istimewa, safari wayang orang, yaitu mementaskan wayang orang dari desa ke desa di seluruh kawasan Yogyakarta dengan misi melestarikan budaya.
“Kami memang selalu blusukan ke desa-desa di DIY dalam rangka pelestarian budaya tradisional, agar tidak punah,” kata Agus Setiawan, Pimpinan Panca Budaya.
‘Sumbodro Larung’ merupakan sekuel kisah Mahabharata yang menceritakan kisah cinta Burisrawa kepada Wara Sumbodro yang tertolak. Sekalipun cinta Burisrawa hanya bertepuk sebelah tangan, ia terus mengejar incarannya bahkan sambil mengacung-acungkan senjata. Karena sudah tidak lagi mampu menghindar, Sumbodro, istri Arjuna ini, terpaksa menubrukkan tubuhnya ke arah senjata yang dipegang Burisrawa. Ia memilih mati dari pada harus menerima paksaan cinta.
Kematian Sumbodro menjadikan banyak pihak penasaran. Siapa sebenarnya yang membunuhnya? Drama pencarian pembunuh Sumbodro ini menjadi panjang, melibatkan Prabu Kresna, Antareja, Antasena, hingga Gatotkaca. Untuk menangkap sang pembunuh, jasad Sumbodro dilarung selama 40 hari di Bengawan Swilugangga. Siapa nanti yang mendekati jasad Sumbodro itulah pembunuhnya.
“Ini sebenarnya pencarian Antareja mencari ayahnya Werkudoro,” kata Tukiran, sutradara dan penulis lakon, membuka teka-teki kisah ini kepadaMelayuonline ketika latihan di Sanggar Gambir Sawit, Taman Siswa, Jumat (28/8) sore.
‘Sumbodro Larung’ diperkuat oleh para pemain handal seperti Yoyok, Rahmad, Damarwulan, Widodo PB, Sarjiwo, Sukirno, Tiofani, Shi Phe, Isti Sri Rahayu, Yuni Ratna, Dewo Dewi dan Sunardi. Penata karawitan Eko Purnomo dan penata tari Widodo KS, penata artistik Agus Layloor. * (Teguh R Asmara)